Sore yang cerah itu, langit membiru menaungi kawasan Cibiru dan sekitarnya, seolah-olah ikut menyambut langkah pulang yang sarat rindu.
Sepulang bekerja di luar kota, pintu rumah kubuka dengan perasaan yang menggebu, rindu yang sederhana, tapi selalu menemukan jalannya untuk kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam…”
Dua suara kecil menyambut, lebih hangat dari matahari yang mulai condong di ufuk barat.
Aa Akil (11 tahun) langsung bertanya, “Bah, bawa koran?”
Kujawab singkat, “Muhun.”
Tak mau kalah, Kakang (4 tahun) menyusul dengan mata berbinar, “Mana buat Faqih?”
Di momen itu, lelah seharian seperti luruh, tergantikan suasana syahdu yang tak bisa dibeli oleh apa pun. Ya, memang yang dibawa bukan sekadar koran. Ada harapan, ada asa kecil yang dititipkan anak-anak pada selembar kertas, segudang cerita, deretan dunia imajinasi yang tumbuh dari huruf-huruf yang tersusun rapi.

Tak lama, Aa Akil sudah tenggelam dalam bacaannya. Lembar demi lembar dibalik dengan penuh rasa ingin tahu, terutama saat membuka rubrik “Tunggu Dulu” dan “Gelora” yang selalu dinantikan.
Kutinggalkan sejenak untuk membersihkan diri, mandi, berganti pakaian, sebelum akhirnya berkumpul kembali. Sore itu diisi dengan mendengarkan cerita. Sesekali mengeja bersama, membaca perlahan, lalu mencoba menuliskan kembali apa yang dipahami dari bacaan.
Tiba-tiba, bocah kelas lima SD itu menutup korannya. Lantas bergegas masuk ke kamar yang sering disebut perpustakaan ala kadarnya. Tak lama, keluar sambil membawa buku berjudul Merayakan Keragaman.
“Bah, gimana cara buat buku seperti ini?” tanyanya polos.
Sebelum dijawab sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Kunaon, Aa?”
“Begini, Bah. Aa kepilih jadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba literasi, bikin buku. Cuma masih bingung mau nulis apa,” jelasnya.
Dengan menatapnya sejenak, mencoba merangkai jawaban yang sederhana untuk saling menguatkan asa dan harapan.
“Nya Aa kedah rajin maca, nyerat,” ucapku pelan.
Pasalnya, dengan rajin membaca, pikiran dibuka. Dari giat menulis, gagasan menemukan bentuknya. Dengan melakukan aktivitas di antara keduanya, budaya literasi tumbuh dan berkembang, bukan dari paksaan, melainkan dari kebiasaan kecil yang dirawat, dipupuk dengan cinta.

Rendahnya Budaya Literasi
Dalam Jurnal Basicedu Vol 8 No 1 Tahun 2024, dijelaskan kemampuan literasi membaca merupakan salah satu keterampilan yang penting di abad 21.
World Economic Forum 2016 disebutkan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh manusia adalah kemampuan dasar literasi, kemampuan memecahkan masalah, dan kualitas karakter manusia (Liansari et al., 2021; Puspitasari et al., 2021).
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melakukan asesmen setiap tiga tahun sekali untuk dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan sejak tahun 2000 (OECD, 2023).
PISA menguji pengetahuan peserta dalam bidang literasi membaca, literasi numerasi, dan literasi sains. Indonesia menjadi peserta PISA dalam setiap periode sejak tahun 2000, namun ranking Indonesia dalam PISA termasuk rendah, dan tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2022, Indonesia berada di peringat 69 dari 81 negara, dengan skor literasi membaca 359 sangat jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang berada di peringkat 1 dengan skor 543 (OECD, 2023).
Aktivitas memahami sampai mengevaluasi informasi dalam teks sering dijadikan kemampuan dasar seseorang yang harus dimiliki dalam berliterasi.
Komponen penting dalam literasi terdiri dari kemampuan membaca dan menulis, berpikir kritis, pemahaman terhadap konteks masalah dan pengetahuan, kemampuan mendengar dan berbicara, serta kreatif (Harahap et al., 2022).
Literasi merupakan pondasi dasar dalam pendidikan, karena kemampuan membaca dan menulis sangat dibutuhkan dalam pengembangan akademik seseorang (Juniawan, 2020).
Rendahnya skor PISA Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan literasi masyarakat di Indonesia perlu menjadi perhatian khusus. Hal ini berkaitan dengan kualitas pendidikan Indonesia.
Keterbatasan akses pendidikan di beberapa daerah memicu ketidaksetaraan kualitas pendidikan (Priasti & Suyatno, 2021).
Semuanya ini berdampak pada tingkat pemahaman bacaan masyarakat yang rendah, padahal angka melek huruf di Indonesia pada tahun 2022 telah mencapai 96,35% (Badan Pusat Statistik, 2023).
Central Connecticut State University melakukan penelitian terhadap kemampuan literasi bangsa pada tahun 2016, dan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang memiliki kemampuan literasi tinggi (Gewati, 2016).
Penelitian lain di beberapa sekolah menunjukkan bahwa tingkat pemahaman bacaan siswa masih rendah yang berarti kemampuan untuk memahami teks dan mengevaluasi bacaan, dan berpikir kritis siswa masih rendah (Inawati & Sanjaya, 2018; Kholik & Himam, 2015).
Kesadaran masyarakat terhadap kecakapan literasi masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya pendampingan orang tua dalam kegiatan membaca di rumah, dan rendahnya komitmen guru untuk melaksanakan gerakan literasi di sekolah (Khofifah & Ramadan, 2021).

Membaca Kunci Kemajuan Bangsa
Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menegaskan bangsa yang maju ditopang oleh budaya membaca, termasuk literasi sastra sejak dini untuk melahirkan generasi yang kritis, empatik, dan tahan terhadap hoaks maupun narasi dangkal di dunia maya.
Menurutnya kehadiran perpustakaan bukan hanya institusi penyimpan buku, melainkan jembatan cita, ruang demokrasi pengetahuan, dan penggerak budaya literasi bangsa.
Ketika terjadi meningkatnya Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024 sebagai capaian positif, tapi tetap menyisakan pekerjaan rumah terkait ketimpangan akses literasi antarwilayah, terutama di kawasan Timur Indonesia.
“Budaya baca, terlebih minat baca sastra, menghaluskan budi, menajamkan jiwa, dan menyuburkan kreativitas generasi penerus. Tantangan kita adalah memastikan literasi, khususnya sastra, benar-benar menjalar hingga ke pelosok negeri, bukan sekadar angka statistik,”
Soal fenomena komunitas pecinta buku di dalam TikTok yang berfokus pada sastra, buku, dan kegiatan membaca, BookTok, yang sukses menghidupkan kembali karya sastra lama di kalangan Gen Z, tapi sering kali konsumsi sastra hanya sebatas ringkasan dan kutipan singkat.
Perpusnas mengembangkan sejumlah strategi, antara lain Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang sejak 2018 telah menjangkau 38 provinsi, 296 kabupaten/kota, dan 2.396 desa/kelurahan. Gerakan Literasi Desa dengan mendirikan ruang baca di 20.000 desa dan distribusi lebih dari 20 juta buku.
“Yang ketiga, inovasi digital melalui aplikasi iPusnas yang menyediakan ribuan e-book gratis, dilengkapi fitur komunitas baca interaktif. Yang keempat, adalah Pustakawan Pilar Literasi, Inovasi, dan Transformasi Sosial. Yang kelima adalah soal gamifikasi dan literasi sastra membangun pengalaman membaca secara interaktif, terutama bagi generasi Z dan alpha,”
Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh budaya membaca masyarakatnya. “Bangsa yang maju adalah bangsa pembaca. Membaca bukan sekadar kewajiban, tetapi syarat revolusi mental menuju Indonesia Emas 2045. Sastra harus menjadi cermin kebijaksanaan kolektif bangsa,” (https://www.perpusnas.go.id)

Ingat, kehadiran buku sesungguhnya tidak pernah berdiri sendiri. Justru terlahir dari rahim kebiasaan membaca, tumbuh dari tradisi menulis, hidup dalam ruang diskusi, dan terus berkembang melalui ketekunan meneliti.
Buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi huruf-huruf yang dijilid rapi, melainkan jejak peradaban yang merekam pikiran, pergulatan gagasan, dan merawat harapan manusia pada masa depan.
Setiap bangsa yang maju, buku selalu mendapat tempat terhormat. Dengan menjadi teman sekolah, sahabat rumah tangga, penuntun kampus, kompas kehidupan, bahkan penentu arah kebijakan negara.
Walhasil, saat menyoal tentang buku, sejatinya kita tengah berbicara tentang kualitas suatu masyarakat yang terus berusaha hadir dengan sejauh mana mau (ingin) belajar, berdialog, dan terus memperbaiki kualitas diri.
Minat baca dan menulis bukan tumbuh dari paksaan, melainkan dari ruang dialog yang hangat, dari rasa ingin tahu yang dirawat, dan keberanian untuk mencoba.

Di ruang tengah yang tak luas itu, tanpa disadari sedang hadir ikhtiar menjaga budaya literasi. Bukan dengan cara yang rumit, tapi lewat kebiasaan kecil yang diulang dengan cinta sambil membaca bersama, berdiskusi, lalu menuliskan kembali apa yang dirasa.
Sungguh senja itu terasa lengkap. Bukan karena apa yang dibawa, tapi kebiasaan apa yang dirawat bersama mulai dari rasa ingin tahu, kata-kata, dan harapan kecil agar anak-anak tumbuh dengan cinta pada ilmu, pengetahuan dan cerita atas kehidupan.
Mari kita tumbuhkan cinta pada kebiasaan membaca, bangun keberanian untuk tradisi menulis, dan keyakinan setiap anak punya cerita untuk dibagikan, direnungkan bersama. (*)
