Membangun Ingatan Adanya Jejak Stasiun Majalaya, Antara Hilang dan Dikenang

8 menit baca
FAJAR RAMADHAN
Ditulis oleh FAJAR RAMADHAN diterbitkan
Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Terminal Majalaya yang di duga menjadi jejak dari peninggalan keberadaan stasiun Majalaya. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)

Majalaya hari ini mungkin lebih dikenal sebagai kawasan industri khususnya tekstil yang masih bertahan dibeberapa lokasi. Beberapa pabrik memang masih beroperasi dan menjadi penopang ekonomi warga, namun dibalik kesibukan itu ada lapisan sejarah yang perlahan memudar dari ingatan. Pada masa Hindia Belanda kawasan Majalaja bukan sekedar industri biasa, kota itu sempat dijuluki sebagai “kota dolar” sebuah sebutan yang mencerminkan betapa besarnya kontribusi industri tekstil daerah ini terhadap pemsukan pemerintah pada saat itu.

Produksi kain dari Majalaya tidak hanya beredar di tingkat lokal, tetapi juga menembuas pasar yang lebih luas menjadikannya salah satu pusat ekonomi penting di masa Hindia Belanda. Proses distribusi hasil-hasil dari produksi tekstil itu, tidak luput dengan keberadaan jejak Stasiun Madjalaja yang pada saat itu digunakan sebagai sarana pengangkutan penumpang dan beberapa hasil bumi menuju pusat daerah Bandung.

Potret pabrik texstil di Majalaya, di mana pada masa Hindia Belanda texstil dari Majalaya menjadi bahan penting. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)
Potret pabrik texstil di Majalaya, di mana pada masa Hindia Belanda texstil dari Majalaya menjadi bahan penting. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Fajar Rizky Ramadhan)

Salah satu bukti peran Majalaya dalam perkembangan ekonomi masa kolonial adalah keberadaaan jalur trem yang menghubungkannya dengan berbagai kota di sekitarnya. jalur ini berperan penting dalam mendukung distribusi hasil produksi tekstil Majalaya ke berbagai daerah, sehingga memperlancar aktivitas perdagangan dan pergerakan ekonomi.

Namun, seiring perkembangan transportasi modern, jalur trem tersebut perlahan menghilang. Banyak kebagian jalur yang telah tertutup oleh pembangunan sehingga jejak fisiknya hampir tidak lagi terlihat. Padahal, jalur trem ini merupakan bagian penting dari sejarah Majalaya dan menjadi saksi perkembangan kawasan ttersebut sebagai pusat industri pada masanya. kini keberadaanya hanya dapat ditelusuri melalui arsip, tulisan, dan ingatan yang masih tersisa.

Masuk perencanaan jalur trem strategis untuk kepentingan ekonomi

Dari catatan koran kolonial Algemeen Handelsblad edisi Indisch Nieuws tanggal 28 Januari 1893, seorang pengusaha bernama C.G Kan mengajukan konsesi pembangunan jalur trem menguhubungkan Bandoeng sampai Tjitjalengka, lewat Tjiparaj dan Madjalaja.

Dari sini keliatan kalau Madjalaja dulu bukan daerah pinggiran yang sekedar lewat, tapi justru masuk dalam jaringan transportasi yang cukup strategis di wilayah Preanger. Pada saat itu posisinya punya nilai penting terutama buat mendukung aktivitas ekonomi yang berkembang pesat, termasuk industri tekstil. Menariknya rencana ini bukan sekedar anganangan atau wacana kosong, pengajuan konsesi itu menunjukan bahwa pembangunan jalur trem ke arah Madjalaja memang sudah masuk dalam perencaan jaringan transportasi yang cukup strategis di wilayah Preanger. Jadi jejak keberadaan jalur trem di kawasan ini punya dasar historisnya bukan sekedar cerita belaka.

Dalam laporan teknis bahkan disebutkan kalau daerah ini sedang berkembang pesat. Tercatat potongan kalimat “de voorgenomen railverbinding in eene wezenlijke behoefte zal voorzien” yang menegaskan bahwa jalur trem tersebut dirancang bukan sebagai proyek percobaan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi yang mulai berkembang. Tidak hanya itu aktivitas pasar di kawasan ini menjadi indikator penting. Dalam catatan yang sama tertulis “vooral de pasars te Madjalaja en Tjiparai zijn zeer druk bezocht”, artinya menunjukan bahwa pasar-pasar di Madjalaja dan Tjiparaj saat itu sangat ramai pengunjung yang menggambarkan betapa sibuknya aktivitas jual beli di sana.

Jalur trem bukan hanya sebagai alat transportasi tapi juga penunjang aktivitas perdagangan untuk bisa berjalan lebih cefat dan efisien, inilah yang kemudian dilihat oleh pemerintah kolonial bahwa Madjalaja dan sekitarnya layak menjadi bagian dari jaringan transportasi modern.

Memasuki tahap realisasi pembangunan jalur trem

Sebelum jalur trem hadir dan menghubungkan Madjalaja, Tjiparaj, dan wilayah sekitarnya, urusan distribusi masih bergantung pada cara-cara yang tergolong tradisional. Pedati dan kereta kuda menjadi sarana untuk mendistribusikan hasil bumi maupun barang dagangan, tapi dengan kondisi seperti ini pergerakan distribusi cenderung terbatas baik dari segi kecepatan, kapasitas, maupun jangkauan, waktu tempuh yang lama menjadi kendala sehingga aktivitas tidak bisa berkembang secara optimal. Perubahan mulai terasa ketika jalur trem mulai diperkenalkan. Proses distribusi menjadi jauh lebih cefat dan teratur, pengiriman barang yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tujuan, sekarang bisa dikirim dengan lebih efisien. bukan hanya soal kecepatan tapi juga soal skala volume distribusi jadi meningkat karena aksesnya lebih mudah.

Dampaknya mulai teresa terutama dalam konteks ekonomi kolonial saat itu, infrastruktur transportasi seperti trem menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkembang karena didukung oleh jaringan distribusi yang lebih memadai.

Melihat laporan dari surat kabar kolonial De Preanger Bode tanggal 23 Mei 1919 tramlijn Tjiteureup-Madjalaja, pembangunan jalur trem mulai direalisasikan sebagai bagian dari rencana strategis, dalam laporan tersebut menegaskan “de voorgenomen railverbinding in eene wezenlijke behoefte zal voorzien”, yang kurang lebih berarti jalur kereta ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, jadi memang dari awal sudah dianggap penting. Secara teknis jalur ini dirancang sepanjang 17,4 kilometer dan berfungsi sebagai jalur pengumpan (feeder line) untuk jaringan lebih besar Bandoeng-Bandjaran-Kopo, titik sambungan Tjiteureup dipilih karena alasan teknis dan ekonomis juga untuk menghindari pembangunan jembatan tambahan di atas sungan Tji Taroem. Biaya pembangunan diperkirakan sekitar f 732.000, dengan potensi pendapatan tahunan sekitar f 80.000. Dari jumlah tersebut keuntungan bersih diproyeksikan sebesar f 36.000, dengan tingkat keuntungan sekitar 4,7%.

Menariknya dalam laporan yang sama, Madjalaja juga disebut sebagai salah satu pusat ekonomi di kawasan itu, terlihat dari kalimat “de economische centra Tjiparaj en Madjalaja worden langs korten weg aangesloten”, yang menunjukkan kalau kedua wilayah ini diposisikan sebagai titik penting dalam jaringan distribusi. Dengan kata lain keberadaan jalur trem bertujuan menghubungkan pusat-pusat ekonomi agar aktivitas perdagangan berlangsung lebih lancar dan efisien.

Pembangunan jalur trem ke arah Madjalaja pada akhirnya mulai terlihat di lapangan, hal ini tercatat dalam laporan surat kabar kolonial Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 21 Oktober 1919 Nieuwe spoorlijnen, ada gambaran yang cukup detail mengenai situasi pembangunan pada masa itu. Disebutkan dalam laporan “links van den weg in de richting van Madjalaja… staan de roodkoppige piketten… voor den aanleg van den zijtak Dajeuh Kolot–Madjalaja”, yang menunjukan bahwa jalur cabang menuju Madjalaja sudah mulai ditandai semacam patok-patok penunjuk rute yang akan dibangun, penandaan ini menjadi indikasi bahwa rute pembangunan telah ditentukan dan proyek sudah memasuki tahap persiapan yang serius.

Artinya pembangunan jallur trem ini bukan lagi sekedar rencana di atas kertas, proyek tersebut telah bergera ke tahap implementasi di lapangan. Bahkan skala pembangunan yan tergolong cukup besar. Dalam laporan yang sama digambarkan suasana pembangunan dengan kalimat “een heirleger van koelies, toekangs en opzichters ziet men nijver bezig”. melibatkan banyak tenaga kerja yang dikerahkan mulai dari kuli, tukang, sampai pengawas, semuanya dikerahkan untuk bekerja di lokasi. Proyek ini dibawah pengelolaan perusahaan pemerintah yaitu S.S. dan Waterkracht.

Peresmian jalur trem Madjalaja

Dilansir dari Delpher pada Rabu 03 Juni 2026, jalur kereta dan trem Bandung, "SPOORWEGKAARTJE DER NIEUWE LIJNEN TEN ZUIDEN VAN BANDOENG". (Sumber: https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/objectsearch/pagejump?identifier=MMKB34:178448050:mpeg21&query=SPOORWEGKAARTJE+DER+NIEUWE+LIJNEN+TEN+ZUIDEN+VAN+BANDOENG&coll=dts&resultsjump=1&rowid=1 | Foto: -)
Dilansir dari Delpher pada Rabu 03 Juni 2026, jalur kereta dan trem Bandung, "SPOORWEGKAARTJE DER NIEUWE LIJNEN TEN ZUIDEN VAN BANDOENG". (Sumber: https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/objectsearch/pagejump?identifier=MMKB34:178448050:mpeg21&query=SPOORWEGKAARTJE+DER+NIEUWE+LIJNEN+TEN+ZUIDEN+VAN+BANDOENG&coll=dts&resultsjump=1&rowid=1 | Foto: -)

Memasuki awal abad ke-20 Madjalaja mulai dilirik lebih serius oleh pemerintah Hindia Belanda, wilayah yang secara geografis cukup jauh dari pusat kota tapi mulai dipandang memiliki potensi besar terutama dari sisi ekonomi. Posisi ini kemudian membuat Madjalaja dimasukkan ke dalam rencana pembangunan jalur trem yang menghubungkannya dengan pusat kota dan daerah lain di sekitarnya.

Tujuan utama pembangunan ini cukup jelas untuk mempermudah mobilisasi manusia sekaligus memperlancar distribusi barang, terutama hasil industri dan perdagangan yang terus berkembang. Dengan adanya jalur trem diharapkan distribusi menjadi lebih cepat, biaya bisa ditekan, dan aktivitas ekonomi pun makin terdorong.

Meski menghadapi berbagai tantangan teknis yang sempat memperlambat pengerjaan, pembangunan jalur trem di Madjalaja tetap berjalan hingga akhirnya dapat direalisasikan dan dioprasikan secara bertahap. Kehadirannya menandai masuknya Madjalaja ke dalam jaringan transportasi modern yang mendukung pergerakan ekonomi di wilayah Priangan.

Peresmian jalur trem menuju Madjalaja menjadi puncak dari proses panjang yang dimulai sejak akhir abad ke-19, mulai dari perencanaan, survei, hingga pembangunan. Peristiwa ini tercatat dalam surat kabar tanggal 4 Maret 1922 berjudul De opening der lijn naar Madjalaja yang memuat ungkapan "Toch eindelijk! de lan-ge-lijn naar Madjalaja Klaar!" yang berarti jalur menuju Madjalaja akhirnya selesai dibangun. Meski sempat menghadapi kendala pendanaan dan hambatan teknis selama pembangunan, jalur tersebut berhasil diselesaikan dan terhubung dengan jaringan transportasi yang lebih luas.

Seiring waktu, peran Madjalaja dalam jaringan transportasi kolonial terus berkembang. Meskipun jalur trem telah tersedia, pemanfaatannya pada awalnya belum optimal. hal ini tercatat dalam surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsh Indië tanggal 7 Februari 1925 berjudul Een belangrijke verkeers verbetering, yang menyebutkan bahwa penggunaan jalur tersebut belum sesuai harapan karena konektivitasnya belum terintegrasi secara efektif dengan jalur utama.

Sebelumnya jalur ke arah selatan melalui Karees, Dajeuhkolot, hingga Tjiwidej memang telah beroperasi, tetapi dinilai kurang efisien. Salah satu penyebabnya adalah lokasi Karees yang relatif jauh dari pusat Kota Bandung, sehingga penumpang masih harus berganti kendaraan untuk mencapai pusat kegiatan ekonomi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan pengembangan jaringan melalui pembangunan jalur penghubung ke Tjikoedapateuh. Dalam laporan yang sama disebutkan "de verbindingslijn … met Tjikoedapateuh gereed is”, bahwa jalur penghubung tersebut telah selesai dibangun.

Dalam laporan yang sama disebutkan “de tramlijnen rijden dan allen van het hoofdstation Bandoeng via Tjikoedapateuh”. Dengan selesainya jalur penghubung antara Madjalaja, Tjiwidei, dan Tjikoedapateuh jalur trem sudah langsung terhubung dengan pusat kota Bandung lewat satu sistem transportasi yang lebih efisien.

Jejak keberadaan stasiun Madjalaja ini sebenarnya bukan sekedar cerita lama tapi jadi bagian dari rencana besar yang disusun sejak akhir abad ke-19. Lalu mulai dirancang dan benarbenar diwujudkan pada awal abad ke-20. Pembangunan ini bukan cuma soal bikin infrastruktur transportasi tapi ada alasan ekonomi dibaliknya, pemerintah kolonial melihat Madjalaja sebagai wilayah yang berpotensi terutama karena adanya industri tekstil yang terus berkembang.

Makanya jalur trem yang dibangun bukan cuma buat mempermudah orang berpergian tapi juga untuk mendukung pergerakan hasil produksi, barang-barang dari pabrik bisa lebih cefat didistribusikan, tenaga kerja lebih mudah berpindah, dan aktivitas perdagangan jadi makin lancar. Mungkin bangunan sejarah bisa hilang dan berubah tetapi cerita dibalik nya tidak akan hilang. (*)

SUMBER

  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&page=2&coll=ddd&identif ier=MMKB04:000123643:mpeg21:a0005&resultsidentifier=MMKB04:000123643:mpeg21:a 0005&rowid=4 Algeemen Handelsblad 28-01-1893 indisch nieuws
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&page=2&coll=ddd&identif ier=MMKB08:000132738:mpeg21:a0002&resultsidentifier=MMKB08:000132738:mpeg21:a 0002&rowid=2 De Preanger Bode 23-05-1919 tramlijn Tjiteureup-Madjalaja
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+aanleg&coll=ddd&identifier=ddd: 010180335:mpeg21:a0013&resultsidentifier=ddd:010180335:mpeg21:a0013&rowid=7 HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIE 21-10-1919 Nieuwe spoorlijnen
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=madjalaja+opening&coll=ddd&identifier=M MKB08:000132796:mpeg21:a0005&resultsidentifier=MMKB08:000132796:mpeg21:a0005 &rowid=1 de preanger-bode 04-03-1922 DE OPENING DER LIJN NAAR MADJALAJA
  • https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=karees+tjikoedapateuh+tram&coll=ddd&ident ifier=ddd:010220233:mpeg21:a0169&resultsidentifier=ddd:010220233:mpeg21:a0169&rowi d=1 HET NIEUWS VAN DEN DAG VOOR NEDERLANDSCH-INDIE 07-02-1925 Een belangrijke verkeers-verbetering.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

FAJAR RAMADHAN
Tentang FAJAR RAMADHAN
Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)