Jalan Mengatasi Invisible People

5 menit baca
Suparna
Ditulis oleh Suparna diterbitkan
Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)
Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah mengibarkan bendera perang untuk melawan kemiskinan, terutama kemiskinan ekstrem. Kemiskinan yang bersifat kronis dan mungkin lebih sulit untuk dientaskan, karena sebagian besar mereka termasuk Invisible people. Mereka juga bisa diibaratkan sebagai ‘kerak kemiskinan’ yang membandel.  

Invisible people adalah individu atau kelompok yang secara sosial dan ekonomi terpinggirkan. Mereka sering kali identitasnya tidak jelas, pekerjaan informal termasuk petani penggarap, atau tanpa akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan memadai. Dengan kondisi terpinggirkan ini membuat mereka tidak memiliki posisi tawar dalam sistem sosial maupun ekonomi.

Ketika sistem sosial dan ekonomi yang ada tidak memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat,  seperti keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak menyebabkan kelompok tertentu sulit meningkatkan taraf hidupnya. Dalam konteks seperti ini, invisible people menjadi korban utama. Mereka tidak hanya miskin, tetapi juga tidak memiliki akses untuk keluar dari kemiskinan tersebut dan diperparah kondisi, karena bantuan sosial tidak menjangkau mereka (exclusion error). Dalam konteks bantuan sosial berarti orang bersangkutan sebenarnya berhak menerima, tetapi justru tidak mendapatkan bantuan tersebut. Ketidakterlihatan dalam sistem membuat kelompok tersebut tidak mendapatkan akses terhadap sumber daya, sementara struktur yang tidak adil masih mempertahankan kondisi tersebut. 

Untuk lebih memahami invisible people ini, dapat dibaca dari sudut pandang the last, the least, the lowest, and the loss. Mereka yang termasuk the last adalah kelompok yang selalu berada di urutan paling belakang dalam menikmati hasil pembangunan. Akses terhadap pendidikan bermutu, layanan kesehatan, infrastruktur dasar, dan perlindungan sosial sering kali datang terlambat atau bahkan tidak pernah sampai. Kelompok the least menggambarkan mereka yang memiliki sangat sedikit, baik dari sisi aset, pendapatan, maupun kesempatan. Kekurangan yang dialami tidak hanya bersifat material, tetapi juga sosial, berupa lemahnya jaringan, minimnya keterampilan, dan terbatasnya mobilitas ekonomi. The lowest merujuk pada mereka yang berada di lapisan sosial ekonomi paling bawah dan kerap luput dari jangkauan kebijakan karena mereka tidak berani bersuara. Sementara itu, the loss menggambarkan dimensi kehilangan yang lebih dalam, kehilangan rasa aman, jaminan sosial, dan harapan untuk keluar dari kemiskinan. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan eksternal, mulai dari fluktuasi harga pangan hingga perubahan iklim.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih inklusif, data yang akurat, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan tersebut, agar mereka dapat “terlihat” dan memperoleh hak yang setara dalam pembangunan. Saat ini,  tinggal tersisa empat tahun masa pemerintahan agar kemiskinan ekstrem yang ditargetkan nihil di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan ekstrem di Indonesia masih terdapat 0,85% dari total populasi atau sekitar 2,38 juta jiwa pada Maret 2025. Pemerintah telah membuat acuan untuk mengikis penduduk kategori miskin ekstrem, Presiden Prabowo telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Pendekatan inklusif, sinergi, dan kolaboratif pentahelix diharapkan diterapkan dengan melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat sipil, serta media di setiap daerah.

Kebijakan berdasarkan data

Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Data yang akurat sangat diperlukan dalam pengambilan kebijakan dan implementasi program pembangunan. DTSEN (Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional) adalah sistem basis data terpadu yang dapat digunakan pemerintah Indonesia untuk mendukung program perlindungan sosial dan pengentasan kemiskinan. Adapun tujuan DTSEN adalah bisa menargetkan bantuan sosial secara akurat, mengurangi kesalahan data (inclusion & exclusion error), mengintegrasikan data antar kementerian/lembaga yang ada, serta mendukung kebijakan pengentasan kemiskinan yang berbasis data. Dengan DTSEN, pemerintah bisa memastikan bahwa yang miskin (termasuk yang invisible people)benar-benar menerima bantuan, sementara yang mampu tidak lagi menerima bantuan.

Hasil Survei Ekonomi Pertanian 2024 yang dilakukan BPS memberi gambaran yang relevan masih adanya invisible people. Hampir separuh rumah tangga pertanian menyatakan pendapatan usahanya belum cukup atau sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekitar 46% lainnya menilai pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan dasar, tanpa ruang untuk menabung atau berinvestasi pada pendidikan dan kesehatan. Masalah struktural lain yang menonjol adalah penguasaan lahan. Sekitar 60% petani di Indonesia merupakan petani kecil dengan luas lahan kurang dari setengah hektare. Skala usaha yang sempit membatasi potensi pendapatan dan meningkatkan kerentanan terhadap kenaikan biaya input, volatilitas harga, serta risiko iklim. Dalam banyak kasus, pendapatan dari usaha tani hanya menjadi salah satu sumber nafkah, sehingga rumah tangga petani harus mencari pekerjaan tambahan di sektor informal yang sering kali tidak stabil dan tanpa perlindungan.

DTSEN adalah fondasi penting dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia. Dengan data yang lebih akurat dan terintegrasi, pemerintah dapat menyalurkan bantuan lebih tepat sasaran dan mengurangi kemiskinan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Inclusion dan exclusion error diharapkan tidak terjadi lagi. Exclusion error dalam bantuan sosial terjadi ketika orang yang sebenarnya berhak justru tidak menerima bantuan. Untuk mengurangi kesalahan ini, beberapa langkah dapat dilakukan:

1) Perbaikan dan pembaruan data: Data penerima bantuan harus selalu diperbarui dan diverifikasi secara berkala. Pendataan yang akurat mencegah orang miskin tertinggal dari daftar penerima.

2) Pendataan partisipatif: Masyarakat dapat dilibatkan dalam pendataan, sehingga warga setempat bisa mengusulkan siapa yang layak menerima bantuan. Metode ini membantu menemukan penerima yang “tidak terlihat” oleh sistem administratif.

3) Menyiapkan mekanisme pengaduan: Disediakan kanal pengaduan, baik online maupun offline, agar warga yang terlewat dapat melapor. Tindak lanjut yang cepat penting untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

4) Penyederhanaan syarat administrasi: Banyak orang miskin terlewat karena tidak memiliki dokumen lengkap seperti KTP atau KK. Mempermudah persyaratan dan menyediakan bantuan pembuatan dokumen dapat mengurangi exclusion error.

5) Pemanfaatan teknologi: Penggunaan data digital, sistem berbasis AI, dan integrasi antar-data pemerintah membantu mempercepat identifikasi penerima yang berhak. Namun, verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk mendapatkan akurasi.

6) Perluasan kriteria sementara: Dalam situasi darurat, seperti bencana atau pandemi, kriteria penerima dapat dilonggarkan agar lebih banyak warga rentan menerima bantuan.

7) Monitoring dan evaluasi rutin: Audit data penerima dan evaluasi program secara berkala membantu mengukur tingkat exclusion error dan memperbaiki mekanisme distribusi bantuan. Dengan demikian invisible people dapat terentaskan dan meningkat kesejahteraannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suparna
Tentang Suparna
@ayobandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)