Perjalanan Menuju Stasiun Whoosh Tegalluar yang Penuh Rintangan, Kapan Perbaikan?

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ruas jalan becek penuh lubang menuju stasiun Teaglluar dari Rancaekek (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ruas jalan becek penuh lubang menuju stasiun Teaglluar dari Rancaekek (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Menuju stasiun kereta cepat Indonesia Cina (KCIC) Tegalluar bagi penumpang yang berdomisili di daerah timur seperti Rancaekek, Cicalengka, Garut penuh halang rintang yang tidak nyaman. Untuk menuju Stasiun Tegalluar ada dua pilihan.  Yakni rute pertama kita mesti jalan melingkar melewati jalan raya Cileunyi menuju bunderan Cibiru Kota Bandung lalu memasuki jalan kampung melewati Masjid Raya Al Jabar dan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kemudian sampailah ke stasiun.

Melewati rute pertama kita akan disergap oleh kemacetan lalu lintas yang parah, sejak jalan raya Rancaekek-Cileunyi-Bundaran Cibiru. Kemacetan bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Sering kali penulis tertinggal jadwal Whoosh karena disergap kemacetan.

Kemacetan sangat menyengsarakan, bisa berjam-jam. Banyak penumpang Whoosh yang tertinggal jadwal keberangkatan kereta.

Penulis juga sering sport jantung dan stress jika melewati neraka kemacetan antara Rancaekek-Cileunyi-Cibiru. Sudah puluhan tahun jalan ini dibiarkan selalu macet tanpa solusi yang berarti. Bupati dan Gubernur silih berganti, namun belum ada yang bisa mengatasi kemacetan di jalur  tersebut.

Karena kapok disergap kemacetan,penulis memilih rute kedua untuk menuju stasiun Whoosh Tegalluar. Yakni rute lewat jalan desa yang dimulai dari seberang pintu gerbang  utama Perumahan Bumi Rancaekek Kencana. Kemudian memasuki jalan menuju bengkel perawatan Whoosh Rancaekek disambung dengan jalan kampung Bobodolan yang kondisinya sempit dan penuh lubang. Kalau musim hujan becek dan sangat licin. Apalagi jalan desa itu menyusuri sempadan sungai yang kondisi jalannya sempit dan kalau tidak berhati-hati bisa terperosok tercebur ke sungai.

Pemandangan sawah membentang dan jalan rusak dilihat dari ruang tunggu penumpang Whoosh stasiun Tegalluar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Pemandangan sawah membentang dan jalan rusak dilihat dari ruang tunggu penumpang Whoosh stasiun Tegalluar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Jalan desa itu akhirnya tembus ke pintu masuk utama Stasiun Tegalluar setelah melewati halang rintang yang sangat tidak nyaman. Nampak jelas jalan becek penuh lubang itu dari tempat tunggu penumpang Whoosh. Penulis sendiri pernah mengalami insiden tercebur ke pematang sawah karena kendaraan ojek daring mengalami slip. Terpaksa mencuci dulu pakaian yang kena lumpur sebelum memasuki rangkaian Whoosh.

Paradoks halang rintang menuju Stasiun Tegalluar Whoosh perlu segera dicarikan solusinya. 

Pemerintah daerah, dalam hal ini Kabupaten Bandung mestinya memperbaiki jalan desa menuju tersebut. Apalagi kawasan Rancaekek hingga ruas jalan tol yang merupakan perbatasan dengan Kota Bandung merupakan kawasan strategis. Sehingga perbaikan dan perluasan jalan hingga perbaikan tanggul sungai dan saluran drainase sudah sangat mendesak. Selain menuju stasiun Whoosh, jalan desa tersebut juga merupakan rute menuju Stadion GBLA dan Masjid raya Al Jabar.

Kondisi saat memulai perjalanan, sangat kontradiksi dengan setelah menuruni Whoosh di stasiun Halim Jakarta Timur. Dari sini kondisinya sangat nyaman karena sudah tersedia moda kereta LRT menuju Dukuh Atas. Frekuensi perjalanan LRT yang hanya berselang 7 menit antara kereta satu dengan yang lain semakin mempercepat menuju Jakarta Pusat. Jika rapat diselenggarakan di daerah Jakarta Selatan, juga sudah tersedia moda MRT yang bisa melayani dengan cepat hingga Lebak Bulus.

Stasiun LRT Halim Jakarta Timur yang menyatu dengan Stasiun Whoosh Halim (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Stasiun LRT Halim Jakarta Timur yang menyatu dengan Stasiun Whoosh Halim (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Sepanjang bulan April dan Mei 2025 penulis telah melakukan enam kali perjalanan PP menggunakan kereta cepat Whoosh dari stasiun Tegalluar Kabupaten Bandung ke stasiun Halim, Jakarta Timur dan sebaliknya.

Kondisi gerbong LRT dari Halim yang sangat nyaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Kondisi gerbong LRT dari Halim yang sangat nyaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Stasiun Tegalluar yang sangat luas dan megah terus menerus terlihat sepi. Penumpang enggan menuju stasiun karena hambatan kemacetan lalu lintas, kondisi jalan yang sempit dan faktor gangguan sosial, seperti adanya gesekan antara angkutan online dengan ojek pangkalan.

Saat ini ada ojek pangkalan atau ojek online yang bisa melayani penumpang menuju Stasiun Tegalluar lewat pematang sawah. Dari Perumnas Rancaekek hanya perlu waktu sepuluh menit sampai di pintu masuk Stasiun Tegalluar. Namun jika hari sudah gelap atau sehabis turun hujan, maka tukang ojek tidak berani melewati pematang sawah tersebut.

Pemerintah hanya perlu membangun jalan sekira 4 kilometer.  Satu kilometer diantaranya berupa pematang sawah yang diperkeras batu. Sedang yang 3 kilometer berupa jalan desa. Di ruas jalan tersebut yang saat ini masih berupa sawah.

Baca Juga: Plagiat dan Duplikat, 2 Hal Beda yang Mesti Dihindari Penulis Ayobandung.id

Sebetulnya kawasan di sekitar Stasiun Tegalluar memiliki prospek yang sangat bagus sebagai destinasi wisata, perhotelan, perumahan,  hingga kawasan pendidikan. Salah satu tantangan atau hambatan alam di sekitar stasiun adalah bencana banjir yang sering menyergap Kawasan tersebut. Namun hal itu bisa diatasi jika pemerintah daerah serius memperbaiki banjir kanal barat Rancaekek dan normalisasi tanggul anak Sungai yang ada agar alirannya bisa lancar menuju Sungai Citarik.

Ruas jalan desa yang rusak bertambah panjang akibat musim hujan yang berkepanjangan. Banjir menyebabkan kerusakan jalan semakin parah. Mesti ada solusi konkrit untuk memperbaiki jalan rusak baik itu yang menyangkut manajemen yang bebas penyelewengan anggaran perbaikan, bebas dari gangguan preman yang berkedok ormas, maupun inovasi teknologi untuk mengatasi jalan rusak sehingga kualitas lebih baik dan umur jalan lebih panjang.

Untuk lokasi jalan yang medannya kritis atau riskan terhadap bencana alam, diperlukan inovasi teknologi untuk mengatasinya. Mestinya tidak ada lagi istilah tambal sulam atau perbaikan jalan secara asal-asalan yang berulang-kali menghabiskan keuangan negara.

Kondisi persawahan yang membentang di kawasan Rancaekek dekat stasiun Tegalluar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Kondisi persawahan yang membentang di kawasan Rancaekek dekat stasiun Tegalluar (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Penulis yang sudah tinggal di Rancaekek sejak tahun 1996  melihat potensi sumber daya alam (SDA) di Kabupaten Bandung khususnya di sekitar Rancaekek yang luar biasa. Bila dikelola akan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi. Sederet potensi lokal telah tersedia. Saya mengambil contoh yang sederhana tetapi bisa menjadi kekuatan ekonomi lokal yang luar biasa, yakni potensi perikanan. Penulis berani mengatakan bahwa ikan air tawar di kabupaten Bandung khususnya di daerah Rancaekek paling enak dan gurih di negeri ini.

Saya sering membeli ikan gabus ukuran besar dari petani, rasanya paling enak diantara ikan gabus di daerah lain yang pernah saya rasakan. Itu semua karena kualitas tanah di kabupaten Bandung sangat luar biasa dan cocok untuk berbagai budidaya ikan dan binatang air lainnya. Oleh sebab itu, semua pihak harus menjaga agar tanah dan air di Kabupaten Bandung jangan sampai mengalami pencemaran berat akibat limbah industri. Penulis juga berharap agar komunitas burung blekok, kuntul dan satwa liar lainnya bisa lestari dan habitatnya dilindungi dengan baik. Keniscayaan Pembangunan hijau yang berkelanjutan serta proses kreatif yang menghasilkan bermacam produk bernilai tambah tinggi bisa tercapai. Yang pada gilirannya bisa memakmurkan masyarakat lokal.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Pemkab Bandung tidak boleh mati langkah dalam membangun infrastruktur yang bisa memperlancar konektivitas perhubungan dan bisa menumbuhkan kreatifitas warga dan mengajarkan proses desain yang sesuai perkembangan zaman. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)