Melihat Persoalan Pelestarian Gedung Sate

Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan Kamis 23 Apr 2026, 14:39 WIB
Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)

Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)

Gedung Sate bukan hanya sekadar bangunan pusat perkantoran pemerintahan di Jawa Barat. Gedung yang mulai dibangun oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1920 ini merupakan landmark bersejarah yang telah menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Bandung dan Jawa Barat. Sebagai subjek yang jadi bagian dari sistem pemerintahan, saya tentu memahami betapa dinamisnya tuntutan untuk terus melakukan pengembangan dan pemanfaatan dengan penataan area agar lebih tertata dan fungsional. Namun, di tengah semangat untuk mempercantik wajah kota dan menyajikan ruang yang lebih nyaman bagi warga, saya kira kita perlu sejenak merefleksikan kembali posisi kita sebagai pengelola warisan sejarah yang juga menanggung tanggung jawab besar.

Setiap rencana pengembangan area di sekitar Gedung Sate perlu dilihat tidak hanya dari sisi estetika atau efisiensi alur lalu lintas, tetapi juga dari ketaatan terhadap koridor pelestarian yang diatur oleh undang-undang. Gedung Sate sudah berstatus Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.04/PW.007/MKP/2010 dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 05/M/2017. Maka, setiap intervensi fisik pada area tersebut memiliki batasan yang ketat, bukan hanya karena aspek cagar budaya saja, namun juga karena bangunan ini telah menjadi ikon di masyarakat. Ada ingatan memori kolektif yang perlu dihormati dan difasilitasi aspirasinya.

Dalam paradigma pelestarian kiwari, warisan budaya tidak lagi dilihat sebagai aset eksklusif pemerintah, melainkan sebagai pusaka milik bersama yang harus dijaga keberlangsungannya untuk generasi mendatang (Tanudirjo, 2003). Partisipasi masyarakat bukanlah hambatan dalam pembangunan, melainkan bagian dari legitimasi kebijakan.

Ketika sebuah ruang publik seperti area Gedung Sate-Gasibu akan ditata, keterlibatan publik melalui ruang diskusi yang inklusif sangat penting untuk dilakukan sejak awal. Hal tersebut bukanlah untuk menunda pembangunan atau sekadar formalitas belaka, melainkan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan penambahan atau pengurangan atribut—seperti gerbang, plaza, atau elemen lanskap lainnya—dapat diterima dan memiliki makna bagi masyarakat. Dengan begitu, kita justru sedang membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya  yang kuat di tiap sanubari masyarakat. Hal tersebut merupakan pelaksanaan terhadap konsep heritage for all, and all for heritage yang pada akhirnya akan memudahkan kita dalam merawat warisan budaya ini di masa kini dan masa mendatang.

Ketaatan pada regulasi adalah cerminan profesionalisme pemerintah sebagai penyelenggara negara yang baik. UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta PP No. 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya telah menetapkan standar yang jelas bagi setiap rencana pengembangan cagar budaya. Salah satu instrumen kuncinya adalah Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB) atau di lingkup internasional dikenal dengan istilah Heritage Impact Assessment (HIA).

Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. (Sumber: Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)
Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sate pada 27 Juli 1920. (Sumber: Repro dari buku Balai Agung di Kota Bandung karya Haryoto Kunto)

Jika berkaca pada rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur yang berjalan cukup alot, kita dapat melihat bahwa intervensi fisik pada cagar budaya peringkat nasional tidak bisa hanya didasarkan pada keinginan estetik atau tuntutan spiritual semata. Tanpa instrumen KDCB yang komprehensif, keputusan yang diambil berpotensi mengaburkan otentisitas dan memicu kontroversi panjang. KDCB justru menjadi ruang di mana argumen teknis konservasi dan aspirasi masyarakat bertemu, memastikan bahwa setiap langkah pelestarian adalah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum.

Selain itu, jika mencermati proses penataan kawasan Borobudur, kita melihat bahwa intervensi ruang publik pada cagar budaya berskala besar memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks. Penataan bukan sekadar tentang estetika tata kota, melainkan tentang menjaga keberlanjutan fungsi cagar budaya dalam ruang lanskap yang lebih luas. Tanpa KDCB yang transparan, penataan kawasan berisiko mereduksi nilai otentisitas dan memicu resistensi masyarakat. Oleh karena itu, dalam kasus Gedung Sate, kita perlu memastikan bahwa penambahan elemen lanskap atau plaza tidak hanya mengejar aspek fungsional atau estetika belaka, tetapi juga menghormati memori kolektif dan ketaatan pada koridor pelestarian yang telah diamanatkan undang-undang.

KDCB bukanlah sekadar formalitas administrasi yang menjadi beban pemprakarsa. KDCB merupakan instrumen ilmiah yang menempatkan "Nilai Penting" objek cagar budaya sebagai fokus utama kegiatan pengembangan dan pemanfaatan (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, 2021). Melalui alur KDCB—yang dimulai dari pelingkupan, analisis dampak, hingga perumusan mitigasi—kita dapat memetakan potensi risiko secara objektif (Kusumohartono, 1993). Apakah perubahan alur lalu lintas atau penambahan elemen fisik tertentu akan mengganggu pemandangan aksis budaya dan sejarahnya? Apakah intervensi tersebut justru mereduksi nilai otentisitas objek cagar budaya? Semua ini dapat dijawab dengan data melalui KDCB, sehingga keputusan yang kita ambil nantinya memiliki dasar yang kuat.

Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.
Gedung Sate pernah jadi lokasi pertempuran antara kombatan Bandung dengan tentara Gurkha saat Sekutu menduduki Bandung pada 1945.

Sebagai bagian dari pemerintah, tentu keinginan kita sama: menciptakan ruang publik yang lebih baik, tertata, dan membanggakan. Mari kita melihat penataan ini sebagai sebuah upaya "konservasi berkelanjutan". Saya kira kita tidak sedang sekadar membangun gedung atau pagar baru, melainkan sedang merawat sebuah objek yang menjadi saksi sejarah perjalanan kota ini. Gedung Sate adalah saksi dari perjalanan kebudayaan masyarakat kolonial hingga kini. Tiap atribut yang melekat di dalamnya menyimpan lapisan kebudayaan, dari corak klasik, kolonial, hingga pasca-kolonial.

Langkah ke depan yang bisa kita ambil adalah dengan memastikan transparansi data kajian. Membuka hasil kajian KDCB kepada publik atau para ahli terkait akan menunjukkan bahwa pemerintah bekerja secara serius, sistematis, dan menghargai nilai-nilai sejarah. Dengan cara ini, kita tidak hanya berhasil menata fisik kota, tetapi juga berhasil merawat kepercayaan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah proyek pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya tidak hanya diukur dari seberapa megah perubahan visual yang diciptakan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa bijak kita mematuhi prosedur pelestarian, seberapa inklusif kita melibatkan masyarakat, dan seberapa mampu kita menjaga agar nilai penting yang terkandung dalam cagar budaya dapat tetap terjaga kemurniannya. Mari kita pastikan bahwa setiap jejak pembangunan yang dilakukan di area Gedung Sate adalah wujud dedikasi dalam menghargai sejarah, bukan sekadar respons terhadap kebutuhan jangka pendek.

Daftar Pustaka

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2021). Buku Ringkas Pedoman Kajian Dampak Cagar Budaya. Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan.
  • Kusumohartono, B. M. H. (1993). Penelitian Arkeologi Dalam Konteks Pengembangan Sumberdaya Arkeologi. Berkala Arkeologi, 13(2).
  • Republik Indonesia. (2010). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
  • Republik Indonesia. (2022). Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya.
  • Tanudirjo, D. A. (2003). Warisan Budaya untuk Semua: Arah Kebijakan Pengelola Warisan Budaya Indonesia di Masa Mendatang.
  • Tanudirjo, D. A. (2010). Paradigma Arkeologi Publik dan Undang-undang Cagar Budaya 2010.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Garbi Cipta Perdana
Bapaknya Lir. Ngebantuin Wali Kota ngurusin Kebudayaan Bandung.

Berita Terkait

News Update

Beranda 23 Apr 2026, 18:22

Cerita di Balik Volume Sampah di Cikapundung Cikalapa Turun Drastis dari 1 Ton ke 100 Kilogram

Aksi bersih rutin selama 17 tahun berhasil menekan volume sampah di Cikapundung Cikalapa dari satu ton hingga tersisa 100 kg, mengembalikan kelestarian sungai melalui konsistensi komunitas lokal.

Volume sampah di Sungai Cikapundung kawasan Cikalapa kini berkurang drastis dari satu ton menjadi 100 kilogram berkat aksi pembersihan rutin selama 17 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 18:13

Diskon PPN Rumah 2026, Stimulus Ekonomi atau Ilusi Akses Hunian?

Pemerintah kembali memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan pada tahun 2026.

Dukungan Pemerintah dalam Program Prioritas Presiden dalam penyediaan 3 juta rumah bagi masyarakat (Sumber: jabarprov.go.id | Foto: Diskominfo Kab. Bekasi)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 17:20

Dari Timur ke Tren Nasional, Apresiasi Budaya atau Komodifikasi ‘Timurnesia’?

Membahas bagaimana 'Timurnesia' sebagai bentuk apresiasi budaya sekaligus memunculkan potensi komodifikasi.

Fenomena popularitas musik timur menjadi momentum yang penting seiring perkembangan teknologi. (Sumber: Pexels | Foto: teras dondon)
Bandung 23 Apr 2026, 17:07

Cari Makan di TikTok Bukan Google? Ini Rahasia Brand F&B Bandung Tetap Viral dan Relevan

Di tengah menjamurnya bisnis F&B yang kian masif, fokus industri telah bergeser, bukan lagi soal siapa yang paling enak melainkan siapa yang paling kuat melekat dalam ingatan konsumen.

Public Relations Kopi Cantel & Bruasusual, Nida Yasmin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 17:07

Temuan (Dugaan) Terowongan di Banceuy

Catatan harian arkeolog (ngawur) tentang penemuan terowongan di Jl. Banceuy saat proyek IPT 2026. Melalui riset literatur, terungkap temuan itu sebagai sistem riol kolonial dari rencana sanitasi 1919.

Gambar 3D temuan "Terowongan" Banceuy. (Sumber: PT. Bandung Investama)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 15:10

Makna Persahabatan Sejati di Tengah Kehidupan Modern

Persahabatan bukan tentang siapa yang paling sering bersama, tetapi siapa yang tetap ada ketika keadaan tidak mudah.

Ilustrasi sahabat. (Sumber: Pexels | Foto: irwan zahuri)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 14:39

Melihat Persoalan Pelestarian Gedung Sate

Setiap pengembangan Cagar Budaya harus mematuhi koridor regulasi, mengedepankan transparansi melalui Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB), serta mengintegrasikan partisipasi publik yang inklusif.

Gedung Sate, tempat pemerintahan Jawa Barat. (Sumber: Unsplash/Ari Nuraya)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 14:09

Ngomong Keras Bukan Berarti Benar: Logika yang Kalah oleh Emosi

Dominasi emosi dalam debat membuat kebenaran sering kalah oleh suara yang lebih keras daripada argumen yang lebih logis.

Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 13:24

Ngemuseum, Yuk!

Museum adalah ruang hidup yang menyimpan memori kolektif, menyalakan imajinasi, dan mendidik tanpa memaksa.

Museum Sri Baduga (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 23 Apr 2026, 11:08

7 Jajanan yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin: Hangat, Gurih, dan Sulit Ditolak

Rekomendasi 7 jajanan hangat seperti seblak, cireng, batagor kuah, hingga sosis bakar yang cocok disantap saat cuaca dingin.

Seblak.
Ayo Netizen 23 Apr 2026, 09:01

Rupiah Terus Melemah, Krisis Bahan Baku Industri Kian Parah  

Perlu menerapkan strategi Industrialisasi Substitusi Impor (ISI) untuk mengatasi krisis bahan baku.

Ilustrasi pekerja yang tengah mempersiapkan bahan baku (Sumber: petrotrainingasia.com)
Beranda 23 Apr 2026, 08:27

Sukses Tak Harus Gengsi, Cerita Fandi Bangun Mimpi Lewat Roda Kopi Keliling di Tamansari

Fandi Ginanjar membuktikan sukses tak butuh gengsi. Lewat Tony’s Coffee, ia merajut mimpi di jalanan Tamansari, Bandung, menjajakan kopi estetik yang dia bangun secara mandiri dari nol.

Penjual kopi keliling, Fandi Ginanjar, melayani pembeli dengan memanfaatkan sepeda listrik hasil modifikasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 23 Apr 2026, 05:00

Panduan Wisata Ciater: Pilihan Itenerary, Harga Tiket, hingga Berburu Kuliner

Panduan wisata Ciater dengan rencana perjalanan satu hari dari pemandian air panas hingga kuliner khas seperti sate kelinci.

Pemandian air panas Sari Ater di Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 19:21

Refleksi Hari Bumi dan Masa Depan Ekowisata Geopark Ciletuh

Geopark Ciletuh adalah objek yang lengkap untuk kategori ekowisata

Pemandangan Geopark Ciletuh yang fantastis. (Sumber: disparbud.jabarprov.go.id)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 18:08

Hari Bumi di Bandung: Krisis Transportasi dan Jalan Panjang Menuju Mobilitas Berkelanjutan

Kemacetan, rendahnya layanan transportasi publik, serta buruknya infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda cermin krisis transportasi Bandung. Hari Bumi mengingatkan pentingnya mobilitas berkelanjutan.

Ilustrasi yang menggambarkan kontradiksi antara transportasi polutif dan transportasi berkelanjutan, dengan fokus pada pelestarian bumi. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 17:00

Kisah Kaum Urban 'Hikayat Urang Pasar' (Bagian 1)

Mereka yang sering disebut Urang Pasar, mampu menunjukkan diri mereka sebagai “Saudagar Bandung”.

Penulis bersama rekan-rekan saat mengunjungi rumah keluarga Pasar Baru Bandung yang masih terjaga keasliannya, dan berada di tengah Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 16:25

Dari Padel ke Hyrox: Komodifikasi Olahraga dan Representasi Gengsi Kelas Atas dalam Budaya Populer

Pergeseran tren olahraga dari padel ke Hyrox sebagai simbol gaya hidup kelas atas.

Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 12:53

Buruh Digital yang Bahagia: Menelaah Eksploitasi di Balik Fenomena Fan-Edit TikTok

Fenomena fan-edit TikTok adalah bentuk digital labour.

Program Google AI Tools for Journalist yang digelar selama dua hari, 23–24 Desember 2025 di Kantor Ayo Media Network. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 22 Apr 2026, 11:26

7 Kuliner yang Cocok Disantap Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kuliner hangat seperti bakso, soto, mi instan, hingga sekoteng yang cocok disantap saat cuaca dingin dan hujan.

Mi instan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 22 Apr 2026, 11:25

Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani

Di Hari Puisi Nasional, Bandung tidak hanya sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memperlihatkan jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dijalani.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)