Jauh sebelum musik bisa dinikmati melalui internet, aplikasi streaming, atau telepon pintar, ada sebuah kebiasaan yang akrab bagi anak muda Bandung yaitu memutar kenop radio, mencari frekuensi yang jernih, lalu berhenti ketika menemukan suara penyiar dan lagu yang menarik perhatian.
Pada penghujung 1980-an, ketika banyak stasiun radio di Bandung masih mengandalkan jalur AM atau MW (Medium Wave), hadir sebuah nama yang menawarkan pengalaman berbeda: 101 FM Radio.
Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation), sebuah pilihan yang pada masa itu identik dengan upaya menghadirkan kualitas penerimaan suara yang lebih jernih, terutama untuk menikmati musik.
Kehadirannya menjadi bagian menarik dari perjalanan penyiaran radio di Kota Kembang. Di tengah kebiasaan mendengarkan siaran melalui gelombang AM/MW, 101 FM menawarkan ruang bagi pendengar yang ingin menikmati musik dengan karakter suara dan pilihan program yang lebih beragam.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, radio bukan sekadar perangkat elektronik di sudut kamar atau ruang keluarga. Radio adalah jendela menuju dunia luar, tempat mengenal lagu-lagu baru, mengikuti perkembangan musik internasional, dan mendengarkan suara penyiar yang perlahan terasa akrab.
Dan dari frekuensi 101 FM, Bandung memiliki satu lagi cerita tentang bagaimana musik menemukan pendengarnya.
Rajamantri Kulon, Titik Awal Sebuah Gelombang
Dalam arsip pedoman acara yang tersimpan, 101 FM Radio tercatat menggunakan nama badan usaha PT Radio Swara Asta Pratama, dengan alamat Jalan Rajamantri Kulon 2, Bandung.
Stasiun radio ini juga memiliki slogan berbahasa Inggris yang cukup mencerminkan semangatnya: “You Get What You Want From 101 FM Radio.”
Slogan tersebut bukan sekadar pemanis identitas. Jika melihat susunan programnya, 101 FM memang berusaha memberikan pilihan musik yang luas, mulai dari pop, jazz, rock, disco, country, hingga fusion. Musik Indonesia dan mancanegara mendapat tempat, begitu pula program-program khusus yang dirancang untuk pendengar dengan minat tertentu.
Pada masa ketika pilihan hiburan musik belum sebanyak sekarang, radio menjadi salah satu pintu utama untuk mengenal perkembangan musik. Sebuah lagu bisa terdengar pertama kali dari siaran radio, lalu membuat pendengarnya berburu kaset di toko musik. Nama penyanyi atau grup band yang semula asing pun perlahan menjadi bagian dari koleksi dan percakapan sehari-hari.
Di sinilah daya tarik 101 FM patut dikenang. Radio tidak hanya memutar lagu, tetapi juga menyusun pengalaman mendengarkan musik melalui program-program yang memiliki karakter masing-masing.
FM di Tengah Dominasi AM/MW
Untuk memahami arti kehadiran 101 FM, kita perlu kembali pada suasana penyiaran radio Bandung di penghujung dekade 1980-an.
Pada masa itu, AM/MW masih menjadi jalur siaran yang akrab bagi banyak pendengar. Radio-radio dengan karakter siaran masing-masing hadir menemani masyarakat, menyampaikan berita, hiburan, musik, dan berbagai informasi sehari-hari.
FM membawa karakter teknis yang berbeda. Dalam kondisi penerimaan yang baik, siaran FM umumnya menawarkan suara musik yang lebih jernih dan lebih tahan terhadap gangguan statis dibandingkan AM/MW. Karakter ini membuat FM menarik bagi stasiun yang ingin menonjolkan sajian musik.

Namun, berpindah ke FM bukan sekadar perkara memilih frekuensi lain. Perubahan itu juga berkaitan dengan cara sebuah stasiun membangun identitas, menentukan format acara, serta menjangkau pendengar yang memiliki selera musik tertentu.
Dalam konteks tersebut, 101 FM menjadi bagian dari cerita perkembangan radio Bandung menuju era penyiaran yang semakin beragam. Kehadirannya memperlihatkan bahwa radio dapat menawarkan lebih dari sekadar siaran umum: ada pilihan musik yang dikurasi, program khusus, dan upaya membangun kedekatan dengan segmen pendengar tertentu.
Tentu, untuk menetapkan posisi 101 FM sebagai stasiun FM paling awal di Bandung atau memastikan urutan perintisannya, diperlukan pembandingan dengan arsip izin siaran, dokumen penyiaran, dan catatan stasiun radio lain pada periode yang sama. Namun, keberadaan arsip program 101 FM sudah memberikan petunjuk berharga tentang karakter siarannya pada masa tersebut.
Dari Morning Spirit hingga Stars on 101
Salah satu hal yang menarik dari pedoman acara 101 FM adalah susunan programnya yang mengikuti irama kehidupan pendengar.
Pagi hari dibuka dengan Morning Spirit, pukul 06.00–08.00 WIB. Musik pop, pop-jazz, pop-rock, dan country menjadi teman untuk memulai aktivitas. Setelah itu, pendengar dapat mengikuti 101 Going Out Beat dan On Your Doing, yang dijadwalkan pukul 09.00–12.00 WIB.
Menjelang siang, Luncheon Break hadir sebagai teman beristirahat. Musik pop, jazz, country, dan lagu-lagu Indonesia memberi warna berbeda pada waktu makan siang.
Ada pula Stars on 101, pukul 13.00–14.00 WIB, yang secara khusus menampilkan lagu-lagu dari koleksi terbaru. Program seperti ini memiliki arti penting pada masa ketika internet belum menjadi sumber utama untuk mencari musik baru.
Bagi pendengar, radio bisa menjadi tempat pertama untuk berkenalan dengan sebuah lagu. Dari rasa suka yang muncul setelah mendengarkan siaran, seseorang mungkin kemudian mencari kasetnya, mengikuti album berikutnya, atau mulai menggemari sebuah grup musik.
Sementara itu, In the Mix, 101 Afterhours, dan We Are You mengisi rentang siang hingga malam dengan pilihan musik yang disesuaikan dengan suasana dan waktu siaran.
Susunan acara tersebut menunjukkan bahwa 101 FM tidak hanya mengandalkan kumpulan lagu populer. Ada upaya menghadirkan pengalaman mendengarkan yang terencana, dari pagi hingga malam.
Ketika Meminta Lagu Menjadi Pengalaman Istimewa
Sebelum orang bisa memilih lagu sendiri melalui layanan streaming, meminta lagu kepada penyiar radio merupakan salah satu bentuk interaksi yang paling dinanti.
101 FM menyediakan ruang itu melalui 101 Request Line, yang menurut pedoman acara dijadwalkan pukul 19.00–20.00 WIB. Dalam dokumen tersebut tercantum nomor telepon 411377 sebagai salah satu jalur permintaan lagu.
Bayangkan suasananya, seseorang menunggu kesempatan menelepon, menyampaikan judul lagu kepada penyiar, lalu berharap permintaannya benar-benar diputar. Jika lagu itu ditujukan untuk teman, pasangan, atau seseorang yang diam-diam dikagumi, ada kegembiraan tersendiri ketika penyiar menyebutkan nama penerimanya.

Pengalaman seperti itu kini mungkin terasa sederhana. Namun, pada zamannya, radio menciptakan hubungan yang unik antara penyiar dan pendengar. Sebuah lagu yang diputar tidak hanya menjadi hiburan pribadi, tetapi juga bisa menjadi pesan yang didengar banyak orang secara bersamaan.
Di situlah radio memiliki kehangatan yang berbeda. Pendengar tidak sepenuhnya mengendalikan apa yang terdengar, tetapi justru menemukan kejutan dari pilihan lagu, sapaan penyiar, dan permintaan pendengar lain.
Rock, Jazz, dan Musik yang Tidak Biasa
Jika ada hal yang menonjol dari arsip 101 FM, salah satunya adalah keberanian memberikan ruang bagi beragam warna musik.
Program Sunday Morning Rock menghadirkan pop-rock pada Minggu pagi. Wonderland Jazz membuka ruang bagi penggemar jazz, sedangkan Fusion Time merangkum aneka warna musik, dari jazz dan rock hingga funky, reggae, klasik, dan New Music.
Bagi penikmat rock progresif, nama Genesis dan Yes juga muncul dalam program Foxtrot dan 101 Yessongs. Sementara 101 Avant-Garde memberi perhatian pada musik rock dengan pendekatan apresiasi dan perkembangan musik, termasuk yang tumbuh di Eropa.
Program-program semacam ini memberi gambaran bahwa pilihan musik 101 FM tidak berhenti pada lagu yang sedang populer. Pendengar juga diajak menjelajahi genre, mengenal karakter musisi, dan menemukan karya yang mungkin tidak mudah dijumpai di siaran lain.
Akhir pekan pun memiliki warna tersendiri. Ada Happy Sunday, Hot 101 yang menghadirkan musik disco, serta 101 After Weekend yang menemani pendengar hingga larut malam. Program Nada Persada menyediakan ruang bagi karya musisi Indonesia, sedangkan 101 Survival Station tercatat ditujukan kepada pendengar asing yang tinggal di Bandung.
Selain musik, pedoman acara tersebut juga mencantumkan 101 Automotive, yang membahas dunia otomotif, dan Tapisan Info, yang menyajikan artikel mengenai perkembangan dunia dalam pendekatan ilmiah dan populer.
Ragam acara itu memperlihatkan sebuah gagasan yang cukup jelas: radio dapat menjadi tempat hiburan sekaligus ruang untuk memperluas pengetahuan dan selera.
Radio yang Menjadi Bagian dari Ingatan
Mengenang 101 FM Radio berarti kembali ke masa ketika menemukan musik membutuhkan sedikit usaha dan kesabaran.
Tidak ada daftar putar pribadi yang bisa diakses kapan saja. Tidak ada mesin pencari untuk menemukan judul lagu hanya dari beberapa potong lirik. Yang ada adalah pesawat radio, frekuensi yang dicari, suara penyiar, dan lagu yang datang silih berganti.
Kadang-kadang, sebuah lagu terdengar begitu menarik hingga pendengar menunggu berhari-hari untuk mendengarnya kembali. Kadang pula, nama sebuah band baru dikenal setelah berkali-kali disebutkan penyiar. Dari kebiasaan kecil itulah selera musik tumbuh dan kenangan terbentuk.
Di Bandung, 101 FM menjadi bagian dari kisah perubahan tersebut. Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, siarannya menawarkan pilihan musik yang beragam ketika dunia radio masih berada dalam masa peralihan dan jalur AM/MW tetap akrab bagi banyak pendengar.
Baca Juga: Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon
Kini, ketika musik bisa dipilih hanya dengan beberapa sentuhan layar, pengalaman mendengarkan radio seperti itu terasa semakin jauh. Namun, arsip program yang tersimpan membuat jejaknya tidak sepenuhnya hilang.
Nama-nama seperti Morning Spirit, Stars on 101, 101 Request Line, Wonderland Jazz, 101 Avant-Garde, dan 101 Yessongs bukan sekadar daftar acara. Semuanya menjadi potongan kecil dari sejarah budaya populer Bandung, ketika radio ikut membentuk kebiasaan mendengarkan musik dan mempertemukan pendengar dengan dunia yang lebih luas.
Barangkali, itulah warisan paling menarik dari 101 FM Radio, bukan hanya frekuensi yang pernah mengudara, melainkan pengalaman ketika sebuah gelombang radio mampu membawa lagu, pengetahuan, dan kenangan masuk ke kehidupan sehari-hari.
Sebab, bagi mereka yang pernah menjadi pendengarnya, 101 FM bukan semata-mata penunjuk frekuensi. Ia mungkin adalah suara dari sebuah masa, masa ketika Bandung mulai menemukan warna baru dalam gelombang musiknya. (*)