Menyusuri Jalanan Bandung di Hari Transportasi Nasional

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Jumat 24 Apr 2026, 11:55 WIB
Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)

Setiap kota punya caranya sendiri untuk bercerita. Di Bandung, cerita itu tidak selalu tertulis di buku sejarah tetapi terbentang di sepanjang jalan-jalannya. Memperingati Hari Transportasi Nasional 24 April 2026 rasanya tepat jika kita tidak sekadar bicara soal kendaraan atau kemacetan, melainkan bercerita tentang jalan sebagai ruang hidup yang menyimpan jejak waktu.

Bandung adalah kota yang akrab dengan jalan-jalan legendaris. Terutama di pusat kota, tiap ruas seperti memiliki ingatan sendiri di masa kolonial, geliat kemerdekaan, hingga kehidupan urban hari ini yang terus bergerak.

Mulai dari Jalan Asia Afrika, di sinilah denyut sejarah terasa paling kuat. Dulu, kawasan ini merupakan bagian dari jalur legendaris Groote Postweg, Jalan Raya Pos yang membentang panjang di Pulau Jawa. Namun nama Asia Afrika bukan sekadar penanda lokasi, ia menyimpan peristiwa besar dunia yaitu Konferensi Asia Afrika 1955 yang diselenggarakan di Kota Bandung, 71 tahun silam.

Di sepanjang jalan ini, bangunan-bangunan antik dan bersejarah masih berdiri dengan megah seperti Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann, hingga Hotel Preanger seolah menjaga ingatan kolektif tentang solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Tak jauh dari sana berdiri Kantor Pos Besar, Gedung PLN, Gedung Bank Mandiri, Kimia Farma, Jiwasraya, Harian Umum Pikiran Rakyat dan sejumlah gedung bersejarah lain ikut memperkaya lanskapnya.

Bergeser sedikit, kita tiba di Jalan Braga. Jalan ini punya aura yang berbeda, lebih santai, lebih artistik. Dulu dijuluki “jalan paling Eropa di Hindia Belanda.” Kini, Braga tetap hidup, hanya wajahnya yang berubah.

Kafe-kafe estetik, galeri seni, hingga restoran legendaris seperti membuat orang betah berlama-lama. Di sini, masa lalu dan masa kini seperti duduk satu meja bercakap tanpa tergesa.

Di Braga masih berdiri megah Gedung Majestic, Landmark, Sarinah, Hotel Braga, Kasoem Optikal, Bank Indonesia, dan Bank Jabar (eks Hotel Denis).

Lalu ada Jalan Merdeka koridor yang sibuk, tapi penuh makna. Dari kawasan ini, kita bisa melihat bagaimana Bandung tumbuh sebagai kota modern tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak lamanya.

Di sini berdiri Balai Kota Bandung berdampingan dengan ruang publik seperti Taman Sejarah. Tak jauh ada Bandung Indah Plaza (BIP) menjadi saksi geliat ekonomi sejak lama. Sementara Katedral Santo Petrus Bandung dan sekolah Santa Angela menegaskan sisi spiritual dan pendidikan kota ini.

Naik ke utara, suasana berubah. Jalan Ir. H. Djuanda atau yang akrab disebut kawasan Dago menawarkan Bandung yang lebih sejuk dan santai.

Pepohonan rindang, kafe, hingga akses ke alam luas seperti Taman Hutan Raya Juanda dan Tebing Keraton menjadikan kawasan ini seperti jeda yang menyegarkan di tengah kota.

Sementara itu, Jalan Cihampelas punya cerita yang lebih riuh. Ia dikenal sebagai surga belanja, terutama jeans, sejak dulu.

Kini, kehadiran Cihampelas Walk memberi warna modern, tapi denyut lamanya masih terasa terutama saat malam, ketika lampu-lampu menyala dan jalanan dipenuhi langkah pengunjung.

Ada juga Jalan Cipaganti atau kini bernama R.A.A. Wiranatakusumah yang menawarkan sisi Bandung yang lebih tenang. Pohon-pohon besar dan bangunan kolonial menciptakan suasana yang nyaris seperti potongan film lama.

Tak jauh dari sana, Jalan Riau (L.L.R.E. Martadinata) ramai oleh factory outlet dan kuliner, sementara Jalan Diponegoro dikenal lewat ikon Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat. Sedangkan Jalan Pasteur atau Jl. Dr. Djunjunan, menjadi pintu masuk penting bagi siapa pun yang datang ke Bandung dari arah barat.

Dan jangan lupakan Jalan Cihapit dengan pasar tradisional dan kuliner yang terasa akrab di lidah serta Jalan ABC, yang menyimpan jejak multikultural dari komunitas Arab, Bumiputera, hingga Tionghoa. Hingga kini, kawasan itu tetap hidup sebagai pusat perdagangan, terutama alat elektronik dan fotografi.

Suasana Jalan Braga dengan deretan gedung ikonik peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga. (Foto: Agus Wahyudi)
Suasana Jalan Braga dengan deretan gedung ikonik peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga. (Foto: Agus Wahyudi)

Ada beberapa ruas jalan besar di Bandung yang sudah lama berganti nama tetapi warga Bandung lebih enak menyebut nama lamanya.

Seperti:

~ Jalan Dago = Ir. H. Juanda

~ Jalan Cipaganti = R.A.A. Wiranata Kusuma

~ Jalan Suci = K.H.P. Hasan Mustofa

~ Jalan Ahmad Yani = A.H. Nasution

~ Jalan Kiaracondong = H. Ibrahim Adjie

~ Jalan By Pass = Soekarno Hatta

~ Jalan Kopo = K.H. Wahid Hasyim

~ Jalan Ciateul = Ibu Inggit Garnasih

~ Jalan Pasirkaliki = H.O.S. Cokroaminoto

~ Jalan Riau = L.L.R.E. Martadinata

~ Jalan Banteng = K.H. Ahmad Dahlan

~ Jalan Bungsu = Veteran

Penulis berpose di depan Hotel Savoy Homann di kawasan Jalan Asia Afrika Bandung, salah satu bangunan bersejarah di Kota Bandung. (Foto: Agus Wahyudi)
Penulis berpose di depan Hotel Savoy Homann di kawasan Jalan Asia Afrika Bandung, salah satu bangunan bersejarah di Kota Bandung. (Foto: Agus Wahyudi)

Dan beberapa nama jalan di Bandung menjadi unik karena warga Bandung mempersingkat ucapan bagi jalan-jalan itu, seperti :

  • Otista = Oto Iskandar Dinata
  • Bubat = Buah Batu
  • Kircon = Kiaracondong
  • DU = Dipati Ukur
  • Gatsu = Gatot Subroto
  • Paskal = Pasirkaliki
  • Uber = Ujungberung
  • Suci = Surapati-Cicaheum
  • Gerlong = Gegerkalong
  • Cadas = Cicadas

Pada akhirnya, jalan-jalan itu bukan sekadar lintasan. Ia adalah ruang yang merekam perubahan dari jalur pos kolonial hingga koridor wisata modern. Di sanalah transportasi tidak hanya memindahkan manusia, tapi juga membawa cerita dari satu masa ke masa lain.

Di Hari Transportasi Nasional ini, Bandung seolah berbisik pelan setiap perjalanan selalu punya makna. Dan di setiap jalan, selalu ada kisah yang menunggu untuk dikenang atau sekadar didengarkan, jika kita mau berjalan lebih pelan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)