Potensi Komersialisasi Dakwah, Saat Gaya Hidup Masyarakat Modern Menjunjung Eksklusivitas

8 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Kajian Sharing Time di Balroom Tangcity Mall, 12 Januari 2024 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Kajian Sharing Time di Balroom Tangcity Mall, 12 Januari 2024 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Bandung memang tidak akan pernah ada habisnya. Rasanya Bandung memang punya banyak julukan tak hanya disebut sebagai kota kembang tapi kini berubah menjadi kota sampah yang hampir dibeberapa ruas jalan terdapat tumpukan kresek berisi sampah yang entah warga mana yang membuangnya sembarangan.

Bandung juga mendapat julukan sebagai kota kreatif yang ditandai dengan berbagai kuliner yang kaya akan cita rasa, sejumlah ruang kreatif yang tersebar dibeberapa titik, kota yang kaya akan nilai sejarah dan budayanya pun kota Bandung tak pernah bisa lepas dari kereligiusannya.

Sejak saya kecil hingga beranjak remaja aktivitas mengaji memang menjadi rutinitas terpadat setelah sekolah. Ada pengajian ba'da subuh sebelum berangkat sekolah, ada pengajian ashar selepas pulang sekolah dan dilanjutkan pengajian magrib hingga menjelang isya.

Acara besar keagamaan seperti maulid, isra mi'raj dan tahun baru Islam tak lepas dari perayaan yang megah. Bahkan beberapa masjid mengadakan acara perlombaan seperti kaligrafi, pidato, tilawah qur'an, membaca sholawat, mewarnai gambar, cerdas cermat hingga fashion show.

Menariknya kegiatan ini menjadi ajang unjuk bakat antar masjid sekaligus silaturahmi antar pemeluk agama Islam di setiap kecamatan/kab/kota.

Pengajian di kota Bandung rata-rata berhenti setelah anak memasuki usia di bangku SMA. Berbagai alasan seperti semakin sibuk dengan kegiatan di sekolah juga terasingnya interaksi dengan orang sekitar menjadi penyebabnya. Seringkali anak-anak yang dulunya sejak kecil pergi mengaji bersama mendadak seolah tidak kenal saat berpapasan di ujung jalan.

Entah memang sedang mencari identitas diri atau merasa memang sudah bukan fasenya lagi berteman karena memiliki teman baru di sekolah yang dianggap lebih asyik. Tapi begitulah siklus pertemanan, akan ada yang datang tapi ada pula yang pergi-- berproses sebagaimana usia terus bertambah.

Pada tahun 2015 Bandung dikejutkan dengan kehadiran Gerakan Pemuda Hijrah yang digagas oleh Ustad Hanan Attaki yang melibatkan anak muda dalam kegiatan dakwah di Masjid Al-Lathiif Bandung. Aktivitas pengajian remaja yang sudah hilang di lingkungan sekitar mendadak mengumpulkan seluruh pemuda di Bandung untuk terlibat dalam aktivitas dakwah di Masjid Al-Lathiif

Setelah pandemi kajian mulai bertransformasi dari masjid menuju hotel-hotel di berbagai kota. Salah satunya kajian "Sharing Time" yang diisi oleh Ustad Hanan Attaki. Pola religiusitas masyarakat mengalami perubahan dari tradisional menuju modern dengan mementingkan pengalaman religius yang terkesan personal, eksklusif dan berkualitas dibandingkan dengan praktik spiritual semata.

Fenomena di atas selaras dengan teori konsumsi religius. Teori ini menjelaskan perihal bagaimana agama dalam masyarakat modern tidak sekedar sebagai praktik spiritual tapi sudah menjadi bagian dan gaya hidup konsumsi (Fealy,2008).

Berawal dari ajakan seorang teman untuk mengikuti kajian sharing time yang diadakan di Tangcity Mall Kota Tangerang. Tidak seperti kajian pada umumnya yang bisa diakses secara gratis, kajian kali ini mewajibkan bayaran sebanyak Rp.125.000. Berangkat dari Bandung menuju rumah teman di Cianjur yang kemudian dilanjutkan ke Tangerang untuk menghadiri kajian pada sesi kedua selepas shalat ashar.

Antusias jemaah dalam kajian ini amat membludak dan didominasi oleh kaum perempuan. Mushola selalu penuh--silih berganti antara jemaah sesi pertama yang akan pulang dan jemaah sesi kedua yang akan masuk ballroom hotel. Semua perempuan berlarian berharap mendapatkan shaf paling depan.

Kajian berjalan dengan khidmat dan jemaah diberikan kesempatan untuk bertanya dalam sesi tersebut. Beberapa pertanyaan memang releate dengan permasalahan anak muda yang kompleks di era dunia digital. Saya berpikir mungkin inilah alasannya kenapa banyak anak muda yang tertarik dengan kajian sharing time ini meskipun harus berbayar.

Saat pertanyaan terkahir datang dari jemaah laki-laki saya pikir dia akan menanyakan permasalahan yang sama tentang anak muda. Namun saya tersentak saat tiba-tiba berucap

"Assalamualaikum Ustad, saya (P) selama ini saya sudah banyak mencari tahu tentang Islam. Rasanya saya tertarik dan selama ini saya sudah sering melihat kajian ustad di youtube. Beruntung hari ini saya berkesempatan untuk mengikuti kajian ustad secara offline. Ustad izinkan saya dan tolong bimbing saya untuk mengucapkan kalimat syahadat"

Seketika semua jemaah terhenyak begitu pun dengan ustad Hanan Attaki dan MC dalam acara ini. Tak lama berselang-- mendadak terbesit sebuah pemikiran, mungkin inilah yang menjadi daya tarik kajian Hanan Attaki yang merangkul anak muda dan tidak pernah terasa menggurui.

Sejauh ini banyak narasi yang tersebar di masyarakat bahwa kajian Ustad Hanan Attaki terlalu klise karena hanya membahas kajian perihal percintaan anak muda.

Saya pun tak menampik sebagai seseorang yang pernah menghadiri beberapa kajiannya. Namun tidak sepenuhnya setuju juga, karena beberapa hal kadang beliau menjelaskan tentang permasalahan fiqih, takdir, dan akhlak meski memang sering kembali ke pembahasan percintaan karena pertanyaan jemaah yang seringkali berada di luar konteks tema yang diberikan.

Metode dakwah yang sering dibicarakan sebagian orang dengan konotasi kurang baik. Justru cara ini yang membuat hati seorang manusia tersentuh untuk mencari tahu tentang Pencipta-Nya.

Meski terkesima dengan kajian tadi tetap saja ada banyak hal yang terlintas di benak saya, diantaranya tentang fenomena masyarakat muslim baru hingga potensi komersialisme dakwah.

Saya sempat tertarik dan ingin melakukan penelitian terhadap fenomena di atas. Untuk menjawab berbagai macam pertanyaan tentu saya harus mengonfirmasi secara langsung kepada narasumber yang bersangkutan. Akhirnya dengan percaya diri saya menghubungi via DM Instagram kepada Ustad Hanan untuk izin membuat penelitian sekaligus mewawancarai beliau.

Tepatnya 03 Maret 2024 saya mengirimkan pesan tersebut namun sampai detik ini tak kunjung mendapat respon. Saya pun memahami bahwa pasti begitu banyak yang mengirim pesan serupa kepada beliau sehingga chat saya tertumpuk dan tidak terbaca.

Meski demikian rasa haus saya sedikit terobati ketika melihat jurnal dengan tema yang saya inginkan muncul di google scholar dengan peneliti Agung Tirta Wibawa dan Ahmad Sarbini. Yang dimana keduanya pernah mengajar sebagai dosen juga pernah menjabat sebagai kaprodi di jurusan saya.

Berdasarkan jurnal penelitiannya yang berjudul "Fenomena Pengajian Berbayar Ustad Hanan Attaki" banyak menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis dan menganalisis perihal fenomena yang saya lihat dengan pendekatan teori yang hampir serupa.

Fenomena Masyarakat Muslim Baru

Perkembangan teknologi informasi sejatinya memang mempengaruhi hampir semua lini kehidupan tak terkecuali dunia dakwah. Kondisi sosial yang ada mendorong masyarakat untuk mengikuti tren yang seringkali mengubah pola konsumsi terhadap segala sesuatu.

Dakwah yang dulunya ada dalam ruang-ruang sakral seperti masjid atau mushola, mendadak berubah menjadi fleksibel di mana saja. Tempat bukan lagi menjadi kendala yang terpenting esensi yang diajarkan berupa risalah agama dan segala kebaikannya.

Menurut pandangan saya mungkin dakwah yang diselenggarakan di hotel pada mulanya menargetkan kalangan menengah ke atas seperti selebritas dan influencer. Bagaimana para dai mencoba membuat strategi baru dengan memperluas objek dakwah lewat kalangan tersebut. Dai populis hadir untuk menjawab tantangan keterbatasan waktu yang dimiliki kalangan tersebut untuk tetap bisa mengakses spiritual secara intim.

Namun hadirnya media sosial membuat dakwah tersebut menjangkau lebih banyak lagi audiens. Konten yang dihadirkan dalam video pun membuat masyarakat secara umum tergugah. Mulai dari terasa dekat dengan ustad yang memberikan materi karena acara yang diselenggarakan lebih intimate. Terasa lebih dekat karena mengusung sharing time yang konotasinya lebih santai dan tidak terkesan menggurui.

Kini dakwah bukan saja kajian yang bisa diakses secara gratis tapi sudah berubah menjadi komoditas agama. Di mana siapa yang sanggup membayar maka dia yang bisa ikut masuk ke dalam kajian. Di mana "Posisimu" berada maka akan menentukan shaf terdepan dalam sebuah kajian.

Dakwah yang dulu bisa menjangkau semua kalangan juga menjungjung nilai kesetaraan berubah menjadi kesenjangan--di mana yang menentukan posisi shaf bukan siapa kamu dan berapa biaya yang kamu keluarkan melainkan siapa yang datang lebih dulu itu yang lebih berhak menentukan.

Potensi Komersialisasi Dakwah

Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)
Saluran digital islami kini telah jadi hal lumrah dan mudah ditemukan. (Sumber: Pexels/esralogy)

Bicara soal komersialisasi memang sangat sensitif terlebih saat membicarakan soal keagamaan. Komersialisasi dakwah sendiri merupakan aktivitas dakwah yang seharusnya bersifat spiritual dan pengabdian tapi berubah menjadi komoditas atau barang dagangan yang bertujuan mencari keuntungan materi.

Dalam ruang kelas perkuliahan saya pernah mendiskusikan perihal "Tarif Dakwah" bersama teman dan dosen yang mengajar etika dan estetika dakwah. Diskusi ini mengingatkan kembali kepada saya bagaimana menjawab pertanyaan mengenai potensi komersialisasi dakwah dalam ranah dunia digital.

Saat itu dosen saya memberikan pertanyaan bagaimana pandangan mahasiswa terhadap tarif dakwah dan dai yang dinaungi pihak organizer dan manajemen. Menjadi jawaban yang unik ketika terdapat kontradiktif antara dua kubu mahasiswa.

Ada pihak yang setuju dengan dihadirkannya tarif dakwah karena pemuka agama pun butuh biaya untuk akomodasi perjalanan dan kehidupan sehari-hari. Namun pada sisi yang lain tarif dakwah menjadi tidak pantas diberikan saat keagamaan identik dengan pengabdian.

Pada akhir diskusi disimpulkan bahwa memberikan tarif dakwah kepada penyelenggara acara akan mengurangi etika dari dai yang bersangkutan. Meski di zaman ini sangat sulit ditemukan karena banyak dai yang berada di bawah naungan manajemen layaknya para artis.

Meski memberikan tarif dakwah dianggap tidak etis tapi sebagai penyelenggara juga harus tau diri. Dalam artian memposisikan diri bagaimana seharusnya memberikan apresiasi kepada para dai yang sudah menyempatkan waktu dan tenaganya untuk memberikan siraman rohani.

Bijaknya kedua belah pihak harus sama-sama mengerti dan paham dengan situasi. Dai tidak diperkenankan membuat tarif dakwah karena tidak etis tapi penyelenggara pun harus memberi apresiasi yang terbaik sesuai dengan kemampuan.

Jika kedua hal tersebut tidak dijalankan maka aktivitas dakwah di era media digital tidak akan lepas dari komersialisasi dakwah. Di mana dakwah bukan hanya sekedar cara menebarkan nilai-nilai keagamaan tapi berubah menjadi komoditas agama.

Potensi Ajang Membuka Aib lewat Pertanyaan

Beberapa kajian seperti ini biasanya di dominasi oleh perempuan. Meski kadang tema yang diberikan tidak ada hubungannya dengan permasalahan percintaan atau perselingkuhan-- pada faktanya jemaah seringkali mengajukan pertanyaan dengan diawali curhat hal-hal yang bersifat pribadi.

Mungkin suasana yang mendukung dan kajian yang dibungkus melalui kegiatan sharing time membuat jemaah merasa hal tersebut layak untuk diceritakan. Padahal ada yang terlupakan bahwa curhatan tersebut tidak hanya di dengar oleh jemaah yang hadir tapi pasti akan dipublikasikan ke media dan akan ditonton oleh ratusan juta orang di dunia.

Baca Juga: Filsafat Seni Islam

Permasalahan rumah tangga yang dulunya tabu jika diketahui banyak orang-- hari ini sudah berubah menjadi konsumsi publik. Mungkin bagi jemaah yang bercerita perasaan mereka bisa saja menjadi lega karena banyak pihak yang memvalidasi perasaannya.

Namun menurut pandangan saya hal ini menjadi tidak bijak karena curhat justru makin memperkeruh keadaan rumah tangga seseorang, meski tindak perselingkungan bukan suatu hal yang menjadi pembenaran.

Curhat hal-hal yang pribadi dalam kajian bisa saja membawa engagement dan keuntungan bagi seseorang yang bercerita, misalnya mendadak viral dan banyak endorse produk yang menawarkan kerja sama. Tapi apakah worth it jika taruhannya adalah aib dan kredibilitas diri kita ? sementara kejayaan seseorang yang dihasilkan dari aib biasanya tidak akan bertahan lama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)