Taat Rambu dan Marka: Bukan Sekadar Aturan, tapi Keselamatan

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Sejumlah Polwan memberikan sosialisasi budaya tertib berlalu lintas kepada pengguna jalan di Pos Aria Graha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Humas Polda Jabar)
Sejumlah Polwan memberikan sosialisasi budaya tertib berlalu lintas kepada pengguna jalan di Pos Aria Graha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Humas Polda Jabar)

Pagi hari di ruas jalan nasional di Bandung Timur, pelanggaran lalu lintas kerap terlihat seperti hal biasa—sepeda motor mengambil jalur lawan, kendaraan berhenti melewati garis henti, hingga pengendara yang mengabaikan lampu merah. Namun, beberapa kilometer kemudian, ketika memasuki simpang Gasibu, perilaku pengendara menjadi berubah: kendaraan lebih tertib, marka dan lampu merah dipatuhi, serta arus lalu lintas lebih teratur. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting—banyak pengguna jalan sebenarnya tahu aturan, tetapi belum selalu memilih untuk mematuhinya. Kepatuhan masih dipandang sebagai pilihan, padahal menyangkut keselamatan bersama.

Di berbagai kota, termasuk Bandung, pelanggaran terhadap rambu dan marka telah menjadi praktik sehari-hari. Pengendara menerobos lampu merah, melanggar garis henti, hingga melawan arus demi efisiensi waktu. Praktik melawan arah oleh sepeda motor di koridor padat bahkan kerap dianggap wajar. Normalisasi ini berbahaya karena menghilangkan prediktabilitas—unsur kunci dalam keselamatan lalu lintas. Ketika perilaku pengguna jalan tidak dapat diperkirakan, potensi konflik meningkat secara signifikan.

Rambu dan marka sebagai sistem komunikasi

Rambu lalu lintas dan marka jalan berfungsi sebagai sistem komunikasi visual yang mengatur interaksi di ruang jalan. Rambu menyampaikan perintah, larangan, dan peringatan secara eksplisit, sementara marka mengarahkan posisi, prioritas, serta pergerakan kendaraan secara lebih implisit namun konsisten. Melalui kombinasi keduanya, pengguna jalan dapat “membaca” situasi tanpa harus berkomunikasi langsung, sehingga arus lalu lintas tetap teratur dan konflik dapat diminimalkan. Sistem ini hanya efektif jika menjadi acuan bersama dan dipatuhi oleh semua pihak. Ketika dilanggar—misalnya dengan melintasi garis utuh, berhenti melewati garis henti, atau mengambil jalur berlawanan—komunikasi tersebut runtuh. Akibatnya, interaksi di jalan tidak lagi berbasis aturan yang sama, melainkan bergeser menjadi keputusan individual yang cenderung spontan dan berisiko. Dalam kondisi seperti ini, tingkat ketidakpastian meningkat, dan setiap pengguna jalan harus menebak-nebak tindakan orang lain, yang pada akhirnya memperbesar potensi konflik dan kecelakaan.

Pelanggaran di simpang: cermin rendahnya kepatuhan

Data dari ATCS Kota Bandung (2026) menunjukkan bahwa pelanggaran di simpang masih didominasi oleh perilaku yang berkaitan langsung dengan rambu dan marka, seperti berhenti melewati garis henti atau di atas zebra cross, melanggar APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas), serta mengabaikan rambu lalu lintas. Selain itu, pelanggaran lain seperti tidak menggunakan helm dan membawa penumpang berlebih juga masih sering ditemukan, terutama pada kendaraan roda dua. Pola ini menegaskan bahwa pelanggaran bukan sekadar akibat ketidaktahuan, melainkan kebiasaan yang terus berulang dalam kondisi lalu lintas sehari-hari.

Rekap pelanggaran di simpang periode Maret 2026. (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Rekap pelanggaran di simpang periode Maret 2026. (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)

Pelanggaran di ruas jalan dan risiko kecelakaan

Di ruas jalan, pelanggaran terhadap marka menjadi salah satu bentuk pelanggaran paling berbahaya. Di sepanjang Jalan A.H. Nasution hingga Jalan Suci, praktik melintasi marka hingga mengambil jalur lawan arah kerap terjadi dan berkontribusi terhadap kecelakaan. Berbeda dengan konflik samping, pelanggaran ini menciptakan risiko tabrakan frontal yang berpotensi fatal. Ini menunjukkan bahwa marka jalan bukan sekadar elemen visual, melainkan bagian penting dari sistem keselamatan.

Secara umum, beban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung juga masih tinggi. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan di wilayah hukum Polresta Bandung mencapai 454 kejadian, dengan dominasi faktor kesalahan manusia sebagai penyebab utama, yang berdampak signifikan berupa 156 korban meninggal dunia, 50 luka berat, serta 390 luka ringan. Angka ini memperkuat bahwa pelanggaran terhadap rambu dan marka memiliki konsekuensi nyata terhadap keselamatan, sehingga diperlukan intervensi nyata untuk menekan angka fatalitas tersebut.

Sebuah motor masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan dengan truk di Jl. A.H. Nasution, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)
Sebuah motor masuk ke jalur berlawanan dan bertabrakan dengan truk di Jl. A.H. Nasution, Kota Bandung. (Sumber: Instagram/@infobandungkota)

Mengapa perilaku bisa berubah?

Perilaku pengguna jalan sangat dipengaruhi oleh konteks. Dalam deterrence theory, Becker (1968) menjelaskan bahwa kepatuhan meningkat ketika risiko tertangkap dan sanksi dirasakan tinggi. Selain itu, risk perception berperan dalam membentuk kehati-hatian; studi Elvik et al. (2014) menunjukkan bahwa individu lebih patuh di lingkungan yang dianggap berisiko. Perspektif ini diperkuat oleh theory of planned behavior dari Ajzen (1991), yang menekankan pengaruh norma sosial. Ketika norma di suatu kawasan lebih tertib, perilaku pengguna jalan cenderung ikut menyesuaikan.

Masalah utamanya bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada konsistensi perilaku. Kepatuhan masih muncul secara situasional—dipicu oleh pengawasan, kepadatan, atau persepsi risiko. Kondisi ini menciptakan sistem lalu lintas yang tidak stabil, di mana perilaku antar pengguna jalan sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, risiko kecelakaan meningkat bukan hanya karena pelanggaran itu sendiri, tetapi juga karena ketidakpastian yang ditimbulkan dalam interaksi di jalan.

Dari pengetahuan ke budaya tertib

Meningkatkan keselamatan jalan memerlukan pendekatan yang melampaui edukasi. Penegakan hukum harus konsisten di seluruh jaringan jalan agar persepsi risiko terbentuk secara merata. Di sisi lain, desain jalan dan kualitas rambu serta marka perlu mampu mengarahkan perilaku secara intuitif. Yang tak kalah penting, norma sosial harus dibangun sehingga kepatuhan menjadi kebiasaan kolektif, bukan respons sesaat.

Pada akhirnya, menaati rambu dan marka adalah bentuk tanggung jawab sosial. Pengguna jalan sebenarnya mampu untuk tertib, tetapi belum selalu konsisten melakukannya. Tantangan ke depan adalah mengubah kepatuhan yang bersifat situasional menjadi perilaku yang melekat. Karena di jalan raya, keselamatan tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan oleh konsistensi semua pihak dalam mematuhi aturan yang sama. Pertanyaannya, apakah kita akan tetap menunggu kondisi “memaksa tertib”, atau mulai memilih untuk patuh di setiap situasi, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)