Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

8 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman. Kudapan berupa roti kering berbentuk bundar ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi camilan Nusantara yang bersanding anggun sebagai teman minum teh maupun kopi. Popularitasnya yang meluas dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat menuntut sebuah penelusuran historiografis mendalam guna mengurai asal-usul, evolusi resep, serta faktor sosio-kuliner yang membentuk identitasnya hingga hari ini.

Secara fisik dan organoleptik, Roti Bagelen memiliki karakteristik yang sangat spesifik. Berbeda dari roti basah pada umumnya yang menonjolkan kelembutan adonan, Roti Bagelen dibuat dari roti bundar yang dikeringkan melalui proses pemanggangan ganda (double-baking). Metode ini mengeliminasi kadar air secara optimal sehingga menghasilkan tekstur yang garing, renyah, dan berdaya tahan sangat panjang karena tidak mudah basi atau berjamur.

Profil rasanya yang memadukan sensasi manis dan gurih secara seimbang sangat dipengaruhi oleh jenis bahan polesan sebelum pemanggangan akhir. Polesan buttercream, misalnya, memberikan aroma penganan yang lebih wangi, tekstur renyah yang halus, serta dominansi rasa manis lembut dengan wangi mentega terkaramelisasi. Sementara itu, penggunaan margarin menghasilkan lapisan luar yang lebih kuning mengkilap dengan sensasi rasa yang cenderung asin, gurih, dan tegas.

Jika dibandingkan dengan bentuk asalnya—yaitu roti basah seperti warmbollen atau roti semir—Roti Bagelen menunjukkan transformasi yang signifikan sebagai hasil akulturasi roti manis khas Eropa. Apabila roti semir basah hanya melewati proses pemanggangan tunggal untuk mempertahankan kelembutan tekstur dan isian buttercream basahnya, Roti Bagelen justru mengolah kembali roti bundar tersebut dengan olesan mentega atau margarin dan gula sebelum dipanggang ulang. Inovasi ini mengubah profil roti manis basah yang berdaya simpan singkat menjadi penganan kering yang renyah dan tahan lama.

Karakteristik tekstur garing dan daya simpan yang panjang pada Roti Bagelen ini bukanlah hasil kebetulan semata. Semua itu merupakan buah dari inovasi rekayasa pangan lokal yang berakar kuat pada krisis di masa lalu.

Genesis Inovasi Kuliner: Dari Hainan, Tentara Belanda, hingga Garut (1879–1885)

Lahirnya Roti Bagelen tidak terlepas dari dinamika sejarah Kota Garut pada abad ke-19. Secara etimologis dan historis, nama Kota Garut sendiri berawal dari peristiwa tahun 1813 ketika Bupati Adipati Adiwijaya tengah mencari lokasi ibu kota baru bagi Kabupaten Limbangan.

Dalam peninjauan yang didampingi pejabat Belanda, tangan salah seorang pejabat Bupati tergores duri hingga berdarah. Saat ditanya oleh pejabat Belanda mengenai kejadian tersebut, pejabat Bupati menjawab dalam bahasa Sunda, "Kakarut, Tuan!" (artinya tergores). Pejabat Belanda yang kurang fasih berbahasa Sunda menangkap kata tersebut sebagai "Garut", yang kemudian ditetapkan oleh pemerintah kolonial sebagai nama wilayah tersebut.

Latar belakang sosio-kuliner Garut kian berwarna tatkala gelombang migrasi warga Tionghoa mulai memasuki wilayah Priangan. Pada September 1879, seorang imigran asal Pulau Hainan, Tiongkok, bernama Babah Khoe Pek Goan tiba di Garut sebagai salah satu perintis warga Tionghoa pertama di kota tersebut.

Di Garut, Khoe Pek Goan bekerja dan menimba keterampilan membuat roti dari tentara Belanda yang bertugas di sana. Berbekal keahlian tersebut, pada tahun 1885, ia mendirikan toko dan pabrik rotinya sendiri bernama Khoe Pek Goan yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani / Jalan Ciledug No. 111, Garut Kota. Keberadaan usaha ini tercatat secara autentik melalui arsip advertensi koran-koran Belanda tempo dulu, salah satunya koran Preangerbode edisi 17 Desember 1953, yang memperkuat posisinya dalam sejarah perintisan industri roti di Indonesia.

Posisi Roti Bagelen produksi Khoe Pek Goan sebagai perintis industri roti di Indonesia makin terbukti lewat iklan koran Belanda, Preangerbode, edisi 17 Desember 1953. (Sumber: www.delpher.nl)
Posisi Roti Bagelen produksi Khoe Pek Goan sebagai perintis industri roti di Indonesia makin terbukti lewat iklan koran Belanda, Preangerbode, edisi 17 Desember 1953. (Sumber: www.delpher.nl)

Dalam memproduksi roti, Khoe Pek Goan mengadaptasi bentuk roti bundar manis yang menyerupai bakpao dari tanah kelahirannya. Namun, ia dihadapkan pada realitas kultural masyarakat Indonesia kala itu yang belum terbiasa mengonsumsi roti sebagai makanan pokok harian. Akibatnya, roti bollen (roti bundar basah) buatannya seringkali tidak laku terjual dan berakhir menjadi basi karena berjamur. Bagi filosofi dan tradisi Tionghoa, membuang makanan secara cuma-cuma merupakan sebuah dosa besar.

Menghadapi dorongan moral dan krisis ekonomi tersebut, Khoe Pek Goan mencetuskan ide rekayasa pengawetan: roti bollen basah yang sisa diolesi dengan mentega dan gula, kemudian dipanggang kembali hingga mengering garing seperti biskuit. Langkah inovatif ini berhasil mencegah tumbuhnya jamur, memperpanjang masa simpan roti, sekaligus menciptakan profil rasa baru yang sangat disukai masyarakat.

Penamaan "Bagelen" itu sendiri secara linguistik merupakan bentuk penyerapan bahasa Sunda dari kata Belanda Bollen yang berarti "bundar". Di negara asalnya, Belanda, penganan yang identik dengan Roti Bagelen kering ini sejatinya tidak ditemukan; penganan serupa di Belanda adalah Suiker Bollen, namun disajikan dalam bentuk roti basah biasa. Dengan demikian, Roti Bagelen garing merupakan produk inovasi murni dari Garut, Indonesia. Keberhasilan penemuan resep di tanah Garut ini kelak memicu silang pendapat serta klaim sejarah dengan wilayah lain di Pulau Jawa.

Demitologisasi Asal-Usul: Komparatif Garut vs. Purworejo

Dalam literatur sejarah kuliner Nusantara, seringkali terjadi miskonsepsi mengenai asal-usul Roti Bagelen. Sebagian besar masyarakat secara awam mengasosiasikan nama "Bagelen" dengan daerah Bagelen yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Namun, penelusuran sejarah menunjukkan bahwa roti kering bundar bersalut mentega tersebut tidak pernah diproduksi atau diciptakan di wilayah Kecamatan Bagelen, Purworejo.

Kekeliruan persepsi ini berakar dari keberadaan sebuah toko roti legendaris di Kutoarjo—sebuah kota kecil berjarak sekitar 12 kilometer dari distrik Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Toko roti di Kutoarjo tersebut memang memproduksi roti kering sejenis dan menggunakan merek dagang "Bagelen Biscuit". Pada kemasan produk Kutoarjo tersebut, tercantum keterangan bahwa usaha mereka telah beroperasi sejak tahun 1906, lengkap dengan ilustrasi visual seorang perempuan berbusana gaya Barat yang mengenakan celemek (apron). Visualisasi ini mengindikasikan kuatnya pengaruh seni dapur Eropa (Belanda) pada produk rekaan Kutoarjo tersebut.

Meskipun demikian, bukti-bukti kronologis dan dokumen sejarah menempatkan Garut pada lini masa yang lebih awal. Hal ini terbukti dari keberadaan Toko Roti Khoe Pek Goan di Garut yang telah berdiri sejak tahun 1885, sebagaimana tercantum pada penanda resmi "Anno 1885" serta tersimpan dalam arsip koran Preangerbode. Toko roti legendaris ini identik dengan citra kemasannya yang klasik, menampilkan sosok perempuan cantik berkonde yang sedang tersenyum.

Sebagai perbandingan, Toko Roti Bagelen di Kutoarjo baru mulai beroperasi pada tahun 1906 dengan meluncurkan merek "Bagelen Biscuit" yang mengusung kemasan bergambar perempuan berbusana Barat. Berdasarkan perbandingan penanggalan historis tersebut, catatan dokumentasi tertualah yang menunjukkan bahwa Roti Bagelen buatan Khoe Pek Goan di Garut beroperasi 21 tahun lebih awal dibanding pabrik di Kutoarjo.

Roti Bagelen buatan Kutoarjo tercatat mulai beroperasi sejak tahun 1906. (Sumber: FB Komunitas Sejarah, Seni budaya, dan Heritage Ex Kab Kutoarjo)
Roti Bagelen buatan Kutoarjo tercatat mulai beroperasi sejak tahun 1906. (Sumber: FB Komunitas Sejarah, Seni budaya, dan Heritage Ex Kab Kutoarjo)

Meskipun literatur sejarah berhati-hati dalam menetapkan kepastian mutlak, terdapat dugaan kuat sejarah bahwa usaha Khoe Pek Goan di Garut merupakan perintis tertua yang terekam dan cikal bakal lahirnya Roti Bagelen di Indonesia. Dinamika inovasi abad ke-19 ini kemudian diteruskan melalui jejaring silsilah keluarga pada abad berikutnya.

Silsilah Keluarga dan Dinamika Ekspansi Bisnis (1947–Modern)

Tradisi pembuatan Roti Bagelen dipelihara secara ketat melalui jejaring keluarga lintas generasi, bertransformasi dari industri rumah tangga di Garut hingga berekspansi menjadi penganan khas yang ikonik di Kota Bandung. Perjalanan panjang ini bermula pada September 1879, ketika Khoe Pek Goan hijrah dari Hainan ke Garut dan mempelajari seni pembuatan roti dari tentara Belanda yang bertugas di sana. Berbekal keahlian tersebut, ia resmi mendirikan pabrik dan toko roti pertamanya di Jalan Ahmad Yani (Ciledug No. 111), Garut, pada tahun 1885, yang menjadi titik lahirnya resep Roti Bagelen garing pertama.

Ilmu dan teknik pembuatan roti ini kemudian diwariskan kepada generasi kedua, yaitu menantunya yang bernama Nio Tiam Sioe. Pria berpostur tegar dan gempal ini akrab dipanggil "Om Banteng", dan kelak mengadopsi nama Ateng Adiwidjaya dari nama bupati historis Garut saat melepaskan nama Tionghoanya. Pada bulan April 1947, Om Banteng mendirikan Toko Roti Abadi di Jalan Siliwangi No. 15, Garut, dengan Roti Bagelen sebagai produk paling laris.

Ekspansi bisnis keluarga ini berlanjut ketika operasi pabrik Roti Abadi dipindahkan secara bertahap dari Garut ke Kota Bandung pada tahun 1967. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1969, Toko Roti Abadi secara resmi membuka gerai penjualannya di Jalan Purnawarman No. 49, Bandung, yang kemudian diteruskan oleh Christ Adiwidjaya, putra bungsu Om Banteng.

Dinamika bisnis keluarga ini juga diwarnai oleh hadirnya lini usaha lain pada era 1970–1980-an. John Tamzil (keponakan Om Banteng) bersama istrinya, Oko, sempat membuka Toko Roti Gardenia di Jalan Kelenteng No. 14, Bandung. Sayangnya, usaha tersebut terpaksa berhenti setelah John mengalami musibah kecelakaan lalu lintas parah yang menyebabkannya koma selama puluhan tahun hingga wafat.

Jejak panjang konsolidasi bisnis keluarga ini pada akhirnya memperkuat posisi Roti Bagelen sebagai warisan kuliner lintas wilayah yang berakar di Garut dan mekar di Bandung.

Relevansi Modern dan Warisan Kuliner Garut

Memasuki era modern, keberlanjutan Roti Bagelen sebagai warisan gastro-historis Garut tetap terjaga secara konsisten. Pabrik dan toko roti perintis Khoe Pek Goan di Jalan Ciledug No. 111 / Jalan Ahmad Yani, Garut Kota, kini telah dikelola oleh generasi ketiga. Tanpa menghilangkan identitas historisnya yang menggunakan penanda "Anno 1885", Khoe Pek Goan terus melakukan inovasi produk untuk merangkul pasar modern melalui berbagai varian, seperti Bagelen Original dengan resep klasik olesan mentega manis, Bagelen Tipis, hingga varian rasa modern seperti Cheese, Coffee, dan Chocolate.

Baca Juga: Generasi Berempati Ekologis

Dilihat dari kacamata gastronomi, Roti Bagelen bukan sekadar camilan kering pelengkap ritual minum teh atau kopi. Kudapan ini merupakan bukti nyata akulturasi tiga budaya—Tionghoa, Belanda, dan Sunda—sekaligus cerminan kejelian rekayasa pangan lokal. Inovasi yang lahir dari prinsip moral Tionghoa untuk menolak pemborosan makanan, dipadukan dengan teknik pemanggangan Belanda dan kosa kata Sunda yang mengadaptasi istilah bollen menjadi bagelen, telah berhasil mengubah krisis roti basi menjadi komoditas kuliner bernilai tinggi.

Rangkaian catatan historis dan bukti kronologis—dimulai dari berdirinya pabrik Khoe Pek Goan pada tahun 1885 hingga lahirnya Toko Abadi pada tahun 1947—menunjukkan dugaan kuat bahwa Kabupaten Garut merupakan titik awal dan cikal bakal tertua yang terekam dari keberadaan Roti Bagelen di Indonesia. Hingga kini, warisan kuliner tersebut berdiri teguh sebagai monumen kreatif kecerdasan lokal yang terus dinikmati melintasi zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)