Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

4 menit baca
Harun Yahya
Ditulis oleh Harun Yahya diterbitkan
Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)

Siapa pun yang pernah berhenti di perempatan Soekarno Hatta-Kiaracondong, di depan kantor Samsat Bandung, tahu rasanya: : mesin dimatikan, jam terus berjalan, dan antrean mengular jauh ke belakang. Keluhan ini bukan baru. Pada 16 Juni 2016, detikcom sudah memberitakannya. Sepuluh tahun kemudian, kita masih membicarakan hal yang sama.

Kembali ke tahun 2016, Yudhiana yang kala itu menjabat Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishub Kota Bandung sempat menjelaskan akar masalahnya. Persimpangan tersebut sudah masuk taraf jenuh ekstrem karena beban volume kendaraan jauh melampaui kapasitas ruas jalan. Saat itu, ia membeberkan tiga opsi jalan keluar yang rasional: membangun flyover, merekayasa pengurangan jumlah kendaraan, atau melebarkan persimpangan.

Satu dekade berlalu, diagnosis tersebut terbukti hanya menjadi catatan di atas kertas. Berdasarkan ulasan AyoBandung (Desember 2025) dan laporan Antara (Juli 2025), persimpangan yang akrab disapa "Stopan Kircon" ini masih kokoh menyandang predikat tak resmi sebagai lampu merah terlama di Indonesia. Durasi nyala merahnya menembus 720 detik atau 12 menit penuh, sementara lampu hijau hanya memberi nafas tak sampai dua menit. Satu dekade berlalu, diagnosis tersebut terbukti hanya menjadi catatan di atas kertas. Berdasarkan ulasan AyoBandung (Desember 2025) dan laporan Antara (Juli 2025), persimpangan yang akrab disapa "Stopan Kircon" ini masih kokoh menyandang predikat tak resmi sebagai lampu merah terlama di Indonesia. Durasi nyala merahnya menembus 720 detik atau 12 menit penuh, sementara lampu hijau hanya memberi nafas tak sampai dua menit. . Akibatnya, pengendara bisa dua sampai tiga kali terhenti lampu merah saat macet. Warga sampai memberinya julukan “Stopan Perenggut Masa Muda”.

Gambaran ini sejalan dengan kondisi Bandung secara umum. Menurut TomTom Traffic Index 2024 yang dikutip kedua media itu, Bandung adalah kota termacet nomor 1 di Indonesia. Menurut AyoBandung, rata-rata waktu tempuhnya 32 menit 37 detik untuk setiap 10 kilometer, mengungguli Medan, Palembang, Surabaya, dan Jakarta, dan menempatkan Bandung di peringkat ke-12 dunia untuk waktu terbuang di jam sibuk. Wali Kota Bandung sendiri pernah menyebut Jalan Soekarno Hatta sebagai salah satu dari tiga titik kemacetan kota karena menjadi akses utama warga dari barat, selatan, dan timur.

Mengapa kebuntuan ini tidak boleh terus dibiarkan? Pertama, ada harga mahal dari waktu yang terbuang. Ketika perjalanan 10 kilometer memakan waktu lebih dari setengah jam, simpang Kircon menjadi salah satu penyumbang pemborosan terbesar. Ribuan menit produktif warga menguap begitu saja di jalan setiap harinya.

Kedua, kerugian fisik dan psikologis ditanggung langsung oleh pengendara. Berdiam belasan menit di tengah kepungan asap knalpot dan kebisingan jalan bukan cuma merusak kesehatan, tapi juga menguras emosi. Frustrasi yang menumpuk di lampu merah kerap menjadi pemicu aksi nekat menerobos lalu lintas demi mengejar waktu.

Lampu Merah Kiaracondong-Soekarno Hatta (Kircon) di Kota Bandung sudah lama ditetapkan sebagai stopan “Lampu Merah Terlama di Indonesia”. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Lampu Merah Kiaracondong-Soekarno Hatta (Kircon) di Kota Bandung sudah lama ditetapkan sebagai stopan “Lampu Merah Terlama di Indonesia”. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Ketiga, pendekatan teknis yang ada saat ini terbukti belum menyentuh akar persoalan. Pemkot Bandung belakangan mengandalkan solusi berbasis teknologi melalui ATCS (Area Traffic Control System) untuk mengintervensi durasi lampu secara real-time. Meski mampu memperpanjang durasi hijau pada titik tumpukan terparah, langkah ini pada dasarnya sekadar memindahkan ekor antrean dari satu kaki simpang ke kaki simpang lainnya. Pihak Dishub sendiri sejak 2016 sudah menegaskan bahwa persimpangan yang sudah jenuh tak bisa diurai hanya dengan permainan durasi lampu.

Keempat, dokumen kajian dan dasar pertimbangannya sebenarnya sudah lengkap. Pemkot tidak perlu memulai dari nol. Solusi fisik-struktural sudah dipetakan sejak satu dekade lalu; yang belum hadir hingga kini hanyalah keberanian dan komitmen eksekusi.

Memang ada keberatan yang kerap mengemuka: pembangunan flyover menelan biaya besar, butuh waktu panjang, dan bakal memperparah kemacetan selama proses konstruksi. Namun, membiarkan kemacetan bertahun-tahun tanpa kepastian justru memakan biaya sosial dan ekonomi yang jauh lebih masif.

Sepuluh tahun cukup untuk membuktikan bahwa membiarkan masalah tidak membuatnya hilang. Pemerintah Kota Bandung dan Dishub perlu menjadikan perempatan Soekarno Hatta–Kiaracondong prioritas nyata, bukan wacana yang dikutip ulang tiap dekade. Warga Bandung sudah cukup lama menunggu, dan penantian itu jauh lebih melelahkan daripada menunggu lampu hijau di Kircon. (*)

Sumber Rujukan

  • Nurmatari, A. (2016, 16 Juni). Solusi Lampu Merah Durasi Lama, Dishub Bandung: Harus Ada Flyover. detikNews.
  • Ridwan, D. (2025, 22 Desember). Kisah ‘Lampu Merah Terlama di Indonesia’ di Kota Nomor 1 Termacet se-Nusantara. AyoBandung.id.
  • Senjaya, A. A. (2025, 15 Juli). Ini lima lampu merah terlama di Bandung! ANTARA News Jawa Barat.
  • Ridwan, D. (2025, 11 Desember). Ini Titik-Titik Kemacetan di Kota Bandung menurut Wali Kota Farhan: Mana Tata Kelolanya? AyoBandung.id.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)