Kalkulasi yang Mati: Mengapa Bertani Tak Lagi Rasional bagi Generasi Muda?

Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan Selasa 24 Mar 2026, 09:27 WIB
Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sering kali generasi muda dituding enggan turun ke sawah karena dianggap terlalu mengejar gengsi atau gaya hidup urban yang serba instan. Namun jika kita membedah realita di lapangan secara mendalam, maka keputusan menjauhi sektor pertanian sebenarnya adalah pilihan logis berbasis kalkulasi ekonomi yang sangat rasional bagi generasi Z maupun milenial. Berdasarkan laporan Long Form Sensus Penduduk dan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi petani muda berusia 20 hingga 39 tahun hanya mencakup sekitar 19,1 persen dari total petani di Indonesia. Angka ini menjadi alarm keras bahwa krisis regenerasi bukan sekadar isu persepsi melainkan realitas struktural yang sedang berlangsung secara masif.

Anak muda bukannya tidak mau berlumpur, tapi mereka takut masa depan mereka ikut terkubur dalam ketidakpastian harga yang mencekik setiap musim panen.

Para pemuda hari ini melihat bahwa sektor agraris memiliki risiko tinggi (high risk) dengan tingkat pengembalian modal (return on investment) yang sangat lambat serta tidak pasti. Berbeda dengan sektor jasa atau UMKM digital yang menawarkan arus kas (cash flow) harian hingga bulanan, petani harus menunggu siklus biologis tanaman selama 3 hingga 4 bulan untuk mendapatkan pemasukan.

Untuk memahami mengapa angka-angka statistik tersebut begitu mengkhawatirkan, kita perlu melihat wajah nyata di balik hamparan sawah. Sebut saja Ahmad, seorang pemuda di pesisir Purworejo yang mencoba peruntungannya menanam cabai merah keriting. Di saat harga cabai di pasar kota mencapai Rp60.000 per kilogram, Ahmad terpaksa melepas hasil jerih payahnya hanya dengan harga Rp18.000 per kilogram kepada tengkulak.

Ahmad tidak punya pilihan untuk bernegosiasi karena ia terjerat "utang budi" dan modal dari tengkulak tersebut sejak masa tanam. Baginya, bertani bukan lagi soal kedaulatan pangan melainkan sebuah perjudian nasib di mana ia harus mempertaruhkan keringat dan kesehatannya di bawah terik matahari, namun keuntungan terbesarnya justru dinikmati oleh perantara yang hanya datang saat masa panen tiba. Kisah Ahmad adalah representasi ribuan pemuda tani lainnya yang merasa bahwa tanah yang mereka injak tidak lagi mampu menjanjikan masa depan yang bermartabat.

Asimetri Pasar dan Dominasi Rantai Distribusi

Masalah yang dialami Ahmad menunjukkan adanya asimetri pasar yang sangat dalam. Sering terjadi paradoks yang menyakitkan di mana margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) untuk komoditas hortikultura sering kali melebihi 50 persen dari harga di tingkat produsen. Fenomena ini membuktikan lemahnya daya tawar (bargaining power) petani karena ketergantungan pada sistem tengkulak yang berperan ganda sebagai penyedia modal sekaligus pembeli tunggal. Tanpa adanya transparansi harga serta akses pasar yang adil, petani muda akan selalu menjadi pihak pertama yang menanggung kerugian total saat harga anjlok namun menjadi pihak terakhir yang menikmati keuntungan saat harga pasar melonjak naik.

Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)
Anak muda yang tergabung dalam Yayasan Odessa menanam benih hanjeli di kebun botani yang mereka kelola. (Sumber: Yayasan Odessa)

Indonesia sebenarnya bisa belajar banyak dari negara-negara yang berhasil menjaga kedaulatan petaninya. Di Jepang, pemerintah memberikan perlindungan harga yang sangat ketat melalui koperasi pertanian (Zen-Noh) yang memastikan harga jual petani tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi pasar. Sementara itu, Belanda mampu memimpin ekspor pangan dunia bukan karena luas lahan melainkan karena efisiensi teknologi tinggi yang didukung oleh kepastian regulasi investasi. Di negara-negara tersebut, menjadi petani adalah profesi yang terhormat dan menjanjikan secara finansial karena negara hadir untuk memastikan bahwa risiko produksi tidak ditanggung sendiri oleh individu petani.

Lemahnya Taji Regulasi dan Ancaman Lahan

Secara hukum, Indonesia sebenarnya memiliki instrumen perlindungan melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Pasal 7 ayat (2) dalam undang-undang tersebut secara eksplisit mengamanatkan pemerintah untuk memberikan strategi perlindungan melalui asuransi pertanian, bantuan modal, serta penetapan harga satuan komoditas. Namun secara praktis, implementasi pasal ini masih bersifat parsial dan sering kali terkendala oleh birokrasi anggaran yang berbelit.

Kondisi ini diperparah dengan lemahnya penegakan UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Di wilayah Jawa Tengah, alih fungsi lahan menjadi kawasan industri terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ketidakpastian penguasaan lahan membuat generasi muda ragu untuk berinvestasi pada teknologi jangka panjang karena mereka khawatir bahwa sawah abadi yang mereka olah sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kawasan pabrik atas nama investasi manufaktur jangka pendek.

Bagaimana pemuda mau bertani jika sawah abadi hari ini bisa berubah menjadi beton pabrik besok pagi tanpa ada perlindungan hukum yang tegas?

Untuk memutus rantai kemiskinan struktural yang telah mengakar, Indonesia harus berani melakukan pergeseran paradigma dari pola tani subsisten individu menuju konsep Corporate Farming atau konsolidasi lahan kolektif. Generasi muda tidak bisa lagi dipaksa mengelola petakan lahan sempit yang tidak efisien secara ekonomi; sebaliknya, mereka harus didorong untuk mengelola hamparan lahan secara korporasi guna mencapai skala ekonomi (economy of scale) yang kompetitif.

Konsolidasi ini menjadi kunci utama untuk mempermudah akses kredit perbankan, mengingat lembaga keuangan cenderung lebih percaya menyalurkan pembiayaan kepada entitas bisnis yang terorganisir dibandingkan petani perorangan yang dianggap berisiko tinggi. Digitalisasi dalam konteks ini harus diposisikan sebagai tulang punggung transparansi. Melalui platform Digital Agribusiness yang mengintegrasikan data logistik pangan nasional dari hulu ke hilir, pemerintah dapat menciptakan ekosistem harga yang jujur secara real-time. Teknologi ini berfungsi untuk memutus rantai spekulasi yang selama ini dimainkan oleh para pemburu rente, sehingga petani dapat mengetahui nilai wajar komoditas mereka di pasar induk tanpa harus bergantung sepenuhnya pada informasi sepihak dari tengkulak.

Reformasi Jaminan: Transformasi AUTP menjadi Revenue Insurance

Kehadiran negara yang paling dinanti oleh generasi milenial dan Gen Z adalah reformasi skema jaminan usaha yang lebih modern. Skema Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang selama ini hanya melindungi petani dari risiko gagal panen akibat bencana alam (puso), harus segera ditransformasi menjadi Revenue Insurance (asuransi pendapatan). Skema baru ini tidak hanya melindungi fisik tanaman, tetapi juga melindungi dompet petani dari fluktuasi harga pasar yang ekstrem yang sering kali lebih mematikan daripada serangan hama.

Selain itu, kebijakan Harga Dasar (Floor Price) yang dinamis harus diberlakukan secara tegas dan diawasi oleh Satgas Pangan. Penentuan harga ini tidak boleh bersifat statis, melainkan harus menyesuaikan dengan kenaikan biaya input produksi seperti benih, pupuk, dan upah tenaga kerja yang terus merangkak naik. Negara harus menjamin secara konstitusional bahwa setiap butir keringat yang jatuh ke tanah memiliki nilai ekonomi yang dilindungi oleh undang-undang. Tanpa adanya kepastian harga minimal, profesi petani akan tetap dianggap sebagai perjudian nasib yang tidak masuk akal bagi generasi yang dididik untuk berpikir metodis dan terukur.

Baca Juga: Sekitar Separuh Penduduk Kota Bandung Tidak Tahu Golongan Darahnya

Krisis regenerasi petani yang kita hadapi saat ini adalah cerminan dari kegagalan sistem dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang adil serta berkelanjutan bagi para produsen pangan. Data BPS yang menunjukkan penurunan proporsi petani muda di bawah usia 39 tahun hingga hanya tersisa 19,1 persen adalah bukti nyata bahwa sektor ini sedang mengalami pendarahan hebat. Menyederhanakan masalah besar ini hanya sebagai persoalan "mentalitas" atau "gengsi" generasi muda adalah sebuah kesesatan pikir yang menutupi akar masalah sebenarnya: ketiadaan jaminan kesejahteraan yang nyata.

Jika negara tidak segera hadir dengan perlindungan harga yang tegas, akses modal yang inklusif melalui perbankan formal, serta perlindungan lahan produktif yang tanpa kompromi dari gempuran beton industri, maka profesi petani di Indonesia berada di ambang kepunahan. Kita harus menyadari bahwa kedaulatan pangan tidak mungkin dicapai oleh bangsa yang membiarkan para pahlawan pangannya hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Persoalan ini bukan lagi tentang sekadar mencari siapa yang mau turun ke sawah, melainkan tentang bagaimana kita memastikan fondasi ketahanan pangan nasional tidak runtuh karena ditinggalkan oleh generasinya sendiri yang merasa masa depan mereka tidak lagi dihargai oleh sistem negaranya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)