Jika Masuknya Curang, Jangan Harap Ilmunya Jujur

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Minggu 26 Apr 2026, 16:36 WIB
Ruang ujian bukan hanya soal soal dan jawaban, tapi juga tentang sejauh mana integritas diuji. (Sumber: UPN VETERAN JAWA TIMUR | Foto: UPN HUMAS)

Ruang ujian bukan hanya soal soal dan jawaban, tapi juga tentang sejauh mana integritas diuji. (Sumber: UPN VETERAN JAWA TIMUR | Foto: UPN HUMAS)

Di tengah persaingan yang semakin ketat, pendidikan sering dianggap sebagai jalan utama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Gelar akademik menjadi simbol keberhasilan, sedangkan kursi perguruan tinggi diperebutkan dengan berbagai cara. Situasi seperti ini, tekanan untuk “lolos” sering kali lebih besar dibanding kesiapan untuk benar-benar menghadapi ujian. Akibatnya, nilai kejujuran yang seharusnya menjadi dasar perlahan tergeser oleh ambisi untuk masuk.

Kecurangan seolah bukan hal baru. Setiap tahun, termasuk pada pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026, masalah ini kembali muncul sebagai bagian dari proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Padahal, dengan sistem yang sudah disusun secara nasional dan dirancang objektif, mulai dari Tes Potensi Skolastik (TPS) untuk mengukur kemampuan kognitif serta literasi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan penalaran matematika (Brain Academy, 2026), UTBK seharusnya menjadi alat ukur kemampuan yang adil.

Namun di balik itu, berbagai laporan menunjukkan masih adanya praktik kecurangan, mulai dari penggunaan joki hingga alat bantu komunikasi tersembunyi yang semakin canggih. Kecurangan dalam ujian masuk perguruan tinggi memunculkan pertanyaan mendasar: jika untuk masuk saja sudah tidak jujur, bagaimana dengan proses setelahnya?

Ujian bukan hanya soal kemampuan, tetapi pilihan: tetap jujur atau mencari jalan pintas. (Sumber: Freepik/ AI Generated)
Ujian bukan hanya soal kemampuan, tetapi pilihan: tetap jujur atau mencari jalan pintas. (Sumber: Freepik/ AI Generated)

Kecurangan UTBK: Dari Jalan Pintas hingga Krisis Integritas

Kecurangan dalam UTBK bukan hal baru. Saat pelaksanaan tahun 2025, berbagai cara kecurangan telah terungkap. Ini termasuk pemasangan kamera mikro di behel gigi dan kacamata. Ada juga yang menyisipkannya di kancing baju untuk merekam soal dari pihak luar. Bahkan, saat itu ditemukan peserta yang menyembunyikan ponsel di sepatu. Mereka menggunakan teknologi remote access dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan jawaban secara instan (UINSSC, 2025). Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kecurangan sudah ada sejak tahun sebelumnya dan masih berlangsung hingga sekarang.

Saat ini UTBK 2026 ditemukan juga ada tiga kasus kecurangan sejak dimulai UTBK 2026 pada hari selasa 21 April (CNN Indonesia, 2026). Sejumlah kasus yang terungkap yakni;

Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Pertama kasus di UNESA yaitu kecurangan terjadi melalui praktik perjokian dengan manipulasi identitas. Pelaku mengikuti ujian menggunakan data peserta asli, tetapi dengan foto yang telah diganti agar sesuai dengan dirinya. Kasus ini terungkap setelah panitia membandingkan data lintas tahun dan menemukan penggunaan foto yang sama dengan identitas berbeda, yang menunjukkan adanya upaya kecurangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT)

Kedua kasus di UPNVJT dimulai dari praktik perjokian yang juga ditemukan setelah seorang peserta menunjukkan perilaku gerak-gerik yang mencurigakan saat ujian berlangsung, serta saat pemeriksaan adanya ketidaksesuaian identitas. Tidak hanya itu, panitia juga menemukan indikasi keterkaitan data dengan lokasi ujian lain, yang mengarah pada kemungkinan adanya pola kecurangan.

Universitas Diponegoro (UNDIP)

Ketiga kasus di UNDIP yaitu peserta ujian yang melakukan kecurangan dengan bantuan teknologi tersembunyi. Aksi ini terungkap saat pemeriksaan menggunakan metal detector sebelum ujian dimulai, ketika panitia menemukan adanya ‘metal’ pada tubuh peserta dan setelah diperiksa lebih lanjut terdeteksi berada di bagian telinga. Pelaku kecurangan juga diserahkan ke Polsek Tembalang sesuai prosedur dan saat di periksa peserta tersebut membawa alat berupa kabel menyerupai handfree yang terpasang hingga ke dalam telinga.

Dari tiga kasus tersebut, kita bisa lihat bahwa masalah UTBK tidak hanya soal lulus atau tidak lulus, melainkan cara pikir yang makin instan: semua harus cepat, hasil harus ada, meski prosesnya dilewati. Pendidikan pelan-pelan berubah dari tempat belajar jadi sekadar ajang mengejar status, di mana gelar dianggap tujuan akhir, bukan hasil dari proses panjang yang jujur dan kerja keras.

Persaingan masuk perguruan tinggi yang makin ketat juga ikut menambah tekanan. Sistem seleksi yang harusnya menjadi tolak ukur yang adil bertentangan dengan praktiknya, malah bisa mendorong orang cari jalan pintas. Kecurangan bukan hanya soal individu yang “nakal”, tapi juga gambaran lingkungan yang terlalu fokus pada hasil tanpa cukup menghargai proses.

Karena itu, masalah ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperketat pengawasan atau menambah alat deteksi, melainkan harus ada pembenahan terhadap cara pandang pendidikan itu sendiri—bahwa masuk kampus bukan soal siapa yang paling licik, tapi siapa yang memang siap belajar dan berkembang. Pendidikan harus kembali ke dasarnya: membentuk orang yang bukan cuma pintar secara akademik, tapi juga punya integritas, karena yang dipertaruhkan bukan hanya hasil ujian, tetapi juga cara pandang terhadap makna pendidikan itu sendiri. (*)

REFERENSI

  • UIN SSC. (2025). “Kecurangan UTBK 2025 semakin canggih: Pasang kamera di behel dan kacamata”.

  • CNN Indonesia. (2026). "Sederet Kecurangan UTBK 2026: Pakai Joki sampai Pasang Alat Dengar".

  • Nanda, S. (2026). “UTBK SNBT 2026: Jadwal, Cara Daftar, Aturan Baru, dan Syarat”. Brain Academy.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)