Gambut Oh Gambut

4 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)

Hari ini, salah satu kata paling populer di Indonesia adalah gambut. Tanah gambut konon jenis tanah yang terbentuk dari penumpukan sisa-sisa tumbuhan yang membusuk secara tidak sempurna. Proses pembusukan ini berjalan sangat lambat karena lingkungan tanah yang selalu tergenang air, miskin oksigen (anaerob), dan bersifat asam. Di Indonesia, lahan gambut tersebar luas, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Tanah gambut memiliki ciri kandungan bahan organik tinggi. Lebih dari 30% materi penyusunnya adalah bahan organik yang belum terurai sempurna dengan warna cenderung cokelat tua hingga hitam pekat. Selain itu, kadar keasaman (pH) tinggi, dengan pH rata-rata berkisar antara 3,0 hingga 5,0.

Tanah gambut memiliki kapasitas menahan air sangat besar, berperan seperti spons alami. Meski demikian, ia miskin hara makro maupun mikro (seperti kalium, kalsium, magnesium, dan tembaga) yang dibutuhkan tanaman. Selain itu daya dukung fisik gambut terbilang rendah, ia bersifat lunak, sarang (porous), dan mudah ambles bila diberi beban berat di atasnya.

Di luar hal-hal tersebut, tanah gambut memiliki peran dan manfaat yang terbilang penting. Pertama, sebagai penyimpan karbon raksasa (Carbon Sink). Gambut menyimpan cadangan karbon terikat dalam jumlah yang sangat besar. Mengamankan lahan gambut sangat krusial untuk mencegah pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. 

Kedua, tanah gambut berperan sebagai pengatur tata air (Hydrological Buffer). Ia berfungsi menyerap air hujan saat musim hujan (mencegah banjir) dan melepaskannya perlahan saat musim kemarau (mencegah kekeringan).

Ketiga, keanekaragaman hayati. Lahan gambut menjadi habitat alami bagi berbagai flora dan fauna khas, termasuk spesies langka seperti harimau sumatra, orangutan, serta tanaman kantong semar.

Melihat potensinya, lahan gambut memiliki tantangan dan kerentanan yang harus disikapi secara bijak dan tentu dengan pendekatan saintifik. Tanah gambut yang dikeringkan secara berlebihan akan kehilangan sifat alaminya (irreversible drying) dan menjadi sangat mudah terbakar. Gambut yang kering bisa terbakar di bawah permukaan tanah (ground fire), memicu asap tebal yang sulit dipadamkan dan menyebar luas.

Penurunan permukaan tanah (Subsidence) karena kanalisasi menyebabkan gambut menyusut dan memadat, sehingga tanah ambles dan berisiko tergenang air laut/banjir permanen. Dalam bidang pertanian, gambut menuntut pengelolaan tata air yang sangat cermat serta penambahan kapur/pupuk tertentu agar bisa ditanami secara berkelanjutan. Memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian memerlukan pendekatan khusus karena sifat tanahnya yang asam, miskin hara, dan rentan ambles (subsidence). Dalam pengelolaan tata air memastikan tinggi muka air tanah (TMAT) agar tetap berada di kedalaman optimal (sekitar 40–60cm di bawah permukaan). Pengeringan drastis menyebabkan gambut mengalami kering tak balik (irreversible drying), yaitu kondisi di mana gambut berubah menjadi seperti arang dan kehilangan kemampuan menyerap air.

Untuk menangani kualitas dan nutrisi tanah diperlukan upaya pengapuran (Liming). Pemberian kapur pertanian (Dolomit) bertujuan meningkatkan pH tanah dari sangat asam (3–4) menjadi lebih netral (5–6). Selain itu, pemupukan mikro  dan makro, yaitu penambahan unsur hara makro (N, P, K) serta unsur mikro yang sangat minim di tanah gambut, seperti Tembaga (Cu), Seng (Zn), dan Boron (B). Kemudian, pengayaan bahan mineral dengan mencampur gambut tipis dengan tanah mineral di sekitarnya untuk meningkatkan daya dukung fisik dan retensi hara.

Dengan Karakternya yang khas itu, lahan gambut memang lebih ideal ditanami komoditas tertentu. Tanaman pangan  dan hortikultura antara lain nanas, pisang, keladi/talas, jagung, dan sayuran tertentu. Untuk tanaman perkebunan  dan industri antara lain kelapa sawit, karet, sagu, dan kayu pertukangan (seperti jelutung dan jelutung rawa) yang lebih toleran terhadap kondisi basah.

Untuk memulihkan ekosistem gambut yang rusak akibat pembalokan liar atau kanalisasi berlebihan, dilakukan pendekatan restorasi yang dikenal dengan konsep 3R. Pertama, rewetting (Pembasahan Kembali) dengan menyumbat saluran air buatan agar air hujan tertahan dan membasahi kembali kubah gambut. Menyediakan pasokan air cadangan di area rawan kekeringan dengan mumur bor  atau embung. 

Kedua, revegetation (Penanaman Kembali). Menanam kembali spesies pohon asli rawa gambut yang ramah air dan memiliki nilai konservasi tinggi, seperti Belangeran (Shorea balangeran), Jelutung Rawa (Dyera polyphylla), dan Ramin (Gonystylus bancanus).

Ketiga, revitalization of local livelihood (Revitalisasi Mata Pencaharian) dengan memberikan alternatif mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat lokal agar tidak merusak ekosistem, seperti budidaya sagu, nanas, perikanan air tawar/rawa, dan ekoturisme.

Potensi Kebakaran

Kebakaran pada lahan gambut bersifat ground fire (terbakar di bawah permukaan tanah), sehingga sangat sulit dideteksi dan dipadamkan jika sudah meluas. Oleh karena itu, pencegahan adalah kunci utama. Sistem peringatan dini dan pemantauan tinggi muka air tanah (TMAT) menggunakan alat pemantau otomatis. Jika TMAT turun lebih dari 40cm di bawah permukaan, status siaga bahaya kebakaran ditingkatkan. Selain itu sistem deteksi titik panas (Hotspot) menggunakan satelit untuk memantau kenaikan suhu permukaan tanah secara real-time.

Tentu saja, upaya pencegahan akan lebih masih jika melihatkan masyarakat. Pemangku membentuk dan melatih kelompok warga lokal untuk patroli rutin, pemadaman awal, dan edukasi pembukaan lahan tanpa bakar (Zero Burning). Sebagai stimulus diperlukan bantuan infrastruktur atau dana pembangunan bagi desa-desa yang berhasil menjaga wilayahnya bebas dari titik api.

Selanjutnya, perkara kebijakan politik negara mengenai izin pengelolaan lahan gambut dan mitigasi kebakaran lahan gambut hari ini tentu saja di luar konteks tulisan ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)