Dakwah Urban

4 menit baca
Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan
Ilustrasi dakwah. (Sumber: Pexels | Foto: kevin yung)
Ilustrasi dakwah. (Sumber: Pexels | Foto: kevin yung)

Oleh Mukhlis Aliyudin

Setiap tahun, pasca arus balik Lebaran, kota-kota di Indonesia seringkali menghadapi masalah pendatang baru dari berbagai daerah. Para pendatang ini datnag ke kota dengan bermimpi sukses di kota. Dengan harapan dan semangat kerja tinggi, bekal ilmu dan skill yang seadanya mencoba mengadu nasib di tengah gemerlapnya kota. Sayangnya, ketatnya persaingan dan kehidupan kota yang keras, tidak selalu menyambut para pendatang ini dengan ramah. Tidak sedikit di antara para pendatang ini hidup terlunta-lunta, menjadi pengangguran kota, dan menimbulkan masalah sosial perkotaan. 

Sosiolog Prancis, Emile Durkheim, menyebut kondisi ini sebagai anomie, yaitu kondisi seseorang yang kehilangan pegangan norma dan ikatan sosial yang selama ini memberinya arah hidup. Para pendatang yang benar-benar kaget dengan situasi dan kondisi kota, ketika tinggal di kampung mereka berada dalam ekosistem sosial-keagamaan yang terstruktur, harus menghadapi suasana yang sebelumnya tidak pernah merasakan. 

Salah satu budaya yang kuat di kota ialah individualis dan apatis. Tidak ada yang peduli kita mau pulang malam terus, begadang terus, dan bentuk kehidupan anomali lainnya dengan di kampung. Lingkungan yang anonim dan individualistis ini menjadi peluang untuk tumbuh suburnya krisis identitas keagamaan. Ketika di kampung, para pendatang ini biasa hidup beragama dengan tertib, namun ketika di perkotaan menjadi berantakan kehidupan beragamanya. 

Beruntung kalau para pendatang ini dibawa oleh orang yang mengarahkannya kepada komunitas atau lingkungan yang tetap dekat dengan aktivitas keagamaan. Namun ada juga pendatang yang benar-benar terjun bebas ke kota bermodalkan nekat. Mereka menjadi pendatang yang gagal untuk meneruskan kebiasaan bagus beragamanya, karena bertemu dengan komunitas yang memang jauh dari agama. 

Para pendatang yang gagal menemukan komunitas baru rentan dengan berbagai persoalan. Misalnya mudah terjebak gaya hidup perkotaan yang hedon dan gemerlap sehingga bisa menjerumuskan pada kesesatan. Selain itu juga bisa rentan dengan bujuk rayu kelompok radikal yang menawarkan ajaran sesat, sehingga menggangu ketentraman.

Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)
Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Untuk menghadapi masalah ini, diperlukan gerakan dakwah yang bisa menyisir para pendatang dengan nihil pengalaman, agar para pendatang itu bisa survive di perkotaan. Dakwah yang proaktif terhadap fenomena ini,  dan dakwah yang terbuka untuk kalangan pendatang yang memiliki latar belakang yang beragam. Dakwah yang dengan sengaja dihadirkan di lingkungan para pendatang, baik di kawasan industri, di lingkungan rumah kos, maupun di platform media sosial yang mereka konsumsi setiap hari. 

Pesan-pesan dakwah bisa disebarkan pada masjid-masjid perkotaan, yang biasa disesaki para pendatang. Masjid ini sebagai media yang  harus melakukan transformasi strategi dan bentuk dakwah. Masjid jangan hanya terbatas pada aktivitas shalat lima waktu, melainkan harus berubah menjadi tempat yang nyaman untuk istirahat, dan beribadah untuk para pendatang, dan bisa menyediakan informasi peluang kerja, ruang pertemuan komunitas, sekaligus tempat pendampingan psikologis dan spiritual yang terpadu secara terbuka. Sebagaimana model Islamic Community Center yang terbukti berhasil dilakukan di kota-kota besar di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa negara besar lainnya, sehingga tidak heran kalau Islam cepat berkembang di negara-negara yang mayoritas non muslim. 

Cara penyampaian dakwah untuk para pendatang ini juga tidak selalu dalam format ceramah dengan materi yang panjang, atau membahas kitab-kitab yang tebal dan klasik. Dakwah cukup dengan kesopanan dan keramahan para pengurus masjid atau rumah ibadah lainnya, sehingga para pendatang ini merasa betah dan terbantu. Ketika para pendatang diajak untuk ikut kajian, jangan sampai menghakiminya. Materi dakwah disesuaikan dengan kebutuhan para pendatang seperti cara hidup, semangat dalam bekerja, yakin akan usaha bisa sukses, dengan diimbangi beberapa kisah inspiratif lainnya, yang membuat para pendatang ini bersemangat.  

Penyambutan yang hangat, menyediakan makan dan singgah sementara, akan membuat mereka merasa diterima dengan baik. Hal-hal sederhana ini kalau dilakukan secara intensif yang dilandasi dengan kasih sayang yang tulus, akan menjadi strategi dakwah yang mudah efektif untuk para pendatang, dan bisa mempertebal landasan spiritual para pendatang. Tidak hanya itu, mereka juga merasa memiliki saudara seiman yang siap membantu ketika dalam merintis kesuksesan di perantauan. 

Kota tidak harus menjadi tempat di mana keimanan perlahan terkikis. Dengan dakwah yang proaktif dan penuh kasih sayang, bisa bertransformasi menjadi madrasah kehidupan yang mematangkan keimanan para pendatang. Jangan sampai para pendatang kehilangan pegangan dan tersesat lebih jauh. Sambut mereka dengan tangan terbuka. Kenalkan mereka bahwa hidup di kota, sebesar dan seramai apapun, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah dan nilai-nilai yang telah mereka bawa dari kampung halaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)