Tren 'Curhat Digital' di Kalangan Anak Muda

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
AI memberikan ruang aman bagi anak muda untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi. (Sumber: Pexels/Sanket Mishra)
AI memberikan ruang aman bagi anak muda untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi. (Sumber: Pexels/Sanket Mishra)

Di sela perkuliahan, seorang mahasiswa bercerita tentang kebiasaan barunya “curhat” dengan salah satu aplikasi AI (Artificial Intellegence).

Ia bilang, setiap kali merasa stres atau kewalahan saat menghadapi tekanan hidup, AI lebih nyaman untuk dijadikan teman, alasannya sederhana, AI tidak pernah menghakimi, selalu siap mendengarkan, dan yang paling penting AI lebih solutif dari pada teman-teman di kelasnya.

Pengakuan ini tentu memunculkan beragam reaksi dari benak saya, antara terkejut, ingin memahami lebih jauh dan bertanya-tanya tentang makna dibalik kebiasaan barunya. Apakah ini cerminan dari kebutuhan emosional yang tak terpenuhi, atau justru indikasi pergeseran dalam membangun relasi dan mengekspresikan diri di kalangan generasi muda?

Mahasiswa tersebut merupakan salah satu dari ribuan kasus atas fenomena yang sedang terjadi. Warga digital kini semakin akrab dengan kehadiran AI.

Misalnya ChatGPT, Replika, dan Woebot, mereka hadir sebagai teman digital dengan aksesibilitas 24 jam. AI juga memberikan respons yang cepat dan netral secara emosional, karakteristik yang menjadi daya tarik utama bagi kalangan muda.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Morris et al. (2022) dalam Computers in Human Behavior, netralitas emosional AI membantu mengurangi kecemasan sosial pada pengguna yang takut mendapat penilaian negatif dari orang lain. Artinya, AI memberikan ruang aman bagi anak muda untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi.

Survey yang dilakukan kepada generasi muda di Australia menyatakan bahwa, dalam mencari dukungan emosional, mereka lebih sering menggunakan chatbot AI dan menghindari bantuan professional karena stigma dan keterbatasan akses (Medibank & The Growth Distillery, 2024).

Begitupun dengan Denmark, sekitar 2,4% siswa sekolah menengah menggunakan chatbot untuk dukungan sosial, meski interaksi manusia tetap dibutuhkan (Psypost.org, 2024).

Sementara itu, di Taiwan dan China, AI menjadi alternatif murah dan mudah diakses untuk mengatasi tekanan psikologis generasi muda (The Guardian, 2025).

Di Indonesia, meskipun belum ada data resmi, tren global ini kemungkinan besar tercermin juga di kalangan anak muda yang aktif menggunakan teknologi.

Fenomena tersebut selaras dengan teori Media Richness dari Draft dan Lengel (1986), dijelaskan bahwa media komunikasi yang kaya mampu memenuhi kebutuhan komunikasi interpersonal yang efektif. AI, dengan segala “kekayaannya” mampu merespon cepat dan menyesuaikan kebutuhan pengguna.

Selain itu, teori Parasocial Interaction (Horton & Wohl, 1956) juga relevan, bagaimana seseorang bisa membangun komunikasi satu arah dengan media (dalam hal ini AI), yang membuat pengguna merasa didengar dan dihargai meski interaksinya tidak bersifat timbal balik seperti pada hubungan manusia.

Lalu, dengan semua fakta dan teori tersebut, lahir pertanyaan menggelitik, Apakah AI benar-benar bisa menggantikan manusia sebagai teman curhat?

Pertanyaan ini melahirkan jawaban yang rumit, di satu sisi kelahiran AI memang memenuhi kebutuhan emosional tertentu (kebutuhan untuk didengar, diterima dan dimengerti), namun di sisi lain, ada dimensi relasional dan emosional yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh entitas digital.

Dari perspektif psikologis, AI membantu pengguna memproses pikiran lebih runut, memvalidasi perasaan dengan sistematis, bahkan terkadang memberi saran dan solusi dengan logis. Seperti yang dikatakan mahasiswa saya, bahwa AI lebih “solutif” dibandingkan dengan teman sekelasnya.

Namun, perlu diingat bahwa solusi yang diberikan AI bukan hasil dari empati sejati, melainkan dari model statistik berbasis data. Artinya, kehadiran AI bukan berdasarkan rasa peduli, melainkan karena program yang dirancang untuk merespon sesuai permintaan. Sangat ironis, pengguna merasa dimengerti “sesuatu” yang sebenarnya tidak pernah benar-benar mengerti.

Tren curhat digital ini menunjukan kecenderungan baru yang menarik, beberapa peneliti menyebut gejala ini sebagai emotional outsourcing, yaitu kecenderungan untuk melakukan proses mengelola emosi kepada pihak luar, seperti aplikasi meditasi, chatbot AI, atau video self-helf di media sosial.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Seperti yang dikatakan mahasiswa saya, bahwa AI lebih “solutif” dibandingkan dengan teman sekelasnya. (Sumber: Pexels/Tara Winstead)

Tidak bisa dimungkiri, AI memberi ruang baru dalam cara kita mencari dukungan emosional. AI menjadi “penolong” bagi mereka yang merasa tidak punya ruang aman di dunia nyata. Bahkan dalam beberapa kasus, AI justru membantu seseorang mengenali bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, lalu mendorongnya untuk mencari pertolongan professional.

Pada dasarnya Ini bukan hal buruk, tapi jika dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi refleksi diri atau interaksi nyata dengan manusia, perlahan-lahan seseorang akan kehilangan kepekaan emosionalnya, baik terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap orang lain.

Saya tidak mengharamkan AI, atau melarang generasi muda untuk menggunakannya. AI bisa sangat membantu dalam situasi tertentu, ia bisa menjadi ruang awal untuk menata pikiran, menenangkat hati, atau sekadar menjadi teman “bicara” tanpa rasa takut dinilai. Tapi penting untuk diingat, AI bukan sahabat sejati yang sebenarnya. Ia bisa merespon, tapi tidak bisa benar-benar mengerti. Ia bisa menenangkan, tapi tidak bisa memberi pelukan.

Karena itu, literasi emosional perlu berjalan seiring dengan literasi digital. Anak muda harus lebih mengenali dan memahami emosinya sendiri, bukan hanya lewat layar, tapi juga lewat percakapan langsung, relasi hangat, dan pengalaman nyata.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial, tugasnya bukan menjadi polisi moral atau penjaga pagar teknologi, melainkan menjadi pendengar setia, yang hadir, yang tidak buru-buru menyela, yang tidak langsung menyalahkan. Anak muda tidak selalu butuh nasihat, kadang mereka hanya ingin tahu bahwa ada seseorang yang mau mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

Mungkin apa yang dilakukan mahasiswa saya bukan hanya tentang “lebih memilih AI”, bisa jadi merupakan bentuk adaptasi terhadap dunia yang semakin sunyi dalam keramaian. Kita hidup di tengah banyak koneksi, tapi jarang merasa benar-benat terhubung. Percakapan makin cepat, tapi esensinya makin dangkal.

Inilah saatnya kita bertanya ulang, apakah AI benar-benar hadir untuk kita, atau hanya sekedar pantulan dari diri sendiri yang semakin jarang di dengar? Apakah kenyamanan curhat dengan AI merupakan solusi, atau hanya pelarian sesaat dari kebutuhan kita yang lebih dalam, seperti ingin dimengerti, diterima dan memiliki hubungan yang dekat dengan orang lain? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab cepat-cepat, bukan soal benar atau salah, tapi untuk dipikirkan dan direnungkan.

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Teknologi memang membuat banyak hal jadi lebih mudah. Tapi tak semua yang mudah membuat kita lebih kuat. Kadang, justru lewat hubungan yang tidak sempurna, membingungkan, melelahkan, bahkan menyakitkan, membuat kita belajar menjadi manusia yang utuh.

Tren “curhat digital” tidak salah, tapi saya percaya, kita semua tetap butuh seseorang yang hadir bukan karena diprogram, melainkan karena rasa kepedulian. Tugas kita hari ini bukan hanya soal bagaimana menggunakan AI dengan bijak, tapi juga bagaimana kembali membangun ruang-ruang kepercayaan antar manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)