Sangkan itu bermakna asal-muasal, sumber, atau permulaan. Di Jawa Barat, kata sangkan banyak dijadikan toponim, dijadikan nama tempat, seperti di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, ada nama geografis: Sangkanhurip, Sangkanherang, dan Sangkanmulya. Di Kabupaten Purwakarta dan di Kota Cimahi, ada toponim Cisangkan. Dan lebih ke utara dari kaki gunung itu, yang secara administratif berada di Kabupaten Cirebon, ada toponim Sumber. Sangkan dan sumber, bermakna asal-muasal, dan secara fisik mempunyai makna yang sama, yaitu di sana terdapat cinyusu, mataair, yang jernih, segar, sehat, sumber kehidupan, dengan debit yang cukup hingga sangat besar dan berkelanjutan sepanjang musim. Hurip itu hidup atau jiwa (atma), Sangkanhurip bermakna asal-muasal kehidupan. Sumber yang menguatkan jiwa. Sangkanmulya bermakna asal-muasal keluhuran, derajat, budi, kemuliaan, nilai. Sangkanhérang bermakna asal-muasal kejernihan mata air atau asal-muasal kejernihan hati.
Kawasan dengan toponim yang memakai kata sangkan dan sumber, merupakan kawasan yang secara fisik dianugerahi berkelimpahan air. Seperti halnya Sangkanhurip yang berada di sebelah utara Gunung Cerémé. Keadaan hutan di Gunung Cerémé masih terjaga, sehingga menjadi menara air tertinggi di Jawa Barat. Keadaan hutan yang terjaga baik menjadi zona imbuhan di ketinggian, yang menjadi sumber air yang tiada hentinya, dengan debit ada yang mencapai 650 liter per detik.
Inilah yang menyebabkan sisi utara Gunung Cerémé sangat berlimpah sumber air, seperti yang terdapat di Talaga Pancar, Talaga Hérang, Talaga Biru, Talaga Loa, Talaga Nilem, Talaga Deleg, Sangkanhurip, Sangkanherang, Situ Cipanten, Situ Ciranca, Situ Cicerem, Cibuluh Pasawahan, Situ Sipariuk, Cisitu, Tirtawana, Andir, dan Situ Pajaten.
Keberlimpahan air jernih dan segar ini, oleh masyarakat dimanfaatkan menjadi sumber air baku yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua untuk irigasi pertanian, perikanan. Dan, mataair air yang debitnya keberlimpahan, dijadikan kolam renang dan pemandian umum, dijadikan tempat wisata alam, dan ada yang memanfaatkan kesegaran mata air dengan suhu airnya yang dingin alami, kaya oksigen yang menyegarkan, dijadikan tempat terapi kesehatan.
Keadaan bagian utara Gunung Cerémé yang berupa endapan hasil letusan gunungapi muda, dengan kemampuan untuk meresapkan air melalui pori-pori yang saling terhubung, serta porositas tanah dan batuan yang tinggi, seperti di abu letusan, pasir, lapilli, dan aliran lava. Inilah endapan batuan yang memungkinkan air meteorik atau air hujan dapat meresap ke dalam tanah dengan sangat cepat melalui celah-celah batuan.
Material letusan gunungapi muda itu dialasi oleh batulempung yang berselingan dengan batupasir. Lapisan batu lempung merupakan lapisan yang kedap air, yang dapat menahan air tanah tidak meresap. Airtanah kemudian menurun mengikuti arah kemiringan lereng dan gravitasi, kemudian ke luar di mataair. Mata air yang mengalir di sisi utara Gunung Cerémé keadaan airnya dapat dikategorikan memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi, dengan tingkat keasaman yang netral, serta tidak tercemar logam berat, sehingga airnya layak untuk dikonsumsi.
Baca Juga: Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang
Satu hal penting yang berkaitan dengan air yang sangat berlimpah di mata air di sisi utara gunung, sangat terkait erat dengan keadaan hutan yang terjaga dengan baik di lereng Gunung Cerémé. Bagaimana agar keberadaan mata air terus mengalir dengan debit yang tinggi seperti pada awalnya, tidak mengenal musim, memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama yang paling merasakan keberkahan lestarinya hutan di Gunung Cerémé.
Saat ini desakan keinginan untuk menikmati suasana alam yang lestari semakin tinggi. Namun sayangnya, seringkali dalam pemanfaatan nya, pengelola wisata alam justru mengorbankan apa yang menjadi daya tarik utamanya, dan kecenderungan masyarakat untuk menikmati kelestarian alam. Pengelola dan sebagian pengunjung wisata alam masih belum paham sepenuhnya tentang hakekat wisata di tengah alam dengan baik. Wisata alam yang berlangsung saat ini di banyak tempat, banyak yang menghilangkan keteduhan pohon. Saat ini, wisata alam sekedar memindahkan kebisingan, kehebohan, dan hiruk-pikuk perkotaan ke tengah alam.
Pengelola wisata alam yang sudah merasakan keberkahan alam, harus berkontribusi secara penuh, nyata, dan menerus untuk menjaga ekosistem hutan. Menjaga agar pohon yang ada terus tumbuh, dan menanam, menumbuh-kembangkan pohon endemik di tempat yang semula hutan. Dengan terjaganya hutan alami, mataair akan terus mengalir. Menjaga keragaman alam agar keheningan di dalam alam terus terpelihara. (*)