Paylater di Kalangan Gen Z Bandung: Kemudahan Transaksi atau Risiko Finansial?

7 menit baca
Shavira Zaskia
Ditulis oleh Shavira Zaskia diterbitkan
Ilustrasi AI penggunaan paylater di kalangan Gen Z dan risiko finansial yang perlu diwaspadai. (Sumber: OpenAI (AI-generated) | Foto: AI-generated image)
Ilustrasi AI penggunaan paylater di kalangan Gen Z dan risiko finansial yang perlu diwaspadai. (Sumber: OpenAI (AI-generated) | Foto: AI-generated image)

Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan financial technology (fintech) telah mengubah cara masyarakat modern melakukan transaksi ekonomi, termasuk di kalangan Gen Z di Kabupaten Bandung. Kemudahan berbelanja melalui aplikasi digital, memesan transportasi, hingga membeli berbagai kebutuhan secara daring semakin didukung oleh layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater yang memungkinkan pengguna membeli sekarang dan membayarnya kemudian. Bagi Gen Z yang sedang menempuh pendidikan, mulai bekerja, atau memasuki masa mandiri secara finansial, layanan ini dapat memberikan kemudahan transaksi. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat risiko finansial yang perlu dipahami, terutama terkait kemampuan membayar cicilan dan mengelola pengeluaran.

Lantas, mengapa Gen Z di Kabupaten Bandung menjadi fokus utama dalam pembahasan risiko finansial dalam penggunaan paylater?

Mengapa Fokus pada Gen Z?

Gen Z dikenal sebagai digital native, yaitu generasi yang tumbuh bersama perkembangan internet, smartphone, media sosial, dan berbagai platform digital. Berdasarkan SUPAS 2025 BPS, Gen Z mencakup 24,93% dari populasi Indonesia, menjadikannya salah satu kelompok generasi terbesar di Indonesia. Kedekatan mereka dengan teknologi juga terlihat dalam penggunaan layanan keuangan digital, termasuk  paylater. Namun, tingginya akses belum selalu sejalan dengan pemahaman risikonya. SNLIK 2025 mencatat literasi keuangan kelompok usia 18-25 tahun sebesar 73,22% sementara inklusinya mencapai 89,96%. Pada bulan Februari tahun 2025, OJK juga mencatat TWP90 fintech landing sebesar 2,78% dengan pendanaan bermasalah di dominasi peminjam usia 19-34 tahun.

Dalam konteks Kabupaten Bandung, risiko penggunaan paylater di kalangan Gen Z menjadi penting untuk diperhatikan seiring berkembangnya transaksi digital. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bandung, jumlah Gen Z pada Semester II tahun 2025 mencapai 1.170.386 jiwa atau sekitar 30,85% dari total penduduk. Besarnya jumlah Gen Z ini menjadikan literasi keuangan sebagai isu yang relevan di tengah perkembangan transaksi digital dan belanja daring. Kemudahan menggunakan paylater memang memungkinkan konsumen membeli barang dan membayarnya kemudian. Namun, penggunaan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dapat mendorong perilaku konsumtif, penumpukan tagihan, dan kesulitan mengelola keuangan. Oleh karena itu, Gen Z di Kabupaten Bandung perlu memahami risiko paylater agar tidak terjebak dalam utang konsumtif.

 Data dan Fakta Lokal Resmi tentang Kerentanan Gen Z

Fokus pembahasan pada Gen Z ini didasarkan pada data dan fakta resmi dari lembaga regulator:

1.      Perkembangan dan Risiko Kredit Digital

Data OJK menunjukkan bahwa penggunaan layanan fintech dan BNPL terus berkembang di Indonesia, termasuk di kalangan masyarakat usia muda. Pada Februari 2025, TWP90 industri fintech P2P lending tercatat sebesar 2,78%, sementara pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp8,2 triliun dengan NPF gross sebesar 3,68%. Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, masih terdapat risiko keterlambatan atau masalah dalam pembayaran.

 2.       Kesenjangan Literasi vs. Inklusi (SNLIK OJK & BPS)

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan adanya kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan pada kelompok usia muda. Pada kelompok usia 18-25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 73,22%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 89,96%. Artinya, akses dan penggunaan layanan keuangan pada kelompok usia tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pemahaman mereka mengenai produk dan layanan keuangan. Kesenjangan ini menunjukkan pentingnya peningkatan literasi keuangan agar akses terhadap layanan keuangan digital dapat diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai risiko dan kewajiban keuangan.

3.      Penggunaan Paylater di Jawa Barat dan Relevansinya bagi Gen Z Kabupaten Bandung

Berdasarkan laporan RRI yang mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, pada bulan Desember 2024, Gen Z berusia 18-25 tahun mencakup 26,5% pengguna layanan paylater di Jawa Barat, dengan jumlah akun paylater di tingkat provinsi mencapai 6,1 juta. Sementara itu, berdasarkan Profil Kependudukan Kabupaten Bandung mencapai 1.170.386 jiwa atau sekitar 30,85% dari total penduduk. Kedua data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan paylater di kalangan anak muda Jawa Barat relevan untuk menjadi perhatian dalam edukasi keuangan bagi Gen Z di Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, data regional ini dapat menjadi konteks untuk membahas pentingnya pemahaman risiko paylater di kalangan Gen Z Kabupaten Bandung.

4.      Pengaruh Psikologis FOMO dan Pemasaran Digital

Fear of Missing Out (FOMO) dapat memengaruhi perilaku konsumsi anak muda, terutama ketika mereka melihat tren dan gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Keinginan untuk mengikuti tren dapat mendorong pembelian secara impulsif, termasuk menggunakan fitur paylater. Produk yang sedang populer, seperti minuman kekinian, pakaian, hingga tiket konser, dapat menjadi lebih menarik ketika dipromosikan secara intensif melalui media sosial. Dalam kondisi tersebut, kemudahan paylater dapat membuat konsumen lebih mudah melakukan pembelian meskipun belum memiliki dana yang cukup.

Bagian Mana Saja Kerugiannya?

Ketidaksiapan finansial dapat membawa berbagai dampak negatif bagi kehidupan Gen Z. Masalahnya bukan hanya soal berkurangnya uang untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan lainnya :

1.      Kerugian Finansial (Jebakan Bunga Berbunga dan Multi-Lending)

Pembayaran yang dipecah menjadi cicilan bulanan dapat membuat suatu transaksi terlihat lebih terjangkau. Namun, jika dilakukan berulang kali, akumulasi dari berbagai cicilan kecil dapat meningkatkan beban pembayaran hingga melebihi kemampuan keuangan seseorang. Kondisi tersebut dapat mendorong terjadinya multi-lending, yaitu menggunakan pinjaman baru untuk membayar kewajiban dari pinjaman sebelumnya. Jika terus berlanjut, pola ini dapat membuat beban utang semakin sulit dikendalikan.

2.      Kerugian Masa Depan (Riwayat Kredit dalam SLIK OJK)

Riwayat pembayaran kredit tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Keterlambatan atau masalah dalam pembayaran dapat memengaruhi kualitas riwayat kredit seseorang. Jika memiliki riwayat kredit yang kurang baik, pengajuan kredit di masa depan, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pinjaman modal usaha, atau fasilitas kredit perbankan lainnya, dapat menjadi lebih sulit.

3.      Kerugian Karier dan Pekerjaan

Riwayat kredit yang bermasalah juga dapat menjadi perhatian dalam beberapa proses rekrutmen, terutama pada posisi atau sektor tertentu yang memiliki persyaratan pemeriksaan informasi keuangan. Bagi fresh graduate, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena riwayat kredit dapat diperiksa oleh pihak yang melakukan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4.      Dampak Mental dan Sosial

Laporan pengaduan publik kepada YLKI dan Satgas PASTI OJK menunjukkan adanya keluhan terkait praktik penagihan yang tidak etis, pengenaan denda, serta penggunaan kontak darurat dalam proses penagihan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan dan kecemasan bagi pengguna yang mengalami masalah pembayaran. Jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis dan hubungan sosial pengguna.

Langkah Konkret Memutus Rantai Cicilan

Menghentikan siklus jebakan ini bukan berarti menolak teknologi finansial sepenuhnya, tetapi mengembalikan paylater pada fungsinya sebagai alat untuk mempermudah transaksi, bukan sebagai sarana untuk memenuhi gaya hidup konsumtif:

1.      Penerapan Financial Pause (Aturan 48 Jam)

Memberikan jeda selama dua hari sebelum melakukan transaksi nonpokok dengan paylater dapat membantu mengendalikan keinginan untuk melakukan pembelian secara impulsif.

2.      Evaluasi Penganggaran (Metode 50/30/20)

Membagi pendapatan secara disiplin: 50% untuk kebutuhan dasar, termasuk pembayaran utang, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan.

3.      Mengurangi Aksesibilitas Impulsif

Mematikan pemberitahuan promo belanja, menghapus tautan pembayaran otomatis paylater, dan melakukan detox digital secara rutin.

Mengorbankan kondisi keuangan di masa depan demi kepuasan sesaat dapat menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari. Paylater memang menawarkan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi penggunaannya tetap perlu disertai pertimbangan atas kemampuan membayar, bunga, biaya, dan riwayat kredit. Karena itu, Gen Z perlu lebih bijak dalam menggunakan paylater dengan membatasi pembelian impulsif, menerapkan jeda sebelum berbelanja, dan mengatur keuangan secara disiplin. Kebebasan finansial bukan hanya tentang kemampuan membeli sesuatu saat ini, tetapi juga tentang memiliki kondisi keuangan yang aman dan terkendali untuk kebutuhan di masa depan.

Baca Juga: Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Inovasi teknologi finansial hadir untuk menciptakan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui edukasi literasi keuangan yang inklusif dan pengendalian diri yang bijak, Gen Z dapat memanfaatkan kemudahan teknologi tanpa harus mengorbankan keamanan finansial mereka di masa depan.

Pada akhirnya, kesadaran finansial menjadi hal penting bagi Gen Z di Kabupaten Bandung dalam menghadapi kemudahan transaksi digital, termasuk penggunaan paylater. Dengan jumlah Gen Z yang mencapai 1.170.386 jiwa berdasarkan data kependudukan Semester II Tahun 2025, edukasi mengenai risiko utang konsumtif perlu menjadi perhatian agar generasi muda mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak. Gen Z di Kabupaten Bandung diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami batas kemampuan finansialnya, sehingga kemudahan bertransaksi tidak menjadi beban yang menghambat kesejahteraan mereka di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 14:01

Semrawut Parkir Liar Pasar Ujungberung: Jalan Sempit, Pejalan Kaki Terpaksa 'Nyempil' di Antara Kendaraan

Parkir liar di bahu jalan dan trotoar depan Pasar Ujungberung bikin ruas jalan menyempit. Pejalan kaki terpaksa nyempil di antara kendaraan

Kondisi parkir liar sepeda motor di bahu jalan depan Pasar Ujungberung yang menyebabkan penyempitan jalan. (Foto: Rahayu)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 13:22

Aksa Cafe Cirebon tempat Nongkrong Cozy di Cirebon

Aksa Cafe Cirebon menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang punya tempat yang nyaman dan rasa makanan yang enak

Menu Aksa Cafe Cirebon (11/10/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 09:41

Kenapa Kekerasan Masih Terjadi di Sekolah

Kita miris melihat masih terjadinya kekerasan di sekolah, yang mengakibatkan seorang anak meninggal dunia. Ada yang harus dibenahi secara serius tentang tata kelola sekolah. Disiplin bukan hukuman.

Ilustrasi kekerasan di sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ivonne Vallejos)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 08:31

Paylater di Kalangan Gen Z Bandung: Kemudahan Transaksi atau Risiko Finansial?

Paylater menawarkan kemudahan transaksi bagi Gen Z, tetapi juga menyimpan risiko finansial. Kenali dampaknyadan pentingnya mengelola keuangan secara bijak agar tidak terjerat utang.

Ilustrasi AI penggunaan paylater di kalangan Gen Z dan risiko finansial yang perlu diwaspadai. (Sumber: OpenAI (AI-generated) | Foto: AI-generated image)
Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)