KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

EMPATI seorang pemimpin membawa implikasi nilai politik dan sosial yang nyata. Empati bisa membangun kepercayaan, membuat orang merasa dilihat, dan membuka ruang dialog yang lebih manusiawi. 

Namun, hasil pemerintahan tidak berhenti pada tataran empati pemimpin. Yang menentukan hasil akhir pemerintahan adalah kemampuan menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang terukur, berkelanjutan, dan benar-benar menjangkau kelompok yang selama ini termarjinalisasi.

Empati KDM

Survei SMRC September 2026 menempatkan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), pada skor empati 7,1 dari skala 0–10. Angka itu tergolong tinggi di antara tokoh nasional. KDM berada di bawah Mahfud MD yang mendapat skor 7,3. 

Definisi empati dalam survei SMRC mencakup kepedulian, kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, serta kemampuan menempatkan diri pada posisi mereka. Skor ini berasal dari penilaian 200 opinion leader. Jadi, bukan dari ukuran objektif hasil kebijakan di lapangan.

Skor empati yang tinggi tentu saja tidak otomatis menjadi bukti keberhasilan kebijakan. Ia lebih menggambarkan persepsi elit dan sebagian publik terhadap gaya kepemimpinan seseorang. 

Gaya KDM

Semua orang tahu, di Jawa Barat, gaya kepemimpinan KDM sering ditandai dengan kehadiran langsung dan respons cepat terhadap persoalan warga. Banyak orang melihatnya sebagai bentuk empati yang konkret. 

Namun demikian, kehadiran personal memiliki batas. Manakala persoalan menyentuh jutaan orang, yang dibutuhkan bukan sekadar empati personal seorang pemimpin, melainkan adalah sistem yang bekerja.

Sektor kesehatan bisa menjadi menjadi salah satu ilustrasi dalam hal ini.  Pemprov Jawa Barat bersama kabupaten/kota membangun skema agar warga yang BPJS-nya tidak aktif, menunggak, atau bahkan belum punya KTP tetap bisa mendapatkan perawatan kelas 3. 

Kerja sama dengan lebih dari seratus rumah sakit di dalam dan luar Jawa Barat, termasuk beberapa di Jakarta, menunjukkan upaya memperluas jangkauan. Ini adalah langkah yang menyentuh kelompok yang biasanya tertinggal karena administrasi.

Sudah barang tentu, langkah tersebut sejalan dengan semangat empati. Namun, keberlanjutannya bergantung pada kemampuan fiskal daerah, koordinasi antarinstansi, dan mekanisme pengawasan agar tidak hanya menjadi program sesaat. Tanpa sistem yang kuat, empati bisa berubah menjadi beban yang tidak merata.

Di bidang pendidikan, program seperti Jabar Sakola mencoba menjawab risiko putus sekolah melalui bantuan personal bagi siswa dari keluarga rentan. Ada juga Bantuan Operasional Pendidikan Daerah dan beasiswa untuk SMA, SMK, serta SLB. Ini semua menunjukkan intervensi konkret. Namun, data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025 yang mencapai 75,9, meskipun naik dan melampaui target, masih menyimpan ketimpangan antarwilayah.

Stunting menjadi contoh lain yang menarik. Prevalensi di Jawa Barat turun dari 26,21 persen pada 2020 menjadi 15,9 persen pada 2024. Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 adalah 12,2 persen. 

Angka penurunan tersebut positif, tetapi kesenjangan antar kabupaten masih lebar. Ada daerah yang sudah di bawah 10 persen, ada yang masih di atas 25 persen. Maka, empati terhadap anak stunting harus diterjemahkan menjadi konvergensi lintas sektor yang konsisten, bukan hanya program yang viral.

Tidak terlihat

Selama ini, kelompok rentan sering kali tidak terlihat dalam statistik rata-rata. Misalnya, ibu hamil dari keluarga prasejahtera, anak disabilitas, lansia di desa terpencil, atau pekerja informal yang tidak punya jaminan sosial. Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang merancang akses khusus untuk mereka, bukan sekadar membuka pintu yang sama untuk semua.

Dalam literatur kebijakan publik, empati afektif (merasakan) dan empati kognitif (memahami sudut pandang) perlu seimbang. Empati afektif menghasilkan kepedulian. Empati kognitif menghasilkan desain kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa yang kedua, empati mudah berhenti pada respons insidental.

Kepuasan publik terhadap kinerja KDM, yang mencapai 95,4 persen menurut survei LSI Juli 2026, terbilang sangat tinggi. Namun, kepuasan yang tinggi itu bisa dibentuk oleh kombinasi figur personal, komunikasi media sosial, dan program yang terlihat. Jadi, belum tentu mencerminkan kualitas layanan yang merata di seluruh wilayah.

Maka, tantangan terbesar justru terletak pada penerjemahan empati, yakni bagaimana memastikan bahwa perhatian terhadap satu kasus kesehatan atau pendidikan yang viral, misalnya, menjadi prosedur standar di seluruh puskesmas dan sekolah, bagaimana membuat birokrasi bergerak dengan kecepatan yang sama dengan respons personal pemimpin.

Data IPM telah menunjukkan adanya perbaikan di dimensi kesehatan dan pendidikan. Umur harapan hidup naik, rata-rata lama sekolah meningkat. Namun, pengeluaran per kapita yang disesuaikan dan ketimpangan antar daerah masih menjadi catatan. Bagaimanapun, pembangunan manusia tidak hanya soal angka rata-rata, tetapi soal distribusi manfaat.

Modal politik

Di banyak negara, pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Kelompok yang tidak terlihat sering kali adalah mereka yang tidak punya akses ke media sosial atau tidak mampu menyampaikan keluhan secara langsung. Kebijakan yang baik harus aktif mencari mereka, bukan menunggu mereka datang.

Skor empati KDM yang tinggi dapat menjadi modal politik yang berharga. Tapi, modal itu akan bernilai lebih besar jika berhasil dikonversi menjadi sistem yang bekerja di luar kehadiran personal. 

Itulah salah satu tantangan sesungguhnya bagi KDM, yakni mengubah perasaan menjadi struktur, dan struktur menjadi hasil yang bisa diukur serta dipertanggungjawabkan.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)