Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Jalan Mengatasi Invisible People

Suparna
Ditulis oleh Suparna diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 15:41 WIB
Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)

Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah mengibarkan bendera perang untuk melawan kemiskinan, terutama kemiskinan ekstrem. Kemiskinan yang bersifat kronis dan mungkin lebih sulit untuk dientaskan, karena sebagian besar mereka termasuk Invisible people. Mereka juga bisa diibaratkan sebagai ‘kerak kemiskinan’ yang membandel.  

Invisible people adalah individu atau kelompok yang secara sosial dan ekonomi terpinggirkan. Mereka sering kali identitasnya tidak jelas, pekerjaan informal termasuk petani penggarap, atau tanpa akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan memadai. Dengan kondisi terpinggirkan ini membuat mereka tidak memiliki posisi tawar dalam sistem sosial maupun ekonomi.

Ketika sistem sosial dan ekonomi yang ada tidak memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat,  seperti keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak menyebabkan kelompok tertentu sulit meningkatkan taraf hidupnya. Dalam konteks seperti ini, invisible people menjadi korban utama. Mereka tidak hanya miskin, tetapi juga tidak memiliki akses untuk keluar dari kemiskinan tersebut dan diperparah kondisi, karena bantuan sosial tidak menjangkau mereka (exclusion error). Dalam konteks bantuan sosial berarti orang bersangkutan sebenarnya berhak menerima, tetapi justru tidak mendapatkan bantuan tersebut. Ketidakterlihatan dalam sistem membuat kelompok tersebut tidak mendapatkan akses terhadap sumber daya, sementara struktur yang tidak adil masih mempertahankan kondisi tersebut. 

Untuk lebih memahami invisible people ini, dapat dibaca dari sudut pandang the last, the least, the lowest, and the loss. Mereka yang termasuk the last adalah kelompok yang selalu berada di urutan paling belakang dalam menikmati hasil pembangunan. Akses terhadap pendidikan bermutu, layanan kesehatan, infrastruktur dasar, dan perlindungan sosial sering kali datang terlambat atau bahkan tidak pernah sampai. Kelompok the least menggambarkan mereka yang memiliki sangat sedikit, baik dari sisi aset, pendapatan, maupun kesempatan. Kekurangan yang dialami tidak hanya bersifat material, tetapi juga sosial, berupa lemahnya jaringan, minimnya keterampilan, dan terbatasnya mobilitas ekonomi. The lowest merujuk pada mereka yang berada di lapisan sosial ekonomi paling bawah dan kerap luput dari jangkauan kebijakan karena mereka tidak berani bersuara. Sementara itu, the loss menggambarkan dimensi kehilangan yang lebih dalam, kehilangan rasa aman, jaminan sosial, dan harapan untuk keluar dari kemiskinan. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan eksternal, mulai dari fluktuasi harga pangan hingga perubahan iklim.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih inklusif, data yang akurat, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan tersebut, agar mereka dapat “terlihat” dan memperoleh hak yang setara dalam pembangunan. Saat ini,  tinggal tersisa empat tahun masa pemerintahan agar kemiskinan ekstrem yang ditargetkan nihil di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan ekstrem di Indonesia masih terdapat 0,85% dari total populasi atau sekitar 2,38 juta jiwa pada Maret 2025. Pemerintah telah membuat acuan untuk mengikis penduduk kategori miskin ekstrem, Presiden Prabowo telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Pendekatan inklusif, sinergi, dan kolaboratif pentahelix diharapkan diterapkan dengan melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat sipil, serta media di setiap daerah.

Kebijakan berdasarkan data

Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Data yang akurat sangat diperlukan dalam pengambilan kebijakan dan implementasi program pembangunan. DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) adalah sistem basis data terpadu yang dapat digunakan pemerintah Indonesia untuk mendukung program perlindungan sosial dan pengentasan kemiskinan. Adapun tujuan DTSEN adalah bisa menargetkan bantuan sosial secara akurat, mengurangi kesalahan data (inclusion & exclusion error), mengintegrasikan data antar kementerian/lembaga yang ada, serta mendukung kebijakan pengentasan kemiskinan yang berbasis data. Dengan DTSEN, pemerintah bisa memastikan bahwa yang miskin (termasuk yang invisible people)benar-benar menerima bantuan, sementara yang mampu tidak lagi menerima bantuan.

Hasil Survei Ekonomi Pertanian 2024 yang dilakukan BPS memberi gambaran yang relevan masih adanya invisible people. Hampir separuh rumah tangga pertanian menyatakan pendapatan usahanya belum cukup atau sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekitar 46% lainnya menilai pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan dasar, tanpa ruang untuk menabung atau berinvestasi pada pendidikan dan kesehatan. Masalah struktural lain yang menonjol adalah penguasaan lahan. Sekitar 60% petani di Indonesia merupakan petani kecil dengan luas lahan kurang dari setengah hektare. Skala usaha yang sempit membatasi potensi pendapatan dan meningkatkan kerentanan terhadap kenaikan biaya input, volatilitas harga, serta risiko iklim. Dalam banyak kasus, pendapatan dari usaha tani hanya menjadi salah satu sumber nafkah, sehingga rumah tangga petani harus mencari pekerjaan tambahan di sektor informal yang sering kali tidak stabil dan tanpa perlindungan.

DTSEN adalah fondasi penting dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia. Dengan data yang lebih akurat dan terintegrasi, pemerintah dapat menyalurkan bantuan lebih tepat sasaran dan mengurangi kemiskinan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Inclusion dan exclusion error diharapkan tidak terjadi lagi. Exclusion error dalam bantuan sosial terjadi ketika orang yang sebenarnya berhak justru tidak menerima bantuan. Untuk mengurangi kesalahan ini, beberapa langkah dapat dilakukan:

1) Perbaikan dan pembaruan data: Data penerima bantuan harus selalu diperbarui dan diverifikasi secara berkala. Pendataan yang akurat mencegah orang miskin tertinggal dari daftar penerima.

2) Pendataan partisipatif: Masyarakat dapat dilibatkan dalam pendataan, sehingga warga setempat bisa mengusulkan siapa yang layak menerima bantuan. Metode ini membantu menemukan penerima yang “tidak terlihat” oleh sistem administratif.

3) Menyiapkan mekanisme pengaduan: Disediakan kanal pengaduan, baik online maupun offline, agar warga yang terlewat dapat melapor. Tindak lanjut yang cepat penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

4) Penyederhanaan syarat administrasi: Banyak orang miskin terlewat karena tidak memiliki dokumen lengkap seperti KTP atau KK. Mempermudah persyaratan dan menyediakan bantuan pembuatan dokumen dapat mengurangi exclusion error.

5) Pemanfaatan teknologi: Penggunaan data digital, sistem berbasis AI, dan integrasi antar-data pemerintah membantu mempercepat identifikasi penerima yang berhak. Namun, verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk mendapatkan akurasi.

6) Perluasan kriteria sementara: Dalam situasi darurat, seperti bencana atau pandemi, kriteria penerima dapat dilonggarkan agar lebih banyak warga rentan menerima bantuan.

7) Monitoring dan evaluasi rutin: Audit data penerima dan evaluasi program secara berkala membantu mengukur tingkat exclusion error dan memperbaiki mekanisme distribusi bantuan. Dengan demikian invisible people dapat terentaskan dan meningkat kesejahteraannya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suparna
Tentang Suparna
@ayobandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mar 2026, 19:25

Syawal dan Makna yang Kita Percaya

Syawal dimaknai sebagai momentum “peningkatan”.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 18:00

Mawas Diri Usai Lebaran dan Catatan Kelam Moralitas Kepala Daerah

Masyarakat sangat kecewa melihat kelakuan para pejabat dan sederet kepala daerah yang tertangkap oleh KPK pada saat bulan suci Ramadan.

Ilustrasi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang terjerat korupsi. (Sumber: prokompim.setda.pekalongankab.go.id)
Beranda 26 Mar 2026, 16:38

Website ISMN Resmi Hadir, Jadi Pusat Informasi dan Kolaborasi Akun Media Sosial Komunitas Nasional

ISMN meluncurkan website sebagai pusat informasi dan kolaborasi akun media sosial komunitas untuk memperkuat jaringan homeless media di seluruh Indonesia.

ISMN Meetup Bandung pada Oktober 2025 yang dihadiri 50 pengelola dan pemilik homeless media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Linimasa 26 Mar 2026, 16:33

ISMN Resmi Luncurkan Website, Satukan Jaringan Media Sosial Se-Indonesia

ISMN meluncurkan website resmi sebagai pusat informasi dan kolaborasi bagi pengelola akun homeless media di seluruh Indonesia.

Portal Indonesia Social Media Network (ISMN)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 15:41

Jalan Mengatasi Invisible People

Invisible people adalah individu atau kelompok yang secara sosial dan ekonomi terpinggirkan.

Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 15:01

Glamping Lake Side Rancabali, Objek Wisata dengan Pelbagai Atraksi Menarik

Glamping Lake Side Rancabali menawarkan pengalaman menginap mewah, restoran kapal pinisi, dan berbagai wahana seru di kawasan Situ Patengan.

Situ Patenggang, Glamping Lake Side Rancabali. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 14:56

Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib.

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 26 Mar 2026, 14:42

Bidik Segmen Eksklusif, 88 Taylor Perkuat Identitas Brand melalui Layanan Batik Custom

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini.

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 12:50

Liburan untuk Rebahan, Sleepcation Jadi Tren Wisata Baru

Sleepcation menjadikan tidur sebagai agenda utama perjalanan. Dari kasur premium hingga aromaterapi, hotel berlomba menciptakan pengalaman liburan yang berfokus pada istirahat.

Ilustrasi Sleepcation (Sumber: Envato)
Beranda 26 Mar 2026, 12:18

10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Data terbaru tahun 2024 mencatat 10 kecamatan di Kota Bandung dengan arus pendatang tertinggi, menunjukkan tingginya migrasi masuk ke kota ini sebagai pusat pendidikan, ekonomi, dan peluang kerja.

Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melakukan pendataan terhadap pemudik yang baru tiba di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 09:47

Akar Sejarah Halalbihalal: Transformasi Tradisi dari Era Walisongo ke Budaya Nasional Indonesia

Walaupun menggunakan istilah Arab dan telah melembaga di Indonesia, tradisi ini tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw.

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)
Beranda 26 Mar 2026, 07:51

Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Kisah urbanisasi dari Garut ke Bandung tergambar dalam Barbershop Sawargi yang telah bertahan lebih dari 70 tahun, menjadi bukti bagaimana perantau membangun kehidupan dan mewariskan usaha.

Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 26 Mar 2026, 07:22

Mushaf Sundawi, Menjaga Kalam dalam Ragam Sunda

Mushaf Sundawi di Pusdai Jawa Barat menjadi warisan budaya Islam yang memadukan seni khas Sunda dengan nilai religius, ditulis tangan selama 14 bulan dan dihiasi emas 24 karat.

Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ikon 25 Mar 2026, 19:53

Sejarah Masjid Salman ITB, Kawah Pergulatan Islam di Jantung Bandung

Lahir di tengah tarik-menarik ideologi 1960-an, Masjid Salman ITB berdiri berkat restu Soekarno dan menjadi simbol hadirnya Islam di jantung kampus teknik.

Masjid Salman ITB
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 18:11

Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Mar 2026, 17:39

Strategi Unik Nasi Tempong Santi Jangkau Pasar Berbeda Lewat Konsep Bisnis Nomaden

Hidangan utama yang disajikan Nasi Tempong Santi dikenal memiliki cita rasa kuat dengan sentuhan bumbu pedas dan beragam pilihan sambal.

Nasi Tempong Santi mengusung konsep hidangan berat untuk memikat atensi pengunjung di tengah gelaran food festival. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:46

Antre Dua Jam Demi Foto Viral di Braga: Seru-Seruan atau Sekadar Ikut Tren?

Fenomena antre panjang demi foto viral di Braga, Kota Bandung.

Foto box koran yang sedang viral di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:18

Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Urbanisasi pasca Lebaran 2026 kian rumit karena kondisi ketenagakerjaan sedang suram.

Ilustrasi urbanisasi pasca lebaran. (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Seni Budaya 25 Mar 2026, 13:31

Dari Sungai Kuantan ke Seluruh Dunia, Sejarah Panjang Tradisi Pacu Jalur

Video Anak Coki viral pada 2025 membawa Pacu Jalur mendunia. Namun tradisi ini telah berakar sejak abad ke-17 di Sungai Kuantan, jauh sebelum era internet.

Festival Pacu Jalur. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 11:47

Mabok Kakaretaan

Dalam setiap perjalanan, kita tak hanya bergerak secara fisik, justru sedang dilatih untuk lebih memahami diri, keluarga, dan kehidupan yang serba cepat.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)