Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

8 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)

Arus globalisasi telah mengubah gaya hidup dan selera kuliner masyarakat perkotaan di Indonesia. Kehadiran beragam makanan modern perlahan mengikis kepopuleran kuliner lokal, hingga sajian warisan leluhur kini makin jarang ditemui di warung makan maupun restoran.

Dalam menghadapi tantangan peradaban ini, kesadaran kolektif untuk melestarikan identitas rasa bangsa menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. Salah satu langkah paling efektif dan konkret adalah dengan menghidupkan kembali tradisi memasak resep warisan di dapur rumah sendiri. Langkah sederhana ini tidak hanya menjaga keberlanjutan cita rasa autentik secara turun-temurun, tetapi juga memperkokoh benteng kebudayaan kuliner Nusantara agar tidak punah ditelan zaman.

Kebanggaan nasional terhadap kekayaan kuliner Indonesia sejatinya diperkuat oleh pengakuan kancah internasional. Berdasarkan fakta yang sudah jamak diketahui, masakan Indonesia dinilai sebagai salah satu hidangan paling 'hidup' dan berwarna di dunia. Kepopuleran ini dibuktikan dengan dinobatkannya Rendang khas Minangkabau sebagai makanan terlezat di dunia versi CNN pada tahun 2011, disusul oleh Nasi Goreng di peringkat kedua.

Tidak hanya itu, Bakso menjadi hidangan favorit mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sementara Sate Ayam yang gurih manis diakui masyarakat global hingga diadaptasi oleh celebrity chef internasional, Jamie Oliver. Keanekaragaman cita rasa Nusantara ini juga tidak lepas dari proses akulturasi sejarah yang panjang, di mana budaya lokal berpadu harmonis dengan pengaruh asing dari Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa.

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Ragam Hidangan Utama

Dalam khazanah gastronomi Nusantara, hidangan utama tidak sekadar pemenuh nutrisi harian, melainkan manifestasi nyata kekayaan hayati dan kearifan lokal. Setiap daerah mengembangkan teknik pengolahan spesifik, memanfaatkan bahan autentik setempat, serta mengaitkannya dengan nilai adat, perayaan, dan ritual sosial.

Keragaman racikan rempah dan metode pematangan tradisional merefleksikan kompleksitas identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Memahami sejarah di balik sajian ini memberi kita gambaran utuh tentang tingginya peradaban kuliner tempo dulu yang patut didokumentasikan, dipelajari, dan dilestarikan.

Keunikan hidangan utama Nusantara sangat ditentukan oleh keahlian mengolah bahan dasar serta teknik preservasi tradisional. Gule Ikan Sale dari Tapanuli Selatan, misalnya, memanfaatkan pengasapan pada ikan limbat (sejenis lele sungai) hingga menghasilkan aroma smoky khas. Ikan ini kemudian dimasak dalam kuah santan bersama kecombrang/cikala, asam gelugur, dan belimbing sayur sebagai sajian istimewa pada upacara adat. Di Gorontalo, Ilabulo mengolah hati dan ampela ayam yang dicampur tumisan bumbu serta adonan bubur kanji/sagu bersantan, lalu dibungkus daun pisang dan dipanggang untuk santapan makan siang.

Beberapa hidangan memperlihatkan kejeniusan mengolah bahan dan tekstur. Dendeng Age khas Yogyakarta menggabungkan perbandingan seimbang 1:1 antara 300 gram daging sapi tanpa urat dan 300 gram kluwih rebus. Setelah dimemarkan bersama bumbu halus, adonan dijepit bilah bambu berpucuk daun pepaya lalu dibakar sambil diolesi santan kental—sebuah inovasi preservasi yang pas disajikan bersama nasi gurih.

Satai Komoh khas Jawa Timur menyajikan potongan dadu daging sapi has dalam yang dimasak bersantan bumbu pekat, lalu dipanggang di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pinerineks)
Satai Komoh khas Jawa Timur menyajikan potongan dadu daging sapi has dalam yang dimasak bersantan bumbu pekat, lalu dipanggang di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pinerineks)

Sementara itu, Satai Komoh asal Pasuruan, Malang, dan Surabaya mengolah daging sapi has dalam potong dadu yang dimasak bersama santan dan bumbu tajam (basah berlumur bumbu) sebelum dipanggang di atas bara api.

Ketelitian dan teknik khusus juga terlihat pada pengolahan bahan berisiko maupun pemanfaatan cairan alami. Pantollo Pamarrasan dari Makassar dan Toraja mengolah ikan gabus panggang berkuah hitam dengan buah keluwak tua (pamarassan), kucai, dan cabai rawit utuh. Pengolahan keluwak menuntut ketelitian perendaman air panas atau perebusan agar bebas dari racun asam sianida alami. Pada Tumis Blakutak khas Cirebon—lauk pendamping Nasi Jamblang—cumi-cumi ditumis hingga mengeluarkan air dan tinta alami, lalu dimasak bersantan hingga kuahnya mengental dan ukurannya menyusut setengahnya.

Selain keahlian teknis, hidangan-hidangan ini memegang peranan erat dalam ritual sosial dan tradisi keagamaan. Gangan Rebung Daging dari Kalimantan memadukan iga sapi dan irisan rebung dalam kuah santan berrempah (jintan, adas manis, ketumbar, dan kelapa sangrai), menjadikannya menu favorit di pesta pernikahan dan perhelatan adat. Di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Gulai Iga Kemba'ang yang memadukan iga sapi, daun pakis, kelapa sangrai, dan asam kandis menjadi sajian khas bulan Ramadan hingga Lebaran.

Dari gurihnya lauk pauk utama yang kaya rempah dan teknik tinggi ini, penelusuran rasa kita berlanjut menuju kejutan manis dan keunikan tekstur dari deretan kudapan serta jajanan pasar tempo dulu.

Kudapan dan Jajanan Pasar Tempo Dulu

Jajanan pasar dan kudapan tradisional Indonesia memegang posisi istimewa yang melampaui sekadar hidangan penutup. Kudapan ini merupakan simbol perekat hubungan sosial, hantaran adat, hingga bentuk nyata akulturasi sejarah.

Melalui bentuknya yang mungil dan rasa manis legitnya, jajanan tempo dulu menyimpan nilai kepribadian luhur, seperti pentingnya menjaga silaturahmi dan menghormati orang tua. Bahan-bahan alami diolah secara artistik, menghasilkan kekayaan tekstur dari kenyalnya ketan hingga kelembutan adonan santan yang membangkitkan nostalgia.

Di Minangkabau, Ketan Sarikaya memegang nilai adat yang mendalam. Konon, anak gadis Minang diwajibkan mahir membuatnya sebelum menikah. Kudapan ini menjadi hantaran wajib seorang istri saat berkunjung ke rumah mertua, terutama di awal bulan Ramadan, dengan memadukan ketan hitam gurih dan lapisan srikaya harum beraroma daun suji-pandan.

Dari Tatar Pasundan, Colenak Tapai Pisang—akronim dari 'dicolok enak' yang populer di Bandung sejak 1930—menghadirkan kombinasi tapai singkong dan pisang tanduk panggang bersiram saus kental gula merah, santan, kelapa parut, serta daun jeruk yang nikmat disantap hangat bersama teh panas.

Variasi olahan ketan juga hadir lewat Lalampa khas Sulawesi Utara. Berbeda dari lemper Jawa yang manis, Lalampa diisi suwiran ikan cakalang atau tongkol berbumbu pedas dan kemangi, lalu dibungkus daun pisang dan dibakar di atas bara api. Sementara di Jawa Tengah, Sengkulun menjadi wujud nyata akulturasi Tionghoa-Jawa. Diadaptasi dari kue keranjang (Nian Gao), masyarakat lokal mentransformasikan sajian musiman Imlek ini menggunakan tepung ketan, tepung beras, gula aren, dan parutan kelapa muda menjadi penganan empuk bermutu manis-gurih yang kini dapat dijumpai sepanjang tahun.

Lalampa khas Sulawesi Utara berisi suwiran ikan cakalang atau tongkol pedas beraroma kemangi, yang dibungkus daun pisang lalu dibakar di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nafisathallah)
Lalampa khas Sulawesi Utara berisi suwiran ikan cakalang atau tongkol pedas beraroma kemangi, yang dibungkus daun pisang lalu dibakar di atas bara api. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nafisathallah)

Tekstur lembut dan manis legit juga menjadi daya tarik Jongkong Kelapa Nangka serta Babay Maring. Jongkong Kelapa Nangka khas Surabaya menyajikan adonan tepung beras beraroma suji-pandan berisi kelapa muda, gula merah sisir, dan nangka matang bersiram santan kental. Di wilayah Lampung dan Palembang, Babay Maring mengombinasikan beras ketan hitam, pisang raja, dan gula merah yang dibungkus daun pisang berbentuk contong kerucut, lalu dikukus dan disajikan bersama taburan kelapa parut.

Kelezatan serta keanekaragaman cita rasa pada hidangan utama maupun kudapan manis tersebut sejatinya berakar dari satu kunci utama, yaitu penguasaan racikan bumbu dasar Nusantara.

Pondasi Cita Rasa: Menguasai Tiga Bumbu Dasar dan Rempah Autentik

Memasak kuliner tradisional Indonesia yang kaya rasa kerap dipersepsikan rumit dan menyita waktu bagi masyarakat modern. Padahal, kunci kepraktisan dan keilmuannya terletak pada pemahaman serta persiapan racikan bumbu dasar. Dengan menguasai tiga bumbu utama dan memahami fungsi rempah autentik, proses memasak hidangan daerah dapat dilakukan secara ringkas dan efisien tanpa mengurangi keaslian rasanya. Bumbu-bumbu ini pun dapat dibuat dalam jumlah besar dan disimpan di lemari pendingin untuk kemudahan memasak sehari-hari.

Terdapat tiga fondasi bumbu dasar yang menjadi kunci utama dapur Nusantara. Bumbu Dasar Merah meracik 30 siung bawang merah, 8 siung bawang putih, 20 cabai merah (kombinasi keriting dan besar), serta 2 sendok makan terasi bakar untuk masakan balado dan sambal goreng.

Bumbu Dasar Putih memadukan 30 siung bawang merah, 8 siung bawang putih, 10 butir kemiri sangrai, dan 2 sendok makan ketumbar sangrai untuk menghadirkan rasa gurih alami. Sementara itu, Bumbu Dasar Kuning menggunakan racikan bumbu putih yang ditambahi 2 cm kunyit bakar untuk memberikan warna cerah sekaligus menghilangkan bau amis pada bahan olahan.

Ketiga bumbu ini dapat dipadukan secara sinergis sesuai kebutuhan hidangan. Kombinasi bumbu putih dan kuning sangat cocok untuk mengolah ayam bakar, ayam goreng, kare, hingga rawon. Campuran bumbu merah dan kuning menjadi formulasi ideal untuk pepes, sedangkan bumbu merah dan putih tepat digunakan pada sambal goreng atau urap.

Jika ketiganya digabungkan (triple blend), racikan ini menghasilkan bumbu lengkap yang sempurna untuk hidangan ayam bakar, sambal goreng, maupun sayur godog.

Selain bumbu dasar, pemahaman terhadap rempah kunci juga menentukan keautentikatan rasa. Keluwak (kepayang/picung) yang berwarna cokelat kehitaman memberikan warna hitam pekat alami dan rasa gurih mendalam pada rawon, brongkos, atau pantollo pamarrasan. Kecombrang/Cikala memberikan aroma segar harum serta cita rasa khas pada olahan sayur, sambal, dan tumisan ikan seperti gule ikan sale. Untuk kudapan dan minuman, perpaduan Daun Suji memberikan warna hijau alami yang pekat, sedangkan Daun Pandan menyumbangkan aroma wangi yang kuat.

Kemudahan membuat dan menyimpan racikan bumbu dasar ini menjadi jembatan praktis yang mendorong masyarakat untuk kembali mempraktikkan resep-resep warisan di dapur rumah sendiri.

Baca Juga: Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Menjaga Kelestarian Kuliner dari Dapur Sendiri

Melestarikan warisan kuliner Nusantara sejatinya bukanlah tugas berat yang hanya menjadi tanggung jawab kaum profesional atau pelaku industri gastronomi. Langkah pelestarian paling nyata justru bermula dari meja makan dan dapur rumah tangga kita sendiri. Dengan memahami prinsip penggunaan bumbu dasar serta mengenal keunikan resep-resep nostalgia dari berbagai daerah, kita dapat dengan mudah menghadirkan kembali sajian tempo dulu yang kaya akan nilai sejarah dan kehangatan tradisi keluarga.

Mari kita ambil peran aktif dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya bangsa dengan kembali menyalakan kompor dan mempraktikkan resep-resep nostalgia ini di rumah. Setiap suapan hidangan warisan yang kita sajikan bukan sekadar pemuas dahaga kuliner, melainkan bentuk penghormatan dan ikhtiar nyata agar kekayaan rasa Nusantara tetap hidup, lestari, dan membanggakan hingga generasi mendatang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)