Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)

Peninjauan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan terhadap tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru membuka kembali persoalan mendasar pengelolaan air perkotaan. Banjir tidak semata-mata disebabkan saluran drainase yang tersumbat atau berukuran kecil. Perubahan bentang alam, berkurangnya kawasan resapan, dan pembangunan yang semakin mendesak ke wilayah atas turut menentukan kemampuan lingkungan menampung limpasan air hujan.

Farhan meninjau kawasan pangkalan ojek di Jalan A.H. Nasution dan Jalan Cilengkrang II, Kelurahan Palasari; sodetan banjir di Jalan A.H. Nasution RW 02, Kelurahan Cipadung; serta saluran drainase RW 02 dan RW 03, Kelurahan Pasir Biru. Peninjauan tersebut menindaklanjuti aspirasi warga dalam kegiatan Siskamling Siaga Bencana pada 14–15 Oktober 2026.

Tiga lokasi itu memiliki persoalan teknis berbeda. Namun, semuanya perlu ditempatkan dalam satu kerangka pengelolaan air yang lebih menyeluruh, mulai dari daerah tangkapan air di kawasan atas hingga permukiman yang menanggung limpasan di bagian bawah.

Walikota Bandung sedang meninjau drainase di salah satu ruas jalan di Cibiru (Sumber: bandung.go.id)
Walikota Bandung sedang meninjau drainase di salah satu ruas jalan di Cibiru (Sumber: bandung.go.id)

Daerah Resapan di Hulu Kian Terdesak

Kecamatan Cibiru memiliki karakter bentang alam yang perlu dicermati secara serius. Kawasan ini berada di bagian timur Kota Bandung, berdekatan dengan wilayah perbukitan dan kawasan Kabupaten Bandung yang secara topografis lebih tinggi. Palasari dan Cipadung, misalnya, perlu dikaji keterkaitannya dengan daerah tangkapan air di sekitar lereng dan kawasan Cilengkrang.

Ketika lahan terbuka, kebun, pepohonan, dan tanah yang mampu menyerap air berubah menjadi bangunan, jalan berlapis beton, serta halaman tertutup semen, air hujan semakin sedikit meresap ke dalam tanah. Sebagian air langsung mengalir di permukaan dan masuk ke saluran dalam waktu relatif singkat. Akibatnya, debit limpasan meningkat, sementara kapasitas drainase belum tentu mampu menampungnya.

Masalah ini semakin serius ketika pembangunan di kawasan atas berlangsung tanpa pengendalian limpasan yang memadai. Air yang sebelumnya tertahan oleh vegetasi dan lapisan tanah bergerak lebih cepat menuju permukiman di bawahnya. Jika beberapa saluran bertemu pada satu titik, genangan dapat terjadi meskipun hujan tidak berlangsung terlalu lama.

Karena itu, penanganan banjir Cibiru harus melampaui batas administratif kelurahan. Pemerintah Kota Bandung perlu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya untuk mengidentifikasi kawasan tangkapan air yang alirannya berpengaruh terhadap wilayah Cibiru. Pengelolaan air tidak mengenal batas kecamatan maupun batas kota dan kabupaten.

Mitigasi Banjir melalui Data Geospasial

Pemetaan geospasial dapat membantu pemerintah menentukan penyebab dan prioritas penanganan banjir secara lebih akurat. Peta tidak cukup hanya menunjukkan lokasi genangan. Pemerintah perlu menggabungkan informasi ketinggian lahan, kemiringan lereng, jaringan sungai dan drainase, tutupan lahan, jenis tanah, serta riwayat kejadian banjir.

Data elevasi digital atau Digital Elevation Model (DEM) dapat digunakan untuk mengenali arah aliran permukaan dan cekungan yang berpotensi menampung air. Peta kemiringan lereng membantu memperkirakan kawasan yang mempercepat limpasan, sedangkan citra satelit dapat memperlihatkan perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu.

Informasi tersebut dapat ditumpangtindihkan dengan peta bahaya, kerentanan, dan risiko banjir melalui InaRISK milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Portal WebGIS InaRISK menyediakan lapisan informasi bahaya banjir, kerentanan, risiko, topografi, serta sejumlah infrastruktur.

Indeks Risiko Bencana Indonesia 2025 juga mencatat Kota Bandung memiliki skor risiko bencana banjir sebesar 18,57 dalam kategori tinggi. Angka tersebut merupakan gambaran tingkat risiko pada skala kota, bukan penetapan bahwa seluruh wilayah Cibiru berada dalam kategori yang sama. (Sumber: BNPB, Buku IRBI 2025 dan WebGIS InaRISK).

Pemkot perlu menyusun peta mikrobanjir Cibiru yang mengidentifikasi lokasi genangan berulang, arah datangnya limpasan, titik penyempitan saluran, dan kawasan resapan yang masih tersisa. Peta tersebut sebaiknya dilengkapi survei elevasi lapangan dan pengukuran kapasitas saluran agar keputusan pembangunan tidak hanya didasarkan pada perkiraan visual.

Perlu Solusi Berlapis, Bukan Sekadar Normalisasi

Di Kelurahan Palasari, persoalan banjir di sekitar pangkalan ojek Jalan A.H. Nasution dan Jalan Cilengkrang II membutuhkan kajian teknis bersama bidang yang menangani sumber daya air. Penataan kawasan pangkalan ojek dapat dilakukan bersamaan dengan pembenahan aliran air agar fasilitas publik tetap tertib dan nyaman.

Di Cipadung, warga mengeluhkan banjir yang berlangsung sejak 2016 dan mengusulkan tindak lanjut sodetan menuju Panyileukan. Sebelum konstruksi dilakukan, perlu dihitung elevasi, kapasitas saluran penerima, serta potensi tambahan debit di wilayah hilir. Sodetan yang mempercepat aliran tanpa menyediakan kapasitas penampungan memadai justru berisiko memindahkan masalah banjir ke kawasan lain.

Sementara itu, normalisasi drainase di RW 02 dan RW 03 Pasir Biru perlu mempertimbangkan bangunan di sekitar saluran, sebagaimana disampaikan Farhan. Penggalian harus disertai pemeriksaan kondisi fondasi, akses warga, dan keselamatan konstruksi. Normalisasi memang penting, tetapi hasilnya akan terbatas apabila limpasan dari kawasan atas terus meningkat.

Solusi berikutnya adalah membangun sumur resapan pada lokasi yang kondisi tanah dan muka air tanahnya memungkinkan, kolam retensi atau detensi, taman resapan, serta permukaan berpori di ruang publik dan halaman bangunan. Kolam detensi dapat menahan sementara air hujan sebelum dialirkan secara terkendali. Adapun rehabilitasi vegetasi dan perlindungan lahan terbuka di kawasan hulu membantu memperlambat aliran permukaan sekaligus mempertahankan fungsi tanah.

Penerapan solusi tersebut harus didahului kajian geologi, hidrogeologi, dan daya resap tanah. Sumur resapan tidak tepat dibangun sembarangan pada tanah yang kedap, lokasi dengan muka air tanah dangkal, atau kawasan yang memiliki risiko pencemaran air tanah.

Baca Juga: Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Filosofi Melindungi Hulu dan Mengamankan Hilir

Perhatian khusus perlu diberikan pada sisa kawasan resapan di bagian atas Cibiru. Pemerintah harus memeriksa kesesuaian pembangunan dengan rencana tata ruang, mengendalikan perubahan fungsi lahan, melindungi sempadan sungai, serta mendorong penambahan ruang terbuka hijau yang benar-benar berfungsi ekologis.

Insentif bagi pemilik lahan yang mempertahankan vegetasi, kewajiban pengelolaan air hujan pada bangunan baru, dan pengawasan terhadap penutupan tanah dengan beton dapat menjadi bagian dari kebijakan tersebut. Untuk kawasan yang sudah terbangun, pemerintah dapat mengembangkan ruang hijau komunal dan fasilitas penampungan air berskala lingkungan.

Pemerintah Kota Bandung juga perlu membangun sistem pemantauan curah hujan dan tinggi muka air pada titik strategis. Data sensor dapat diintegrasikan dengan peta geospasial sehingga petugas mengetahui lokasi yang harus dipantau ketika hujan lebat terjadi.

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi pemerintahan. Normalisasi drainase tetap diperlukan, tetapi tidak akan menyelesaikan persoalan apabila kawasan resapan di hulu terus kehilangan fungsinya.

Melindungi daerah atas berarti mengurangi beban wilayah bawah. Dengan peta yang akurat, pengendalian pembangunan, pemulihan kawasan resapan, dan infrastruktur pengendali limpasan yang terintegrasi, mitigasi dan penanganan banjir Cibiru dapat bergerak dari pola reaktif menuju pencegahan yang berkelanjutan. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Okt 2026, 20:14

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 18:15

Zona Merah, Konflik yang Tak Kunjung Usai: Ojol dan Opang Butuh Aturan yang Adil

Konflik ojol dan opang di Bandung menunjukkan pentingnya aturan zona merah yang jelas dan adil. Mediasi saja tidak cukup; keselamatan dan kepastian akses harus dijamin bagi semua pihak.

Ilustrasi pangkalan ojek konvensional di kawasan Bandung. (Sumber: Google Maps (Street View). | Foto: Google Street View)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 17:07

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Merawat RTH Pasirwangi sebagai investasi jangka panjang.

Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)
Seni Budaya 19 Okt 2026, 16:20

Yamko Rambe Yamko dan Teka-Teki Identitas Papua

Yamko Rambe Yamko dikenal sebagai lagu daerah Papua. Namun, sejumlah seniman Papua mempertanyakan bahasa, asal-usul, dan sejarah di balik lagu populer ini.

Tarian Yamko Rambe Yamko (Sumber: Enhanced from Indonesia Kaya)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 16:08

Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi antar pemda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 15:37

Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional.

Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 13:58

Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Artikel ini membahas kemacetan di Jalan Cimincrang. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti perlintasan kereta api dan tingginya aktivitas di kawasan Gedebage. Kemudian, bagaimana solusinya?

Kemacetan pada waktu rush hour di Jalan Cimincrang. (Foto: Rahma Rumaisha Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 12:43

Kemacetan Paskal Tiada Henti: Sampai Kapan Pengendara Harus Saling Serobot?

Kemacetan di Jalan Pasirkaliki (Paskal) Bandung makin parah akibat kebiasaan saling serobot dan parkir sembarangan. Akses pejalan kaki pun ikut terkunci total.

Kondisi arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasirkaliki (Paskal), Kota Bandung, yang mengalami kepadatan dan antrean panjang kendaraan. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Rahma Tsania Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 09:26

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar - Bagian 1

Pada saat kondisi ekonomi yang tidak menentu, apakah PHK karyawan menjadi solusi terbaik? Kenapa Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur bisa mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar?

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 08:59

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Keliling Kota Indonesia menjumpai para pegiat literasi menjadi rencana ekspedisi versi saya untuk mendapat pengalaman yang bermakna dalam hidup.

Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 07:40

Bahasa Sunda Bukan Sekadar Urusan Orang Sunda

Bahasa Sunda dominan di banyak wilayah Priangan. Tapi, di pesisir utara, khususnya Indramayu, Cirebon, dan sebagian Karawang-Subang, bahasa Jawa sudah lama digunakan.

Ilustrasi 'Rumah Besar' Jawa Barat. (Sumber: Dokumen pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 20:31

Cuanki: Semangkok Kehangatan dari Kota Bandung

Bagaimana sejarah munculnya cuanki di Kota Bandung dari zaman dulu hingga zaman sekarang?

Foto semangkok cuanki (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 19:54

BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

Jalan kaki di Bandung kerap terasa serba salah hingga dianggap cap ketidakmampuan ekonomi. Mampukah rencana BRT Bandung Raya mengubah budaya car-centric ini?

Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 15:23

Film Horor dan Komedi adalah Kita

Fenomena di industri film Indonesia.

Film Horor dan Komedi adalah Kita (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 11:46

Menata Rumah di Bantaran Rel Bandung Raya, Tanpa Mengabaikan Warga

Bandung Raya membutuhkan transportasi massal yang semakin andal, tetapi juga membutuhkan kebijakan perumahan yang tidak membiarkan masyarakat terjebak dalam hunian berisiko.

Gambar ilustrasi kondisi jalur rel di Bandung Raya yang perlu dibenahi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 10:32

Sangkanhurip, Mata Air Kehidupan yang Menguatkan Jiwa

Di Jawa Barat, kata sangkan banyak dijadikan toponim, dijadikan nama tempat, seperti nama geografis Sangkanhurip, Sangkanherang, dan Sangkanmulya.

Telaga yang dijadikan destinasi wisata ini akan terjaga airnya bila hutan di Gunung Cerémé tetap terjaga. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)