Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Nyekar, Mengingat Waktu Basahi Rindu

Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan Selasa 24 Mar 2026, 20:33 WIB
Nyekar ke makam orang tua dan kerabat saat lebaran (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Nyekar ke makam orang tua dan kerabat saat lebaran (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

"Biarpun di atas kuburan, tak ada maut bagi cinta".

Entah mengapa, sepotong baris puisi karya W.S. Rendra itu selalu muncul di relung hati ketika saya melakukan nyekar ke makam orang tua dan leluhur di kampung halaman pada saat lebaran.

Meskipun diatas kuburan terasa bahwa cinta orang tua tidak pernah mati. Namun terus bersemi diantara rasa rindu yang membasahi kalbu. Rindu kepada orang tua dan sanak saudara yang telah mendahului berpulang kehadirat Ilahi.

Nyekar adalah tradisi ziarah kubur dengan mengunjungi, membersihkan makam, menaburkan bunga (sekar), serta mendoakan arwah leluhur atau keluarga yang telah wafat. Tradisi ini umumnya dilakukan menjelang Ramadan, Idul Fitri, atau momen penting lainnya sebagai bentuk kasih sayang, berbakti, penghormatan, dan pengingat akan kematian. 

Bagi penulis, nyekar juga merupakan saat yang tepat untuk merenungi kehidupan dan mawas diri. Serta mengingat petuah dan ajaran orang tua dan leluhur kita. Petuah Ibu yang tak pernah lekang oleh waktu selalu

 

Kereta yang mengantar jenazah menuju liang kubur (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Kereta yang mengantar jenazah menuju liang kubur (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Bakul Kembang Telon

Kurang afdol jika saat lebaran tidak nyekar menaburkan kembang telon di pusara orang tua. Lalu berdoa menurut keyakinan kita.

Sebelum masuk kawasan kuburan, Nduk (sebutan untuk anak perempuan) membeli beberapa bungkus kembang telon.

Mata ini terpana melihat bakul (penjual) kembang telon yang berjajar di pinggir jalan menuju kuburan.

Saya heran, bakul kembang yang sudah berlangsung sejak saya masih kecil hingga sekarang masih tetap eksis dengan lapak yang sama dengan masa lalu. Bakul kembang telon merupakan usaha turun temurun yang memiliki segmen pasar di dua alam.

Kembang telon digunakan untuk prosesi nyekar di kuburan. Atau juga untuk kirim sesaji kepada arwah leluhur. Biasanya kembang telon itu dimasukkan dalam mangkuk yang berisi air jernih. Lalu disampingnya ada segelas kopi tubruk. Dalam tradisi di tempat kelahiran saya, kembang telon merupakan kumpulan bunga yang biasanya terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga Mawar putih, Mawar merah, dan sekuntum bunga Kantil. Bisa juga Mawar, Melati, Kenanga. Atau Mawar, Melati, Kantil. Tergantung musimnya bunga.

kulihat wajah Mbok bakul kembang tampak serius memilihkan kembang itu. Masih seperti dulu, ada bau wangi kuburan, hanya saja bedanya si Mbok yang ini di mulutnya tidak terlihat susur atau nginang seperti yang kulihat saat saya masih kecil dulu.

Ziarah kubur ke makam orang tua dan kerabat di kampung halaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ziarah kubur ke makam orang tua dan kerabat di kampung halaman (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kembang Turi Putih Melambai

Kawasan makam orang tua berada di tengah sawah. Di pematang sawah terlihat pohon turi yang sedang berbunga. Ternyata hidup ini rasanya pahit-pahit sedap, seperti rasanya sayur kembang turi yang saat dulu sering dimasak oleh ibu.

Sayur kembang turi itu biasanya dijadikan pecel atau sayur asem. Pecel kembang turi disertai dengan mentimun krai yang direbus untuk sayur bendoyo. Sambal pecel khas desa sangat khas, karena kacangnya disangrai lalu ditumbuk dengan lumpang dan alu. Satu lagi komponen yang tidak boleh tertinggal yakni kerupuk bawang berwarna putih yang rasanya gurih. Kerupuk yang lumer di lidah jika tersiram sambal itu berbahan dasar singkong. Proses pembuatannya disangrai dengan pasir sungai Brantas yang memiliki butiran yang khas dan sangat baik untuk media heat transfer dalam proses sangrai.

Menikmati pecel kembang turi sangat baik untuk mengenang waktu kehidupan dan membasahi rindu terhadap kerabat dan kampung halaman. Itu semua bisa menyehatkan jiwa dan raga. Kembang turi yang penuh filosofi arti kehidupan mengingatkan kita terhadap perjalanan sang waktu yang pernah kita lalui. Perjalanan kehidupan yang terasa manis,pahit,gurih,asam, semua itu sekedar “nglakoni” takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Menu pecel kembang turi biasanya terdiri dari kerupuk singkong bawang, sayur kembang turi, sayur bendoyo (timun krai), sayur kecambah, kemangi, dan lain-lain. Kemudian disiram dengan sambal pecel.  Sayur bendoyo membuat perut atau alat pencernaan kita terasa adem. Kurang afdol jika menu pecel kembang turi tidak disertai dengan bendoyo.

Sifat buah ketimun krai yang lebih besar dan lebih keras dibandingkan dengan buah ketimun lalap mesti direbus dahulu sehingga menjadi lembek namun teksturnya tetap kompak ( tidak hancur). Kerupuk singkong bawang yang berwarna putih, atau orang desa suka menyebutnya kerupuk upil sangat baik untuk memenuhi karbohidrat bagi mereka yang tengah melakukan proses penurunan berat badan.

Menikmati pecel kembang turi biasanya disertai dengan minuman rujak kambang. Yakni minuman rujak yang berbahan aneka buah endemik atau buah lokal yang sedang musimnya. Menikmati pecel kembang turi angan kita dibawa terbang oleh lagu Turi Putih. Lagu tradisional yang penuh makna dan pitutur luhur bahwa manusia mesti ingat akan kematian sehingga perlu berbuat kebaikan terus menerus.

Pitutur Ibu

Dalam keheningan makam, terngiang pitutur Ibuku  agar aku mengarungi kehidupan ini bisa mengendalikan hawa nafsu. Menuju kehidupan lebih baik di dunia maupun akhirat.

Ibuku adalah guru pertamaku. Menuntun budi pekerti menavigasi gejolak nafsuku. 

Masih terngiang, pelajaran tentang nafsu oleh Ibuku. Bahwa Aluamah adalah nafsu yang menimbulkan keinginan makan dan minum berlebihan. Pengabdi nafsu aluamah tandanya gemar makan-minum yang enak-enak dan tidak pernah puas.

Selain aluamah, ada nafsu amarah dan supiyah. Amarah adalah keinginan selalu marah dan mudah tersinggung, sedangkan supiah adalah nafsu cinta duniawi yang juga menimbulkan berahi tanpa batas kepuasan.

Tiga nafsu itu menurut Ibuku mesti dikendalikan, sepanjang hayatku.Masih ada satu lagi, lanjutnya, yakni mutmainah.

Nafsu ini mengandung kesabaran dan menimbulkan keinginan membantu orang lain. Nafsu ini yang mesti terus dikembangkan, tetapi tetap dalam kendali. Suatu saat Ibuku bercerita, pada diri anak-anaknya dinaungi oleh sang Khodam. Penjaga laku kebaikan dan  budi pekerti yang welas asih.

Sang Khodam adalah Sedulur Papat Lima Pancer yang selalu bersatu dalam jiwa dan raga kita.

Arti sedulur papat limo pancer menurut Ibuku,

Pertama adalah Kakang Sawah, yakni air ketuban yang membantu manusia dilahirkan ke dunia. Karena air ketuban keluar pertama kali, masyarakat Jawa menyebutnya Kakang, yang berarti Kakak.

Kedua adalah Adi ari-ari atau plasenta. Yakni ari-ari yang keluar setelah bayi dilahirkan dan disebut Adi, yang berarti adik dalam bahasa Indonesia.

Ketiga adalah Getih atau darah, yang menjadi zat utama bagi ibu dan bayi. Saat berada dalam kandungan, bayi dilindungi  dan dihidupi oleh getih.

Keempat adalah Puser yakni tali plasenta yang menghubungkan ibu dan bayi.

Tali pusar ini adalah jembatan kehidupan yang menyediakan nutrisi yang penting bagi kelangsungan hidup bayi saat di dalam kandungan.

Dan yang kelima adalah Pancer, juga disebut sebagai raga diri kita. Raga yang terdiri dari jaringan tubuh, otak, sistem saraf. otot dan panca Indera kita.

 Sedulur Papat Lima Pancer, Itulah Khodam aku dan kita semua. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Mar 2026, 20:33

Nyekar, Mengingat Waktu Basahi Rindu

Kurang afdol jika saat lebaran tidak nyekar menaburkan kembang telon di pusara orang tua.

Nyekar ke makam orang tua dan kerabat saat lebaran (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Mar 2026, 13:30

Menjelajah Jalur Alternatif Cililin–Ciwidey yang Menantang

Jalur Cililin–Ciwidey menawarkan tanjakan curam, turunan tajam, dan pemandangan asri. Bisa ditempuh motor 1 jam, lebih cepat daripada jalur utama.

Pemandangan di jalur alternatif Ciwidey-Cililin. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 13:05

Bioskop Bandung di Musim Lebaran

Era tahun 90-an bioskop layar lebar menjadi salah satu tempat hiburan warga kota Bandung.

Daftar film yang tayang di bioskop-bioskop yang ada di Kota Bandung menjelang Lebaran tahun 1994. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Sejarah 24 Mar 2026, 09:32

Hikayat Lebaran Para Inlander di Tanah Kompeni

Pada masa kolonial, mahasiswa dan bangsawan Hindia Belanda merayakan lebaran jauh dari kampung halaman. Di Leiden dan Den Haag, Idulfitri menjadi ajang silaturahmi diaspora sekaligus obat rindu tanah

Foto diaspora Indoneia saat lebaran di Den Haag, Belanda. (Sumber: Majalah Oost en West Februari 1934)
Linimasa 24 Mar 2026, 09:30

Mengurai Kemacetan di Jalur Wisata Ciwidey

Satlantas Polresta Bandung menerapkan penebalan personel, contra flow, dan buka tutup jalan untuk mengurai kemacetan di jalur wisata Ciwidey saat musim liburan.

Satlantas Polresta Bandung mengurai kemacetan di jalur Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 09:27

Kalkulasi yang Mati: Mengapa Bertani Tak Lagi Rasional bagi Generasi Muda?

Minat pemuda di sektor tani bukan soal gengsi, melainkan respons logis atas asimetri pasar dan risiko modal. Saatnya negara hadir melalui asuransi pendapatan dan korporasi lahan yang adil.

Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 23 Mar 2026, 20:08

Bakso Urat dan Tetelan Pelepas Rindu: Ramainya Warung Bakso di Kota Bandung Setelah Lebaran

Usai Lebaran, warung bakso di Bandung dipadati pengunjung yang mencari hidangan segar seperti bakso urat dan tetelan.

Suasana di bakso urat Alif usai Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 23 Mar 2026, 19:42

Sekitar Separuh Penduduk Kota Bandung Tidak Tahu Golongan Darahnya

Sekitar separuh penduduk Kota Bandung tercatat belum mengetahui golongan darahnya, dengan jumlah mencapai 1,29 juta orang atau 49,84 persen dari total populasi.

Kantong-kantong darah dari pendonor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Andres Fatubun)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 19:08

Beda Hari Satu Kemenangan: Menghargai Landasan Ilmu di Balik Penentuan Hari Raya

Perbedaan hari raya dengan menilik metode mentapkan 1 syawal.

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 15:19

Setiap Habis Ramadhan

Baru saja kita bergembira menyambut Ramadhan, kini kita harus berpisah dengan bulan suci itu.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 12:26

Ketergantungan Bahan Kimia dalam Pertanian: Tantangan Besar Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Ketergantungan pupuk dan pestisida kimia mulai merusak kualitas tanah pertanian Indonesia.

Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Seni Budaya 23 Mar 2026, 09:51

Hikayat Kelom Geulis, Sandal Kayu Cantik dari Tasikmalaya yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

Kelom geulis adalah sandal kayu khas Tasikmalaya dengan ukiran warna-warni yang anggun. Berawal dari bakiak sederhana, kerajinan ini berkembang menjadi produk budaya yang dikenal hingga pasar internas

Kelom Geulis Tasikmalaya.
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 05:17

Habis Lebaran, Tibalah Sampah

Sudah menjadi kebiasaan habis (salat) lebaran (idulfitri), tibalah (darurat) sampah

Darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Mar 2026, 20:21

Tetap Mudik, Meski yang Dibawa Cuma Harapan Bukan Baju Baru

Kisah seorang pengemudi ojek online di Bandung yang kehilangan tabungan dan THR, namun tetap memaksakan pulang demi bertemu keluarga saat Lebaran

Pemudik di Stasiun Leuwipanjang pada Kamis 19 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Mar 2026, 19:25

Paradoks Negara Agraris-Maritim: Mengapa Pertanian dan Kelautan Tak Lagi 'Seksi' bagi Investasi?

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, namun potensinya belum menjadi penggerak ekonomi utama.

Aset properti investasi untuk mendukung pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan, salah satunya melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros. (Sumber: kkp.go.id)
Bandung 22 Mar 2026, 15:55

Veancha Menghidupkan Semangat Teh Artisan Lokal di Tengah Arus Kuliner Viral

Veancha mengajak pengunjung untuk menjelajah rasa artisan tea berkualitas tinggi, sebuah pilihan minuman manis yang tetap mengedepankan kualitas bahan baku dibandingkan sekadar kandungan gula.

Kehadiran Veancha di pelataran Mall Tenth Avenue menjadi bukti nyata geliat UMKM lokal yang mulai digandrungi para pecinta kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)