Tumbuhkan Cinta Membaca, Bangun Keberanian Menulis

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Sore yang cerah itu, langit membiru menaungi kawasan Cibiru dan sekitarnya, seolah-olah ikut menyambut langkah pulang yang sarat rindu.

Sepulang bekerja di luar kota, pintu rumah kubuka dengan perasaan yang menggebu, rindu yang sederhana, tapi selalu menemukan jalannya untuk kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.

Tok… tok… tok…

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Dua suara kecil menyambut, lebih hangat dari matahari yang mulai condong di ufuk barat.

Aa Akil (11 tahun) langsung bertanya, “Bah, bawa koran?”

Kujawab singkat, “Muhun.”

Tak mau kalah, Kakang (4 tahun) menyusul dengan mata berbinar, “Mana buat Faqih?”

Di momen itu, lelah seharian seperti luruh, tergantikan suasana syahdu yang tak bisa dibeli oleh apa pun. Ya, memang yang dibawa bukan sekadar koran. Ada harapan, ada asa kecil yang dititipkan anak-anak pada selembar kertas, segudang cerita, deretan dunia imajinasi yang tumbuh dari huruf-huruf yang tersusun rapi.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Tak lama, Aa Akil sudah tenggelam dalam bacaannya. Lembar demi lembar dibalik dengan penuh rasa ingin tahu, terutama saat membuka rubrik “Tunggu Dulu” dan “Gelora” yang selalu dinantikan.

Kutinggalkan sejenak untuk membersihkan diri, mandi, berganti pakaian, sebelum akhirnya berkumpul kembali. Sore itu diisi dengan mendengarkan cerita. Sesekali mengeja bersama, membaca perlahan, lalu mencoba menuliskan kembali apa yang dipahami dari bacaan.

Tiba-tiba, bocah kelas lima SD itu menutup korannya. Lantas bergegas masuk ke kamar yang sering disebut perpustakaan ala kadarnya. Tak lama, keluar sambil membawa buku berjudul Merayakan Keragaman.

Bah, gimana cara buat buku seperti ini?” tanyanya polos.

Sebelum dijawab sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Kunaon, Aa?”

Begini, Bah. Aa kepilih jadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba literasi, bikin buku. Cuma masih bingung mau nulis apa,” jelasnya.

Dengan menatapnya sejenak, mencoba merangkai jawaban yang sederhana untuk saling menguatkan asa dan harapan.

Nya Aa kedah rajin maca, nyerat,” ucapku pelan.

Pasalnya, dengan rajin membaca, pikiran dibuka. Dari giat menulis, gagasan menemukan bentuknya. Dengan melakukan aktivitas di antara keduanya, budaya literasi tumbuh dan berkembang, bukan dari paksaan, melainkan dari kebiasaan kecil yang dirawat, dipupuk dengan cinta.

Kakang anak ketiga tengah asyik melihat gambar, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang anak ketiga tengah asyik melihat gambar, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Rendahnya Budaya Literasi

Dalam Jurnal Basicedu Vol 8 No 1 Tahun 2024, dijelaskan kemampuan literasi membaca merupakan salah satu keterampilan yang penting di abad 21.

World Economic Forum 2016 disebutkan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh manusia adalah kemampuan dasar literasi, kemampuan memecahkan masalah, dan kualitas karakter manusia (Liansari et al., 2021; Puspitasari et al., 2021).

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melakukan asesmen setiap tiga tahun sekali untuk dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan sejak tahun 2000 (OECD, 2023).

PISA menguji pengetahuan peserta dalam bidang literasi membaca, literasi numerasi, dan literasi sains. Indonesia menjadi peserta PISA dalam setiap periode sejak tahun 2000, namun ranking Indonesia dalam PISA termasuk rendah, dan tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2022, Indonesia berada di peringat 69 dari 81 negara, dengan skor literasi membaca 359 sangat jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang berada di peringkat 1 dengan skor 543 (OECD, 2023).

Aktivitas memahami sampai mengevaluasi informasi dalam teks sering dijadikan kemampuan dasar seseorang yang harus dimiliki dalam berliterasi.

Komponen penting dalam literasi terdiri dari kemampuan membaca dan menulis, berpikir kritis, pemahaman terhadap konteks masalah dan pengetahuan, kemampuan mendengar dan berbicara, serta kreatif (Harahap et al., 2022).

Literasi merupakan pondasi dasar dalam pendidikan, karena kemampuan membaca dan menulis sangat dibutuhkan dalam pengembangan akademik seseorang (Juniawan, 2020).

Rendahnya skor PISA Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan literasi masyarakat di Indonesia perlu menjadi perhatian khusus. Hal ini berkaitan dengan kualitas pendidikan Indonesia.

Keterbatasan akses pendidikan di beberapa daerah memicu ketidaksetaraan kualitas pendidikan (Priasti & Suyatno, 2021).

Semuanya ini berdampak pada tingkat pemahaman bacaan masyarakat yang rendah, padahal angka melek huruf di Indonesia pada tahun 2022 telah mencapai 96,35% (Badan Pusat Statistik, 2023).

Central Connecticut State University melakukan penelitian terhadap kemampuan literasi bangsa pada tahun 2016, dan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang memiliki kemampuan literasi tinggi (Gewati, 2016).

Penelitian lain di beberapa sekolah menunjukkan bahwa tingkat pemahaman bacaan siswa masih rendah yang berarti kemampuan untuk memahami teks dan mengevaluasi bacaan, dan berpikir kritis siswa masih rendah (Inawati & Sanjaya, 2018; Kholik & Himam, 2015).

Kesadaran masyarakat terhadap kecakapan literasi masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya pendampingan orang tua dalam kegiatan membaca di rumah, dan rendahnya komitmen guru untuk melaksanakan gerakan literasi di sekolah (Khofifah & Ramadan, 2021).

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Membaca Kunci Kemajuan Bangsa

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menegaskan bangsa yang maju ditopang oleh budaya membaca, termasuk literasi sastra sejak dini untuk melahirkan generasi yang kritis, empatik, dan tahan terhadap hoaks maupun narasi dangkal di dunia maya.

Menurutnya kehadiran perpustakaan bukan hanya institusi penyimpan buku, melainkan jembatan cita, ruang demokrasi pengetahuan, dan penggerak budaya literasi bangsa.

Ketika terjadi meningkatnya Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024 sebagai capaian positif, tapi tetap menyisakan pekerjaan rumah terkait ketimpangan akses literasi antarwilayah, terutama di kawasan Timur Indonesia.

Budaya baca, terlebih minat baca sastra, menghaluskan budi, menajamkan jiwa, dan menyuburkan kreativitas generasi penerus. Tantangan kita adalah memastikan literasi, khususnya sastra, benar-benar menjalar hingga ke pelosok negeri, bukan sekadar angka statistik,”

Soal fenomena komunitas pecinta buku di dalam TikTok yang berfokus pada sastra, buku, dan kegiatan membaca, BookTok, yang sukses menghidupkan kembali karya sastra lama di kalangan Gen Z, tapi sering kali konsumsi sastra hanya sebatas ringkasan dan kutipan singkat.

Perpusnas mengembangkan sejumlah strategi, antara lain Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang sejak 2018 telah menjangkau 38 provinsi, 296 kabupaten/kota, dan 2.396 desa/kelurahan. Gerakan Literasi Desa dengan mendirikan ruang baca di 20.000 desa dan distribusi lebih dari 20 juta buku.

Yang ketiga, inovasi digital melalui aplikasi iPusnas yang menyediakan ribuan e-book gratis, dilengkapi fitur komunitas baca interaktif. Yang keempat, adalah Pustakawan Pilar Literasi, Inovasi, dan Transformasi Sosial. Yang kelima adalah soal gamifikasi dan literasi sastra membangun pengalaman membaca secara interaktif, terutama bagi generasi Z dan alpha,”

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh budaya membaca masyarakatnya. “Bangsa yang maju adalah bangsa pembaca. Membaca bukan sekadar kewajiban, tetapi syarat revolusi mental menuju Indonesia Emas 2045. Sastra harus menjadi cermin kebijaksanaan kolektif bangsa,” (https://www.perpusnas.go.id)

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Ingat, kehadiran buku sesungguhnya tidak pernah berdiri sendiri. Justru terlahir dari rahim kebiasaan membaca, tumbuh dari tradisi menulis, hidup dalam ruang diskusi, dan terus berkembang melalui ketekunan meneliti.

Buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi huruf-huruf yang dijilid rapi, melainkan jejak peradaban yang merekam pikiran, pergulatan gagasan, dan merawat harapan manusia pada masa depan.

Setiap bangsa yang maju, buku selalu mendapat tempat terhormat. Dengan menjadi teman sekolah, sahabat rumah tangga, penuntun kampus, kompas kehidupan, bahkan penentu arah kebijakan negara.

Walhasil, saat menyoal tentang buku, sejatinya kita tengah berbicara tentang kualitas suatu masyarakat yang terus berusaha hadir dengan sejauh mana mau (ingin) belajar, berdialog, dan terus memperbaiki kualitas diri.

Minat baca dan menulis bukan tumbuh dari paksaan, melainkan dari ruang dialog yang hangat, dari rasa ingin tahu yang dirawat, dan keberanian untuk mencoba.

Di ruang tengah yang tak luas itu, tanpa disadari sedang hadir ikhtiar menjaga budaya literasi. Bukan dengan cara yang rumit, tapi lewat kebiasaan kecil yang diulang dengan cinta sambil membaca bersama, berdiskusi, lalu menuliskan kembali apa yang dirasa.

Sungguh senja itu terasa lengkap. Bukan karena apa yang dibawa, tapi kebiasaan apa yang dirawat bersama mulai dari rasa ingin tahu, kata-kata, dan harapan kecil agar anak-anak tumbuh dengan cinta pada ilmu, pengetahuan dan cerita atas kehidupan.

Mari kita tumbuhkan cinta pada kebiasaan membaca, bangun keberanian untuk tradisi menulis, dan keyakinan setiap anak punya cerita untuk dibagikan, direnungkan bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:15

Ketaatan Pengelolaan Risiko Kebakaran

Peran dinas damkar perlu transformasi sehingga paradigmanya berubah dari peran pemadam menjadi fungsi yang proaktif mencegah kebakaran. 

Ilustrasi kebakaran pabrik di daerah Cipadung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Fira Nursyabani)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:29

Ekspedisi Karees : Menelusuri Jejak Rel Kereta yang Hilang dari Peta (Part 1)

Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel Karees, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau. Yuk, ikut saya blusukan!

Harta karun pertama yang saya temukan! Menyembul di antara tanah di sebelah kiri jalan, membuktikan sejarah menolak terkubur. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 15:13

Copy-Paste Birokrasi: Ketika Sistem Digital Belum Benar-Benar Digital

Saat sistem digital tidak saling terhubung, beban administratif tidak hilang, ia hanya berpindah wujud dari kertas ke layar.

Ilustrasi ekosistem digital yang melingkupi kehidupan modern (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 13:36

Menelusuri Art Deco: Setitik Eropa di Kota Kembang

Melihat kembali bagaimana arsitektur Art Deco di Kota Bandung bermunculan hingga akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya.

Kondisi Gedung Bank DENIS (sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat) pada tahun 2015. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Rochelimit)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 12:25

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Perkembangan singkat wewangian dari awal mula ketenarannya di Mesir sampai sekarang.

Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 11:30

'Don’t Buy This Jacket' Kampanye Jujur atau Strategi Manipulasi Persepsi?

Membedah paradoks kampanye "Don’t Buy This Jacket" Patagonia:

Penulis sedang menelaah konsep iklan 'Don't Buy This Jacket'.
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 11:27

Wisata Gratis di Surabaya: Jelajah Taman Bungkul Ikon Kota yang Selalu Ramai

Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata gratis paling populer di Surabaya dengan fasilitas lengkap dan suasana nyaman sepanjang hari.

Taman Bungkul Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:56

Indonesia dalam Angka

Algoritma Statistik memang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi bukan berarti angka itu disusun hanya demi kepuasan publik. Sehingga fakta yang terjadi hanya sebatas retorika

Ilustrasi angka dalam kalkulator. (Sumber: Pexels | Foto: Yan Krukau)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 09:06

Penggunaan Kendaraan Listrik Dikebut, Tapi Listriknya Sering Padam

Di tengah percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif, pemadaman listrik yang masih sering terjadi memunculkan pertanyaan: seberapa siap sistem energi Indonesia?

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf terkait pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa (20/6/2026). (Sumber: Instagram/@pln_id)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 08:58

Ada Apa dengan Tanjakan Emen?

Jalan tanjakan Emen yang berada di Subang tepatnya di Ciater, terkenal dengan misteri seringnya terjadi kecelakaan.

Kondisi sekarang jalan tanjakan Emen. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Haerul Nurjaman)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 18:02

Peran Media Relations dalam Membangun Citra Kolaborasi Brand di Industri Olahraga

Memahami identitas kolaborasi sebagai perpaduan antara motorsport, inovasi, dan gaya hidup modern.

Gambar dari akun Instagram resmi Puma
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 17:37

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 15:26

Bandung Poek, Warga Menjerit, dan Kenangan Menyala

Cibiru Bandung boleh poek untuk dua, tiga, empat, lima jam. Tetapi selama kebersamaan masih hidup, selalu ada cahaya yang tidak pernah padam bila kita rawat dan pupuk bersama.

Ilustrasi Bandung Mati Listrik Bergilir (Sumber: Pixabay)
Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)