Di saat hiruk-pikuk kota mulai sibuk dengan persiapan belanja Lebaran, ada pemandangan yang berbeda di setiap sudut pondok pesantren. Berdasarkan data statistik terbaru Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026, geliat pendidikan di pesantren kini mencapai puncaknya. Ribuan santri tidak sedang beristirahat; mereka justru berjibaku dengan tumpukan kitab kuning dalam sebuah maraton ilmu yang dikenal dengan istilah Ngaji Pasaran.
Ini adalah momen di mana daya tahan fisik dan ketajaman batin diuji, sebelum akhirnya ditutup dengan suasana haru perpisahan yang disebut Tafaruqon.
Maraton literasi klasik ini sudah sangat masyhur di kalangan pesantren.
Ngaji Pasaran dan Maraton Literasi Klasik
Istilah "Pasaran" sendiri berasal dari kata "pasar", yang diartikan sebagai ramainya santri kelana dari berbagai penjuru yang datang ke suatu pesantren untuk mengikuti pengajian selama satu bulan penuh. Di hadapan sang kiai, momen ini sering disebut sebagai "Pasar Ilmu".
Metode cepat ini bertujuan melatih ketelitian dan kesabaran; di mana dalam sehari, jadwal mengaji bisa terisi penuh hampir setiap jam. Suasana ini sangat lazim ditemui di berbagai pesantren besar di Jawa Barat mulai dari Tasikmalaya, Sukabumi hingga Bandung Raya.

Sebagai orang yang hidup di pesantren, saya merasakan ujian mental yang sesungguhnya. Bayangkan saja, niat hati sudah bersungguh-sungguh berlomba siapa yang paling banyak mengisi terjemahan (logatan), tapi semangat itu seringkali kalah oleh rasa kantuk yang luar biasa. Akibatnya? Tinta pulpen pun acak-acakan di atas kertas kitab karena tangan yang menulis sambil terlelap.
Di situlah sisi humanis seorang kiai muncul. Biasanya, kiai saya akan memberi jeda sejenak atau membiarkan santri membawa cemilan sekadar penahan kantuk. Bahkan, tak jarang kiai membagikan makanan terlebih dahulu agar santrinya kembali "melek" dan fokus menyimak.
Tafaruqon Sebagai Golden Tiket Pulang
Kepuasan tersendiri hadir ketika isi kitab mulai penuh dengan logatan yang rapi. Itu menjadi bukti bahwa kami berhasil memenangkan pertarungan melawan kantuk. Perjalanan maraton ini kemudian bermuara pada satu titik: Tafaruqon. Istilah yang diambil dari bahasa Arab ini secara harfiah berarti perpisahan. Tapi bagi kami, Tafaruqon bukan sekadar perpisahan biasa; ini adalah "Lebaran pertama" untuk merayakan kemenangan kecil sebelum kemenangan Idul Fitri yang sesungguhnya.
Biasanya, perayaan Tafaruqon dilakukan pada malam atau siang hari dengan sangat meriah. Panggung acara diisi dengan berbagai kreasi santri, mulai dari seni hingga penampilan bakat lainnya sebagai pelepasan penat setelah sebulan penuh mengaji. Namun, di balik kemeriahan itu, santri masih harus melewati tantangan terakhir: menghafal satu kitab sesuai tingkatannya sebagai "tiket perpulangan".
Dulu, kami sering menangis karena takut tidak mendapatkan golden tiket itu. Namun ternyata, itulah letak keseruannya; di mana rindu rumah harus dibayar tunai dengan usaha dan kesungguhan hafalan di depan pengurus.
Kini, di berbagai sudut jalan mulai diwarnai dengan pemandangan khas: anak-anak muda bersarung dengan tas gunung berisi tumpukan kitab. Di berbagai pesantren Jawa Barat, perpulangan santri biasanya terjadi sekitar seminggu sebelum Lebaran. Perjalanan dari "Pasar Ilmu" menuju "Tafaruqon" ini mengajarkan kami bahwa rindu rumah memang harus ditebus dengan keseriusan belajar.
Kami pulang tidak hanya membawa tumpukan baju kotor, tapi membawa bekal cahaya yang siap dibagikan di meja makan keluarga saat sahur dan buka puasa nanti. Walhasil, pesantren telah mengajarkan kita seni "menepi" yang paling indah: menjauh sejenak dari dunia, untuk kemudian pulang membawa sejuta makna. (*)
