Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Menyisir Kenangan Lama di Sawargi, Barbershop Zaman Kemerdekaan yang Tak Lekang oleh Waktu

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 27 Mar 2026, 08:14 WIB
Alat cukur yang masih digunakan di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Alat cukur yang masih digunakan di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Dinding dengan cat yang mengelupas, kursi tua berlapis kulit cokelat yang mulai sobek, serta cermin besar yang memantulkan interior lawas memenuhi ruang di dalam bangunan ini. Di Barbershop Sawargi, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi kisah-kisah lama untuk tetap hidup.

Kursi besi dengan desain klasik masih berdiri kokoh, meskipun tanda-tanda keusangan tampak di setiap bagiannya. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya kursi tua. Namun bagi Sawargi, kursi tersebut adalah saksi sejarah yang tak tergantikan.

“Kalau kursi ini sudah tidak diproduksi lagi di dunia, pabriknya sudah tidak ada,” kata pemilik Barbershop Sawargi, Risyad Erawan Harjani (50), sambil menunjuk kursi tua di barbershop miliknya.

Kursi-kursi tua yang masih digunakan hingga kini menjadi simbol ketahanan usaha Barbershop Sawargi di tengah perubahan zaman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi-kursi tua yang masih digunakan hingga kini menjadi simbol ketahanan usaha Barbershop Sawargi di tengah perubahan zaman. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi tua di ruang tunggu Barbershop Sawargi menjadi saksi bisu pertemuan dan percakapan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kursi tua di ruang tunggu Barbershop Sawargi menjadi saksi bisu pertemuan dan percakapan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Daftar tarif cukur di selembar kertas karton terpajang di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Daftar tarif cukur di selembar kertas karton terpajang di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Mempertahankan yang Tak Tergantikan

Sejak berdiri di tahun 1949, Sawargi memilih untuk tetap mempertahankan bentuknya. Bukan karena tidak berkembang, melainkan karena ada nilai yang ingin dijaga, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh konsep modern.

“Menurut saya sih sesuatu yang klasik itu nggak akan pernah mati,” ucap Risyad yang akrab disapa Icad.

Ia meyakini bahwa nilai sejarah menjadi identitas utama yang justru membuat tempat ini tetap bertahan di tengah menjamurnya barbershop modern.

Di sudut ruangan, terdapat wastafel tua yang menjadi salah satu bagian paling istimewa di Barbershop Sawargi. Di tengah tren kursi keramas modern, pelanggan di sini justru lebih menyukai cara lama, yaitu keramas di wastafel.

“Saya sudah beli kursi keramas rambut yang modern. Tapi ternyata customer-nya nggak mau. Pengennya di wastafel,” kata Icad sambil tertawa.

Keunikan ini menjadi ciri khas tersendiri. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan, sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah terbiasa.

Di dekat kasir, terdapat sebuah lonceng kecil di atas meja kayu dengan cat yang mulai pudar. Lonceng ini menjadi penanda antara ruang cukur dan kasir. Setiap kali selesai mencukur, lonceng dibunyikan sebagai tanda kasir dipanggil.

“Kalau sudah dicukur, nanti dibunyikan lonceng, kasir datang,” kata Icad.

Proses pembayaran pun masih menggunakan sistem koin yang telah diterapkan sejak lama. Setiap pelanggan dihitung menggunakan koin, yang kemudian dijumlahkan sebagai dasar pembagian hasil untuk para barberman.

“Itu dari dulu begitu, supaya mereka juga ikut merasa memiliki,” tambahnya.

Lonceng kecil di Barbershop Sawargi masih digunakan hingga kini sebagai penanda pelanggan selesai dicukur dan kasir dipanggil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lonceng kecil di Barbershop Sawargi masih digunakan hingga kini sebagai penanda pelanggan selesai dicukur dan kasir dipanggil. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perjalanan Panjang Seorang Tukang Cukur

Di balik kursi-kursi tua itu, ada tangan-tangan yang telah bekerja selama puluhan tahun. Salah satunya Arifin (60), barberman yang telah menekuni profesi ini sejak 1984, jauh sebelum bergabung dengan Sawargi pada 1995.

“Dari tahun ‘84, pertama kerja di tukang cukur, bahkan sempat di bawah pohon rindang,” ujar Arifin.

Perjalanannya tidak singkat. Ia sempat berpindah dari Jakarta ke Depok, sebelum akhirnya menetap di Bandung dan menjadi bagian dari Sawargi.

Selama puluhan tahun berprofesi, Arifin menyaksikan berbagai perubahan di dunia barbershop. Dari alat sederhana hingga teknologi modern, semuanya berkembang, kecuali di tempatnya bekerja sekarang.

Arifin salah satu saksi hidup perjalanan panjang Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Arifin salah satu saksi hidup perjalanan panjang Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia mengakui bahwa keterbatasan alat kadang menjadi tantangan. Namun di sisi lain, hal itu justru menjaga keaslian cara kerja Sawargi.

Dahulu, Sawargi mampu melayani puluhan pelanggan setiap hari dengan antrean panjang dari pagi hingga sore. Kini, jumlahnya tidak sebanyak dulu, meskipun pelanggan setia tetap datang.

“Dulu mah antre terus, dari pagi sampai sore,” kata Arifin.

Sebagian besar pelanggan saat ini adalah mereka yang sudah berusia dewasa hingga lanjut usia, bahkan generasi kedua atau ketiga dari pelanggan sebelumnya.

Bagi Sawargi, mencukur rambut bukan sekadar teknik. Ada hubungan yang terjalin, percakapan yang mengalir, dan kedekatan yang tidak bisa digantikan.

“Orang itu lebih nyaman ketika dia dicukur, kenal sama tukang cukurnya, ngobrol,” ucap Icad.

Nilai itulah yang membuat pelanggan terus kembali, bukan hanya karena hasil potongan, tetapi juga pengalaman yang dirasakan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, Sawargi memilih berjalan dengan caranya sendiri. Tidak mengejar tren, tetapi menjaga apa yang sudah ada.

“Value ini akan saya pertahankan sampai kapanpun,” tutup Icad.

News Update

Ayo Netizen 27 Mar 2026, 22:02

Jejak Bahasa, Dakwah, dan Tradisi Lebaran di Jawa dalam Kata ‘Ketupat

Sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”—mengakui kesalahan?

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 18:01

Mengenang Sambas Mangundikarta, Penyiar RRI–TVRI dan Pencipta Lagu Manuk Dadali

Nama Sambas Mangundikarta tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung.

Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ikon 27 Mar 2026, 17:33

Sejarah Salak Pondoh, Buah Ikon Jogja dari Empat Biji Pemberian

Salak pondoh yang kini menjadi ikon pertanian Sleman berawal dari empat biji yang ditanam di lereng Merapi sekitar 1917. Dari kebun kecil desa, buah ini berkembang menjadi komoditas besar.

Ilustrasi salak Pondoh.
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 16:27

Lebaran Telah Usai, Keselamatan Kerja Industri Distribusi BBM Tidak Boleh Kendor

Musim pancaroba menyebabkan temperatur ekstrim, ancaman puting beliung dan sambaran petir setiap saat mengancam aktivitas industri distribusi BBM.

Ilustrasi kasus kebakaran akibat kecelakaan kerja pada industri distribusi BBM (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 14:48

Anno Horribilis: Cegah Gangguan Jantung Akibat Stress Kerja

Ternyata stress akibat kerja bisa menyebabkan gangguan jantung dan sakit jiwa.

Iliustrasi gangguan jantung akibat stress kerja. (Sumber: Pexels | Foto: freestocks.org)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 14:30

Mencegah Praktik Kotor Rekrutmen Pekerja Perempuan Pascalebaran

Calon pekerja perempuan rentan terhadap kasus kekerasan, penipuan dan pelecehan

Ilustrasi pekerja perempuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 12:45

Arus Mudik-Balik Lebaran 2026 dan Ujian Transportasi Bandung

Arus mudik Lebaran 2026 picu kemacetan di Bandung. Tata kelola lemah dan risiko kecelakaan jadi masalah tahunan.

Antrean kendaraan mengular di Gerbang Tol Pasteur 2 pada musim libur Lebaran 2026. (Foto: Dok. PT. Jasa Marga (Persero) Tbk)
Wisata & Kuliner 27 Mar 2026, 11:00

Jejak Sejarah Bakpia, Kue Perantau Tiongkok yang jadi Ikon Jogja

Bakpia yang populer di Yogyakarta berakar dari kue pia khas Fujian. Dibawa para perantau Hokkian sejak abad ke-19, kue ini kemudian beradaptasi dengan bahan dan selera masyarakat lokal.

Ilustrasi bakpia.
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 09:12

Lingkar Bisnis Mas Aksan

Dari usaha batikan H. Mas Aksan menjadi saudagar yang terpandang di Kota Bandung.  

Dari usaha batikan itulah H. Mas Aksan menjadi saudagar batikan yang terpandang di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 27 Mar 2026, 08:14

Menyisir Kenangan Lama di Sawargi, Barbershop Zaman Kemerdekaan yang Tak Lekang oleh Waktu

Barbershop Sawargi di Bandung menjadi ruang yang menyimpan kenangan masa lalu, dengan kursi tua, sistem tradisional, dan cerita lintas generasi yang tetap bertahan di tengah gempuran barbershop modern

Alat cukur yang masih digunakan di Barbershop Sawargi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 19:25

Syawal dan Makna yang Kita Percaya

Syawal dimaknai sebagai momentum “peningkatan”.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 18:00

Mawas Diri Usai Lebaran dan Catatan Kelam Moralitas Kepala Daerah

Masyarakat sangat kecewa melihat kelakuan para pejabat dan sederet kepala daerah yang tertangkap oleh KPK pada saat bulan suci Ramadan.

Ilustrasi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang terjerat korupsi. (Sumber: prokompim.setda.pekalongankab.go.id)
Beranda 26 Mar 2026, 16:38

Website ISMN Resmi Hadir, Jadi Pusat Informasi dan Kolaborasi Akun Media Sosial Komunitas Nasional

ISMN meluncurkan website sebagai pusat informasi dan kolaborasi akun media sosial komunitas untuk memperkuat jaringan homeless media di seluruh Indonesia.

ISMN Meetup Bandung pada Oktober 2025 yang dihadiri 50 pengelola dan pemilik homeless media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Linimasa 26 Mar 2026, 16:33

ISMN Resmi Luncurkan Website, Satukan Jaringan Media Sosial Se-Indonesia

ISMN meluncurkan website resmi sebagai pusat informasi dan kolaborasi bagi pengelola akun homeless media di seluruh Indonesia.

Portal Indonesia Social Media Network (ISMN)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 15:41

Jalan Mengatasi Invisible People

Invisible people adalah individu atau kelompok yang secara sosial dan ekonomi terpinggirkan.

Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 15:01

Glamping Lake Side Rancabali, Objek Wisata dengan Pelbagai Atraksi Menarik

Glamping Lake Side Rancabali menawarkan pengalaman menginap mewah, restoran kapal pinisi, dan berbagai wahana seru di kawasan Situ Patengan.

Situ Patenggang, Glamping Lake Side Rancabali. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 14:56

Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib.

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 26 Mar 2026, 14:42

Bidik Segmen Eksklusif, 88 Taylor Perkuat Identitas Brand melalui Layanan Batik Custom

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini.

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 12:50

Liburan untuk Rebahan, Sleepcation Jadi Tren Wisata Baru

Sleepcation menjadikan tidur sebagai agenda utama perjalanan. Dari kasur premium hingga aromaterapi, hotel berlomba menciptakan pengalaman liburan yang berfokus pada istirahat.

Ilustrasi Sleepcation (Sumber: Envato)