TERMINAL Cicaheum Bandung begitu lekat dan dekat dalam ingatanku. Rumahku—di Sukamiskin--sekitar tiga kilometer ke arah timur dari terminal yang namanya—jika diucapkan oleh orang yang bukan dari suku Sunda—terasa aneh terdengar: Cicaheu…eum!
Saat aku kecil, entah tahun berapa, kalau aku dan keluarga nyaba pelesiran ke kota, akan melewati terminal ini. Aku masih ingat dari daerah ini aku pernah naik oplet dengan penumpang ditumpuk, berdesak-desakan--diajak kakak laki-lakiku menonton pertandingan bulu tangkis di Gor Lodaya Bandung. Yang main saya masih ingat di antaranya, pebulu tangkis terkenal Iie Sumirat almarhum dan Rudi Hartono.
Di sekitar Cicadas, di tengah udara terik yang panas menyengat, oplet kami berhenti. Sopirnya tiba-tiba marah-marah kepada penumpang. Rupanya ia kena “semprot” muntahan anak kecil yang tengah mabuk perjalanan. Sopirnya ngata-ngatain anak kecil itu yang menangis ketakutan. Orangtua anak kecil itu terdengar beberapa kali meminta maaf.
Heu heu. Dulu, keadaan oplet memang antara pak sopir dan penumpang di belakangnya tak ada penghalang sehingga peristiwa yang “menggelikan” itu bisa terjadi.
Tahun 1983-1986 ketika remaja, aku lebih intens lagi “bergaul” dengan Terminal Cicaheum. Kebetulan SMA-ku di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Bila pergi sekolah, aku naik angkot Cileunyi-Cicaheum, lalu diteruskan naik bus kota Damri Cicaheum-Cibeureum, dan turun di depan Balai Iklan setelah Simpang Lima di Jalan Asia Afrika. Ongkosnya—aku masih ingat—Rp25.
Aku punya teman sekelas—kini menjadi dokter saraf yang disegani di Bandung Raya--yang orangtuanya berjualan membuka warung nasi di Terminal Cicaheum. Tempatnya sejajar dengan “Warung Nasi Bu Yayah” dalam Sinetron “Preman Pensiun”. Aku sering diajak temanku mampir ke warung itu—sekedar menemaninya meminta uang jajan untuk bekal sekolah.
Sesudah lulus SMA tahun 1986, aku bekerja, dan kuliah sambil bekerja, Terminal Cicaheum hanya berupa tempat yang kulewati setiap hari. Sekali-kali, kalau bosan naik motor, aku naik angkot dari rumah ke Terminal Cicaheum. Dari Cicaheum, aku naik angkot Ledeng atau Ciroyom menuju Taman Sari.
Ada satu tempat kuliner yang hingga kini tak bisa kulupakan: Bubur Ayam Gang Irit yang letaknya persis di bawah JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) sebelah utara Terminal Cicaheum. Bubur Ayam itu kesenangan aku dan bapakku. Entahlah konon, bubur ayam itu kini sudah berpindah ke depan rumahnya di dalam Gang Irit itu.
***

TAHUN 2015 an Terminal Cicaheum semakin terkenal karena mulai rutin dijadikan lokasi syuting utama serial televisi “Preman Pensiun” yang episode perdananya mengalami sukses besar. Tempat ini digiring menjadi tempat berkuasanya para preman terminal seperti yang diceritakan dalam alur cerita karya Aris Nugraha.
Latar terminal ini melekat dengan tokoh-tokoh preman jalanan, pencopet, hingga aktivitas terminal sehari-hari di Bandung. Bahar, Muslihat, Gobang, Cecep, Bubun, Willy, Darman, silih berganti menguasai Terminal Cicaheum.
Bahkan JPO Terminal Cicaheum sangat berkesan dan melegenda karena JPO tersebut menjadi tempat Kang Mus untuk mengawasi, memantau aktivitas anak buahnya, dan merenung meninjau situasi jalanan serta terminal.
Ada adegan ketika Kang Mus tiba-tiba berada di atas JPO mengawasi ke sekitar terminal. Kemudian, dia ujug-ujug ada di jalur angkot. Ia ketemu Willy.
“Akang mau ketemu siapa?” tanya Willy.
“Saya mau ketemu Cecep. Tempat ini banyak debu, banyak asap. Mungkin telinga kamu kotor? Cecep di mana?”
“Punten Akang siapa biar saya ga salah.”
“Muslihat.”
Lalu, Willy pergi mencari Cecep, bosnya.
“Bos ada yang nyari?”
“Muslihat?” Cecep ketakutan.
“Saya sudah lama sekali enggak ke sini, sudah berapa tahun 4 atau mungkin 5 tahun. Dulu, saya pernah datang ke sini ikut berbisnis. Cukup lama, tapi kemudian pergi dari sini. Dulu, kamu juga pernah di sini ikut saya yang kemudian menjadi tua. Enggak lama karena kamu ikut saya seperti yang lain memutuskan pergi ikut saya dari sini mencoba bisnis yang lebih baik di luar sana. Mungkin kamu merasa gagal di luar sana. Kemudian kembali ke sini memanfaatkan situasi yang terjadi di sini dan merebut kekuasaan.”
Kini, JPO ikonik legendari itu Juni 2026 lalu telah resmi dibongkar. Di samping sudah tidak berfungsi sebagai jembatan penyeberangan juga kawasan ini akan beralih fungsi menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT).
Perlu diketahui, jauh sebelum serial “Preman Pensiun” ini populer, Cicaheum memang lekat dengan cerita dinamika jalanan dan preman lokal di Kota Bandung.
Tahun 2025, penggunaan area ini sebagai lokasi syuting ikut berakhir seiring dengan berakhirnya rangkaian serial tersebut dan penutupan operasional bus di Terminal Cicaheum pada pertengahan 2026.
Sinetron “Preman Pensiun” memiliki total 418 episode dari musim pertama hingga musim kesepuluh.
***

TERMINAL Cicaheum dibangun pada 1975. Dengan luas 11.000 meter persegi, Terminal Cicaheum ini resmi ditutup permanen pada akhir Juni 2026 dan dialihfungsikan menjadi depo Bus Rapid Transit (BRT). Seluruh kegiatan naik-turun penumpang bus antarkota telah dialihkan sepenuhnya ke Terminal Leuwipanjang.
Kini, tak ada lagi yang berteriak, “Kalapa-Kalapa-Kalapa, Ciroyom-Ciroyom-Ciroyom, Ledeng-Ledeng-Ledeng. Kalapa-Ciroyom-Ledeng. Pangadaran-Pangadaran-Pangadaran, Tasik-Tasik-Tasik, Cirebon-Cirebon-Cirebon Pangadaran-Tasik-Cirebon.”
Angkot yang masuk Terminal Cicaheum adalah Abdul Muis (Kebon Kalapa) - Cicaheum via Binong, Abdul Muis (Kebon Kalapa) -Cicaheum via Aceh, Cicaheum-Ledeng, Cicaheum-Ciroyom.
Ada pula kendaraan yang melewati terminal ini yakni Panghegar-Dipatiukur, Gedebage-Dagi serta angkutan lintas daerah Cileunyi-Cicaheum. Untuk bus atau Trans Metro Bandung/ Trans Metro Pasundan dengan rute Cicaheum-Cibeureum, Cicaheum-Sarijadi.

Selain itu, terminal ini juga melayani angkutan antar kota baik AKDP (angkutan kota dalam provinsi) di wilayah Jawa Barat bagian Timur seperti Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Pangandaran. Maupun juga AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) seperti ke Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan lainnya.
Kini, sang Aku (penulis) telah pensiun, “Preman Pensiun”, dan Terminal Cicaheum pun pensiun. (*)