Urbanisasi Humanis ala Shenzhen

6 menit baca
Wuri Indri
Ditulis oleh Wuri Indri diterbitkan Minggu 26 Apr 2026, 12:00 WIB
Shenzhen, China. (Sumber: wikimedia.org)

Shenzhen, China. (Sumber: wikimedia.org)

Setiap tahun, fenomena urbanisasi yang sama selalu berulang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pasca Lebaran, populasi Kota Bandung mengalami lonjakan hingga 2–3 persen yang datang bersamaan dengan arus balik.. Namun demikian, angka itu hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang jauh lebih besar karena masih banyak pendatang yang tak tercatat. Mereka hadir di kota ini, menyesaki jalanan, menambah beban fasilitas umum, dan memperebutkan lapangan kerja yang sudah semakin terbatas. Angka-angka dalam laporan resmi itu hanyalah sebagian kecil dari cerita yang sesungguhnya.

Di luar data yang tercatat, ada ribuan manusia yang sudah telanjur datang, sudah menempati gang-gang sempit, sudah mengantre di warung nasi, sudah berjejal di angkot namun luput dari perhatian negara. Kota Bandung merasakannya setiap hari di jalanan, di pasar, di tempat pembuangan sampah yang kapasitasnya sudah lama kewalahan. Tapi angka resminya? Belum tentu mencerminkan semua itu.

Pendatang di sebuah kota kerap kali diidentikkan sebagai beban, merekalah yang sering disalahkan karena jalanan yang semakin macet, sekolah yang semakin penuh, puskesmas yang antreannya tak pernah ada habisnya, lingkungan yang semakin sesak.

Namun demikian, ada kota yang berhasil menyulap pendatang sebagai aset, kota itu adalah Shenzhen yang dijuluki “city of migrants”, mengingat sekitar 70 hingga 95 persen penduduknya bukanlah warga asli. Sejarah Shenzhen dimulai di tahun 1980-an saat kota tersebut ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), artinya, Shenzhen mendapat perlakuan istimewa, diantaranya pajak yang lebih rendah, regulasi bisnis yang dilonggarkan, pintu terbuka bagi investasi asing, dan kebebasan bereksperimen dengan mekanisme pasar. Dalam kurun empat dekade, Shenzhen bertransformasi dari sebuah desa nelayan kecil menjadi megapolitan dengan populasi lebih dari 17 juta jiwa.

Keberhasilan Shenzhen memberdayakan para pendatang menjadi mesin pertumbuhan patut dijadikan pelajaran berharga bagi kota-kota lain yang tengah bergulat dengan persoalan serupa, termasuk Kota Bandung. Shenzhen tidak membangun kejayaannya dengan mengusir para pendatang, mempersulit administrasi kependudukan, atau membangun tembok-tembok regulasi yang menyulitkan mobilitas warga. Sebaliknya, kota ini justru membuka diri selebar-lebarnya dan merancang ekosistem yang memungkinkan setiap orang yang datang untuk menemukan tempat dan perannya masing-masing.

Salah satu kebijakan cerdas yang diterapkan Shenzhen dalam mengelola urbanisasi adalah pendekatannya terhadap permukiman informal yang tumbuh di sela-sela kota yang disebut chengzhongcun (kampung di dalam kota) dan seringkali lekat dengan kesan kumuh. Pendekatan pemerintah Tiongkok adalah penataan bukan penggusuran dengan memperbaiki infrastruktur dasar, meningkatkan sanitasi, memperkuat jaringan jalan, dan mengintegrasikan kawasan ini ke dalam sistem kota yang lebih luas, tanpa mengusik fungsi sosialnya sebagai ruang hidup yang terjangkau.

Bandung sendiri memiliki kantong-kantong permukiman pendatang yang sudah puluhan tahun berkembang seperti Kampung Kebon Kelapa, Babakan Ciamis, atau sejumlah gang padat di kawasan Cicadas dan Cibaduyut. Kawasan-kawasan ini kerap dipandang sebelah mata: kumuh, semrawut, dan dianggap menurunkan wajah kota. Padahal di balik gang-gang sempitnya, ada gerakan ekonomi melalui berbagai warung makan dan  kontrakan murah yang menopang kehidupan pendatang, ada masjid kecil yang menjadi pusat komunitas. Pemerintah Kota Bandung seharusnya fokus pada upaya penataan seperti perbaikan drainasenya, perluas aksesnya, tambahkan ruang terbuka, integrasikan dengan transportasi publik, dan beri warganya kepastian hak tinggal sehingga mereka mau berinvestasi pada hunian mereka sendiri.

Transformasi Shenzhen selanjutnya adalah dengan merombak sistem administratif hukou. Sistem tersebut membatasi hak kependudukan pendatang terhadap akses layanan publik. Contohnya seorang buruh dari Provinsi Sichuan yang bekerja bertahun-tahun di sebuah kota besar tetap dianggap "orang luar" oleh sistem, sehingga anak-anaknya tidak berhak masuk sekolah negeri setempat, ia tidak bisa mengakses layanan kesehatan dengan hak penuh, dan secara administratif ia seolah dianggap tidak ada di kota tempat ia bekerja.

Kondisi ini membuat pendatang dianggap sebagai warga kelas dua. Shenzhen menerapkan reformasi hukou yang progresif, dengan penetapan sistem Kartu Residensi yang memberikan akses terhadap layanan publik bagi siapa pun yang dapat membuktikan bahwa mereka bekerja dan menetap di kota tersebut, tanpa memandang dari mana mereka berasal. Tidak ada yang mempermasalahkan apakah kamu orang Sunda, Jawa, Batak, atau Madura. Satu-satunya pertanyaan yang relevan adalah apakah kamu bekerja di sini, apakah kamu berkontribusi di sini?

Shenzhen membangun sistem pendataan penduduk yang canggih dan terus diperbarui secara real-time. Bandung perlu bergerak ke arah yang sama: membangun basis data kependudukan yang tidak hanya menghitung warga ber-KTP Bandung, tetapi juga merekam penduduk yang ada dilapangan, mereka yang tinggal dan beraktivitas di kota ini meskipun secara administratif tercatat di daerah lain. Data yang akurat adalah syarat dari kebijakan yang tepat sasaran.

Selama ini pendekatan yang dominan dalam menangani pendatang tidak terdaftar adalah pendekatan penertiban berupa razia, sidak, dan ancaman sanksi. Pendekatan ini terbukti tidak efektif karena tidak menyentuh akar persoalannya. Fenomena pendatang yang tidak melapor ke RT, yang menghindari pendataan, yang hidup dalam ketidakjelasan administratif, sebagian besar bukan karena mereka ingin sembunyi, tapi karena sistem tidak menawarkan keuntungan nyata bagi mereka yang melapor.

Jika mendaftarkan diri justru mempersulit akses kerja, membebani dengan birokrasi, atau tidak memberi perbedaan apapun dalam akses layanan, mengapa repot-repot? Selama pendatang diperlakukan sebagai tamu yang bisa diusir sewaktu-waktu, mereka pun akan bersikap sebagai tamu: tidak berinvestasi, tidak berakar, dan tidak merasa bertanggung jawab terhadap kota. Shenzhen membalik logika itu dan hasilnya adalah jutaan orang yang memilih untuk menjadi bagian dari kota, bukan sekadar numpang lewat di dalamnya.

Transformasi selanjutnya yang dilakukan Shenzhen adalah perubahan struktur kerja. Salah satu perangkap terbesar dari urbanisasi yang tidak dikelola dengan baik adalah ketika kota hanya mampu menyerap pendatang di lapisan paling bawah rantai ekonomi seperti menjadi buruh kasar, pekerja informal, atau pedagang kaki lima yang hidupnya stagnan dari tahun ke tahun. Mereka datang dengan modal terbatas, bekerja keras, tetapi tidak pernah benar-benar beranjak dari titik awal. Bukan karena mereka tidak mau berkembang, melainkan karena tidak ada sistem yang dirancang untuk membantu mereka berkembang. Di sinilah Shenzhen kembali menunjukkan perbedaan mendasarnya dengan kota-kota lain yang hanya pasif menerima arus urbanisasi tanpa strategi.

Melalui Ladder-up Skill Program, Shenzhen menyusun program peningkatan keterampilan berjenjang yang disediakan pemerintah kota secara gratis atau bersubsidi besar. Seorang buruh pabrik yang hari ini bertugas mengencangkan baut di lini produksi bisa mengikuti pelatihan elektronik dasar di malam hari, kemudian meningkat ke pelatihan pemrograman, dan dalam beberapa tahun bertransformasi menjadi teknisi atau bahkan wirausahawan kecil di ekosistem manufaktur teknologi yang padat di Huaqiangbei. Hasilnya bukan hanya peningkatan taraf hidup individu, tetapi juga peningkatan kualitas tenaga kerja kota secara keseluruhan.

Bandung sejatinya memiliki potensi yang luar biasa untuk mereplikasi semangat program ini, bahkan dengan keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota lain di Indonesia. Kota ini adalah rumah bagi puluhan perguruan tinggi berkualitas yang memiliki kapasitas riset, fasilitas laboratorium, dan tenaga pengajar yang sesungguhnya bisa menjadi tulang punggung program pelatihan skala kota. Selain itu, Bandung memiliki ekosistem industri kreatif, teknologi, dan manufaktur tekstil yang sudah matang artinya ada kebutuhan nyata akan tenaga terampil yang bisa langsung terserap jika programnya dirancang dengan baik dan tepat sasaran.

Yang selama ini absen bukan kapasitasnya, melainkan koordinasinya. Pelatihan yang ada kerap berjalan sendiri-sendiri: Dinas Tenaga Kerja punya programnya, Dinas Koperasi dan UMKM punya programnya, kampus-kampus punya program pengabdian masyarakatnya masing-masing, semuanya berjalan dalam silo yang tidak terhubung, tidak terdata dengan baik, dan tidak dirancang sebagai sebuah sistem yang berjenjang dan berkelanjutan. Pendatang yang paling membutuhkan program ini justru paling sedikit informasinya tentang program apa yang tersedia, di mana, dan bagaimana cara mendaftarnya.

Shenzhen mengajarkan bahwa investasi pada manusia adalah investasi paling menguntungkan yang bisa dilakukan sebuah kota. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk melatih seorang pekerja migran agar naik kelas akan kembali berlipat ganda dalam bentuk pajak yang lebih besar, konsumsi yang lebih tinggi, dan inovasi yang lebih banyak..

Shenzhen tidak menjadi kota terbesar dan terinovatif di Tiongkok karena mengusir para pendatangnya. Ia menjadi seperti sekarang justru karena memeluk mereka, memberi mereka hak, memberi mereka tempat, dan memberi mereka alasan untuk membangun kota ini seperti membangun rumah mereka sendiri. Bandung, dengan segala potensi dan tantangannya, bisa belajar dari Shenzhen. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Wuri Indri
Tentang Wuri Indri
a librarian at Pusjar SKTAN LAN RI, advocate for open access, open data and open source

Berita Terkait

News Update

Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)