Menyisir Kenangan Lama di Sawargi, Barbershop Zaman Kemerdekaan yang Tak Lekang oleh Waktu

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Alat cukur yang masih digunakan di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Alat cukur yang masih digunakan di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Dinding dengan cat yang mengelupas, kursi tua berlapis kulit cokelat yang mulai sobek, serta cermin besar yang memantulkan interior lawas memenuhi ruang di dalam bangunan ini. Di Barbershop Sawargi, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi kisah-kisah lama untuk tetap hidup.

Kursi besi dengan desain klasik masih berdiri kokoh, meskipun tanda-tanda keusangan tampak di setiap bagiannya. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kursi tua. Namun bagi Sawargi, kursi tersebut adalah saksi sejarah yang tak tergantikan.

“Kalau kursi ini sudah tidak diproduksi lagi di dunia, pabriknya sudah tidak ada,” kata pemilik Barbershop Sawargi, Risyad Erawan Harjani (50), sambil menunjuk kursi tua di barbershop miliknya.

Kursi-kursi tua yang masih digunakan hingga kini menjadi simbol ketahanan usaha Barbershop Sawargi di tengah perubahan zaman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi-kursi tua yang masih digunakan hingga kini menjadi simbol ketahanan usaha Barbershop Sawargi di tengah perubahan zaman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi tua di ruang tunggu Barbershop Sawargi menjadi saksi bisu pertemuan dan percakapan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi tua di ruang tunggu Barbershop Sawargi menjadi saksi bisu pertemuan dan percakapan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Daftar tarif cukur di selembar kertas karton terpajang di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Daftar tarif cukur di selembar kertas karton terpajang di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Mempertahankan yang Tak Tergantikan

Sejak berdiri di tahun 1949, Sawargi memilih untuk tetap mempertahankan bentuknya. Bukan karena tidak berkembang, melainkan karena ada nilai yang ingin dijaga, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh konsep modern.

“Menurut saya sih sesuatu yang klasik itu nggak akan pernah mati,” ucap Risyad yang akrab disapa Icad.

Ia meyakini bahwa nilai sejarah menjadi identitas utama yang justru membuat tempat ini tetap bertahan di tengah menjamurnya barbershop modern.

Di sudut ruangan, terdapat wastafel tua yang menjadi salah satu bagian paling istimewa di Barbershop Sawargi. Di tengah tren kursi keramas modern, pelanggan di sini justru lebih menyukai cara lama, yaitu keramas di wastafel.

“Saya sudah beli kursi keramas rambut yang modern. Tapi ternyata customer-nya nggak mau. Pengennya di wastafel,” kata Icad sambil tertawa.

Keunikan ini menjadi ciri khas tersendiri. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan, sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah terbiasa.

Di dekat kasir, terdapat sebuah lonceng kecil di atas meja kayu dengan cat yang mulai pudar. Lonceng ini menjadi penanda antara ruang cukur dan kasir. Setiap kali selesai mencukur, lonceng dibunyikan sebagai tanda kasir dipanggil.

“Kalau sudah dicukur, nanti dibunyikan lonceng, kasir datang,” kata Icad.

Proses pembayaran pun masih menggunakan sistem koin yang telah diterapkan sejak lama. Setiap pelanggan dihitung menggunakan koin, yang kemudian dijumlahkan sebagai dasar pembagian hasil untuk para barberman.

“Itu dari dulu begitu, supaya mereka juga ikut merasa memiliki,” tambahnya.

Lonceng kecil di Barbershop Sawargi masih digunakan hingga kini sebagai penanda pelanggan selesai dicukur dan kasir dipanggil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lonceng kecil di Barbershop Sawargi masih digunakan hingga kini sebagai penanda pelanggan selesai dicukur dan kasir dipanggil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perjalanan Panjang Seorang Tukang Cukur

Di balik kursi-kursi tua itu, ada tangan-tangan yang telah bekerja selama puluhan tahun. Salah satunya Arifin (60), barberman yang telah menekuni profesi ini sejak 1984, jauh sebelum bergabung dengan Sawargi pada 1995.

“Dari tahun ‘84, pertama kerja di tukang cukur, bahkan sempat di bawah pohon rindang,” ujar Arifin.

Perjalanannya tidak singkat. Ia sempat berpindah dari Jakarta ke Depok, sebelum akhirnya menetap di Bandung dan menjadi bagian dari Sawargi.

Selama puluhan tahun berprofesi, Arifin menyaksikan berbagai perubahan di dunia barbershop. Dari alat sederhana hingga teknologi modern, semuanya berkembang, kecuali di tempatnya bekerja sekarang.

Arifin salah satu saksi hidup perjalanan panjang Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Arifin salah satu saksi hidup perjalanan panjang Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia mengakui bahwa keterbatasan alat kadang menjadi tantangan. Namun di sisi lain, hal itu justru menjaga keaslian cara kerja Sawargi.

Dahulu, Sawargi mampu melayani puluhan pelanggan setiap hari dengan antrean panjang dari pagi hingga sore. Kini, jumlahnya tidak sebanyak dulu, meskipun pelanggan setia tetap datang.

“Dulu mah antre terus, dari pagi sampai sore,” kata Arifin.

Sebagian besar pelanggan saat ini adalah mereka yang sudah berusia dewasa hingga lanjut usia, bahkan generasi kedua atau ketiga dari pelanggan sebelumnya.

Bagi Sawargi, mencukur rambut bukan sekadar teknik. Ada hubungan yang terjalin, percakapan yang mengalir, dan kedekatan yang tidak bisa digantikan.

“Orang itu lebih nyaman ketika dia dicukur, kenal sama tukang cukurnya, ngobrol,” ucap Icad.

Nilai itulah yang membuat pelanggan terus kembali, bukan hanya karena hasil potongan, tetapi juga pengalaman yang dirasakan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, Sawargi memilih berjalan dengan caranya sendiri. Tidak mengejar tren, tetapi menjaga apa yang sudah ada.

“Value ini akan saya pertahankan sampai kapanpun,” tutup Icad.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 15:59

Curug Panetean Tasikmalaya, Surga Tersembunyi dengan Leuwi Jernih

Temukan pesona Curug Panetean yang terkenal dengan kolam batu alami, air sejernih kaca, dan pengalaman berendam di tengah alam.

Curug Panetean Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @r_dony26)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 15:27

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (bagian 1)

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak menjelang proklamasi kemerdekaan pada 1945 di Kota Bandung.

Menjelang masa agresi militer di Bandung 1945- 1946. (Sumber: Album Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 14:43

Pabrik Boleh Berpindah, tetapi Kehidupan Buruh Tidak Semudah Itu Dipindahkan

Kala terjadi PHK, opsi untuk beralih profesi tidak selalu terbuka luas. Ini membuat ketergantungan pada industri garmen semakin kuat, sekaligus mempersempit ruang negosiasi buruh.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Agu 2026, 11:40

Jelajah Cigondewah, Pusat Perdagangan Kain Kerakyatan di Bandung

Cigondewah menjadi pusat kain di Bandung sejak 1980-an. Ketahui sejarah, daya tarik, dan perkembangan bisnis tekstilnya.

Cigondewah Bandung, pusat belanja kain eceran hingga grosir yang legendaris. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 11:26

Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 08:33

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 2): Kesegaran Tradisi dan Kekayaan Cita Rasa

Berikut adalah 5 hidangan berikutnya dari daftar 10 kuliner Jawa Barat terbaik versi Taste Atlas.

Karedok (salad sunda) di Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)