Melihat Persoalan Pelestarian Gedung Sate

5 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)

Gedung Sate bukan hanya sekadar bangunan pusat perkantoran pemerintahan di Jawa Barat. Gedung yang mulai dibangun oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1920 ini merupakan landmark bersejarah yang telah menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Sebagai subjek yang jadi bagian dari sistem pemerintahan, saya tentu memahami betapa dinamisnya tuntutan untuk terus melakukan pengembangan dan pemanfaatan dengan penataan area agar lebih tertata dan fungsional. Namun, di tengah semangat untuk mempercantik wajah kota dan menyajikan ruang yang lebih nyaman bagi warga, saya kira kita perlu sejenak merefleksikan kembali posisi kita sebagai pengelola warisan sejarah yang juga menanggung tanggung jawab besar.

Setiap rencana pengembangan area di sekitar Gedung Sate perlu dilihat tidak hanya dari sisi estetika atau efisiensi alur lalu lintas, tetapi juga dari ketaatan terhadap koridor pelestarian yang diatur oleh undang-undang. Gedung Sate sudah berstatus Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.04/PW.007/MKP/2010 dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 05/M/2017. Maka, setiap intervensi fisik pada area tersebut memiliki batasan yang ketat, bukan hanya karena aspek cagar budaya saja, namun juga karena bangunan ini telah menjadi ikon di masyarakat. Ada ingatan memori kolektif yang perlu dihormati dan difasilitasi aspirasinya.

Dalam paradigma pelestarian kiwari, warisan budaya tidak lagi dilihat sebagai aset eksklusif pemerintah, melainkan sebagai pusaka milik bersama yang harus dijaga keberlangsungannya untuk generasi mendatang (Tanudirjo, 2003). Partisipasi masyarakat bukanlah hambatan dalam pembangunan, melainkan bagian dari legitimasi kebijakan.

Ketika sebuah ruang publik seperti area Gedung Sate-Gasibu akan ditata, keterlibatan publik melalui ruang diskusi yang inklusif sangat penting untuk dilakukan sejak awal. Hal tersebut bukanlah untuk menunda pembangunan atau sekadar formalitas belaka, melainkan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan penambahan atau pengurangan atribut—seperti gerbang, plaza, atau elemen lanskap lainnya—dapat diterima dan memiliki makna bagi masyarakat. Dengan begitu, kita justru sedang membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya  yang kuat di tiap sanubari masyarakat. Hal tersebut merupakan pelaksanaan terhadap konsep heritage for all, and all for heritage yang pada akhirnya akan memudahkan kita dalam merawat warisan budaya ini di masa kini dan masa mendatang.

Ketaatan pada regulasi adalah cerminan profesionalisme pemerintah sebagai penyelenggara negara yang baik. UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta PP No. 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya telah menetapkan standar yang jelas bagi setiap rencana pengembangan cagar budaya. Salah satu instrumen kuncinya adalah Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau di lingkup internasional dikenal dengan istilah Heritage Impact Assessment (HIA).

Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. (Sumber: Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)
Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. (Sumber: Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)

Jika berkaca pada rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur yang berjalan cukup alot, kita dapat melihat bahwa intervensi fisik pada cagar budaya peringkat nasional tidak bisa hanya didasarkan pada keinginan estetik atau tuntutan spiritual semata. Tanpa instrumen KDCB yang komprehensif, keputusan yang diambil berpotensi mengaburkan otentisitas dan memicu kontroversi panjang. KDCB justru menjadi ruang di mana argumen teknis konservasi dan aspirasi masyarakat bertemu, memastikan bahwa setiap langkah pelestarian adalah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum.

Selain itu, jika mencermati proses penataan kawasan Borobudur, kita melihat bahwa intervensi ruang publik pada cagar budaya berskala besar memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks. Penataan bukan sekadar tentang estetika tata kota, melainkan tentang menjaga keberlanjutan fungsi cagar budaya dalam ruang lanskap yang lebih luas. Tanpa KDCB yang transparan, penataan kawasan berisiko mereduksi nilai otentisitas dan memicu resistensi masyarakat. Oleh karena itu, dalam kasus Gedung Sate, kita perlu memastikan bahwa penambahan elemen lanskap atau plaza tidak hanya mengejar aspek fungsional atau estetika belaka, tetapi juga menghormati memori kolektif dan ketaatan pada koridor pelestarian yang telah diamanatkan undang-undang.

KDCB bukanlah sekadar formalitas administrasi yang menjadi beban pemprakarsa. KDCB merupakan instrumen ilmiah yang menempatkan "Nilai Penting" objek cagar budaya sebagai fokus utama kegiatan pengembangan dan pemanfaatan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, 2021). Melalui alur KDCB—yang dimulai dari pelingkupan, analisis dampak, hingga perumusan mitigasi—kita dapat memetakan potensi risiko secara objektif (Kusumohartono, 1993). Apakah perubahan alur lalu lintas atau penambahan elemen fisik tertentu akan mengganggu pemandangan aksis budaya dan sejarahnya? Apakah intervensi tersebut justru mereduksi nilai otentisitas objek cagar budaya? Semua ini dapat dijawab dengan data melalui KDCB, sehingga keputusan yang kita ambil nantinya memiliki dasar yang kuat.

Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.
Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.

Sebagai bagian dari pemerintah, tentu keinginan kita sama: menciptakan ruang publik yang lebih baik, tertata, dan membanggakan. Mari kita melihat penataan ini sebagai sebuah upaya "konservasi berkelanjutan". Saya kira kita tidak sedang sekadar membangun gedung atau pagar baru, melainkan sedang merawat sebuah objek yang menjadi saksi sejarah perjalanan kota ini. Gedung Sate adalah saksi dari perjalanan kebudayaan masyarakat kolonial hingga kini. Tiap atribut yang melekat di dalamnya menyimpan lapisan kebudayaan, dari corak klasik, kolonial, hingga pasca-kolonial.

Langkah ke depan yang bisa kita ambil adalah dengan memastikan transparansi data kajian. Membuka hasil kajian KDCB kepada publik atau para ahli terkait akan menunjukkan bahwa pemerintah bekerja secara serius, sistematis, dan menghargai nilai-nilai sejarah. Dengan cara ini, kita tidak hanya berhasil menata fisik kota, tetapi juga berhasil merawat kepercayaan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah proyek pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya tidak hanya diukur dari seberapa megah perubahan visual yang diciptakan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa bijak kita mematuhi prosedur pelestarian, seberapa inklusif kita melibatkan masyarakat, dan seberapa mampu kita menjaga agar nilai penting yang terkandung dalam cagar budaya dapat tetap terjaga kemurniannya. Mari kita pastikan bahwa setiap jejak pembangunan yang dilakukan di area Gedung Sate adalah wujud dedikasi dalam menghargai sejarah, bukan sekadar respons terhadap kebutuhan jangka pendek.

Daftar Pustaka

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2021). Buku Ringkas Pedoman Kajian Dampak Cagar Budaya. Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan.
  • Kusumohartono, B. M. H. (1993). Penelitian Arkeologi Dalam Konteks Pengembangan Sumberdaya Arkeologi. Berkala Arkeologi, 13(2).
  • Republik Indonesia. (2010). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
  • Republik Indonesia. (2022). Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya.
  • Tanudirjo, D. A. (2003). Warisan Budaya untuk Semua: Arah Kebijakan Pengelola Warisan Budaya Indonesia di Masa Mendatang.
  • Tanudirjo, D. A. (2010). Paradigma Arkeologi Publik dan Undang-undang Cagar Budaya 2010.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)