Jika Masuknya Curang, Jangan Harap Ilmunya Jujur

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Ruang ujian bukan hanya soal soal dan jawaban, tapi juga tentang sejauh mana integritas diuji. (Sumber: UPN VETERAN JAWA TIMUR | Foto: UPN HUMAS)
Ruang ujian bukan hanya soal soal dan jawaban, tapi juga tentang sejauh mana integritas diuji. (Sumber: UPN VETERAN JAWA TIMUR | Foto: UPN HUMAS)

Di tengah persaingan yang semakin ketat, pendidikan sering dianggap sebagai jalan utama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Gelar akademik menjadi simbol keberhasilan, sedangkan kursi perguruan tinggi diperebutkan dengan berbagai cara. Situasi seperti ini, tekanan untuk “lolos” sering kali lebih besar dibanding kesiapan untuk benar-benar menghadapi ujian. Akibatnya, nilai kejujuran yang seharusnya menjadi dasar perlahan tergeser oleh ambisi untuk masuk.

Kecurangan seolah bukan hal baru. Setiap tahun, termasuk pada pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026, masalah ini kembali muncul sebagai bagian dari proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Padahal, dengan sistem yang sudah disusun secara nasional dan dirancang objektif, mulai dari Tes Potensi Skolastik (TPS) untuk mengukur kemampuan kognitif serta literasi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan penalaran matematika (Brain Academy, 2026), UTBK seharusnya menjadi alat ukur kemampuan yang adil.

Namun di balik itu, berbagai laporan menunjukkan masih adanya praktik kecurangan, mulai dari penggunaan joki hingga alat bantu komunikasi tersembunyi yang semakin canggih. Kecurangan dalam ujian masuk perguruan tinggi memunculkan pertanyaan mendasar: jika untuk masuk saja sudah tidak jujur, bagaimana dengan proses setelahnya?

Ujian bukan hanya soal kemampuan, tetapi pilihan: tetap jujur atau mencari jalan pintas. (Sumber: Freepik/ AI Generated)
Ujian bukan hanya soal kemampuan, tetapi pilihan: tetap jujur atau mencari jalan pintas. (Sumber: Freepik/ AI Generated)

Kecurangan UTBK: Dari Jalan Pintas hingga Krisis Integritas

Kecurangan dalam UTBK bukan hal baru. Saat pelaksanaan tahun 2025, berbagai cara kecurangan telah terungkap. Ini termasuk pemasangan kamera mikro di behel gigi dan kacamata. Ada juga yang menyisipkannya di kancing baju untuk merekam soal dari pihak luar. Bahkan, saat itu ditemukan peserta yang menyembunyikan ponsel di sepatu. Mereka menggunakan teknologi remote access dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan jawaban secara instan (UINSSC, 2025). Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kecurangan sudah ada sejak tahun sebelumnya dan masih berlangsung hingga sekarang.

Saat ini UTBK 2026 ditemukan juga ada tiga kasus kecurangan sejak dimulai UTBK 2026 pada hari selasa 21 April (CNN Indonesia, 2026). Sejumlah kasus yang terungkap yakni;

Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Pertama kasus di UNESA yaitu kecurangan terjadi melalui praktik perjokian dengan manipulasi identitas. Pelaku mengikuti ujian menggunakan data peserta asli, tetapi dengan foto yang telah diganti agar sesuai dengan dirinya. Kasus ini terungkap setelah panitia membandingkan data lintas tahun dan menemukan penggunaan foto yang sama dengan identitas berbeda, yang menunjukkan adanya upaya kecurangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT)

Kedua kasus di UPNVJT dimulai dari praktik perjokian yang juga ditemukan setelah seorang peserta menunjukkan perilaku gerak-gerik yang mencurigakan saat ujian berlangsung, serta saat pemeriksaan adanya ketidaksesuaian identitas. Tidak hanya itu, panitia juga menemukan indikasi keterkaitan data dengan lokasi ujian lain, yang mengarah pada kemungkinan adanya pola kecurangan.

Universitas Diponegoro (UNDIP)

Ketiga kasus di UNDIP yaitu peserta ujian yang melakukan kecurangan dengan bantuan teknologi tersembunyi. Aksi ini terungkap saat pemeriksaan menggunakan metal detector sebelum ujian dimulai, ketika panitia menemukan adanya ‘metal’ pada tubuh peserta dan setelah diperiksa lebih lanjut terdeteksi berada di bagian telinga. Pelaku kecurangan juga diserahkan ke Polsek Tembalang sesuai prosedur dan saat di periksa peserta tersebut membawa alat berupa kabel menyerupai handfree yang terpasang hingga ke dalam telinga.

Dari tiga kasus tersebut, kita bisa lihat bahwa masalah UTBK tidak hanya soal lulus atau tidak lulus, melainkan cara pikir yang makin instan: semua harus cepat, hasil harus ada, meski prosesnya dilewati. Pendidikan pelan-pelan berubah dari tempat belajar jadi sekadar ajang mengejar status, di mana gelar dianggap tujuan akhir, bukan hasil dari proses panjang yang jujur dan kerja keras.

Persaingan masuk perguruan tinggi yang makin ketat juga ikut menambah tekanan. Sistem seleksi yang harusnya menjadi tolak ukur yang adil bertentangan dengan praktiknya, malah bisa mendorong orang cari jalan pintas. Kecurangan bukan hanya soal individu yang “nakal”, tapi juga gambaran lingkungan yang terlalu fokus pada hasil tanpa cukup menghargai proses.

Karena itu, masalah ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperketat pengawasan atau menambah alat deteksi, melainkan harus ada pembenahan terhadap cara pandang pendidikan itu sendiri—bahwa masuk kampus bukan soal siapa yang paling licik, tapi siapa yang memang siap belajar dan berkembang. Pendidikan harus kembali ke dasarnya: membentuk orang yang bukan cuma pintar secara akademik, tapi juga punya integritas, karena yang dipertaruhkan bukan hanya hasil ujian, tetapi juga cara pandang terhadap makna pendidikan itu sendiri. (*)

REFERENSI

  • UIN SSC. (2025). “Kecurangan UTBK 2025 semakin canggih: Pasang kamera di behel dan kacamata”.

  • CNN Indonesia. (2026). "Sederet Kecurangan UTBK 2026: Pakai Joki sampai Pasang Alat Dengar".

  • Nanda, S. (2026). “UTBK SNBT 2026: Jadwal, Cara Daftar, Aturan Baru, dan Syarat”. Brain Academy.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)