Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

5 menit baca
vianka zahra nafralli
Ditulis oleh vianka zahra nafralli diterbitkan
Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)

Bayangkan, di hari yang sama saat bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, sebuah pesan berantai justru menyelip masuk ke grup WhatsApp keluarga. Situasi semacam ini rasanya sudah tidak asing lagi. Isinya kabar yang tidak jelas asal-usulnya, tetapi tetap saja tersebar hanya karena judulnya memancing emosi.

Sayangnya, ini bukan kejadian langka. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat bahwa dalam periode 22 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025 terdapat 1.674 konten hoaks yang beredar di ruang digital Indonesia, dengan kategori penipuan sebagai yang terbanyak, disusul isu pemerintahan dan politik. Ironis memang, justru di masa ketika kebebasan bersuara begitu luas, masyarakat malah semakin rentan diperdaya oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI rasanya tepat dijadikan waktu untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia saat ini. Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan juga kebebasan untuk berpikir, menyampaikan pendapat, dan bertindak secara bertanggung jawab demi kemajuan bangsa. Menurut Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, pemerintah telah menyiapkan berbagai agenda kenegaraan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, mulai dari zikir dan doa kebangsaan, penganugerahan tanda kehormatan, pidato kenegaraan Presiden, ziarah nasional, hingga upacara detik-detik Proklamasi yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, dan masyarakat.

Namun, kebebasan yang dinikmati saat ini, khususnya di ruang digital, belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan masyarakat dalam menggunakannya. Berdasarkan Survei Status Literasi Digital Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center, indeks literasi digital nasional berada pada angka 3,49 dari skala 5, atau sekitar 62 persen tingkat kematangan. Artinya, masih terdapat kesenjangan antara kebebasan yang dimiliki dengan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya secara bijaksana.

Oleh karena itu, HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak seharusnya dimaknai hanya sebagai perayaan tahunan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan bertindak bertanggung jawab agar kemerdekaan benar-benar menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa.

Makna Merdeka dalam Berpikir

Berapa kali sebuah berita langsung dipercaya hanya karena judulnya terdengar menarik? Merdeka dalam berpikir berarti mampu bernalar secara kritis, objektif, dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang, bukan sekadar menerima informasi tanpa mempertanyakan kebenarannya. Kebebasan ini bukan berarti bebas memercayai atau menyebarkan apa pun tanpa dasar yang jelas. Sebaliknya, kebebasan berpikir menuntut kemampuan untuk memverifikasi informasi sebelum mengambil kesimpulan.

Data Komdigi mengenai 1.674 konten hoaks yang ditemukan sepanjang periode 22 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kebebasan berpikir tanpa kemampuan menyaring informasi justru membuka peluang bagi penyebaran disinformasi.

Sikap kritis semakin dibutuhkan seiring derasnya arus informasi melalui media sosial. Sebuah kabar dapat menyebar luas hanya dalam hitungan menit, jauh sebelum kebenarannya diverifikasi. Di sinilah makna merdeka dalam berpikir benar-benar diuji, bukan pada seberapa cepat seseorang bereaksi, melainkan pada kesediaannya untuk menahan diri, mencari informasi dari sumber yang kredibel, dan memahami suatu persoalan secara utuh sebelum menyampaikan penilaian.

Laporan Oxfam Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. (Sumber: Pexels/Vincent Tan)
Laporan Oxfam Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan nasional. (Sumber: Pexels/Vincent Tan)

Merdeka dalam Bertindak sebagai Wujud Mengisi Kemerdekaan

Jika merdeka dalam berpikir masih berada pada ranah gagasan, maka merdeka dalam bertindak merupakan bentuk nyata pengamalan kemerdekaan. Kebebasan bertindak harus selalu disertai tanggung jawab, etika, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Hal ini kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika seseorang menyebarkan tundingan belum terverifikasi mengenai suatu produk atau usaha kecil di grup percakapan maupun media sosial, sehingga terbentuk opini negatif secara luas sebelum kebenarannya dipastikan. Padahal, setelah ditelusuri, tudingan tersebut sering kali tidak terbukti, sementara pihak yang dituduh sudah terlanjur menanggung kerugian nama baik maupun usaha. 

Mengunggah pendapat di media sosial merupakan hak setiap warga negara. Namun, ketika pendapat tersebut berubah menjadi fitnah, ujaran kebencian, atau provokasi, kebebasan itu telah melampaui batas dan berpotensi merugikan orang lain.

Semangat kemerdekaan justru tercermin melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kerukunan, menghargai perbedaan pendapat, aktif dalam kegiatan sosial, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Semakin luas kebebasan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya agar kebebasan tersebut menjadi sarana memperkuat persatuan bangsa.

Tantangan Mengamalkan Nilai Kemerdekaan di Era Digital

Pernahkah menggulir media sosial lalu menemukan berita yang memancing emosi sehingga ingin langsung membagikannya? Tantangan terbesar dalam mengamalkan nilai kemerdekaan di era digital adalah kemampuan membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan. Data Komdigi mengenai ribuan kabar bohong yang beredar dalam satu tahun terakhir memperlihatkan bahwa ruang digital masih dipenuhi penyebaran penipuan, fitnah, dan disinformasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi dapat disalahgunakan apabila tidak disertai tanggung jawab.

Persoalan ini semakin kompleks karena algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna. Akibatnya, masyarakat lebih sering terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya sendiri dibandingkan sudut pandang yang berbeda. Survei Status Literasi Digital Indonesia yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada angka 3,49 dari skala 5. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat dalam memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital secara kritis masih perlu ditingkatkan agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi sumber perpecahan.

Merdeka di era modern tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan berpikir dan bertindak semata, melainkan juga sebagai kemampuan menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab. Data Komdigi mengenai masih maraknya penyebaran hoaks serta hasil Survei Status Literasi Digital Indonesia oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan kebebasan secara bijaksana. Oleh karena itu, kemerdekaan saat ini bukan lagi perjuangan melawan penjajahan fisik, melainkan perjuangan membangun karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Melalui kemampuan berpikir kritis, bertindak secara etis, dan meningkatkan literasi digital, setiap individu dapat berkontribusi dalam mengisi kemerdekaan. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar; cukup dengan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, menghormati perbedaan, serta menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati diwujudkan melalui cara berpikir dan bertindak yang membawa manfaat bagi bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

vianka zahra nafralli
Mahasiswa Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)