Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 dan Ujian Transportasi Bandung

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Jumat 27 Mar 2026, 12:45 WIB
Antrean kendaraan mengular di Gerbang Tol Pasteur 2 pada musim libur Lebaran 2026. (Foto: Dok. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk)

Antrean kendaraan mengular di Gerbang Tol Pasteur 2 pada musim libur Lebaran 2026. (Foto: Dok. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk)

Setiap musim mudik Lebaran, Bandung kembali menghadapi tekanan luar biasa pada sistem transportasinya—terutama di jalan non-tol yang menjadi urat nadi mobilitas warga. Tahun 2026 menjadi gambaran yang sulit diabaikan: Dishub Kota Bandung mencatat sekitar 1,1 juta kendaraan yang datang ke Kota Kembang selama 2 hari lebaran, dengan ratusan ribu kendaraan melintas setiap harinya. Angka ini menegaskan bahwa lonjakan mobilitas bukan lagi kejutan, melainkan pola tahunan yang seharusnya bisa diantisipasi secara lebih matang.

Namun di lapangan, persoalan yang muncul tetap berulang: kemacetan panjang, ruang jalan yang semrawut, dan risiko keselamatan yang meningkat. Pertanyaannya, mengapa masalah yang sama terus terjadi setiap tahun tanpa perbaikan yang berarti?

Kota yang Kewalahan di Jalan Sendiri

Di ruas-ruas jalan utama seperti Pasteur, Dago, Setiabudi, hingga Ujungberung, kemacetan saat mudik tidak lagi sekadar persoalan jumlah kendaraan. Masalahnya lebih mendasar: kota ini kesulitan mengelola ruang jalannya sendiri.

Kendaraan berhenti sembarangan di tepi jalan, parkir liar menggerus kapasitas jalan, dan aktivitas naik-turun penumpang terjadi hampir tanpa kontrol. Jalan arteri yang seharusnya menjadi pengalir utama justru berubah fungsi menjadi ruang aktivitas campuran yang tidak tertata.

Di kawasan wisata seperti Lembang dan Padalarang, lonjakan kendaraan bahkan terjadi dalam waktu singkat—mencapai puluhan ribu kendaraan dalam satu hari.

Kepadatan lalu lintas di kawasan Lembang pada hari H Lebaran. (Sumber: https://www.jabaribernews.com/jawa-barat/26916900972/lonjakan-mobilitas-lebaran-2026-arus-kendaraan-di-bandung-barat-meningkat | Foto: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Kepadatan lalu lintas di kawasan Lembang pada hari H Lebaran. (Sumber: https://www.jabaribernews.com/jawa-barat/26916900972/lonjakan-mobilitas-lebaran-2026-arus-kendaraan-di-bandung-barat-meningkat | Foto: Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Ketika arus kendaraan luar kota bertemu dengan mobilitas lokal, yang terjadi bukan hanya kepadatan—melainkan disfungsi sistem. Jalan tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.

Lebih jauh, fenomena shortcut melalui jalan lingkungan memperparah kondisi. Banyak pengendara memanfaatkan gang dan jalan kecil sebagai jalur alternatif, yang pada akhirnya memindahkan kemacetan ke kawasan permukiman. Ini bukan sekadar masalah lalu lintas, tetapi juga kualitas hidup warga kota.

Tata Kelola yang Belum Menyentuh Akar Persoalan

Upaya pemerintah sebenarnya tidak bisa diabaikan. Rekayasa lalu lintas, pengalihan arus, hingga penempatan petugas di titik-titik rawan sudah dilakukan. Namun pendekatan ini masih bersifat jangka pendek dan reaktif.

Masalah mendasar seperti parkir liar, aktivitas samping jalan, dan rendahnya disiplin berlalu lintas belum disentuh secara serius dan konsisten. Padahal, dalam konteks jalan perkotaan, kapasitas tidak hanya ditentukan oleh lebar jalan, tetapi oleh ketertiban penggunaan ruang.

Satu kendaraan yang berhenti sembarangan bisa menghilangkan satu lajur efektif. Dalam kondisi padat, gangguan kecil ini dapat menjalar menjadi antrean panjang hingga berkilometer.

Di sinilah persoalan tata kelola menjadi krusial. Tanpa penegakan aturan yang konsisten, rekayasa lalu lintas hanya akan menjadi solusi sementara—mengurai kemacetan di satu titik, tetapi memindahkannya ke titik lain.

Selain itu, koordinasi lintas wilayah di kawasan Bandung Raya juga masih menjadi tantangan. Arus kendaraan tidak berhenti di batas administratif kota, tetapi kebijakan transportasi sering kali masih terfragmentasi.

Keselamatan yang Dikompromikan

Di tengah kemacetan dan kesemrawutan, aspek keselamatan sering kali menjadi korban yang tidak terlihat. Secara statistik, memang terdapat penurunan angka kecelakaan di Jawa Barat selama mudik 2026. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi risiko di lapangan.

Kasus kecelakaan tetap terjadi, salah satunya insiden truk yang menabrak kendaraan terparkir di sisi jalan kawasan Ujungberung.

Sebuah mobil yang tengah terparkir di sisi jalan mendadak ditabrak oleh truk yang melaju dari arah Cibiru (Minggu, 22/3/2026). (Sumber: https://www.instagram.com/reel/DWMFQimpe89/ | Foto: Instagram/ @teddy_crseven)
Sebuah mobil yang tengah terparkir di sisi jalan mendadak ditabrak oleh truk yang melaju dari arah Cibiru (Minggu, 22/3/2026). (Sumber: https://www.instagram.com/reel/DWMFQimpe89/ | Foto: Instagram/ @teddy_crseven)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa praktik sederhana seperti parkir di badan jalan dapat menjadi pemicu kecelakaan serius, terutama dalam kondisi lalu lintas padat.

Selain itu, faktor kelelahan pengemudi selama perjalanan jauh, ketidaktahuan terhadap kondisi jalan, serta perilaku agresif dalam berkendara semakin meningkatkan potensi konflik lalu lintas.

Menurut World Health Organization, faktor manusia merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Dalam konteks Bandung, faktor ini diperparah oleh lingkungan jalan yang kompleks dan tidak sepenuhnya tertib.

Artinya, keselamatan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal perilaku dan sistem pengawasan yang belum optimal.

Ujian Tahunan yang Terus Berulang

Mudik adalah fenomena yang sangat bisa diprediksi. Polanya relatif sama setiap tahun: lonjakan kendaraan, kepadatan di titik tertentu, dan tekanan pada infrastruktur.

Namun, Bandung seolah selalu berada dalam posisi “bereaksi” alih-alih “mengantisipasi”. Setiap tahun, solusi yang digunakan cenderung serupa—rekayasa lalu lintas sementara, penambahan petugas, dan imbauan kepada pengguna jalan.

Pendekatan ini penting, tetapi tidak cukup. Tanpa perubahan struktural, masalah akan terus berulang dalam skala yang semakin besar seiring pertumbuhan kendaraan.

Yang dibutuhkan bukan hanya pengaturan arus, tetapi perubahan paradigma dalam pengelolaan transportasi perkotaan—dari yang bersifat reaktif menjadi preventif dan berbasis sistem.

Baca Juga: Lingkar Bisnis Mas Aksan

Kemacetan saat mudik di Bandung sering kali dianggap sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan. Narasi ini berbahaya, karena perlahan menjadikan masalah sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, di balik kemacetan tersebut terdapat kerugian nyata: waktu yang terbuang, konsumsi energi yang meningkat, stres pengguna jalan, hingga risiko kecelakaan yang terus mengintai.

Jika kondisi ini terus dinormalisasi, maka yang terjadi bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan kegagalan kolektif dalam mengelola kota.

Bandung tidak kekurangan pengalaman menghadapi mudik. Data tersedia, pola sudah jelas, dan masalahnya berulang. Yang masih kurang adalah konsistensi dalam bertindak dan keberanian untuk menata ulang sistem secara menyeluruh.

Sebab pada akhirnya, ujian terbesar bukan pada derasnya arus mudik—melainkan pada pilihan kita: terus beradaptasi dengan masalah, atau benar-benar menyelesaikannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Dosen dan Peneliti Bidang Teknik Sipil (Transportasi), Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)