Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar. Dalam buku The History of Java karya Raffles, dituliskan bahwa Wong Kalang ini adalah suku di Jawa Tengah yang awalnya hidup nomaden menggunakan pedati. Karena mereka termasuk masyarakat yang tertutup, mereka dicap sebagai manusia kera atau manusia yang memiliki ekor dan lahir di hutan belantara.
Benarkah ada beberapa Wong Kalang yang bermigrasi ke barat Jawa? Kisah ini adalah kisah keluarga besar saya sendiri yang akan saya bahas di sini.
Wong Kalang atau suku Kalang adalah salah satu sub-suku yang terkenal di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka ini adalah para ahli kayu yang hidup di masa era kerajaan Majapahit. Mereka tinggal di hutan-hutan karena juga sebagai juru angkut yang memang bekerja di hutan demi kepentingan kerajaan pada saat itu. Dan Wong Kalang ini sangat berperan dalam membangun infrastruktur Kerajaan Majapahit.
Ada salah satu prasasti kuno yang bernama prasasti Kuburan Candi (831 M) di Magelang yang menyebutkan keberadaan Wong Kalang ini untuk pertama kalinya. Lalu pada era kerajaan Mataram Islam, keturunan-keturunan Wong Kalang ini ditempatkan oleh Sultan Agung di sebuah tempat khusus di Yogyakarta, yaitu tepatnya di kawasan Tegalgendu, Kota Gede, Yogyakarta.
Mereka dipisahkan dari lingkungan masyarakat umum atau dalam bahasa lokalnya dikalang (dipisahkan). Mereka ini sengaja dipisahkan oleh sultan, karena mereka memang bekerja sebagai tukang kayu atau yang mengatur pertukangan di kraton. Selain itu juga mereka bekerja sebagai tukang pembuat kapal-kapal VOC di Batavia.
Karena keahliannya dalam melakukan kegiatan pertukangan, mereka diberi kebebasan dalam melakukan aktivitas lain, yaitu membuka usaha perhiasan dari perak, hingga kawasan Kota Gede hingga kini terkenal dengan itu semua.
Selain itu dalam perkembangannya, para keturunan Wong Kalang diberikan kepercayaan oleh pihak kraton untuk membuka rumah-rumah gadai di kawasan Kota Gede. Hingga, para Wong Kalang ini terkenal sebagai para pengusaha yang kaya raya. Salah satu peninggalannya di kawasan Kota Gede sekarang masih dapat kita temui yaitu, Museum Kota Gede Intro Living dan Ndalem Natan Royal Heritage. Dari dua gedung di atas tersebut dapat dilihat arsitektur khas dari kediaman para Wong Kalang. Dari mulai ukiran-ukiran kayu, kaca patri hingga lantai-lantai indah penuh ornamen.
Karena keberhasilan mereka dalam berkarir, lalu muncullah stigma negatif dari masyarakat Kota Gede bahkan masyarakat Yogyakarta pada saat itu. Mereka dirumorkan sebagai manusia yang lahir dari seekor anjing bahkan ada yang mengatakan mereka adalah keturunan kera di pedalaman hutan, yang menyebabkan mereka dirumorkan memiliki ekor seperti kera. Mungkin ini terdengar konyol, tapi rumor ini meruntuhkan mentalitas sebagian besar dari para Wong Kalang. Ketika ibu dan kakek saya mengisahkan ini, kami sekeluarga menyebutnya dengan “perundungan tempo dulu”.
Dalam kisah keluarga kami, perundungan itu menyebabkan keluarga leluhur saya hidup dengan perundungan di setiap harinya. Hal ini yang mendasari keluarga besar leluhur saya untuk hijrah ke kawasan yang lain. Terpilihlah kawasan Pekalongan sebagai kawasan urban kami yang pertama.
Di Pekalongan keluarga besar memilih untuk merubah nama-nama mereka, menanggalkan semua identitas mereka di Yogyakarta. salah satunya adalah ibu Eyang, buyut kakek saya yang mengganti namanya yang asalnya Banowati menjadi Khodijah.
Di Pekalongan keluarga besar membuat bisnis batik kecil-kecilan yang akhirnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. Namun di penghujung tahun 1878, kejadian tak mengenakan kembali terjadi. Identitas keluarga besar terbuka, akhirnya para pelanggan batik mengetahui bahwa keluarga besar kami adalah para Wong Kalang Kota Gede, dan perundungan pun terjadi lagi dan lagi. Seperti sebuah ironi bagi kami, namun seperti candaan bagi para perundung di masa lalu.
Akhirnya untuk kedua kalinya kami sekeluarga pindah ke kawasan yang jauh lebih barat, dan kami tidak sendirian kala itu. Kami keluarga besar adalah salah satu keluarga yang ikut pindah bersama keluarga-keluarga lainnya dari Jawa Tengah, ada yang dari kawasan Lasem, Trenggalek, Banyumas, Solo, Tegal, dan kami dari Pekalongan. Kebanyakan mereka yang ikut serta pindah adalah anak turun dari bekas pasukan Diponegoro yang dahulu berdomisili di Demak. Mereka semua bersama-sama pindah ke arah barat, untuk kehidupan yang lebih tenang dan lebih baik, berbekal keahlian berniaga kain batik.
Singgahlah rombongan tersebut di Cirebon, dan ada beberapa yang menikah atau berbesanan dengan orang-orang Tionghoa Cirebon. Lalu mereka terus menuju barat, dan sampailah mereka di kawasan sejuk, berkabut dan indah yaitu Bandung. Di Kota Bandunglah mereka dapat diterima dengan baik, dan mereka menetap di kawasan Pasar Baru Bandung, hingga mereka semua terkenal dengan sebutan “Keluarga Besar Pasar Baru Bandung” atau “Urang Pasar”.

Di Bandunglah mereka berlabuh dan dapat diterima dengan baik. Mereka bahkan menguasai perdagangan kain batik dan membuka bank pribumi pertama di 1906 yaitu “Bank Himpunan Saudara” yang sekarang bertransformasi menjadi Bank Woori Saudara.
Keluarga besar kami (Wong Kalang) menempati lahan di barat Braga atau Wangsalapiweg pada 1880. Keluarga kami membuka usaha kain batik, minyak wangi, percetakan buku-buku Teosofi hingga berbisnis telur asin. Dan tempat kami tinggal adalah kawasan Babakan Soeniaradja, karena ada yang berbesan dengan para Tionghoa Cirebon. Kawasan tempat tinggal kami sekarang bernama kampung atau Gang Apandi, Apandi adalah salah satu anggota keluarga kami para Wong Kalang. Ia adalah pengusaha Garut yang menikah dengan salah satu putri keluarga besar, yang akhirnya membuka percetakan pribumi pertama di utara Braga yang bernama “toko Tjitak Apandi”.
Di Bandunglah para Wong Kalang diterima, bahkan stigma manusia dengan ekor kera pun berakhir sudah, dan perundungan tersebut pun tidak pernah terjadi lagi. Terima kasih Bandung, karena telah menjadi rumah yang sebenarnya bagi kami para Wong Kalang. (*)
