Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)

NAMA sebuah tempat kadang lebih panjang umurnya daripada kenyataan yang melahirkannya. Saritem di Bandung adalah salah satu contohnya. Namanya terlanjur lekat dengan sejarah prostitusi di ibukota Jawa Barat ini, sehingga setiap kali ada peristiwa yang berkaitan dengan kawasan itu, ingatan publik gampang kembali berpaling ke cerita-cerita lama. 

Jumat, (9/10/2026) lalu, polisi menggelar razia narkotika di Saritem. Sekurangnya  21 orang dilaporkan positif mengonsumsi metamfetamin dan dibawa ke Mapolrestabes Bandung. Peristiwa ini tentu perlu ditindaklanjuti. 

Penggunaan narkotika bukan perkara sepele. Terlebih jika berkaitan dengan jaringan peredaran yang dapat merusak kehidupan banyak orang. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga ketika kita membaca berita semacam ini, yakni jangan sampai tindakan sejumlah orang berubah menjadi alasan untuk menghakimi seluruh kawasan.

Kita sudah sama-sama tau, manakala nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, percakapan warga, dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Maka, sebuah peristiwa baru mudah dibaca melalui kacamata lama. Orang belum tentu mengetahui keadaan Saritem kiwari, tetapi mungkin merasa sudah mengenalnya karena pernah mendengar namanya puluhan kali.

Dalam sosiologi, keadaan semacam ini berkaitan dengan stigma. Sosiolog Erving Goffman, melalui bukunya Stigma (1963), menjelaskan bagaimana atribut tertentu dapat mengalahkan identitas seseorang yang jauh lebih kompleks. Orang tidak lagi dilihat sebagai individu dengan pengalaman, pekerjaan, hubungan keluarga, dan pilihan hidupnya sendiri. Satu label bisa menjadi begitu dominan sehingga aspek lain seolah tidak penting. Pada tingkat kawasan, mekanisme serupa dapat terjadi. Ujungnya, reputasi tempat merembet kepada orang-orang yang tinggal atau beraktivitas di dalamnya.

Padahal, tinggal di sebuah kawasan bukan pernyataan persetujuan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sana. Mereka mungkin tinggal berdekatan secara geografis, tetapi kedekatan tempat tidak membuktikan kesamaan perilaku. Hal yang tampak sederhana ini justru sering terlupakan ketika sebuah kawasan sudah telanjur memiliki nama buruk.

Menjadi beban sosial

Psikologi sosial mengenal kecenderungan manusia untuk membuat generalisasi dari informasi yang menonjol. Dalam berita, peristiwa kriminal memiliki daya tarik lebih besar daripada rutinitas biasa. Dua puluh satu orang yang terjaring razia di Saritem, seperti yang diwartakan media, merupakan informasi yang mudah diingat, sedangkan ratusan kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa masalah mungkin jarang menjadi berita dan membetot atensi publik. 

Ketimpangan perhatian tersebut dapat membentuk persepsi yang tidak sebanding dengan kenyataan. Bukan berarti peristiwa razia dilakukan petugas harus dikecilkan, melainkan bahwa satu peristiwa tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kehidupan suatu komunitas.

Sudah barang tentu, reputasi buruk suatu tempat dapat menjadi beban sosial tersendiri bagi penduduknya. Mereka berhadapan bukan hanya dengan kondisi lingkungan yang mungkin bermasalah, melainkan juga dengan penilaian dari luar yang menganggap tempat tinggal mereka sebagai petunjuk tentang siapa diri mereka.

Dampaknya tidak selalu terlihat dalam bentuk penghinaan terbuka. Stigma dapat muncul melalui kecurigaan, jarak sosial, atau anggapan bahwa seseorang kurang layak dipercaya karena berasal dari lingkungan tertentu. Dalam situasi lain, nama kawasan bahkan bisa mempengaruhi cara orang luar berinteraksi dengan penghuninya. Kita memang tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa semua dampak tersebut terjadi pada warga Saritem tanpa penelitian khusus. Namun, ilmu sosial memberi alasan kuat untuk mempertimbangkan kemungkinan itu ketika membicarakan kawasan yang reputasinya sudah lama terbentuk.

Persoalan terlihat rumit

Pada dasarnya, kawasan perkotaan tidak selalu dapat dibaca dengan garis pemisah yang rapi. Dalam satu lingkungan, ruang tempat tinggal, kegiatan ekonomi, hubungan sosial, dan aktivitas informal bisa saling berdekatan. Orang yang berinteraksi di ruang yang sama belum tentu memiliki kepentingan yang sama. 

Karena itu, kebijakan yang hanya melihat sebuah kawasan sebagai satu kategori besar berisiko melewatkan perbedaan penting di dalamnya. Nu matak, justru ketika persoalan terlihat rumit, pemerintah perlu lebih teliti membedakan siapa melakukan apa, siapa terdampak, dan siapa yang membutuhkan perlindungan.

Membedakan kategori bukan berarti melonggarkan penegakan hukum. Justru, ketepatan membedakan peran memungkinkan penegakan hukum berjalan lebih terarah, sekaligus membuka ruang bagi penanganan dan perlindungan bagi orang yang membutuhkannya.

Di sisi lain, kritik terhadap stigma tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mengabaikan masalah nyata. Jika memang di Saritem terdapat peredaran narkotika, misalnya, aparat perlu menyelidiki jaringan dan menindak pelaku berdasarkan bukti. Jika ada warga yang terancam atau mengalami dampak aktivitas ilegal, mereka berhak memperoleh perlindungan. 

Lingkungan padat penduduk bukan tempat yang kebal hukum. Tetapi hukum juga tidak semestinya bekerja dengan logika bahwa reputasi buruk sebuah kawasan cukup untuk mencurigai semua orang di dalamnya. Yang satu mengharuskan ketegasan; yang lain menuntut ketelitian. Keduanya tidak bertentangan.

Persoalannya, apakah sebuah razia dapat mengubah keadaan dalam jangka panjang? Jawabannya tidak cukup dilihat dari jumlah orang yang dibawa ke kantor polisi. Penindakan dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap jaringan, memutus pasokan, dan mencegah kejahatan berulang. 

Namun, keberhasilan yang lebih tahan lama juga bergantung pada tindak lanjut, konsistensi pengawasan, serta kepercayaan warga kepada institusi. Tanpa informasi mengenai hasil penyelidikan dan perkembangan sesudah razia, kita belum dapat menilai dampak operasi di Saritem secara menyeluruh. Angka 21 orang adalah informasi penting, tetapi bukan kesimpulan akhir.

Bagi pengelola Kota Bandung, tantangannya bukan sekadar bagaimana menertibkan kawasan yang memiliki sejarah panjang, melainkan bagaimana mengelola perubahan tanpa menjadikan penduduknya sebagai sasaran stigma. Kota yang sehat tidak harus menutup mata terhadap persoalan di lingkungannya. 

Sebaliknya, pengelola kota perlu berani melihat masalah secara langsung, termasuk ketika masalah itu berada di tempat yang namanya sudah terlanjur buruk. Pada saat yang sama, pengelola kota perlu memastikan bahwa penanganan suatu persoalan tidak membuat warga yang tidak terlibat ikut menanggung akibat sosialnya. Daerah boleh punya sejarah, tetapi masa depan penghuninya tidak semestinya ditentukan sepenuhnya oleh sejarah tersebut.

Bukan cuma nama

Ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi Don’t judge a book by its cover. Kalau kata Kang Dadan yang tinggal di Caringan mah, ulah ngan ningali buku tina sampulna. Ungkapan ini sederhana, tetapi relevan untuk memahami Saritem. 

Sebuah kawasan bukan cuma nama yang tercetak di peta atau reputasi yang mencuat berulang dalam pemberitaan. Di dalamnya, ada orang-orang dengan kehidupan yang berbeda, termasuk mereka yang mungkin tidak pernah memiliki hubungan dengan persoalan yang membuat kawasan itu terkenal.

Menilai mereka secara seragam bukan hanya tidak adil, melainkan juga membuat kita kehilangan kemampuan memahami masalah dengan tepat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)