KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

3 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

NAMA Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau akrab disapa KDM, mucunghul dalam reportase media Inggris, Financial Times, baru-baru ini. Judul reportasenya: “Is this Indonesia’s Next President?” 

Bukan main. Dan bukan main-main. Artinya, nama KDM bukan cuma bergema di ruang politik lokal, tapi juga mulai merambah arena persepsi global.

Financial Times bukan media jore-jore. Ia dibaca investor, diplomat, analis risiko politik, sampai pembuat kebijakan global. 

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga signal, bahwa ada potensi perubahan lanskap politik di negara besar seperti Indonesia.

Yang membuat KDM menarik bagi media global macam Financial Times mungkin bukan hanya elektabilitasnya, tetapi juga barangkali kisah kehidupannya yang membumi dan merakyat. 

Dalam reportasenya, Financial Times menulis antara lain: “Dedi Mulyadi, a former motorcycle taxi driver and kite seller, has seen a meteoric rise, fuelled by his prolific use of social media that has helped establish a deep rapport with voters who see him as a man of the people.” 

Di sini terlihat pola lama media internasional. Mereka cenderung menyukai politik yang dipersonalisasi. Struktur partai, dinamika elite, atau kompleksitas institusi sering kalah oleh figur yang punya wajah, gaya, dan cerita.

Label Content Governor yang ikut disematkan Financial Times kepada KDM memperkuat hal itu. Dalam logika media global, ini bukan sekadar kritik, tapi mungkin kategori baru yakni pemimpin yang membangun legitimasi lewat produksi konten digital harian.

Data yang dikutip Financial Times juga memperkuat efek dramatis. Survei SMRC yang menunjukkan elektabilitas KDM di angka sekitar 35 persen, jauh di atas nama besar lain, menjadi angka global begitu masuk reportase media internasional.

Namun demikian, survei domestik yang dikutip media global bukanlah prediksi final. Ia adalah potret sementara. Tetapi, ketika ini dibaca oleh orang-orang di luar negeri, bisa saja ia berubah menjadi tren.

Dengan demikian, media internasional tidak lagi sekadar mencerminkan realitas, tetapi ikut membentuk realitas. Karena investor, analis risiko, dan bahkan elite politik domestik bisa ikut membaca ulang posisi KDM setelah melihat bagaimana ia ditampilkan di Financial Times.

Di banyak negara berkembang, figur politik lokal tak jarang “naik kelas” setelah masuk radar media Barat. Ini seperti model siklus umpan balik: dikenal luas di domestik, kemudian mendapat panggung di media global, dari situ dianggap makin relevan secara geopolitik, dan akhirnya pengakuan luar itu justru mempertebal legitimasi serta popularitas di dalam negeri.

KDM mungkin saja masuk dalam model seperti itu. Aktivitas media sosialnya yang masif membuatnya mudah terlihat, mudah diukur, dan mudah diklip untuk konsumsi global. Jujur saja, di era digital kiwari, visibilitas adalah modal politik.

Namun, di balik itu semua, ada risiko simplifikasi. Politik Jawa Barat -- dengan kompleksitas ekonomi industri, urbanisasi, ketimpangan -- bisa mengecil menjadi satu narasi: “gubernur yang dekat dengan rakyat lewat konten.”

Padahal, dalam ilmu politik modern, popularitas tidak selalu linear dengan kapasitas tata kelola pemerintahan. Tetapi, media global sering tidak masuk sejauh itu. Mereka cenderung berhenti pada level persona politik.

Menariknya, dalam reportasenya,  Financial Times juga menyinggung sisi lain, yaitu kritik bahwa aktivitas konten bisa mengalahkan substansi kerja pemerintahan. Ini menunjukkan bahwa bahkan media global pun sadar soal kemungkinan adanya problem antara performa dan kebijakan.

Maka, dalam hal ini, KDM menjadi sebuah studi kasus nan unik, di mana seorang kepala daerah mulai pula dilirik dan dikurasi oleh media global sebagai salah seorang kandidat potensial pemimpin nasional masa depan.

Pertanyaannya sekarang adalah: apakah popularitas yang sudah masuk radar internasional ini akan mengubah kalkulasi politik nasional, baik di level partai, elite, maupun calon pemilih.

Reportase Financial Times bukan sekadar cerita ihwal KDM. Ia adalah cermin tentang bagaimana khazanah politik Indonesia kiwari tidak lagi sepenuhnya domestik. Ia sudah masuk ruang di mana media global, data survei, dan algoritma digital ikut menentukan ihwal siapa yang kira-kira potensial dan layak jadi pemimpin nasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)