No Viral, No Justice: Di Sinilah Logika Diperlukan!

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Jumat 24 Apr 2026, 13:39 WIB
Ilustrasi tempat kejadian perkaru kasus kriminal. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Ilustrasi tempat kejadian perkaru kasus kriminal. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Hari ini, kita hidup dalam ruang digital yang nyaris tak berjarak. Dari TikTok, Instagram, hingga X, informasi datang tanpa henti, cepat, padat, dan sering kali setengah matang. Potongan video, tangkapan layar, atau narasi sepihak dengan mudah menyebar dan langsung membentuk opini publik. Dalam hitungan menit, sesuatu yang bahkan belum jelas duduk perkaranya sudah diangkat menjadi “kebenaran”. Di titik ini, persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan cara kita menghadapinya. Kita terlalu cepat bereaksi, terlalu ringan memberi penilaian, dan terlalu jarang meluangkan waktu untuk benar-benar memahami.

Anggapan bahwa keadilan harus menunggu viral bukan muncul tanpa sebab. Ketika proses hukum dianggap lambat dan kurang responsif, media sosial pun diposisikan sebagai alat tekan alternatif. Kasus yang viral seketika mendapat sorotan, tekanan publik meningkat, dan aparat terdorong bergerak lebih cepat. Apa yang sebelumnya berjalan lambat bisa tiba-tiba dipercepat.

Namun, di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Ketika viral dijadikan penentu, perhatian mulai menggantikan kebenaran. Banyak orang cukup melihat sekilas, lalu merasa cukup untuk menyimpulkan. Opini terbentuk dalam sekejap, sementara nalar tertinggal jauh di belakang. Viral memang menciptakan kekuatan, tetapi kekuatan itu tidak selalu lahir dari fakta. Dan ketika perhatian lebih menentukan daripada kebenaran, yang lahir bukan keadilan, melainkan keyakinan semu yang dibangun dari apa yang paling ramai dipercaya.

“Keramaian” di ruang digital kerap bertindak layaknya pengadilan, cepat menjatuhkan vonis, tapi miskin nalar dan abai terhadap kebenaran. (Sumber: Designed by Freepik)
“Keramaian” di ruang digital kerap bertindak layaknya pengadilan, cepat menjatuhkan vonis, tapi miskin nalar dan abai terhadap kebenaran. (Sumber: Designed by Freepik)

No Viral, No Justice: Logika yang Terlihat Masuk Akal, Tapi Menyesatkan

Fenomena no viral, no justice pada dasarnya tidak sepenuhnya keliru. Kebebasan berpendapat juga dijamin oleh konstitusi. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat (3) dinyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Hal ini terlihat di ruang digital, ketika masyarakat bebas berkomentar, menilai, bahkan turut “mengawal” sebuah kasus, anggapan no viral no justice menjadi masuk akal karena ketika suatu kasus menjadi viral, penanganannya sering kali bergerak lebih cepat. Perkara yang sebelumnya luput dari perhatian dapat segera naik ke permukaan dan mendorong aparat untuk bertindak lebih responsif, seolah viral menjadi pemicu percepatan proses hukum.

Namun, di balik logika yang tampak masuk akal itu, tersimpan persoalan yang tidak sederhana. Perhatian yang meningkat tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran. Viral memang mampu mengangkat sebuah kasus, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan kekuatan dari “keramaian”, bukan dari fakta. Kondisi ini membuat kebenaran dapat tertutup oleh apa yang paling ramai dibicarakan. Opini publik tidak lagi sekadar mengikuti informasi, melainkan mulai membentuk “putusan” sendiri, sehingga seseorang bisa langsung dianggap bersalah bukan karena bukti, melainkan karena telah lebih dulu dihakimi oleh “keramaian”.

Padahal, dalam prinsip hukum dikenal asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah, di mana seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang sah dan mengikat. Namun, ketika persepsi publik lebih dulu terbentuk oleh viralitas, ditambah dengan tekanan opini yang masif, asas ini perlahan kehilangan maknanya. Yang terjadi bukan lagi proses mencari kebenaran, melainkan perlombaan untuk menentukan siapa yang lebih dulu dinyatakan bersalah, sehingga viral tidak hanya mempercepat keadilan, tetapi juga berpotensi mengabaikannya. Kebenaran dapat tenggelam di bawah tekanan opini publik yang terlalu dominan.

Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Cacat Logika…

Fenomena no viral, no justice tidak bisa dilepaskan dari kesesatan berpikir hasty generalization, di mana seseorang langsung menarik kesimpulan secara terburu-buru tanpa bukti yang kuat. Informasi yang beredar di ruang digital sering kali hanya berupa potongan, belum utuh, bahkan belum tentu terverifikasi. Namun, banyak orang langsung menjadikannya dasar untuk menilai benar dan salah. Tanpa memahaminya secara menyeluruh, kesimpulan sudah lebih dulu dibentuk. Akibatnya, penilaian yang muncul terlihat cepat dan meyakinkan, tetapi sebenarnya sesat dan rapuh karena tidak dibangun dengan fakta yang lengkap.

Selain itu, kuatnya “keramaian” dalam ruang digital juga memperlihatkan hubungan antara: argumentum ad populum dan bandwagon effect keduanya memiliki keterkaitan, tetapi tetap berbeda. Argumentum ad populum adalah sesat pikir yang menganggap suatu hal benar hanya karena banyak orang mempercayainya, sehingga jumlah dan dominasi suara dijadikan dasar utama dalam menarik kesimpulan. Sedangkan dengan adanya bandwagon effect yaitu perilaku yang muncul dari cara berpikir tersebut, yaitu kecenderungan untuk “ikut-ikutan” atau “Fear of Missing Out (FOMO)” karena suatu narasi sudah dianggap valid oleh banyak orang (Tanara, 2025). Ketika suatu informasi terus diulang dan didukung oleh banyak pihak, maka ia dengan mudah diterima sebagai kebenaran, tanpa benar-benar diuji. Sehingga “keramaian” seolah memiliki otoritas, padahal yang terjadi hanyalah penguatan opini yang belum tentu benar.

Oleh karena itu, fenomena no viral, no justice tidak bisa diterima begitu saja sebagai kebenaran. Di baliknya terdapat kesesatan berpikir yang sering tidak disadari. Dalam logika, cara kita mengambil keputusan tidak lepas dari dua sistem berpikir, yaitu sistem 1 yang cepat, spontan dan reaktif, serta sistem 2 yang analitis, lebih lambat namun lebih rasional. Masalahnya, dalam ruang digital, kebanyakan reaksi lahir dari sistem 1, sehingga penilaian dibuat tanpa pertimbangan yang matang. Pada akhirnya, no viral, no justice memang bisa terjadi dalam praktik, tetapi tetap “harus dikritisi”. Tanpa kesadaran untuk menggunakan nalar yang lebih dalam, fenomena ini justru berpotensi melahirkan cacat logika yang menggiring opini publik dan menjauhkan kita dari kebenaran yang seharusnya dicari. (*)

REFERENSI

  • Undang-Undang Dasar Tahun Republik Indonesia 1945

  • Tanara, A. (2025). Buku Ajar LOGIKA (C. Heni, Ed.). PT KANISIUS.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)