BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

5 menit baca
Sarah Annisa Fadhila
Ditulis oleh Sarah Annisa Fadhila diterbitkan
Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)
Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)

Ada rasa canggung saat berjalan kaki di Bandung Raya. Coba saja jalan kaki beberapa ratus meter untuk pergi ke minimarket atau membeli makan siang di daerah-daerah padat pengendara yang bukan kawasan wisata tengah kota. Besar kemungkinan, sejumlah pasang mata dari pengendara atau pedagang di tepi jalan—yang juga menempati trotoar untuk berjalan kaki—akan melirik heran. Jalan kaki di Bandung sering kali membawa pengalaman serba salah, seakan berjalan kaki adalah aktivitas yang aneh, menyedihkan, dan  menyiksa.

Dalam tatanan sosial yang car-centric, seperti Bandung Raya saat ini, jalan kaki jauh dari asumsi kesan pola hidup sehat. Bahkan, secara terselubung sering diasosiasikan dengan keterbatasan ekonomi membayar ongkos atau ketidakmampuan membeli kendaraan pribadi.

Stigma sosial pejalan kaki di wilayah yang sejak lama menyandang predikat sebagai salah satu destinasi wisata favorit ini kian parah ketika menengok realitas fisik di lapangan. Trotoar yang terputus atau beralihfungsi menjadi lapak pedagang, permukaan yang rusak, minimnya penerangan jalan, kemacetan, hingga anggapan nyaris tidak adanya transportasi umum yang layak adalah beberapa alasannya.

Bagi perempuan muda yang berjalan kaki sendirian, persoalannya lebih kompleks lagi. Tak jarang, ada saja lirikan iseng atau siulan dari orang tak dikenal yang sengaja menurunkan kaca jendela mereka, atau lebih parah, sengaja menepikan sepeda motor untuk menawari tumpangan dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Tentu saja, dengan status sama sekali tidak saling mengenal.

Buruknya fasilitas berjalan kaki ditambah minimnya moda transportasi umum yang layak menjadi kombinasi yang seakan membenarkan bahwa menggunakan motor atau mobil pribadi menjadi keputusan paling masuk akal untuk bermobilisasi di Bandung Raya. Kendati ada saja pengerjaan pemasangan lampu jalan yang baru, revitalisasi trotoar, dan sejenisnya, keluhan warga masih menggema, tentu saja termasuk di media sosial.

Halte di Tengah Jalan Jadi Faktor Baru Kemacetan

Pusat kota atau wilayah penyangganya, Bandung kini tak lagi “estetik”, setidaknya bagi mereka yang sehari-hari memang hidup di sana. Predikat sebagai kota termacet nomor wahid di Indonesia versi TomTom Traffic Index memvalidasi keluhan warga.

Bagaimana bisa kemacetan Bandung mengalahkan ibu kota? Jawabannya, bisa saja. Jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitasnya, parkir liar dan pedagang kaki lima (PKL) di bahu jalan, serta belum optimalnya sistem angkutan massal modern menjadi faktor kunci yang saling berkaitan. Jumlah kendaraan pribadi terus bertambah, tapi tidak dengan lebar jalannya, tidak pula dengan fasilitas penunjang keamanan dan kenyamanannya.

Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di tengah karut-marut kemacetan yang kian hari kian parah, rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya datang membawa janji manis yang sempat terasa seperti angin segar. Transportasi massal yang direncanakan mulai beroperasi penuh pada 2027 mendatang ini diproyeksikan mematok tarif terjangkau, yakni Rp7 ribu per penumpang. BRT Bandung Raya juga menjanjikan sistem integrasi antarmoda, kepastian jadwal berangkat dan tiba, hingga fasilitas penunjang keamanan yang diharapkan mampu membuat warga beralih moda transportasi yang otomatis mengurangi volume kendaraan pribadi yang mengaspal setiap hari.

Sayangnya, mengubah pola pikir dan kebiasaan warga yang sudah terbiasa mengandalkan kendaraan pribadi tidak seringan membalikkan telapak tangan. Kekhawatiran BRT Bandung Raya tidak mampu menjadi solusi diperparah dengan keberadaan halte on-corridor di tengah, misalnya di Jalan Ahmad Yani atau kawasan Cicadas.

Pada jam-jam sibuk, Jalan Ahmad Yani kawasan Cicadas memang terkenal sebagai salah satu titik macet di Kota Bandung. Warga yang setiap hari—atau setidaknya lima hari dalam sepekan melewati jalan tersebut sudah bisa memprediksi arus lalu lintasnya. Akan tetapi, halte yang dibangun di tengah jalan justru menimbulkan kemacetan yang lebih parah dari hari-hari biasanya.

Kendati halte on-corridor itu disebut mengusung konsep mirip busway di Jakarta, kemacetan yang ditimbulkan terus menuai keluhan warga. Diskursus di sejumlah kolom komentar media sosial pun kian memanas. Tak sedikit yang menunjuk proyek ini sebagai biang kerok baru kemacetan di Bandung yang sudah selalu macet, namun masih ada pula yang tetap memandang optimis dan menganggap kemacetan baru yang ditimbulkan hanyalah fase dan akan terurai dengan sendirinya ketika BRT Bandung Raya mulai beroperasi.

PR Besarnya Bukan Hanya Pembangunan Fisik

Jika ditelisik lebih jauh, resistensi warga pada polemik halte on-corridor ini hanyalah puncak gunung es. Ada masalah yang jauh lebih mendasar, yakni belum siapnya ekosistem pendukung untuk membuat warga mau beralih ke transportasi umum.

Rencana pengoperasian BRT Bandung Raya sebagai transportasi umum yang layak memang tidak buruk, tapi juga tidak cukup. Masalah yang tak kalah krusial adalah akses perjalanan dari rumah menuju halte dan dari halte ke rumah atau ke tujuan akhir lainnya.

Kawasan Bandung Timur sepanjang Jalan A. H. Nasution, contohnya. Bukan pemandangan yang asing ketika tiap belokan di sepanjang jalan tersebut menyumbang kemacetan di jalan utama. Beberapa menyalahkan “pak ogah” yang dinilai terlalu memprioritaskan arus keluar demi lembaran uang dua ribu atau lima ribu. Padahal, masalah utamanya bukan di sana, tapi karena setiap belokan itu merupakan akses keluar utama dari banyaknya permukiman warga.

Bandung sudah tidak bisa dipisahkan dari realita bahwa ada banyak warga yang tinggal jauh dari jalan utama. Ketika angkutan penguman (feeder) dirancang sebagai jalur penghubung antar simpul utama, sebuah pertanyaan muncul: bagaimana caranya warga dari kompleks atas bisa sampai ke halte BRT jika tidak naik motor atau mobil pribadi? Jika sejak dari rumah sudah menggunakan kendaraan pribadi, bukankah justru lebih mudah untuk meneruskannya saja sampai tujuan?

Baca Juga: Film Horor dan Komedi adalah Kita

Mengurai benang kusut transportasi umum dan ketergantungan warga pada kendaraan pribadi membutuhkan pendekatan yang utuh. Bukan persoalan yang mudah, namun sudah menjadi PR besar yang upaya penyelesaiannya tak hanya cukup dengan menunjuk hidung satu-dua pihak.  

Armada bus yang bagus harus berbanding lurus dengan penataan trotoar yang aman dan nyaman. Saat trotoar membuat warga merasa aman, nyaman, dan terlindungi dari kejahatan jalanan termasuk cat calling, jalan kaki akan menjadi aktivitas yang wajar, tidak lagi dianggap aneh, menyedihkan, atau cap kelas ekonomi tertentu.

Bandung kini berhadapan dengan persoalan kompleks yang membuatnya tidak benar-benar ramah dan estetis seperti yang biasa digaungkan dalam promosi pariwisata. Aktivitas jalan kaki santai di Jalan Asia Afrika, Braga, atau Dago hanyalah sepersekian persen yang sudah saatnya berhenti diromantisasi hingga Bandung benar-benar menjadi layak dan ramah bagi warganya sendiri.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Okt 2026, 20:31

Cuanki: Semangkok Kehangatan dari Kota Bandung

Bagaimana sejarah munculnya cuanki di Kota Bandung dari zaman dulu hingga zaman sekarang?

Foto semangkok cuanki (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 19:54

BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

Jalan kaki di Bandung kerap terasa serba salah hingga dianggap cap ketidakmampuan ekonomi. Mampukah rencana BRT Bandung Raya mengubah budaya car-centric ini?

Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 15:23

Film Horor dan Komedi adalah Kita

Fenomena di industri film Indonesia.

Film Horor dan Komedi adalah Kita (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 11:46

Menata Rumah di Bantaran Rel Bandung Raya, Tanpa Mengabaikan Warga

Bandung Raya membutuhkan transportasi massal yang semakin andal, tetapi juga membutuhkan kebijakan perumahan yang tidak membiarkan masyarakat terjebak dalam hunian berisiko.

Gambar ilustrasi kondisi jalur rel di Bandung Raya yang perlu dibenahi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 10:32

Sangkanhurip, Mata Air Kehidupan yang Menguatkan Jiwa

Di Jawa Barat, kata sangkan banyak dijadikan toponim, dijadikan nama tempat, seperti nama geografis Sangkanhurip, Sangkanherang, dan Sangkanmulya.

Telaga yang dijadikan destinasi wisata ini akan terjaga airnya bila hutan di Gunung Cerémé tetap terjaga. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja