Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)

Didi Petet meninggal dunia pada 15 Mei 2015. Namun, Didi Petet tetap memiliki tempat penting dalam perkembangan cerita Preman Pensiun. Dalam film tahun 2019, kenangan terhadap Didi Petet menjadi penghubung emosional bagi tokoh-tokoh yang melanjutkan hidup setelah kepergiannya. Sutradara Aris Nugraha juga menjelaskan bahwa pengaruh karakter Kang Bahar tetap kuat dalam cerita meskipun Didi Petet sudah tidak ada.

Secara dramaturgis, ini menarik. Seorang tokoh dapat terus memengaruhi cerita meskipun tidak lagi hadir secara fisik. Nilai, keputusan, dan warisannya menjadi semacam arah mata angin bagi tokoh-tokoh yang ditinggalkannya.

Figur Kang Bahar bukan sekadar mantan bos preman. Ia menjadi figur yang harus dihadapi kembali melalui ingatan, terutama ketika Kang Mus dan tokoh-tokoh lainnya mempertanyakan arah hidup mereka sendiri.

Preman Pensiun dapat dibaca dalam tiga lapisan. Pertama, sebagai drama komedi yang memanfaatkan kehidupan sehari-hari dan identitas budaya Bandung. Kedua, sebagai gambaran dramatik mengenai relasi kekuasaan dan ekonomi informal di ruang urban. Ketiga, sebagai cerita moral tentang manusia yang menyadari keterbatasan kekuasaan dan berusaha mengubah arah hidupnya.

Didi Petet berhasil memberi kedalaman pada Kang Bahar melalui karakter yang berwibawa, tenang, dan reflektif. Tokoh ini mengingatkan kita bahwa perubahan tidak selalu dimulai ketika seseorang kehilangan kekuasaan; kadang-kadang perubahan dimulai ketika ia menyadari bahwa kekuasaan tidak lagi mampu menjawab pertanyaan terdalam dalam hidupnya.

Adapun pengaruh film Preman Pensiun terhadap masyarakat Bandung paling masuk akal dibicarakan melalui representasi budaya lokal, perhatian terhadap ruang-ruang kota, dan pesan sosialnya. Meski tidak secara signifikan.

Pada akhirnya, figur Kang Bahar menghadirkan sebuah pertanyaan yang melampaui dunia premanisme: ketika seseorang telah lama ditakuti oleh banyak orang, mampukah ia belajar menjadi manusia yang tidak lagi harus ditakuti?

Film dan serial televisi Preman Pensiun merupakan salah satu karya populer yang menarik karena mengangkat kehidupan premanisme di ruang-ruang sosial Kota Bandung. Sosok sentral yang memberi warna kuat pada cerita awalnya adalah Kang Bahar, yang diperankan oleh Didi Petet.

Namun, daya tarik Preman Pensiun bukan semata-mata tentang preman, kekuasaan, atau konflik antarkelompok. Di balik kisah itu terdapat persoalan yang lebih manusiawi: perubahan hidup, kesetiaan, kehilangan, pencarian makna hidup, dan kesempatan bagi seseorang untuk meninggalkan masa lalunya.

Cerita Preman Pensiun berpusat pada figur Kang Bahar, seorang tokoh berpengaruh dalam jaringan preman yang menguasai sejumlah lingkungan pasar dan terminal di Bandung. Ia mempunyai anak buah, termasuk Muslihat atau Kang Mus, yang diperankan oleh Epy Kusnandar.

Pada masa tuanya, Kang Bahar mulai mempertanyakan jalan hidup yang selama ini dijalaninya. Setelah istrinya meninggal, ia semakin menyadari bahwa kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya tidak menjamin ketenangan batin. Ia kemudian memutuskan pensiun dari dunia premanisme dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Kang Mus. Keputusan itu menjadi titik penting yang menggerakkan konflik cerita berikutnya.

Kekuatan penampilan Didi Petet terletak pada kemampuannya memperlihatkan bahwa seseorang bisa memiliki kekuasaan besar tanpa harus selalu mengekspresikannya melalui kekerasan atau suara yang keras. Kang Bahar dibangun sebagai tokoh yang tenang, tegas, dan berwibawa, dengan gaya bicara yang terukur.

Didi Petet tidak hanya memainkan seorang bos preman. Ia membangun sosok lelaki tua yang menyimpan sejarah panjang, pengalaman, penyesalan, dan pergulatan batin. Karakter itu terasa lebih manusiawi karena penonton diperlihatkan sisi yang biasanya tidak diasosiasikan dengan sosok preman: kesedihan, kasih sayang, dan ketakutan menghadapi pertanggungjawaban hidup.

Salah satu kekuatan Preman Pensiun ialah penggunaan ruang-ruang kota yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: pasar, terminal, jalanan, lingkungan permukiman, dan tempat berkumpul masyarakat.

Bandung tidak hanya tampil sebagai kota wisata, pusat belanja, atau kota kreatif. Ia juga hadir sebagai kota tempat orang mencari nafkah, membangun hubungan sosial, menghadapi persaingan, dan berjuang mempertahankan kehidupan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ProTVF Universitas Padjadjaran menyoroti penggunaan bahasa Sunda, sudut-sudut Kota Bandung, serta iringan suling dan angklung sebagai unsur yang membangun identitas lokal serial tersebut.

Dialog berbahasa Sunda merupakan salah satu ciri khas serial ini. Bahasa tersebut bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membangun keakraban, humor, hierarki sosial, dan karakter para tokohnya. Penggunaan bahasa lokal membantu menciptakan identitas cerita yang berbeda dari sinetron yang berlatar kehidupan kelas menengah atas di Jakarta.

Dari sudut pandang kebudayaan, ini memperlihatkan bahwa bahasa daerah dapat menjadi kekuatan dalam industri hiburan nasional. Bahasa lokal tidak harus kehilangan daya tarik ketika dibawa ke ruang publik yang lebih luas.

Cerita Kang Bahar menyentuh dunia pasar, terminal, dan jaringan kekuasaan informal. Di lingkungan seperti itu, hubungan ekonomi terkadang tidak hanya ditentukan oleh aturan resmi, tetapi juga oleh pengaruh orang-orang yang menguasai wilayah tertentu.

Cerita tersebut membantu penonton melihat bahwa premanisme bukan semata-mata soal individu yang berkelahi. Ada persoalan kekuasaan, ketergantungan ekonomi, rasa takut, loyalitas, dan perebutan pengaruh di dalamnya.

Kang Bahar memilih berhenti ketika ia menyadari bahwa hidup tidak hanya diukur dari besarnya kekuasaan. Keputusan itu mengajukan pertanyaan penting bagi penonton: apakah seseorang yang telah lama menjalani kehidupan yang keliru masih mempunyai kesempatan untuk berubah?

Baca Juga: Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Pesan ini relevan bagi masyarakat yang menghadapi persoalan kriminalitas, pengangguran, dan keterbatasan kesempatan ekonomi. Perubahan tidak cukup hanya dengan menyuruh seseorang meninggalkan lingkungan lama. Perubahan juga membutuhkan jalan hidup yang layak, dukungan sosial, keterampilan, dan kesempatan memperoleh penghasilan secara legal.

Dengan kata lain, pesan cerita ini dapat dibaca lebih jauh sebagai dorongan untuk mengutamakan pemulihan dan reintegrasi sosial, tanpa mengabaikan tanggung jawab atas tindakan yang pernah dilakukan.

Popularitas Preman Pensiun juga berpotensi menarik perhatian penggemar ke lokasi-lokasi yang muncul dalam cerita. Sebuah penelitian tentang pengaruh tayangan terhadap kewaspadaan penumpang angkutan kota turut mencatat bahwa lokasi syuting serial tersebut menjadi objek kunjungan penggemar.

Fenomena semacam ini dapat membuka peluang promosi lokal dan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi yang dikenal penonton. Akan tetapi, besarnya manfaat ekonomi, jumlah pengunjung, atau dampaknya terhadap citra Bandung memerlukan data tersendiri agar tidak sekadar menjadi asumsi.

Kemungkinan pengaruh terhadap penonton:

Sisi positif: penonton dapat memahami bahwa pelaku premanisme tetap manusia yang memiliki latar belakang dan kemungkinan untuk berubah. Pemahaman ini dapat mendorong pendekatan sosial yang lebih manusiawi.

Sisi yang perlu diwaspadai: humor, karisma, dan loyalitas kelompok dapat membuat kekuasaan informal terlihat menarik. Jika ditonton tanpa sikap kritis, cerita berisiko membuat intimidasi atau dominasi terhadap orang lain tampak wajar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)