GUBERNUR Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) memilih menyuguhkan bakakak hayam -- juga sate maranggi -- kala menerima delegasi Sumitomo Corporation dari Jepang. Itu terjadi di rumahnya, Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat, baru-baru ini.
Rekaman video pertemuan KDM dengan para tamunya dari Negeri Sakura itu ditayangkan lewat kanal Youtube KDM, tertanggal 8 Oktober 2026.
“Kalau dikasih salmon sashimi kan udah nggak aneh. Dikasih ayam bakar, bakakak,” jelas KDM, sebagaimana tertayang dalam unggahan videonya.
Ayam utuh
Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda, pastilah tau -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.
Bakakak hayam adalah menu hidangan berupa ayam utuh guluntungan yang dibakar dan dibumbui. Hidangan bakakak hayam kerap disajikan dalam acara riungan keluarga, kenduri, perayaan maupun acara adat.
Bentuknya yang utuh guluntungan memberi kesan bahwa bakakak hayam memang disiapkan sebagai satu hidangan untuk bersama. Jadi, bukan sekadar kumpulan porsi individual.
Bakakak hayam sendiri biasanya disajikan bersama nasi hangat atau nasi liwet. Agar sajian semakin lengkap dan nikmat, perlu hadir sambel dadakan plus lalapan segar khas tatar sunda seperti terong, bonteng, engkol, surawung, kicipir ngora, maupun leunca.
Agar memudahkan proses memakannnya, bakakak lebih dulu disuwir atau dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
Jika kepingin hidangan semakin komplit, bisa ditambah dengan sajian sayur asem dan juga lauk asin, yang digoreng garing.
Boleh jadi, para delegasi dari Sumitomo Jepang yang bersua dengan KDM di Lembur Pakuan itu mendapat kesan tersendiri saat disajikan bakakak hayam.
Di sisi lain, pertemuan dan jamuan itu juga merupakan kesempatan berharga untuk mengenalkan kuliner tradisional Sunda kepada tamu asing. Artinya, sajian bakakak hayam yang disuguhkan KDM bukan cuma sekadar untuk memuliakan tamu, melainkan pula sebagai bentuk diplomasi budaya dalam skala kecil.
“Bakakak itu artinya dibakar ditelentangin, terang KDM.
Ia lalu melanjutkan, “Nanti habis bakakak, habis beres makan, kita bakekok,” canda KDM, yang disambut gelak tawa oleh para tamu.
Baca Juga: Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya
Tak cuma makan
Pertemuan KDM dengan para delegasi Sumitomo Jepang sendiri bukan melulu soal urusan makan balakecrakan bakakak hayam. Ada soal investasi yang juga diperbincangkan. Investasinya terkait dengan proyek pembangunan Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di Legok Nangka.
Seperti diketahui, sebelumnya telah dilakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada tanggal29 Juli 2026 silam untuk menandai proyek PSEL Legok Nangka ini.
KDM menegaskan bahwa sampah dari enam kabupaten/kota di Jawa Barat -- Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang -- nantinya akan diolah menjadi energi listrik di fasilitas tersebut.
PSEL Legok Nangka ditargetkan beroperasi pada 2029–2030. Sumitomo Corporation merupakan bagian dari konsorsium PT Jabar Environmental Solutions (JES), badan usaha pelaksana proyek yang juga melibatkan EPN, Kanadevia, dan Kyuden.
PSEL Legok Nangka memiliki nilai investasi sekitar Rp7,4 triliun, dengan skema pendanaan yang mencakup sekitar Rp5 triliun dari investor, Rp2 triliun hibah Pemerintah Pusat, dan Rp350 miliar hibah Pemerintah Belanda. (*)