Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Kamis 05 Mar 2026, 14:05 WIB
Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)

Beberapa hari terakhir ini, terutama linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group, di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan. Ada yang menunjukkan kemarahan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ada pula yang melampiaskan amarah kepada Iran. Warganet berdebat sengit seraya mengutip ideologi, agama, dan sejarah geopolitik yang sebenarnya jauh dari kehidupan sehari hari mereka.

Fenomena ini tampak sebagai ekspresi solidaritas politik global. Namun jika diperhatikan lebih jauh, kemarahan tersebut sering kali berlangsung dalam pola sama. Sebuah video/berita viral muncul, lantas potongan berita dibagikan, dan ribuan komentar hadir hitungan menit, dengan sebagian berempati dan tidak sedikit “berlomba” umpatan kasar.

Ironisnya, dalam hemat penulis, dalam situasi ini, tidak ada pihak yang benar benar menang/kalah di ruang digital. Baik Iran dan atau AS-Israel. Justru, platform digital adalah pihak yang paling diuntungkan! 

Sebab, kritik dan kemarahan publik kini beroperasi dalam kerangka ekonomi perhatian (economic of attention). Media sosial tidak hanya menyediakan ruang percakapan, tetapi juga mengubah emosi kolektif menjadi komoditas. Setiap komentar, reaksi, atau perdebatan yang memanas sesungguhnya memperpanjang durasi interaksi pengguna. Semakin lama pengguna berada di platform, semakin tinggi pula nilai ekonominya bagi perusahaan teknologi.

Filsuf Korea Jerman Byung Chul Han mengingatkan gejala ini dalam bukunya, In the Swarm: Digital Prospects (2015). Ia menjelaskan, ruang digital tidak lagi menghasilkan diskursus rasional seperti yang diharapkan dalam oleh tradisi Abad Pencerahan. Sebaliknya yang muncul kerumunan digital yang bergerak cepat, reaktif, dan emosional. Informasi tidak diproses mendalam; Medsos melintas sebagai arus kemarahan yang segera digantikan oleh isu berikutnya.

Gejala yang sama juga pernah dibahas Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019). Menurutnya, perusahaan teknologi besar mengubah pengalaman manusia menjadi bahan baku ekonomi baru. Data perilaku pengguna dikumpulkan, dianalisis, lalu dijual kepada pengiklan atau pihak lain yang membutuhkan prediksi perilaku publik. Dalam kerangka ini, bahkan kemarahan politik sekalipun memiliki nilai ekonomi!

Setiap klik, komentar, dan berbagi tautan memperkaya basis data perusahaan platform. Karena itu, ketika warganet Indonesia saling menghujat dalam isu geopolitik internasional, yang sebenarnya terjadi adalah produksi data dalam skala besar.

Jadi, marah terhadap Israel menghasilkan traffic. Marah terhadap aki-aki Donald Trump menghasilkan engagement. Juga, marah terhadap mahdzab syiah di Iran pun menghasilkan algoritma yang bekerja semakin aktif. Kemarahan digital adalah umpama bahan bakar bagi mesin ekonomi platform. 

Komodifikasi Konten

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)

Hal ini kian menunjukkan bahwa kritik di ruang digital sering kali mengalami komodifikasi. Kritik tidak lagi sekadar tindakan moral atau intelektual, namun menjadi bagian dari ekosistem produksi konten. Semakin keras nada kritik, semakin tinggi kemungkinan menjadi viral. Namun sekali lagi, viralitas tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemikiran.

Senada, Neil Postman dalam buku lawasnya, Amusing Ourselves to Death (1985), menuliskan bagaimana media modern cenderung mengubah diskursus publik menjadi hiburan. Isu serius sering kali diperlakukan dengan logika tontonan. Politik, agama, bahkan konflik internasional dapat berubah menjadi konsumsi visual yang cepat, dramatis, dan mudah dilupakan.

Dalam kondisi semacam ini (yang terus berulang), subjek berpikir perlahan memudar. Warganet lebih sering bereaksi daripada merenung. Mereka (dan atau kita) ikut dalam arus opini yang bergerak cepat, tetapi jarang berhenti untuk menimbang kompleksitas persoalan.

Padahal konflik geopolitik tidak pernah sederhana. Hubungan antara Amerika Serikat, Israel, Iran, dan negara lain dibentuk oleh sejarah panjang, kepentingan ekonomi, politik energi, dan strategi militer global. Ketika isu tersebut direduksi menjadi slogan emosional di media sosial, diskursus publik kehilangan kedalamannya.

Pada akhirnya, fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masyarakat digital Indonesia. Apakah kita benar benar sedang membangun kesadaran politik global, atau justru sedang menjadi para “pekerja” tidak sadar dalam pusaran legit economic of attention?

Baca Juga: Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Setiap kali kita menuliskan komentar marah, membagikan video provokatif, atau ikut dalam perang kata kata di kolom komentar, kita mungkin merasa sedang membela sebuah posisi ideologis. Namun di saat yang sama, kita juga sedang memperkaya ekosistem bisnis platform digital.

Untuk itulah, kritik perlu kembali menemukan kedalaman refleksinya. Kritik yang bermakna bukan sekadar luapan emosi sesaat. Tapi selalu menuntut pemikiran, jarak, dan kesediaan untuk memahami kompleksitas dunia.

Tanpa itu semua, kemarahan digital hanya akan menjadi komoditas baru dalam ekonomi platform. Dan ketika kemarahan berubah menjadi komoditas, yang mati bukan hanya kualitas diskursus publik ... tetapi juga keberanian manusia untuk berpikir secara bernas dan merdeka. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)