Kalkulasi yang Mati: Mengapa Bertani Tak Lagi Rasional bagi Generasi Muda?

6 menit baca
Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan
Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sering kali generasi muda dituding enggan turun ke sawah karena dianggap terlalu mengejar gengsi atau gaya hidup urban yang serba instan. Namun jika kita membedah realita di lapangan secara mendalam, maka keputusan menjauhi sektor pertanian sebenarnya adalah pilihan logis berbasis kalkulasi ekonomi yang sangat rasional bagi generasi Z maupun milenial. Berdasarkan laporan Long Form Sensus Penduduk dan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi petani muda berusia 20 hingga 39 tahun hanya mencakup sekitar 19,1 persen dari total petani di Indonesia. Angka ini menjadi alarm keras bahwa krisis regenerasi bukan sekadar isu persepsi melainkan realitas struktural yang sedang berlangsung secara masif.

Anak muda bukannya tidak mau berlumpur, tapi mereka takut masa depan mereka ikut terkubur dalam ketidakpastian harga yang mencekik setiap musim panen.

Para pemuda hari ini melihat bahwa sektor agraris memiliki risiko tinggi (high risk) dengan tingkat pengembalian modal (return on investment) yang sangat lambat serta tidak pasti. Berbeda dengan sektor jasa atau UMKM digital yang menawarkan arus kas (cash flow) harian hingga bulanan, petani harus menunggu siklus biologis tanaman selama 3 hingga 4 bulan untuk mendapatkan pemasukan.

Untuk memahami mengapa angka-angka statistik tersebut begitu mengkhawatirkan, kita perlu melihat wajah nyata di balik hamparan sawah. Sebut saja Ahmad, seorang pemuda di pesisir Purworejo yang mencoba peruntungannya menanam cabai merah keriting. Di saat harga cabai di pasar kota mencapai Rp60.000 per kilogram, Ahmad terpaksa melepas hasil jerih payahnya hanya dengan harga Rp18.000 per kilogram kepada tengkulak.

Ahmad tidak punya pilihan untuk bernegosiasi karena ia terjerat "utang budi" dan modal dari tengkulak tersebut sejak masa tanam. Baginya, bertani bukan lagi soal kedaulatan pangan melainkan sebuah perjudian nasib di mana ia harus mempertaruhkan keringat dan kesehatannya di bawah terik matahari, namun keuntungan terbesarnya justru dinikmati oleh perantara yang hanya datang saat masa panen tiba. Kisah Ahmad adalah representasi ribuan pemuda tani lainnya yang merasa bahwa tanah yang mereka injak tidak lagi mampu menjanjikan masa depan yang bermartabat.

Asimetri Pasar dan Dominasi Rantai Distribusi

Masalah yang dialami Ahmad menunjukkan adanya asimetri pasar yang sangat dalam. Sering terjadi paradoks yang menyakitkan di mana margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) untuk komoditas hortikultura sering kali melebihi 50 persen dari harga di tingkat produsen. Fenomena ini membuktikan lemahnya daya tawar (bargaining power) petani karena ketergantungan pada sistem tengkulak yang berperan ganda sebagai penyedia modal sekaligus pembeli tunggal. Tanpa adanya transparansi harga serta akses pasar yang adil, petani muda akan selalu menjadi pihak pertama yang menanggung kerugian total saat harga anjlok namun menjadi pihak terakhir yang menikmati keuntungan saat harga pasar melonjak naik.

Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)
Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)

Indonesia sebenarnya bisa belajar banyak dari negara-negara yang berhasil menjaga kedaulatan petaninya. Di Jepang, pemerintah memberikan perlindungan harga yang sangat ketat melalui koperasi pertanian (Zen-Noh) yang memastikan harga jual petani tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi pasar. Sementara itu, Belanda mampu memimpin ekspor pangan dunia bukan karena luas lahan melainkan karena efisiensi teknologi tinggi yang didukung oleh kepastian regulasi investasi. Di negara-negara tersebut, menjadi petani adalah profesi yang terhormat dan menjanjikan secara finansial karena negara hadir untuk memastikan bahwa risiko produksi tidak ditanggung sendiri oleh individu petani.

Lemahnya Taji Regulasi dan Ancaman Lahan

Secara hukum, Indonesia sebenarnya memiliki instrumen perlindungan melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Pasal 7 ayat (2) dalam undang-undang tersebut secara eksplisit mengamanatkan pemerintah untuk memberikan strategi perlindungan melalui asuransi pertanian, bantuan modal, serta penetapan harga satuan komoditas. Namun secara praktis, implementasi pasal ini masih bersifat parsial dan sering kali terkendala oleh birokrasi anggaran yang berbelit.

Kondisi ini diperparah dengan lemahnya penegakan UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Di wilayah Jawa Tengah, alih fungsi lahan menjadi kawasan industri terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ketidakpastian penguasaan lahan membuat generasi muda ragu untuk berinvestasi pada teknologi jangka panjang karena mereka khawatir bahwa sawah abadi yang mereka olah sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kawasan pabrik atas nama investasi manufaktur jangka pendek.

Bagaimana pemuda mau bertani jika sawah abadi hari ini bisa berubah menjadi beton pabrik besok pagi tanpa ada perlindungan hukum yang tegas?

Untuk memutus rantai kemiskinan struktural yang telah mengakar, Indonesia harus berani melakukan pergeseran paradigma dari pola tani subsisten individu menuju konsep Corporate Farming atau konsolidasi lahan kolektif. Generasi muda tidak bisa lagi dipaksa mengelola petakan lahan sempit yang tidak efisien secara ekonomi; sebaliknya, mereka harus didorong untuk mengelola hamparan lahan secara korporasi guna mencapai skala ekonomi (economy of scale) yang kompetitif.

Konsolidasi ini menjadi kunci utama untuk mempermudah akses kredit perbankan, mengingat lembaga keuangan cenderung lebih percaya menyalurkan pembiayaan kepada entitas bisnis yang terorganisir dibandingkan petani perorangan yang dianggap berisiko tinggi. Digitalisasi dalam konteks ini harus diposisikan sebagai tulang punggung transparansi. Melalui platform Digital Agribusiness yang mengintegrasikan data logistik pangan nasional dari hulu ke hilir, pemerintah dapat menciptakan ekosistem harga yang jujur secara real-time. Teknologi ini berfungsi untuk memutus rantai spekulasi yang selama ini dimainkan oleh para pemburu rente, sehingga petani dapat mengetahui nilai wajar komoditas mereka di pasar induk tanpa harus bergantung sepenuhnya pada informasi sepihak dari tengkulak.

Reformasi Jaminan: Transformasi AUTP menjadi Revenue Insurance

Kehadiran negara yang paling dinanti oleh generasi milenial dan Gen Z adalah reformasi skema jaminan usaha yang lebih modern. Skema Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang selama ini hanya melindungi petani dari risiko gagal panen akibat bencana alam (puso), harus segera ditransformasi menjadi Revenue Insurance (asuransi pendapatan). Skema baru ini tidak hanya melindungi fisik tanaman, tetapi juga melindungi dompet petani dari fluktuasi harga pasar yang ekstrem yang sering kali lebih mematikan daripada serangan hama.

Selain itu, kebijakan Harga Dasar (Floor Price) yang dinamis harus diberlakukan secara tegas dan diawasi oleh Satgas Pangan. Penentuan harga ini tidak boleh bersifat statis, melainkan harus menyesuaikan dengan kenaikan biaya input produksi seperti benih, pupuk, dan upah tenaga kerja yang terus merangkak naik. Negara harus menjamin secara konstitusional bahwa setiap butir keringat yang jatuh ke tanah memiliki nilai ekonomi yang dilindungi oleh undang-undang. Tanpa adanya kepastian harga minimal, profesi petani akan tetap dianggap sebagai perjudian nasib yang tidak masuk akal bagi generasi yang dididik untuk berpikir metodis dan terukur.

Baca Juga: Sekitar Separuh Penduduk Kota Bandung Tidak Tahu Golongan Darahnya

Krisis regenerasi petani yang kita hadapi saat ini adalah cerminan dari kegagalan sistem dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang adil serta berkelanjutan bagi para produsen pangan. Data BPS yang menunjukkan penurunan proporsi petani muda di bawah usia 39 tahun hingga hanya tersisa 19,1 persen adalah bukti nyata bahwa sektor ini sedang mengalami pendarahan hebat. Menyederhanakan masalah besar ini hanya sebagai persoalan "mentalitas" atau "gengsi" generasi muda adalah sebuah kesesatan pikir yang menutupi akar masalah sebenarnya: ketiadaan jaminan kesejahteraan yang nyata.

Jika negara tidak segera hadir dengan perlindungan harga yang tegas, akses modal yang inklusif melalui perbankan formal, serta perlindungan lahan produktif yang tanpa kompromi dari gempuran beton industri, maka profesi petani di Indonesia berada di ambang kepunahan. Kita harus menyadari bahwa kedaulatan pangan tidak mungkin dicapai oleh bangsa yang membiarkan para pahlawan pangannya hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Persoalan ini bukan lagi tentang sekadar mencari siapa yang mau turun ke sawah, melainkan tentang bagaimana kita memastikan fondasi ketahanan pangan nasional tidak runtuh karena ditinggalkan oleh generasinya sendiri yang merasa masa depan mereka tidak lagi dihargai oleh sistem negaranya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Tentang Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)