BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

6 menit baca
MILA APRILIA
Ditulis oleh MILA APRILIA diterbitkan
Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Masyarakat Bandung sudah tidak asing dengan kemacetan. Pergi bekerja, berangkat kuliah, berangkat sekolah bahkan menempuh perjalanan yang singkat pada jam sibuk bisa menghabiskan banyak waktu dan tenaga.  Karena itu, rencana pemerintah untuk menghadirkan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya patut disambut sebagai upaya memperbaiki transportasi publik. Namun, Ketika pembangunan fasilitasnya justru malah mempersempit jalan dan mengganggu perjalanan masyarakat, muncul pertanyaan: apakah pembangunan ini sudah cukup memperhatikan masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut?

Persoalan ini bukan sekadar keluhan pengendara yang harus menghadapi kemacetan. Tetapi ini menyangkut bagaimana pemerintah dalam merencanakan pembangunan, mengelola dampaknya, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Berdasarkan pemberitaan Bima Bagaskara (2026) di detikjabar terkait pembangunan empat halte BRT di ruas Jalan Rajawali Timur yang memiliki lebar sekitar 6-8 meter. Kondisi tersebut membuat ruang Gerak kendaraan terbatas selama pekerjaan berlangsung. Pengerjaan trotoar dan saluran air di sejumlah titik juga menambah gangguan terhadap kelancaran perjalanan.

Persoalannya tidak berhenti pada masa pembangunan. Penempatan halte di tengah jalan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kelancaran lalu lintas ketika bus nantinya berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Keluhan mengenai dampak pembangunan halte juga muncul di kawasan Cicadas dan Jalan Jakarta. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan BRT perlu memperhatikan karakteristik setiap ruas jalan, terutama kawasan yang sudah memiliki aktivitas lalu lintas cukup padat. Artinya, pemerintah tidak cukup hanya memikirkan bagaimana halte bisa dibangun, tetapi juga perlu memastikan bahwa penempatan dan pengoperasiannya tidak menimbulkan persoalan baru bagi pengguna jalan (Bagaskara, 2026; Alhamidi, 2026).

Tentu, pembangunan infrastruktur tidak mungkin selalu berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun. Masyarakat juga perlu memahami bahwa fasilitas transportasi tidak bisa ada begitu saja tanpa proses pengerjaan. Namun, memahami proses pembangunan bukan berarti masyarakat harus menerima semua dampak tanpa penjelasan dan penanganan yang layak.

Jangan Sampai Tujuan Besar Membuat Persoalan di Depan Mata Terabaikan

BRT ini diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki mobilitas masyarakat di Bandung Raya. Transportasi publik yang terintegrasi dan mudah diakses berpotensi mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Akan tetapi, tujuan yang baik tidak selalu membuat seluruh proses pelaksanaannya menjadi baik. Pemerintah tetap perlu memastikan bahwa cara mencapai tujuan tersebut tidak menimbulkan beban yang berlebihan bagi masyarakat.

Dalam pemberitaan pada detikJabar pada tanggal 8 oktober 2026, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bandung perlu meminimalkan dampak kemacetan akibat pembangunan halte. Ia juga menekankan pentingnya  memperbaiki penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai proyek yang sedang berlangsung(Alhamidi, 2026).

Menurut saya, upaya memperbaiki komunikasi tentu sangat penting. Masyarakat perlu mengetahui lokasi proyek, jadwal pengerjaan, perubahan arus lalu lintas, dan jalur alternatif. Namun, penyampaian informasi harus disertai dengan Tindakan nyata. Pemerintah juga perlu memastikan pengaturan lalu lintas berjalan dengan baik, rambu terlihat jelas, akses pejalan kaki tetap aman, dan pekerjaan diawasi secara optimal.

Selain itu, pembangunan yang berlangsung di sejumlah ruas jalan perlu dikoordinasikan agar gangguan tidak menumpuk pada waktu dan kawasan yang sama. Jika beberapa pekerjaan dilakukan bersamaan tanpa pengaturan yang matang, dampaknya dapat meluas dari satu titik ke ruas jalan lain. Karena itu, perencanaan tahapan konstruksi dan koordinasi antarpihak menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Dengan demikian, penanganan dampak pembangunan tidak cukup hanya melalui pemberian informasi. Pemerintah perlu memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang jelas sekaligus merasakan upaya nyata untuk mengurangi gangguan selama pekerjaan berlangsung.

Pembangunan Tidak Boleh Berhenti pada Selesainya Proyek

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sebagai mahasiswa yang mempelajari pemerintahan, saya melihat persoalan BRT ini berkaitan dengan cara pemerintah menilai keberhasilan pembangunan. Apakah proyek bisa disebut berhasil hanya karena fasilitasnya selesai dibangun, atau harus dilihat juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat?

Dalam administrasi publik, Old Public Administration (OPA) menekankan aturan dan prosedur, sedangkan New Public Management (NPM) berfokus pada efisiensi dan pencapaian kinerja. Keduanya pendekatan tersebut penting dalam pelaksanaan Pembangunan. Namun, keberhasilan suatu proyek juga perlu dinilai apapkah fasilitas yang dibangun benar-benar mendukung kebutuhan masyarakat. Jika akses jalan masih bermasalah, keselamatan belum terjamin, atau dampak lalu lintas tidak tertangani, pemerintah perlu mengevaluasi pelaksanaannya.

Di sinilah pendekatan New Public Service (NPS) menjadi relevan. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai warga negara yang perlu didengar dan dilibatkan, bukan sekadar penerima keputusan pemerintah. Keluhan mengenai kemacetan, keselamatan, dan akses jalan seharusnya menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan pembangunan.

Pemberitaan mengenai permintaan Wali Kota Bandung agar desain halte BRT ditinjau ulang pada Oktober 2026 juga menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap desain yang sudah direncanakan. Permintaan tersebut muncul setelah adanya berbagai keluhan di lapangan, termasuk mengenai halte yang mempersempit jalan dan lokasi halte yang berdekatan dengan perlintasan kereta (Alhamidi, 2026).

Hal ini memperlihatkan bahwa evaluasi bukan berarti pembangunan harus dianggap gagal. Sebaliknya, evaluasi diperlukan untuk menemukan kekurangan dan memperbaikinya sebelum fasilitas beroperasi. Jika ada desain yang berpotensi mengganggu akses atau keselamatan, persoalan tersebut sebaiknya ditangani sejak awal daripada menunggu sampai masyarakat merasakan dampak yang lebih besar.

Mendukung transportasi publik bukan berarti harus diam terhadap persoalan pelaksanaannya. Justru, kritik diperlukan agar pembangunan BRT benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Masyarakat Bukan Sekadar Pihak yang Diminta Memaklumi

Menurut saya, ada empat hal yang perlu dilakukan pemerintah agar pembangunan BRT Bandung Raya tidak hanya fokus pada penyelesaian proyek, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Pertama, pemerintah perlu menyebarkan informasi pembangunan dan berkala. Informasi mengenai lokasi pekerjaan, perubahan arus lalu lintas, jadwal proyek, dan jalur  alternatifnya harus mudah diakses oleh masyarakat. Dengan adanya informasi tersebut, masyarakat dapat menyesuaikan waktu keberangkatan dan memilih jalur alternatif sebelum beraktivitas.

Kedua, pengaturan lalu lintas dan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Pemerintah wajib memastikan rambu lalu lintas terpasang dengan jelas, petugas lalu lintas ditempatkan di titik yang sangat rawan kemacetan, serta akses untuk pejalan kaki tetap aman selama proyek berlangsung. Pengaturan waktu dan tahapan pengerjaan perlu dipertimbangkan agar gangguan terhadap aktivitas masyarakat dapat diminimalkan.

Ketiga, keluhan masyarakat harus ditindaklanjuti bukan hanya didengarkan dan diterima. Pemerintah perlu menyediakan forum pengaduan yang mudah diakses dan memberikan kejelasan mengenai  penanganan laporannya. Jika masyarakat menyampaikan masalah terkait kemacetan atau akses jalan, keluhan tersebut seharusnya menjadi dasar untuk pemerintah mengevaluasi dan memperbaiki pelaksanaan proyeknya.

Keempat, evaluasi harus tetap dilakukan setelah BRT beroperasi. Pemerintah perlu menilai apakah layanan tersebut itu benar-benar mempermudah pejalan, memiliki akses yang mudah dan aman juga terintegrasi dengan transportasi lain. Evaluasi ini sangat penting agar keberhasilan BRT tidak hanya dilihat dari selesainya pembangunan halte tetapi juga dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pelayanan publik itu bukan sekadar menyediakan fasilitas umum, melaikan memastikan proses pembangunannya dan hasilnya benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat. Masyarakat juga perlu memahami bahwa pembangunan itu membutuhkan waktu, tetapi pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dampak yang ditimbulkannya.

Baca Juga: BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

Transportasi Publik Harus Membuktikan Manfaatnya

BRT Bandung Raya ini bisa menjadi salahsatu Solusi untuk mengurangi kemacetan. Namun, tujuan tersebut harus didukung oleh perencanaan yang matang, pelaksanaan yang ada tanggung jawabnya dan keterbukaan terhadap kritik dari khalayak umum.

Kemacetan selama Pembangunan mungkin tidak dapat dihindari sepenuhnya. Meski demikian, pemerintah tetap perlu berupaya meminimalkan dampaknya melalui pengaturan lalu lintas, penyampaian informasi yang jelas, dan evaluasi terhadap persoalan yang muncul di lapangan.

Pada akhirnya, keberhasilan BRT akan ditentukan oleh manfaaat yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi publik yang baik bukan sekadar bus dan halte yang tersedia, melainkan layanan yang aman, mudah diakses, terintegrasi, dan mampu membantu masyarakat melakukan perjalanan dengan lebih nyaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)