Mawas Diri Usai Lebaran dan Catatan Kelam Moralitas Kepala Daerah

Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang terjerat korupsi. (Sumber: prokompim.setda.pekalongankab.go.id)

Ilustrasi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang terjerat korupsi. (Sumber: prokompim.setda.pekalongankab.go.id)

Baru saja bulan Ramadan dan Lebaran meninggalkan kita semua. Nilai dan spirit Ramadan dan Idul Fitri mestinya bisa memperbaiki kualitas diri. Juga para penyelenggara negara. Namun, kali ini masyarakat sangat prihatin bahkan kecewa sekali melihat kelakuan para pejabat dan sederet kepala daerah yang tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru pada saat bulan suci Ramadan.

Catatan kelam moralitas kepala daerah yang terjadi pada bulan Ramadan harus menjadikan segenap bangsa mawas diri terkait dengan kejahatan luar biasa yang bertajuk korupsi. Sungguh keterlaluan para kepala daerah semakin keranjingan korupsi. Padahal mereka sudah ditatar di Lembah Tidar berseragam loreng dengan berbagai materi dan kedisiplinan ala militer.

Tercatat ada tiga kepala daerah yang dicokok KPK saat bulan suci Ramadan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Mereka adalah Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari beserta wakilnya, Hendri Praja dan Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman.

Belajar Totalitas Kerja dari Tiongkok

Semakin banyak kepala daerah yang tidak memiliki totalitas kerja dalam membenahi persoalan di daerahnya. Apalagi pemerintah pusat telah memangkas beberapa pos anggaran yang selama ini merupakan sasaran empuk untuk KKN.

Negeri ini belum memiliki filosofi yang kokoh tentang totalitas kerja para penyelenggara negara khususnya kepala daerah. Dengan mata telanjang rakyat telah melihat pejabat pemerintah pusat dan daerah selama ini terlalu sibuk dengan urusan lain diluar tugas utamanya. Selain itu juga banyak yang terjerumus kedalam gaya kepemimpinan selebritas. Gaya kepemimpinan semacam itu akan kesulitan merumuskan realitas yang sejati dan lemah dalam hal kerja detail.

Rakyat merasakan selama ini gaya kepemimpinan pusat hingga sebagian besar kepala daerah masih bersifat mediokrasi. Yakni kondisi manajemen pemerintahan yang setengah-setengah, ragu-ragu, dan kurang ada totalitas. Sifat mediokrasi pejabat negara yang serba ragu-ragu dan berputar-putar dalam lingkaran yang sempit. Dalam pergaulan bangsa-bangsa kita bisa melihat gaya kepemimpinan sebuah bangsa yang sangat progresif dalam meraih kemajuan. Contohnya adalah gaya kepemimpinan di Tiongkok. Yang pada era 90-an Tiongkok masih tergolong miskin dengan produk domestik bruto per kapita masih dibawah seribu dollar AS. Kini,Tiongkok telah menjadi bangsa yang kuat dan sangat berpengaruh dalam dinamika perekonomian dunia. Kejayaan Tiongkok terwujud karena adanya totalitas kerja pemerintahan dari segala lini. 

KPK memang harus mulai mengungkap kasus korupsi yang sudah lama bersembunyi, korupsi juga sudah turun temurun. Maka dari itu kita harus memutus adat seperti itu juga membangun Indonesia menjadi generasi emas. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
KPK memang harus mulai mengungkap kasus korupsi yang sudah lama bersembunyi, korupsi juga sudah turun temurun. Maka dari itu kita harus memutus adat seperti itu juga membangun Indonesia menjadi generasi emas. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Landasan dan filosofi tentang totalitas kerja bagi pejabat di Tiongkok telah dirumuskan oleh Deng Xiaoping. Hal itu bisa kita cermati dalam sebuah buku yang berjudul “Deng Xiaoping and the Transformation of China”, Karya Erra F Vogel, Profesor Social Sciences Emeritus dari Harvard yang sebelumnya Direktur Center for East Asian Research and Asia Center.

Buku tersebut juga menggambarkan perjalanan Deng Xiaoping sejak era revolusi dan tantangan yang dihadapi Deng ketika melakukan transformasi Tiongkok dari “One Country with Communism as a Single Systems and Ideology” menjadi “One Country Two Systems”. Dimana prinsip kapitalisme bisa berjalan seiring dengan sosialisme. Para pengganti Deng yakni Jiang Zemin bersama Li Peng dan Yang Shankun semakin meneguhkan filosofi totalitas kerja para pejabat Tiongkok hingga kader partai di tingkat desa. Waktu membuktikan bahwa tiga sosok pengganti Deng merupakan trio pemimpin yang mampu membawa Tiongkok ke arah transformasi ekonomi yang luar biasa. Pertumbuhan ekonomi dua digit dapat terjadi secara berkesinambungan di Tiongkok. Buah dari filosofi totalitas kerja yang telah dirumuskan oleh Deng maka Tiongkok kini bisa berdansa dengan perubahan zaman di tengah perubahan lingkungan strategis dan perubahan peta geopolitik dunia.

Hapus Staf Ahli Kepala Daerah

 Rakyat semakin prihatin melihat modus kerja sambilan dan rangkap jabatan yang banyak dilakukan oleh pejabat pemerintah pusat dan daerah. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti ini betapa pentingnya perlu kerja detail seorang pejabat. 

Kinerja pejabat hendaknya jangan tergantung kepada staf ahli. Selama ini kantor Gubernur, Bupati/Walikota penuh sesak dengan staf ahli resmi maupun staf ahli jadi-jadian. Mestinya pejabat negara tidak perlu dikerubuti oleh staf ahli. Karena pada era digitalisasi dan disrupsi inovasi sekarang ini dirinya bisa mengakses dan mengolah data dan informasi secara cerdas dan realtime. Juga bisa memberikan directive secara cepat dan detail dengan berbagai platform digital kepada struktur dinas yang terkait. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi yang bisa membantu pengambilan keputusan secara andal.

Totalitas kerja pemerintahan sebenarnya sangat terbantu dengan aplikasi dan platform digital yang berkembang pesat pada saat ini.

Sederet staf ahli yang kebanyakan diambil dari kroni partainya justru akan menimbulkan konflik kepentingan dan menimbulkan modus korupsi anggaran. Staf ahli pejabat selama ini dibentuk dengan job deskripsi yang kurang signifikan dan mengada-ada. Efektivitas pemerintahan sering terjerat oleh sepak terjang staf ahli di sekitar pejabat yang notabene adalah kaki tangan partai politik pendukungnya. Sungguh ironis, jika banyak pejabat yang gemar menangani persoalan di rumahnya dengan staf ahlinya. Apalagi, kompetensi dan integritas staf ahli itu kurang memadai dan tampak sektarian. Padahal, sejarah telah menunjukkan bahwa para pemimpin pemerintahan maupun korporasi senantiasa mengoptimalkan peran staf struktural sepanjang waktu. Hal itu untuk mengakselerasikan kebijakannya sehingga melahirkan energi kolektif yang baik. Mestinya staf struktural pejabat pemerintah daerah difungsikan lebih optimal sehingga terwujud efektivitas pemerintahan yang ditunjang oleh expert system yang andal.

Lingkaran Setan Serapan APBD

Kenapa pendapatan dan/atau belanja pemerintah daerah (Pemda) tetap rendah dan sarat masalah ? Hal ini tidak mengherankan lagi bagi publik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini pos anggaran banyak yang digelembungkan bahkan ada beberapa yang terindikasi fiktif. Dengan adanya Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Pemda yang dilakukan secara elektronik, maka penggelembungan dan modus penyelewengan yang lain menjadi sulit dilakukan.

Proses penyusunan dan masalah serapan APBD yang rendah serta penggunaannya cenderung di akhir tahun merupakan lingkaran setan yang sulit diatasi. Sebenarnya rendahnya serapan APBD pengaruhnya tidak terlalu besar bagi publik, karena sebagian besar anggaran untuk belanja rutin pegawai dan pengadaan barang kantor dan biaya pemeliharaan. Termasuk pemeliharaan mobil dinas, rumah dinas, dan sejenisnya. Porsi APBD untuk rakyat jumlahnya kecil.

Baca Juga: Jalan Mengatasi Invisible People

Realisasi pendapatan daerah khususnya pendapatan asli daerah (PAD) yang rendah karena buruknya manajemen aset daerah yang selama ini belum dikelola dengan baik. Bahkan aset daerah seperti tanah dan properti justru dibiarkan menganggur begitu saja. Atau disewakan informal alias di bawah tangan kepada pihak swasta tanpa memperhatikan prinsip bisnis atau usaha yang wajar. Selain itu masih banyak aset pemda seperti tanah yang belum memiliki sertifikat sehingga mudah diserobot pihak lain. Manajemen aset daerah yang masih buruk diperparah lagi dengan sistem pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU), dan pajak lainnya yang menjadi hak pemda, namun belum dikelola dengan baik. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)