Pesantren dan Pluralitas Indonesia

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)

Menyongsong peringatan Hari Santri Nasional, bagaimana “image” kita terhadap santri dan pesantren kini. Dua objek yang tidak mungkin terpisah, selalu menjadi satu paket dalam label pendidikan muslim. Jika pada masa lalu terkesan sebuah paradoks terhadap kultur pesantren, karena pesantren dianggap bersinggungan dengan tradisi masyarakat yang pluralis, tetapi itu anggapan yang tidak berwawasan keilmuan. Pondok pesantren yang pada umumnya dikelilingi tembok tinggi, terkesan menjauh dari kehidupan masyarakat sekitar.

Indonesia dibangun bukan dari satu warna. Ia lahir dari perjumpaan berbagai suku, bahasa, agama, tradisi, dan kebudayaan. Pluralitas bukan sekadar kenyataan demografis, melainkan fondasi sosial yang membuat Indonesia dapat berdiri sebagai sebuah bangsa.

Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah tumbuh dan berkembang dalam sejarah masyarakat Indonesia, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat mempelajari agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, tradisi intelektual, dan kesadaran sosial.

Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana pesantren mempertahankan identitas keislamannya sekaligus mempersiapkan santri hidup dalam masyarakat Indonesia yang plural dan dunia yang semakin global?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan besar: perkembangan kecerdasan buatan, arus informasi tanpa batas, perubahan ekonomi, krisis lingkungan, migrasi, konflik identitas, radikalisme digital, dan menguatnya politik berbasis sentimen kelompok.

Pesantren tidak dapat menghindari perubahan tersebut. Namun pesantren juga tidak perlu kehilangan identitas karena perubahan. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca zaman melalui kekayaan tradisi keilmuan Islam.

Pluralitas sering kali dipahami secara sederhana sebagai keberadaan orang-orang yang berbeda. Padahal secara sosiologis, pluralitas jauh lebih kompleks. Perbedaan agama, etnis, bahasa, kelas sosial, pandangan politik, dan kebudayaan menciptakan ruang interaksi yang dapat melahirkan kerja sama sekaligus konflik.

Karena itu, pluralitas membutuhkan pengetahuan. Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk “toleran”. Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan bagaimana hidup bersama dapat dibangun secara adil.

Islam memiliki dasar normatif yang kuat mengenai persoalan tersebut. Al-Qur’an menyatakan: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kata lita‘ārafū—saling mengenal—mengandung pesan penting. Perbedaan tidak semata-mata untuk diketahui keberadaannya, tetapi menjadi jalan menuju pengenalan, dialog, dan hubungan sosial. Dengan demikian, keberagaman bukan alasan untuk membangun tembok sosial.

Tradisi pendidikan pesantren memiliki modal penting untuk membangun etika pluralitas: adab. Dalam tradisi Islam, ilmu tidak dapat dilepaskan dari akhlak. Pengetahuan tanpa etika dapat menjadi alat kekuasaan. Kecerdasan tanpa moral dapat berubah menjadi manipulasi.

Karena itu, pendidikan pesantren seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang benar secara tekstual, tetapi juga bagaimana kebenaran itu dihadirkan dalam kehidupan sosial tanpa melahirkan ketidakadilan.

Salah satu prinsip penting dalam Al-Qur’an adalah: “Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat tersebut memiliki konteks teologis dan historis yang luas, tetapi prinsipnya memberikan fondasi penting mengenai kebebasan keyakinan.

Demikian pula Al-Qur’an memberikan prinsip keadilan yang bersifat universal: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini penting dalam kehidupan masyarakat plural karena ukuran moral tidak boleh berubah hanya karena seseorang berbeda kelompok dengan kita.

Pesantren memiliki keunikan yang tidak selalu dimiliki lembaga pendidikan formal lainnya. Santri hidup dalam komunitas. Mereka belajar, beribadah, berdiskusi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Cara santri menghormati guru, berinteraksi dengan teman, mengelola perbedaan pendapat, dan menjalankan tanggung jawab bersama merupakan bagian dari pendidikan sosial.

Karena itu, pesantren sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi laboratorium kehidupan plural. Santri dapat dibentuk menjadi manusia yang memiliki identitas keislaman kuat sekaligus memiliki kemampuan berinteraksi dengan kelompok yang berbeda.

Ada persoalan yang perlu diperjelas dalam pendidikan pluralisme. Toleransi saja tidak cukup. Toleransi kadang hanya berarti “membiarkan orang lain ada”. Padahal masyarakat demokratis membutuhkan sesuatu yang lebih jauh: pengakuan, kesetaraan, dan keadilan.

Seorang Muslim mungkin berbeda keyakinan dengan tetangganya yang beragama lain. Perbedaan tersebut tidak menghapus kewajibannya untuk berlaku adil kepada tetangga tersebut. Dalam perspektif Islam, prinsip kemanusiaan tidak boleh berhenti pada kelompok sendiri.

Pelajaran pentingnya bukan bahwa seluruh kelompok harus menjadi sama. Justru masyarakat dapat hidup bersama dalam perbedaan identitas, selama terdapat kesepakatan mengenai keadilan, keamanan, hak, dan tanggung jawab bersama.

Globalisasi telah mengubah batas ruang. Dulu seorang santri memperoleh informasi terutama melalui guru, kitab, perpustakaan, dan lingkungan pesantren. Kini sebuah video pendek dari negara lain dapat masuk ke telepon genggamnya dalam hitungan detik.

Pengetahuan menjadi semakin terbuka. Namun keterbukaan informasi juga membawa persoalan baru. Hoaks, ujaran kebencian, ekstremisme digital, teori konspirasi, propaganda, manipulasi gambar dan video, serta informasi keagamaan yang dipotong dari konteks dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Karena itu, literasi digital harus menjadi bagian dari literasi keagamaan.

Tantangan global berikutnya adalah kecerdasan buatan. AI dapat menerjemahkan teks, membuat tulisan, menganalisis data, menjawab pertanyaan, bahkan membantu penelitian. Teknologi ini dapat menjadi alat pembelajaran yang sangat berguna bagi pesantren.

Namun ada bahaya jika teknologi digunakan tanpa kemampuan berpikir kritis. Santri dapat memperoleh jawaban dengan cepat, tetapi belum tentu memperoleh kebenaran. AI dapat menghasilkan teks keagamaan yang tampak meyakinkan tetapi mengandung kesalahan sumber, konteks, atau interpretasi.

Santri harus memahami bahwa teknologi tidak menggantikan otoritas ilmu, pengalaman guru, tradisi keilmuan, maupun tanggung jawab manusia dalam mengambil keputusan.

Dalam konteks ini, tradisi sanad dalam keilmuan Islam memiliki relevansi epistemologis yang menarik. Pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai informasi, tetapi memiliki jalur transmisi, otoritas, konteks, dan tanggung jawab.

Integrasi ilmu tersebut tidak berarti sekularisasi pesantren. Justru pesantren dapat menawarkan sesuatu yang sering hilang dalam praktik sosial di era modern, yakni etika! Pesantren tumbuh dalam keilmuan yang berintegrasi dengan adab. Tradisi ini tidak boleh hilang, meski era globalisasi sangat drastis dengan perubahan yang berciri pluralitas.

Sebab pluralitas tidak akan bertahan hanya dengan slogan toleransi. Ia membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, kedewasaan moral, kemampuan dialog, dan komitmen terhadap keadilan.

Masa depan pesantren tidak terletak pada pilihan antara tradisional atau modern. Dikotomi tersebut terlalu sederhana. Tetapi bagaimana pesantren menjaga akar sekaligus membaca dunia.

Pesantren dapat mempertahankan kitab kuning sekaligus mempelajari kecerdasan buatan. Dapat menjaga tradisi sorogan dan bandongan sekaligus mengembangkan riset ilmiah. Dapat mempertahankan pendidikan akhlak sekaligus mengajarkan literasi digital. Dapat membangun kesalehan individual sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Yang harus dijaga adalah orientasinya: ilmu untuk kemaslahatan manusia.

Pesantren dapat menjadi ruang di mana seorang santri belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk membenci, ilmu bukan alasan untuk menyombongkan diri, teknologi bukan alasan untuk kehilangan kemanusiaan, dan agama bukan alasan untuk menutup pintu dialog.

Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin mudah terpecah, pesantren memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu kekuatan intelektual dan moral Indonesia. Pesantren tidak harus meninggalkan akarnya untuk menghadapi dunia. Ia hanya perlu memastikan bahwa akarnya cukup kuat untuk membuatnya mampu berdiri ketika dunia berubah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)