Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)

Beberapa hari terakhir ini, terutama linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group, di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan. Ada yang menunjukkan kemarahan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ada pula yang melampiaskan amarah kepada Iran. Warganet berdebat sengit seraya mengutip ideologi, agama, dan sejarah geopolitik yang sebenarnya jauh dari kehidupan sehari hari mereka.

Fenomena ini tampak sebagai ekspresi solidaritas politik global. Namun jika diperhatikan lebih jauh, kemarahan tersebut sering kali berlangsung dalam pola sama. Sebuah video/berita viral muncul, lantas potongan berita dibagikan, dan ribuan komentar hadir hitungan menit, dengan sebagian berempati dan tidak sedikit “berlomba” umpatan kasar.

Ironisnya, dalam hemat penulis, dalam situasi ini, tidak ada pihak yang benar benar menang/kalah di ruang digital. Baik Iran dan atau AS-Israel. Justru, platform digital adalah pihak yang paling diuntungkan! 

Sebab, kritik dan kemarahan publik kini beroperasi dalam kerangka ekonomi perhatian (economic of attention). Media sosial tidak hanya menyediakan ruang percakapan, tetapi juga mengubah emosi kolektif menjadi komoditas. Setiap komentar, reaksi, atau perdebatan yang memanas sesungguhnya memperpanjang durasi interaksi pengguna. Semakin lama pengguna berada di platform, semakin tinggi pula nilai ekonominya bagi perusahaan teknologi.

Filsuf Korea Jerman Byung Chul Han mengingatkan gejala ini dalam bukunya, In the Swarm: Digital Prospects (2015). Ia menjelaskan, ruang digital tidak lagi menghasilkan diskursus rasional seperti yang diharapkan dalam oleh tradisi Abad Pencerahan. Sebaliknya yang muncul kerumunan digital yang bergerak cepat, reaktif, dan emosional. Informasi tidak diproses mendalam; Medsos melintas sebagai arus kemarahan yang segera digantikan oleh isu berikutnya.

Gejala yang sama juga pernah dibahas Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019). Menurutnya, perusahaan teknologi besar mengubah pengalaman manusia menjadi bahan baku ekonomi baru. Data perilaku pengguna dikumpulkan, dianalisis, lalu dijual kepada pengiklan atau pihak lain yang membutuhkan prediksi perilaku publik. Dalam kerangka ini, bahkan kemarahan politik sekalipun memiliki nilai ekonomi!

Setiap klik, komentar, dan berbagi tautan memperkaya basis data perusahaan platform. Karena itu, ketika warganet Indonesia saling menghujat dalam isu geopolitik internasional, yang sebenarnya terjadi adalah produksi data dalam skala besar.

Jadi, marah terhadap Israel menghasilkan traffic. Marah terhadap aki-aki Donald Trump menghasilkan engagement. Juga, marah terhadap mahdzab syiah di Iran pun menghasilkan algoritma yang bekerja semakin aktif. Kemarahan digital adalah umpama bahan bakar bagi mesin ekonomi platform. 

Komodifikasi Konten

Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)
Peta yang memuat Timur Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dengan Iran dan Israel di dalamnya. (Sumber: Pexels/Anthony Beck)

Hal ini kian menunjukkan bahwa kritik di ruang digital sering kali mengalami komodifikasi. Kritik tidak lagi sekadar tindakan moral atau intelektual, namun menjadi bagian dari ekosistem produksi konten. Semakin keras nada kritik, semakin tinggi kemungkinan menjadi viral. Namun sekali lagi, viralitas tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemikiran.

Senada, Neil Postman dalam buku lawasnya, Amusing Ourselves to Death (1985), menuliskan bagaimana media modern cenderung mengubah diskursus publik menjadi hiburan. Isu serius sering kali diperlakukan dengan logika tontonan. Politik, agama, bahkan konflik internasional dapat berubah menjadi konsumsi visual yang cepat, dramatis, dan mudah dilupakan.

Dalam kondisi semacam ini (yang terus berulang), subjek berpikir perlahan memudar. Warganet lebih sering bereaksi daripada merenung. Mereka (dan atau kita) ikut dalam arus opini yang bergerak cepat, tetapi jarang berhenti untuk menimbang kompleksitas persoalan.

Padahal konflik geopolitik tidak pernah sederhana. Hubungan antara Amerika Serikat, Israel, Iran, dan negara lain dibentuk oleh sejarah panjang, kepentingan ekonomi, politik energi, dan strategi militer global. Ketika isu tersebut direduksi menjadi slogan emosional di media sosial, diskursus publik kehilangan kedalamannya.

Pada akhirnya, fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masyarakat digital Indonesia. Apakah kita benar benar sedang membangun kesadaran politik global, atau justru sedang menjadi para “pekerja” tidak sadar dalam pusaran legit economic of attention?

Baca Juga: Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Setiap kali kita menuliskan komentar marah, membagikan video provokatif, atau ikut dalam perang kata kata di kolom komentar, kita mungkin merasa sedang membela sebuah posisi ideologis. Namun di saat yang sama, kita juga sedang memperkaya ekosistem bisnis platform digital.

Untuk itulah, kritik perlu kembali menemukan kedalaman refleksinya. Kritik yang bermakna bukan sekadar luapan emosi sesaat. Tapi selalu menuntut pemikiran, jarak, dan kesediaan untuk memahami kompleksitas dunia.

Tanpa itu semua, kemarahan digital hanya akan menjadi komoditas baru dalam ekonomi platform. Dan ketika kemarahan berubah menjadi komoditas, yang mati bukan hanya kualitas diskursus publik ... tetapi juga keberanian manusia untuk berpikir secara bernas dan merdeka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)