Dakwah Urban

Netizen
Ditulis oleh Netizen diterbitkan Minggu 05 Apr 2026, 12:13 WIB
Ilustrasi dakwah. (Sumber: Pexels | Foto: kevin yung)

Ilustrasi dakwah. (Sumber: Pexels | Foto: kevin yung)

Oleh Mukhlis Aliyudin

Setiap tahun, pasca arus balik Lebaran, kota-kota di Indonesia seringkali menghadapi masalah pendatang baru dari berbagai daerah. Para pendatang ini datnag ke kota dengan bermimpi sukses di kota. Dengan harapan dan semangat kerja tinggi, bekal ilmu dan skill yang seadanya mencoba mengadu nasib di tengah gemerlapnya kota. Sayangnya, ketatnya persaingan dan kehidupan kota yang keras, tidak selalu menyambut para pendatang ini dengan ramah. Tidak sedikit di antara para pendatang ini hidup terlunta-lunta, menjadi pengangguran kota, dan menimbulkan masalah sosial perkotaan. 

Sosiolog Prancis, Emile Durkheim, menyebut kondisi ini sebagai anomie, yaitu kondisi seseorang yang kehilangan pegangan norma dan ikatan sosial yang selama ini memberinya arah hidup. Para pendatang yang benar-benar kaget dengan situasi dan kondisi kota, ketika tinggal di kampung mereka berada dalam ekosistem sosial-keagamaan yang terstruktur, harus menghadapi suasana yang sebelumnya tidak pernah merasakan. 

Salah satu budaya yang kuat di kota ialah individualis dan apatis. Tidak ada yang peduli kita mau pulang malam terus, begadang terus, dan bentuk kehidupan anomali lainnya dengan di kampung. Lingkungan yang anonim dan individualistis ini menjadi peluang untuk tumbuh suburnya krisis identitas keagamaan. Ketika di kampung, para pendatang ini biasa hidup beragama dengan tertib, namun ketika di perkotaan menjadi berantakan kehidupan beragamanya. 

Beruntung kalau para pendatang ini dibawa oleh orang yang mengarahkannya kepada komunitas atau lingkungan yang tetap dekat dengan aktivitas keagamaan. Namun ada juga pendatang yang benar-benar terjun bebas ke kota bermodalkan nekat. Mereka menjadi pendatang yang gagal untuk meneruskan kebiasaan bagus beragamanya, karena bertemu dengan komunitas yang memang jauh dari agama. 

Para pendatang yang gagal menemukan komunitas baru rentan dengan berbagai persoalan. Misalnya mudah terjebak gaya hidup perkotaan yang hedon dan gemerlap sehingga bisa menjerumuskan pada kesesatan. Selain itu juga bisa rentan dengan bujuk rayu kelompok radikal yang menawarkan ajaran sesat, sehingga menggangu ketentraman.

Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)
Teknologi modern harus diarahkan sesuai nilai Islam, dengan maqasid syariah sebagai kompas etis. (Sumber: Unsplash/Masjid Pogung Dalangan)

Untuk menghadapi masalah ini, diperlukan gerakan dakwah yang bisa menyisir para pendatang dengan nihil pengalaman, agar para pendatang itu bisa survive di perkotaan. Dakwah yang proaktif terhadap fenomena ini,  dan dakwah yang terbuka untuk kalangan pendatang yang memiliki latar belakang yang beragam. Dakwah yang dengan sengaja dihadirkan di lingkungan para pendatang, baik di kawasan industri, di lingkungan rumah kos, maupun di platform media sosial yang mereka konsumsi setiap hari. 

Pesan-pesan dakwah bisa disebarkan pada masjid-masjid perkotaan, yang biasa disesaki para pendatang. Masjid ini sebagai media yang  harus melakukan transformasi strategi dan bentuk dakwah. Masjid jangan hanya terbatas pada aktivitas shalat lima waktu, melainkan harus berubah menjadi tempat yang nyaman untuk istirahat, dan beribadah untuk para pendatang, dan bisa menyediakan informasi peluang kerja, ruang pertemuan komunitas, sekaligus tempat pendampingan psikologis dan spiritual yang terpadu secara terbuka. Sebagaimana model Islamic Community Center yang terbukti berhasil dilakukan di kota-kota besar di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa negara besar lainnya, sehingga tidak heran kalau Islam cepat berkembang di negara-negara yang mayoritas non muslim. 

Cara penyampaian dakwah untuk para pendatang ini juga tidak selalu dalam format ceramah dengan materi yang panjang, atau membahas kitab-kitab yang tebal dan klasik. Dakwah cukup dengan kesopanan dan keramahan para pengurus masjid atau rumah ibadah lainnya, sehingga para pendatang ini merasa betah dan terbantu. Ketika para pendatang diajak untuk ikut kajian, jangan sampai menghakiminya. Materi dakwah disesuaikan dengan kebutuhan para pendatang seperti cara hidup, semangat dalam bekerja, yakin akan usaha bisa sukses, dengan diimbangi beberapa kisah inspiratif lainnya, yang membuat para pendatang ini bersemangat.  

Penyambutan yang hangat, menyediakan makan dan singgah sementara, akan membuat mereka merasa diterima dengan baik. Hal-hal sederhana ini kalau dilakukan secara intensif yang dilandasi dengan kasih sayang yang tulus, akan menjadi strategi dakwah yang mudah efektif untuk para pendatang, dan bisa mempertebal landasan spiritual para pendatang. Tidak hanya itu, mereka juga merasa memiliki saudara seiman yang siap membantu ketika dalam merintis kesuksesan di perantauan. 

Kota tidak harus menjadi tempat di mana keimanan perlahan terkikis. Dengan dakwah yang proaktif dan penuh kasih sayang, bisa bertransformasi menjadi madrasah kehidupan yang mematangkan keimanan para pendatang. Jangan sampai para pendatang kehilangan pegangan dan tersesat lebih jauh. Sambut mereka dengan tangan terbuka. Kenalkan mereka bahwa hidup di kota, sebesar dan seramai apapun, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah dan nilai-nilai yang telah mereka bawa dari kampung halaman. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.