Lingkar Bisnis Mas Aksan

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Dari usaha batikan itulah H. Mas Aksan menjadi saudagar batikan yang terpandang di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Dari usaha batikan itulah H. Mas Aksan menjadi saudagar batikan yang terpandang di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Saudagar batikan yang sudah mapan di Kota Bandung yang dicatat dalam Buku Peringatan Perkumpulan Himpunan Sudara tahun 1906-1936, di antaranya: Haji Pahruroji, Haji Ijaji, Haji Idris, Haji Aksan, Haji Suja, Haji Abdulrachman, Haji Ajub, Masduki, H. Usman, Parta, Madrais, Haji Paqih, Haji Umar, Haji Sobandi, Wiriaatmaja, Haji Maksudi, Haji Sueb, Haji Bukri, Haji Soleh Katam, Haji Sarip, Sumarta, dan M Radi.

Pada tahun 1906, ketika para saudagar batikan di atas sudah mapan, sementara para pengusaha muda yang merintis berdagang batikan masih kekurangan modal setiap akan berbelanja. Itulah yang mendasari pendirian persekutuan, agar para anggotanya mudah mendapatkan modal usaha. Kepada para anggotanya diwajibkan menyimpan uang setiap bulannya. Persekutuan itu diberi nama Vereeniging Himpunan Sudara. Persekutuan ini didirikan pada tanggal 18 April 1906 di Bandung, sebagai perkumpulan simpan-pinjam. Awalnya bertujuan membantu permodalan pedagang pribumi, perhimpunan ini berkembang menjadi bank komersial, yang disahkan dengan badan hukum pada tanggal 4 Oktober 1913.

Buku Peringatan itu pun menulis tentang usaha batikan sekitar tahun 1913-1914 yang terus meningkat dengan pesat. Ada beberapa faktor yang mendukung kepesatan usaha tersebut, di antaranya: Terjalinnya saling percaya antara saudagar batik dari Bandung dan pengusaha batik di Mataram (Yogyakarta), Solo, Pekalongan, dan Kaliwungu. Semula para pembeli batik harus datang sendiri, dan pembayarannya harus tunai pada saat membawa barang. Perubahan terjadi mulai tahun 1913-1914. Pembayaran dapat ditangguhkan, dilakukan ketika mengambil barang untuk pembelian berikutnya. Cara penjualan batik seperti ini telah meningkatkan jumlah batik yang dibuat, karena meningkatnya jumlah pesanan batik. Peningkatan transaksi ini secara nyata telah meningkatkan pendapatan, baik bagi pengusaha batik maupun saudagar batikan di Bandung.

Perdagangan batik di Bandung menjadi bertambah pesat, dengan biaya yang lebih efisien, terutama setelah tahun 1914. Saudagar batik Bandung, baru akan pergi ke tempat pembuatan batik di Yogyakarta, Solo, dan tempat lainnya, bila benar-benar sangat penting dan mendesak. Hal ini tidak dilakukan sebelumnya. Saudagar batik harus pergi untuk berbelanja setiap bulan. Kemajuan yang efisien ini karena pembayaran uang pembelian batik dapat dikirim ke pengusaha batik di Yogyakarta dan di Solo, dengan cara menyetorkan uang pembelian batik itu kepada Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij (NIEM). Bank Escompto, merupakan bank dagang Belanda yang membuka kantor di Jakarta, dan membuka cabang di Bandung. Bank ini melayani jasa perbankan umum, khususnya pembiayaan perdagangan.

Setelah pengiriman uang melalui jasa perbankan, pengiriman batik pesanan dari Yogyakarta dan Solo dapat dilakukan dengan SS (staatsspoorwegen), perusahaan kereta api negara milik Pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Peran keretaapi dalam usaha batikan di Bandung sangat besar, sehingga kota ini menjadi pusat perdagangan. Saudagar batikan dari daerah-daerah, terutama yang terhubung jalur keretaapi, seperti dari Bogor, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Garut, Tasikmalaja, Ciamis, Cirebon, Karawang, dll, berdatangan ke kota Bandung untuk berbelanja batikan. Keadaan perdagangan batikan semakin ramai dengan pembukaan jalur-jalur kereta api ke kota-kota di seputar Cekungan Bandung, seperti ke Majalaya, Ciparay, Baleendah, Soreang, Ciwidey, Tanjungsari.

Dari usaha batikan itulah H Mas Aksan menjadi saudagar batikan yang terpandang di Kota Bandung.  

Iklim usaha batikan di Kota Bandung saat itu memungkinkan saudagarnya menjadi maju. Naluri bisnis H Mas Aksan terus berputar, pada saat kota Bandung dipersiapkan menjadi ibu kota Hindia Belanda, ketika gedung-gedung pemerintahan dan tentara banyak didirikan.

Bangunan gedung memerlukan banyak bata merah dan bahan untuk adukannya. Pada saat itu adukan tembok terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: pasir, kapur bakar, dan tanah bakar halus. H Mas Aksan menjadi pemasok bata merah, kapur bakar, tanah bakar halus, dan tegel. 

Melihat kecenderungan itu H Mas Aksan mendirikan perusahaan lio, pembuat bata merah di Dunguscariang. Di Tagog Apu, Padalarang, bersama kolega bisnisnya Ang Sioe Tjiang (directeur), H Mas Aksan (administrateur) mengumumkan tentang perusahaan pembakaran batukapur (NV Kalkbranderij) (De Preanger-bode, 17-09-1912). Ia pun mengelola perkebunan karet di Purwakarta. Pohon karet yang sudah habis masa sadapnya, akan ditebang, dan kayunya menjadi kayu bakar yang bagus untuk pembakaran batu kapur dan pembakaran bata merah. Untuk pemasaran semua bahan untuk membuat bangunan gedung, H Mas Aksan mendirikan toko material atau toko bahan bangunan (Soerat kabar Padjadjaran, 18-1-1919), seperti: bata merah, kapur bakar, pasir, balok kayu jati, atap, tegel, dll. 

Karena tegel untuk lantai banyak digunakan dalam bangunan gedung, maka ia pun memproduksi tegel (cement), yang menghasilkan tegel polos dan tegel dengan motif berwarna (Soerat kabar Padjadjaran, 2 Februari 1920). Bahan untuk pembuatan tegel terdiri dari pasir, kapur bakar, tanah bakar halus, dan pewarna semen.

Toko bahan bangunannya menjadi pemasok dalam pembuatan gedong yang dibuat oleh warga kota, dan memasok untuk pembuatan gedung pemerintahan.

Inilah yang mendasari sawahnya digali, dan tanahnya dijadikan bahan untuk membuat bata merah. Sawah yang digali menjadi cekung, lebih dalam dari persawahan di sekitarnya. Lahan cekung inilah yang direklamasi, diisi air yang disalurkan dari Sungai Leuwilimus. Setelah tergenang, menjelmalah menjadi situ yang kemudian ditanami ikan. Dalam tempo singkat, situ tersebut menjadi populer di kalangan pemancing, jadilah situ pemancingan. Saking terkenalnya, perkampungan yang tumbuh di sekitar situ, kemudian menamai permukimannya Kampung Situ Aksan, seperti banyak diberitakan (The Courier, 1 Juli 1927). Situ Aksan kemudian dikelola menjadi taman di barat kota, menjadi destinasi wisata Situ Aksan. 

Baca Juga: Menyisir Kenangan Lama di Sawargi, Barbershop Zaman Kemerdekaan yang Tak Lekang oleh Waktu

Pada tahun 1939-1940, kawasan Situ Aksan dikelola menjadi kawasan terpadu. Selain revitalisasi situnya, juga dibangun komplek perumahan bergaya taman villa (Mooi Bandoeng, volume 7 nomor 3, yang terbit 3 Januari 1939).  

Setelah kawasan terpadu itu berjalan sekitar dua tahun, H Mas Aksan wafat pada tanggal 15 Desember 1941 (dalam nisan makam Mas Aksan di Pemakaman Sirnaraga, Kota Bandung). Generasi perintis sudah berpulang. Situ Aksan kemudian dikelola oleh generasi kedua, generasi pewaris.

Pada tahun 1947 sudah terbaca ada iklan perayaan Petjoen di Westerpark (Situ Aksan) selama tiga hari, 21 sd 23 Juni 1947 (Algemeen Indisch dagblad, 20-06-1947). Dalam iklan itu sudah ditulis tempat pembelian karcis di Sin Ming Hui Jl Braga. Situ Aksan mencapai puncak popularitasnya ketika dikelola oleh Sin Ming Hui pada tahun 1950-an. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)