Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung via ayobandung.com)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Defisit Rp300 miliar bukan sekadar persoalan berkurangnya transfer pusat, tetapi juga menunjukkan tantangan ketergantungan fiskal dan kapasitas pendapatan Kota Bandung.

  • Ada tiga faktor yang saling berkelindan: desain fiskal nasional, kemampuan pemerintah kota menggali pendapatan, serta dinamika politik dalam pengelolaan anggaran.

  • Krisis fiskal bisa menjadi momentum pembenahan, melalui penguatan PAD, efisiensi belanja, transparansi anggaran, dan inovasi berbasis data.

BANDUNG disebut-sebut sedang terancam defisit anggaran Rp300 miliar gara-gara berkurangnya dana transfer dari pusat hingga sekitar Rp600 miliar. Bagaimana solusinya?

Kalau memang benar, defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas. Defisit itu bukan hanya perkara uang yang seret, melainkan ihwal bagaimana sebuah kota mengelola ketergantungan fiskalnya.

Tudingan bahwa biang keladi defisit yang dialami Kota Bandung adalah pemangkasan dana transfer dari pusat tidak sepenuhnya salah. Ketika aliran dana berkurang, maka tekanan fiskal pasti meningkat. 

Tetapi, berhenti pada tudingan seperti itu justru membuat kita melewatkan pertanyaan yang lebih penting, yakni apakah defisit kali ini benar-benar sebuah kejadian mendadak? Ataukah ia hanyalah gejala dari masalah yang sudah lama mengendap, namun baru terasa ketika aliran dana segar dari pusat mulai dikurangi?

Isu klasik

Jujur saja, ketergantungan fiskal adalah isu klasik daerah di negeri ini. Ketika pendapatan asli daerah (PAD) tidak cukup kuat, pemerintah lokal cenderung bergantung pada transfer pusat. Selama transfer itu stabil, masalah defisit tidak akan terasa. Namun, begitu transfer dikurangi, kerapuhan struktur fiskal langsung kentara.

Bandung tentu saja bukan satu-satunya kota yang mengalami hal ini. Banyak kota besar di Indonesia berada dalam posisi serupa. Mereka tumbuh secara ekonomi, tetapi kapasitas fiskalnya tidak tumbuh secepat itu. Ada gap antara aktivitas ekonomi dan kemampuan pemerintah menarik nilai dari aktivitas tersebut.

Sebuah kota bisa ramai, produktif, dan dinamis, tetapi tetap lemah dalam hal penerimaan daerah. Penyebabnya antara lain, pajak tidak optimal, retribusi bocor, atau basis pajak tidak berkembang sesuai potensi.

Dari sudut pandang ekonomi perkotaan, hal tersebut sering terjadi karena struktur ekonomi modern tidak selalu mudah dipajaki. Sektor informal, ekonomi digital, hingga transaksi berbasis platform sering kali berada di area abu-abu regulasi.

Akibatnya, pemerintah kota seperti berlari di treadmill. Aktivitas ekonomi meningkat, tetapi penerimaan tidak naik sebanding. Dan ketika biaya pelayanan publik terus meningkat, tekanan fiskal pun tak terhindarkan.

Interaksi banyak faktor

Defisit Rp300 miliar yang diduga dialami Kota Bandung bisa  menjadi semacam alarm, yang menandai bahwa keseimbangan antara pendapatan dan belanja sudah mulai terganggu. Namun, alarm ini tidak berbunyi tiba-tiba. Ia mungkin sudah lama memberi tanda. Hanya saja, baru sekarang-sekaranglah terdengar jelas.

Sejatinya, setiap krisis -- termasuk krisi fiskal -- adalah hasil interaksi banyak faktor. Dalam kasus defisit anggaran Kota Bandung, setidaknya ada tiga faktor berkelindan, yakni desain fiskal nasional, kapasitas lokal, dan dinamika politik.

Dari sisi desain nasional, sistem transfer pusat memang dimaksudkan untuk pemerataan antardaerah. Namun, di sisi lain, ia juga menciptakan ketergantungan. Daerah menjadi kurang terdorong untuk mengoptimalkan sumber pendapatannya sendiri.

Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)
Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)

Dari sisi kapasitas lokal, muncul pertanyaan tentang inovasi fiskal. Seberapa jauh pemerintah kota mampu menciptakan sumber pendapatan baru? Juga apakah kebijakan pajak dan retribusi sudah adaptif terhadap perubahan ekonomi?

Adapun dari sisi politik, keputusan anggaran tak jarang tidak sepenuhnya rasional. Ada tekanan populis, kompromi kepentingan, dan siklus politik yang ikut mendorong belanja lebih mudah meningkat daripada dikendalikan.

Manakala ketiga faktor tersebut bertemu, lahirlah kondisi seperti yang dialami Kota Bandung. Jadi, defisit bukan lagi sekadar angka, melainkan refleksi dari sistem yang bekerja tidak seimbang.

Lantas, langkah apa yang perlu dilakukan?

Salah satu kemungkinan adalah reformasi pada sisi pendapatan. Pemerintah kota perlu mulai lebih serius menggali PAD, bukan hanya dengan menaikkan tarif, tetapi dengan memperluas basis pajak dan meningkatkan kepatuhan pajak.

Pendekatan berbasis data menjadi kunci dalam hal ini. Dengan pemetaan ekonomi yang lebih akurat, potensi pajak bisa diidentifikasi dengan lebih presisi. Teknologi digital sebenarnya membuka peluang besar untuk ini.

Di sisi lain, efisiensi belanja juga tidak boleh diabaikan. Dalam banyak kasus, masalah bukan hanya kurangnya pendapatan, tetapi juga penggunaan anggaran yang kurang optimal.

Dampak yang jelas

Pada dasarnya, setiap rupiah yang dibelanjakan harus menghasilkan dampak yang jelas. Namun, kita juga perlu realistis. Reformasi fiskal bukan proses instan. Ia juga membutuhkan waktu, konsistensi, dan keberanian politik. Tidak semua kebijakan populer, dan tidak semua keputusan mudah diambil.

Di sinilah aspek kepemimpinan menjadi krusial. Defisit anggaran bisa menjadi krisis berkepanjangan, tetapi juga bisa menjadi momentum. Semua bergantung pada bagaimana ia dipahami dan direspons.

Krisis sendiri sering kali memicu dua reaksi: defensif atau adaptif. Reaksi defensif cenderung mencari kambing hitam. Sedangkan reaksi adaptif mencoba memperbaiki sistem.

Maka, pilihan antara reaksi defensif dan adaptif bakal sangat menentukan apakah Bandung akan sekadar bertahan, atau benar-benar berbenah?

Tuntutan publik

Di banyak kota dunia, reformasi fiskal justru dipicu oleh tuntutan publik. Ketika warga mulai peduli menyangkut ke mana uang mereka dibelanjakan, pemerintah tidak punya banyak pilihan selain berbenah.

Oleh sebab itu, defisit anggaran Rp300 miliar yang dialami Kota Bandung bisa dibaca sebagai peluang untuk melihat realitas dengan lebih jernih, mengingat yang dipertaruhkan bukan sekadar neraca keuangan, melainkan juga arah masa depan Bandung sebagai sebuah kota. 

Defisit anggaran kali  ini akan menguji apakah tata kelola Kota Bandung mampu bertransformasi dari pola lama yang bergantung pada pusat menjadi lebih mandiri dan adaptif.

Jika momentum dimanfaatkan, krisis justru bisa menjadi pintu masuk bagi pembenahan yang lebih mendasar, mulai dari transparansi anggaran, inovasi pendapatan, hingga efisiensi belanja yang benar-benar berdampak.

Namun, jika tidak, defisit anggaran hanya akan menjadi angka yang berulang dari tahun ke tahun, tanpa pernah menyentuh akar persoalan. Dan pilihan pun menjadi jelas, yakni menjadikan krisis sebagai bahan refleksi untuk berbenah, atau sekadar menambalnya hingga retakan-retakan berikutnya muncul kembali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)