Tumbuhkan Cinta Membaca, Bangun Keberanian Menulis

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 27 Apr 2026, 08:00 WIB
Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Sore yang cerah itu, langit membiru menaungi kawasan Cibiru dan sekitarnya, seolah-olah ikut menyambut langkah pulang yang sarat rindu.

Sepulang bekerja di luar kota, pintu rumah kubuka dengan perasaan yang menggebu, rindu yang sederhana, tapi selalu menemukan jalannya untuk kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.

Tok… tok… tok…

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

Dua suara kecil menyambut, lebih hangat dari matahari yang mulai condong di ufuk barat.

Aa Akil (11 tahun) langsung bertanya, “Bah, bawa koran?”

Kujawab singkat, “Muhun.”

Tak mau kalah, Kakang (4 tahun) menyusul dengan mata berbinar, “Mana buat Faqih?”

Di momen itu, lelah seharian seperti luruh, tergantikan suasana syahdu yang tak bisa dibeli oleh apa pun. Ya, memang yang dibawa bukan sekadar koran. Ada harapan, ada asa kecil yang dititipkan anak-anak pada selembar kertas, segudang cerita, deretan dunia imajinasi yang tumbuh dari huruf-huruf yang tersusun rapi.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Tak lama, Aa Akil sudah tenggelam dalam bacaannya. Lembar demi lembar dibalik dengan penuh rasa ingin tahu, terutama saat membuka rubrik “Tunggu Dulu” dan “Gelora” yang selalu dinantikan.

Kutinggalkan sejenak untuk membersihkan diri, mandi, berganti pakaian, sebelum akhirnya berkumpul kembali. Sore itu diisi dengan mendengarkan cerita. Sesekali mengeja bersama, membaca perlahan, lalu mencoba menuliskan kembali apa yang dipahami dari bacaan.

Tiba-tiba, bocah kelas lima SD itu menutup korannya. Lantas bergegas masuk ke kamar yang sering disebut perpustakaan ala kadarnya. Tak lama, keluar sambil membawa buku berjudul Merayakan Keragaman.

Bah, gimana cara buat buku seperti ini?” tanyanya polos.

Sebelum dijawab sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Kunaon, Aa?”

Begini, Bah. Aa kepilih jadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba literasi, bikin buku. Cuma masih bingung mau nulis apa,” jelasnya.

Dengan menatapnya sejenak, mencoba merangkai jawaban yang sederhana untuk saling menguatkan asa dan harapan.

Nya Aa kedah rajin maca, nyerat,” ucapku pelan.

Pasalnya, dengan rajin membaca, pikiran dibuka. Dari giat menulis, gagasan menemukan bentuknya. Dengan melakukan aktivitas di antara keduanya, budaya literasi tumbuh dan berkembang, bukan dari paksaan, melainkan dari kebiasaan kecil yang dirawat, dipupuk dengan cinta.

Kakang anak ketiga tengah asyik melihat gambar, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Kakang anak ketiga tengah asyik melihat gambar, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Rendahnya Budaya Literasi

Dalam Jurnal Basicedu Vol 8 No 1 Tahun 2024, dijelaskan kemampuan literasi membaca merupakan salah satu keterampilan yang penting di abad 21.

World Economic Forum 2016 disebutkan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh manusia adalah kemampuan dasar literasi, kemampuan memecahkan masalah, dan kualitas karakter manusia (Liansari et al., 2021; Puspitasari et al., 2021).

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melakukan asesmen setiap tiga tahun sekali untuk dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan sejak tahun 2000 (OECD, 2023).

PISA menguji pengetahuan peserta dalam bidang literasi membaca, literasi numerasi, dan literasi sains. Indonesia menjadi peserta PISA dalam setiap periode sejak tahun 2000, namun ranking Indonesia dalam PISA termasuk rendah, dan tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2022, Indonesia berada di peringat 69 dari 81 negara, dengan skor literasi membaca 359 sangat jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang berada di peringkat 1 dengan skor 543 (OECD, 2023).

Aktivitas memahami sampai mengevaluasi informasi dalam teks sering dijadikan kemampuan dasar seseorang yang harus dimiliki dalam berliterasi.

Komponen penting dalam literasi terdiri dari kemampuan membaca dan menulis, berpikir kritis, pemahaman terhadap konteks masalah dan pengetahuan, kemampuan mendengar dan berbicara, serta kreatif (Harahap et al., 2022).

Literasi merupakan pondasi dasar dalam pendidikan, karena kemampuan membaca dan menulis sangat dibutuhkan dalam pengembangan akademik seseorang (Juniawan, 2020).

Rendahnya skor PISA Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan literasi masyarakat di Indonesia perlu menjadi perhatian khusus. Hal ini berkaitan dengan kualitas pendidikan Indonesia.

Keterbatasan akses pendidikan di beberapa daerah memicu ketidaksetaraan kualitas pendidikan (Priasti & Suyatno, 2021).

Semuanya ini berdampak pada tingkat pemahaman bacaan masyarakat yang rendah, padahal angka melek huruf di Indonesia pada tahun 2022 telah mencapai 96,35% (Badan Pusat Statistik, 2023).

Central Connecticut State University melakukan penelitian terhadap kemampuan literasi bangsa pada tahun 2016, dan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang memiliki kemampuan literasi tinggi (Gewati, 2016).

Penelitian lain di beberapa sekolah menunjukkan bahwa tingkat pemahaman bacaan siswa masih rendah yang berarti kemampuan untuk memahami teks dan mengevaluasi bacaan, dan berpikir kritis siswa masih rendah (Inawati & Sanjaya, 2018; Kholik & Himam, 2015).

Kesadaran masyarakat terhadap kecakapan literasi masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya pendampingan orang tua dalam kegiatan membaca di rumah, dan rendahnya komitmen guru untuk melaksanakan gerakan literasi di sekolah (Khofifah & Ramadan, 2021).

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Membaca Kunci Kemajuan Bangsa

Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menegaskan bangsa yang maju ditopang oleh budaya membaca, termasuk literasi sastra sejak dini untuk melahirkan generasi yang kritis, empatik, dan tahan terhadap hoaks maupun narasi dangkal di dunia maya.

Menurutnya kehadiran perpustakaan bukan hanya institusi penyimpan buku, melainkan jembatan cita, ruang demokrasi pengetahuan, dan penggerak budaya literasi bangsa.

Ketika terjadi meningkatnya Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024 sebagai capaian positif, tapi tetap menyisakan pekerjaan rumah terkait ketimpangan akses literasi antarwilayah, terutama di kawasan Timur Indonesia.

Budaya baca, terlebih minat baca sastra, menghaluskan budi, menajamkan jiwa, dan menyuburkan kreativitas generasi penerus. Tantangan kita adalah memastikan literasi, khususnya sastra, benar-benar menjalar hingga ke pelosok negeri, bukan sekadar angka statistik,”

Soal fenomena komunitas pecinta buku di dalam TikTok yang berfokus pada sastra, buku, dan kegiatan membaca, BookTok, yang sukses menghidupkan kembali karya sastra lama di kalangan Gen Z, tapi sering kali konsumsi sastra hanya sebatas ringkasan dan kutipan singkat.

Perpusnas mengembangkan sejumlah strategi, antara lain Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang sejak 2018 telah menjangkau 38 provinsi, 296 kabupaten/kota, dan 2.396 desa/kelurahan. Gerakan Literasi Desa dengan mendirikan ruang baca di 20.000 desa dan distribusi lebih dari 20 juta buku.

Yang ketiga, inovasi digital melalui aplikasi iPusnas yang menyediakan ribuan e-book gratis, dilengkapi fitur komunitas baca interaktif. Yang keempat, adalah Pustakawan Pilar Literasi, Inovasi, dan Transformasi Sosial. Yang kelima adalah soal gamifikasi dan literasi sastra membangun pengalaman membaca secara interaktif, terutama bagi generasi Z dan alpha,”

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh budaya membaca masyarakatnya. “Bangsa yang maju adalah bangsa pembaca. Membaca bukan sekadar kewajiban, tetapi syarat revolusi mental menuju Indonesia Emas 2045. Sastra harus menjadi cermin kebijaksanaan kolektif bangsa,” (https://www.perpusnas.go.id)

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Ingat, kehadiran buku sesungguhnya tidak pernah berdiri sendiri. Justru terlahir dari rahim kebiasaan membaca, tumbuh dari tradisi menulis, hidup dalam ruang diskusi, dan terus berkembang melalui ketekunan meneliti.

Buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi huruf-huruf yang dijilid rapi, melainkan jejak peradaban yang merekam pikiran, pergulatan gagasan, dan merawat harapan manusia pada masa depan.

Setiap bangsa yang maju, buku selalu mendapat tempat terhormat. Dengan menjadi teman sekolah, sahabat rumah tangga, penuntun kampus, kompas kehidupan, bahkan penentu arah kebijakan negara.

Walhasil, saat menyoal tentang buku, sejatinya kita tengah berbicara tentang kualitas suatu masyarakat yang terus berusaha hadir dengan sejauh mana mau (ingin) belajar, berdialog, dan terus memperbaiki kualitas diri.

Minat baca dan menulis bukan tumbuh dari paksaan, melainkan dari ruang dialog yang hangat, dari rasa ingin tahu yang dirawat, dan keberanian untuk mencoba.

Di ruang tengah yang tak luas itu, tanpa disadari sedang hadir ikhtiar menjaga budaya literasi. Bukan dengan cara yang rumit, tapi lewat kebiasaan kecil yang diulang dengan cinta sambil membaca bersama, berdiskusi, lalu menuliskan kembali apa yang dirasa.

Sungguh senja itu terasa lengkap. Bukan karena apa yang dibawa, tapi kebiasaan apa yang dirawat bersama mulai dari rasa ingin tahu, kata-kata, dan harapan kecil agar anak-anak tumbuh dengan cinta pada ilmu, pengetahuan dan cerita atas kehidupan.

Mari kita tumbuhkan cinta pada kebiasaan membaca, bangun keberanian untuk tradisi menulis, dan keyakinan setiap anak punya cerita untuk dibagikan, direnungkan bersama. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)