Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 dan Ujian Transportasi Bandung

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Antrean kendaraan mengular di Gerbang Tol Pasteur 2 pada musim libur Lebaran 2026. (Foto: Dok. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk)
Antrean kendaraan mengular di Gerbang Tol Pasteur 2 pada musim libur Lebaran 2026. (Foto: Dok. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk)

Setiap musim mudik Lebaran, Bandung kembali menghadapi tekanan luar biasa pada sistem transportasinya—terutama di jalan non-tol yang menjadi urat nadi mobilitas warga. Tahun 2026 menjadi gambaran yang sulit diabaikan: Dishub Kota Bandung mencatat sekitar 1,1 juta kendaraan yang datang ke Kota Kembang selama 2 hari lebaran, dengan ratusan ribu kendaraan melintas setiap harinya. Angka ini menegaskan bahwa lonjakan mobilitas bukan lagi kejutan, melainkan pola tahunan yang seharusnya bisa diantisipasi secara lebih matang.

Namun di lapangan, persoalan yang muncul tetap berulang: kemacetan panjang, ruang jalan yang semrawut, dan risiko keselamatan yang meningkat. Pertanyaannya, mengapa masalah yang sama terus terjadi setiap tahun tanpa perbaikan yang berarti?

Kota yang Kewalahan di Jalan Sendiri

Di ruas-ruas jalan utama seperti Pasteur, Dago, Setiabudi, hingga Ujungberung, kemacetan saat mudik tidak lagi sekadar persoalan jumlah kendaraan. Masalahnya lebih mendasar: kota ini kesulitan mengelola ruang jalannya sendiri.

Kendaraan berhenti sembarangan di tepi jalan, parkir liar menggerus kapasitas jalan, dan aktivitas naik-turun penumpang terjadi hampir tanpa kontrol. Jalan arteri yang seharusnya menjadi pengalir utama justru berubah fungsi menjadi ruang aktivitas campuran yang tidak tertata.

Di kawasan wisata seperti Lembang dan Padalarang, lonjakan kendaraan bahkan terjadi dalam waktu singkat—mencapai puluhan ribu kendaraan dalam satu hari.

Kepadatan lalu lintas di kawasan Lembang pada hari H Lebaran. (Sumber: https://www.jabaribernews.com/jawa-barat/26916900972/lonjakan-mobilitas-lebaran-2026-arus-kendaraan-di-bandung-barat-meningkat | Foto: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Kepadatan lalu lintas di kawasan Lembang pada hari H Lebaran. (Sumber: https://www.jabaribernews.com/jawa-barat/26916900972/lonjakan-mobilitas-lebaran-2026-arus-kendaraan-di-bandung-barat-meningkat | Foto: Ayobandung.com/Restu Nugraha)

Ketika arus kendaraan luar kota bertemu dengan mobilitas lokal, yang terjadi bukan hanya kepadatan—melainkan disfungsi sistem. Jalan tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya.

Lebih jauh, fenomena shortcut melalui jalan lingkungan memperparah kondisi. Banyak pengendara memanfaatkan gang dan jalan kecil sebagai jalur alternatif, yang pada akhirnya memindahkan kemacetan ke kawasan permukiman. Ini bukan sekadar masalah lalu lintas, tetapi juga kualitas hidup warga kota.

Tata Kelola yang Belum Menyentuh Akar Persoalan

Upaya pemerintah sebenarnya tidak bisa diabaikan. Rekayasa lalu lintas, pengalihan arus, hingga penempatan petugas di titik-titik rawan sudah dilakukan. Namun pendekatan ini masih bersifat jangka pendek dan reaktif.

Masalah mendasar seperti parkir liar, aktivitas samping jalan, dan rendahnya disiplin berlalu lintas belum disentuh secara serius dan konsisten. Padahal, dalam konteks jalan perkotaan, kapasitas tidak hanya ditentukan oleh lebar jalan, tetapi oleh ketertiban penggunaan ruang.

Satu kendaraan yang berhenti sembarangan bisa menghilangkan satu lajur efektif. Dalam kondisi padat, gangguan kecil ini dapat menjalar menjadi antrean panjang hingga berkilometer.

Di sinilah persoalan tata kelola menjadi krusial. Tanpa penegakan aturan yang konsisten, rekayasa lalu lintas hanya akan menjadi solusi sementara—mengurai kemacetan di satu titik, tetapi memindahkannya ke titik lain.

Selain itu, koordinasi lintas wilayah di kawasan Bandung Raya juga masih menjadi tantangan. Arus kendaraan tidak berhenti di batas administratif kota, tetapi kebijakan transportasi sering kali masih terfragmentasi.

Keselamatan yang Dikompromikan

Di tengah kemacetan dan kesemrawutan, aspek keselamatan sering kali menjadi korban yang tidak terlihat. Secara statistik, memang terdapat penurunan angka kecelakaan di Jawa Barat selama mudik 2026. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi risiko di lapangan.

Kasus kecelakaan tetap terjadi, salah satunya insiden truk yang menabrak kendaraan terparkir di sisi jalan kawasan Ujungberung.

Sebuah mobil yang tengah terparkir di sisi jalan mendadak ditabrak oleh truk yang melaju dari arah Cibiru (Minggu, 22/3/2026). (Sumber: https://www.instagram.com/reel/DWMFQimpe89/ | Foto: Instagram/ @teddy_crseven)
Sebuah mobil yang tengah terparkir di sisi jalan mendadak ditabrak oleh truk yang melaju dari arah Cibiru (Minggu, 22/3/2026). (Sumber: https://www.instagram.com/reel/DWMFQimpe89/ | Foto: Instagram/ @teddy_crseven)

Peristiwa ini menunjukkan bahwa praktik sederhana seperti parkir di badan jalan dapat menjadi pemicu kecelakaan serius, terutama dalam kondisi lalu lintas padat.

Selain itu, faktor kelelahan pengemudi selama perjalanan jauh, ketidaktahuan terhadap kondisi jalan, serta perilaku agresif dalam berkendara semakin meningkatkan potensi konflik lalu lintas.

Menurut World Health Organization, faktor manusia merupakan penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Dalam konteks Bandung, faktor ini diperparah oleh lingkungan jalan yang kompleks dan tidak sepenuhnya tertib.

Artinya, keselamatan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal perilaku dan sistem pengawasan yang belum optimal.

Ujian Tahunan yang Terus Berulang

Mudik adalah fenomena yang sangat bisa diprediksi. Polanya relatif sama setiap tahun: lonjakan kendaraan, kepadatan di titik tertentu, dan tekanan pada infrastruktur.

Namun, Bandung seolah selalu berada dalam posisi “bereaksi” alih-alih “mengantisipasi”. Setiap tahun, solusi yang digunakan cenderung serupa—rekayasa lalu lintas sementara, penambahan petugas, dan imbauan kepada pengguna jalan.

Pendekatan ini penting, tetapi tidak cukup. Tanpa perubahan struktural, masalah akan terus berulang dalam skala yang semakin besar seiring pertumbuhan kendaraan.

Yang dibutuhkan bukan hanya pengaturan arus, tetapi perubahan paradigma dalam pengelolaan transportasi perkotaan—dari yang bersifat reaktif menjadi preventif dan berbasis sistem.

Baca Juga: Lingkar Bisnis Mas Aksan

Kemacetan saat mudik di Bandung sering kali dianggap sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan. Narasi ini berbahaya, karena perlahan menjadikan masalah sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, di balik kemacetan tersebut terdapat kerugian nyata: waktu yang terbuang, konsumsi energi yang meningkat, stres pengguna jalan, hingga risiko kecelakaan yang terus mengintai.

Jika kondisi ini terus dinormalisasi, maka yang terjadi bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan kegagalan kolektif dalam mengelola kota.

Bandung tidak kekurangan pengalaman menghadapi mudik. Data tersedia, pola sudah jelas, dan masalahnya berulang. Yang masih kurang adalah konsistensi dalam bertindak dan keberanian untuk menata ulang sistem secara menyeluruh.

Sebab pada akhirnya, ujian terbesar bukan pada derasnya arus mudik—melainkan pada pilihan kita: terus beradaptasi dengan masalah, atau benar-benar menyelesaikannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)