Menganalisis kata kunci, saya melihat pada website resmi menggunakan kata “Lilo & Stitch” yang menekankan nilai nostalgia kuat dari film tersebut kepada audiens. Penggunaan kalimat “reimagining of Disney’s 2002 animated classic” disusun secara formal dan terstruktur untuk memperkuat kesan bahwa versi live action tetap berakar pada cerita lama yang sudah dikenal luas oleh berbagai generasi penonton.
Sementara itu, pada media sosial Instagram digunakan kata “Lilo & Stitch” yang memiliki makna emosional kuat dan sudah melekat dalam ingatan penonton sejak film animasi sebelumnya. Penggunaan frasa tersebut mampu membangkitkan nostalgia sekaligus menciptakan kedekatan emosional dengan audiens melalui pendekatan visual yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Pada aspek teknik penulisan, website resmi menggunakan pendekatan yang formal dan informatif dengan menyampaikan informasi utama mengenai film pada bagian awal paragraf secara jelas. Setelah itu, informasi pendukung seperti sinopsis, karakter, dan detail produksi dijelaskan secara rinci untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada audiens.

Alika Nadia Lintang Wibowo
Sementara itu, teknik penulisan pada Instagram lebih ringkas dan berfokus pada penyampaian pesan utama melalui visual serta caption singkat yang mudah dipahami audiens. Penyampaian ini memungkinkan audiens untuk langsung menangkap inti informasi sekaligus merespons konten melalui komentar atau reaksi secara cepat dan interaktif.
Pada aspek konsistensi gaya penulisan, website resmi menampilkan gaya komunikasi yang rapi, formal, dan terstruktur dalam menyampaikan seluruh informasi terkait film secara lengkap. Gaya ini menunjukkan upaya menjaga kredibilitas informasi serta memberikan pemahaman yang jelas kepada audiens mengenai konteks dan isi film yang disampaikan.
Sebaliknya, media sosial Instagram menggunakan gaya komunikasi yang lebih santai, emosional, dan visual untuk membangun kedekatan dengan audiens melalui pengalaman menonton trailer secara langsung. Gaya ini menekankan pada pembentukan emosi dan antusiasme audiens terhadap film yang akan segera dirilis di bioskop.
Meskipun terdapat perbedaan gaya penulisan antara website dan Instagram, keduanya tetap konsisten dalam menyampaikan pesan utama mengenai nostalgia dan ekspektasi terhadap film tersebut. Konsistensi ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi digital tetap terarah meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda pada masing-masing platform.
Perbedaan gaya komunikasi antara website resmi dan Instagram justru saling melengkapi dalam menjangkau audiens yang beragam secara strategis (Drossos et al., 2024). Nostalgia sebagai elemen utama terbukti efektif membangun kedekatan emosional audiens, sekaligus memperkuat konsistensi pesan di seluruh platform digital yang digunakan (Arora, 2024).
Menurut saya, perbedaan gaya komunikasi antara website resmi yang formal dan Instagram yang lebih personal merupakan strategi tepat untuk menjangkau audiens yang beragam. Pendekatan ini sejalan dengan temuan bahwa nostalgia dan emosi mampu memperkuat kedekatan sekaligus loyalitas penonton terhadap suatu produk hiburan dalam jangka panjang. (*)
Refrensi :
- Arora, S. (2024). The Impact of Emotional Storytelling on Brand Loyalty: A Study of Consumer Engagement through Social Media Advertising. In Journal of Information Systems Engineering and Management (Vol. 2025, Number 15s). https://www.jisem journal.com/
- Drossos, D., Coursaris, C., & Kagiouli, E. (2024). Social media marketing content strategy: A comprehensive framework and empirically supported guidelines for brand posts on Facebook pages. Journal of Consumer Behaviour, 23(3), 1175–1192. https://doi.org/10.1002/cb.2269