No Viral, No Justice: Di Sinilah Logika Diperlukan!

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Ilustrasi tempat kejadian perkaru kasus kriminal. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ilustrasi tempat kejadian perkaru kasus kriminal. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Hari ini, kita hidup dalam ruang digital yang nyaris tak berjarak. Dari TikTok, Instagram, hingga X, informasi datang tanpa henti, cepat, padat, dan sering kali setengah matang. Potongan video, tangkapan layar, atau narasi sepihak dengan mudah menyebar dan langsung membentuk opini publik. Dalam hitungan menit, sesuatu yang bahkan belum jelas duduk perkaranya sudah diangkat menjadi “kebenaran”. Di titik ini, persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan cara kita menghadapinya. Kita terlalu cepat bereaksi, terlalu ringan memberi penilaian, dan terlalu jarang meluangkan waktu untuk benar-benar memahami.

Anggapan bahwa keadilan harus menunggu viral bukan muncul tanpa sebab. Ketika proses hukum dianggap lambat dan kurang responsif, media sosial pun diposisikan sebagai alat tekan alternatif. Kasus yang viral seketika mendapat sorotan, tekanan publik meningkat, dan aparat terdorong bergerak lebih cepat. Apa yang sebelumnya berjalan lambat bisa tiba-tiba dipercepat.

Namun, di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Ketika viral dijadikan penentu, perhatian mulai menggantikan kebenaran. Banyak orang cukup melihat sekilas, lalu merasa cukup untuk menyimpulkan. Opini terbentuk dalam sekejap, sementara nalar tertinggal jauh di belakang. Viral memang menciptakan kekuatan, tetapi kekuatan itu tidak selalu lahir dari fakta. Dan ketika perhatian lebih menentukan daripada kebenaran, yang lahir bukan keadilan, melainkan keyakinan semu yang dibangun dari apa yang paling ramai dipercaya.

“Keramaian” di ruang digital kerap bertindak layaknya pengadilan, cepat menjatuhkan vonis, tapi miskin nalar dan abai terhadap kebenaran. (Sumber: Designed by Freepik)
“Keramaian” di ruang digital kerap bertindak layaknya pengadilan, cepat menjatuhkan vonis, tapi miskin nalar dan abai terhadap kebenaran. (Sumber: Designed by Freepik)

No Viral, No Justice: Logika yang Terlihat Masuk Akal, Tapi Menyesatkan

Fenomena no viral, no justice pada dasarnya tidak sepenuhnya keliru. Kebebasan berpendapat juga dijamin oleh konstitusi. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat (3) dinyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Hal ini terlihat di ruang digital, ketika masyarakat bebas berkomentar, menilai, bahkan turut “mengawal” sebuah kasus, anggapan no viral no justice menjadi masuk akal karena ketika suatu kasus menjadi viral, penanganannya sering kali bergerak lebih cepat. Perkara yang sebelumnya luput dari perhatian dapat segera naik ke permukaan dan mendorong aparat untuk bertindak lebih responsif, seolah viral menjadi pemicu percepatan proses hukum.

Namun, di balik logika yang tampak masuk akal itu, tersimpan persoalan yang tidak sederhana. Perhatian yang meningkat tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran. Viral memang mampu mengangkat sebuah kasus, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan kekuatan dari “keramaian”, bukan dari fakta. Kondisi ini membuat kebenaran dapat tertutup oleh apa yang paling ramai dibicarakan. Opini publik tidak lagi sekadar mengikuti informasi, melainkan mulai membentuk “putusan” sendiri, sehingga seseorang bisa langsung dianggap bersalah bukan karena bukti, melainkan karena telah lebih dulu dihakimi oleh “keramaian”.

Padahal, dalam prinsip hukum dikenal asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah, di mana seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang sah dan mengikat. Namun, ketika persepsi publik lebih dulu terbentuk oleh viralitas, ditambah dengan tekanan opini yang masif, asas ini perlahan kehilangan maknanya. Yang terjadi bukan lagi proses mencari kebenaran, melainkan perlombaan untuk menentukan siapa yang lebih dulu dinyatakan bersalah, sehingga viral tidak hanya mempercepat keadilan, tetapi juga berpotensi mengabaikannya. Kebenaran dapat tenggelam di bawah tekanan opini publik yang terlalu dominan.

Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Cacat Logika…

Fenomena no viral, no justice tidak bisa dilepaskan dari kesesatan berpikir hasty generalization, di mana seseorang langsung menarik kesimpulan secara terburu-buru tanpa bukti yang kuat. Informasi yang beredar di ruang digital sering kali hanya berupa potongan, belum utuh, bahkan belum tentu terverifikasi. Namun, banyak orang langsung menjadikannya dasar untuk menilai benar dan salah. Tanpa memahaminya secara menyeluruh, kesimpulan sudah lebih dulu dibentuk. Akibatnya, penilaian yang muncul terlihat cepat dan meyakinkan, tetapi sebenarnya sesat dan rapuh karena tidak dibangun dengan fakta yang lengkap.

Selain itu, kuatnya “keramaian” dalam ruang digital juga memperlihatkan hubungan antara: argumentum ad populum dan bandwagon effect keduanya memiliki keterkaitan, tetapi tetap berbeda. Argumentum ad populum adalah sesat pikir yang menganggap suatu hal benar hanya karena banyak orang mempercayainya, sehingga jumlah dan dominasi suara dijadikan dasar utama dalam menarik kesimpulan. Sedangkan dengan adanya bandwagon effect yaitu perilaku yang muncul dari cara berpikir tersebut, yaitu kecenderungan untuk “ikut-ikutan” atau “Fear of Missing Out (FOMO)” karena suatu narasi sudah dianggap valid oleh banyak orang (Tanara, 2025). Ketika suatu informasi terus diulang dan didukung oleh banyak pihak, maka ia dengan mudah diterima sebagai kebenaran, tanpa benar-benar diuji. Sehingga “keramaian” seolah memiliki otoritas, padahal yang terjadi hanyalah penguatan opini yang belum tentu benar.

Oleh karena itu, fenomena no viral, no justice tidak bisa diterima begitu saja sebagai kebenaran. Di baliknya terdapat kesesatan berpikir yang sering tidak disadari. Dalam logika, cara kita mengambil keputusan tidak lepas dari dua sistem berpikir, yaitu sistem 1 yang cepat, spontan dan reaktif, serta sistem 2 yang analitis, lebih lambat namun lebih rasional. Masalahnya, dalam ruang digital, kebanyakan reaksi lahir dari sistem 1, sehingga penilaian dibuat tanpa pertimbangan yang matang. Pada akhirnya, no viral, no justice memang bisa terjadi dalam praktik, tetapi tetap “harus dikritisi”. Tanpa kesadaran untuk menggunakan nalar yang lebih dalam, fenomena ini justru berpotensi melahirkan cacat logika yang menggiring opini publik dan menjauhkan kita dari kebenaran yang seharusnya dicari. (*)

REFERENSI

  • Undang-Undang Dasar Tahun Republik Indonesia 1945

  • Tanara, A. (2025). Buku Ajar LOGIKA (C. Heni, Ed.). PT KANISIUS.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)