Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

BIUTR sebagai Solusi Kemacetan atau Sekadar Menambah Mobil di Jalanan Bandung?

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Selasa 09 Des 2025, 09:03 WIB
Kemacetan di jembatan layang Pasupati Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kemacetan di jembatan layang Pasupati Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

RENCANA pembangunan Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR) kiwari mulai bergerak dari wacana ke tahap teknis. Pemerintah daerah melaporkan uji tanah telah dilaksanakan di beberapa titik sebagai bahan penyusunan detail engineering design.

Jika semua berjalan sesuai rencana, BIUTR siap meluncur sebagai daftar Proyek Strategis Nasional dengan target awal untuk mulai pembangunan pada 2026.

Kurangi kemacetan

Banyak yang meyakini hadirnya jalan tol dalam kota diharapkan dapat mengurangi kemacetan yang kian merundung Bandung. Dalam narasi politis, tol sering digambarkan sebagai solusi cepat untuk kondisi bottleneck di titik-titik padat.

Namun, pakar transportasi tak jarang malah skeptis. Mereka berargumen bahwa memperluas kapasitas jalan saja tidak otomatis menyelesaikan masalah macet dalam jangka panjang.

Kita barangkali perlu mengingat satu konsep sederhana yang sering terlupakan dalam debat infrastruktur jalan, yaitu konsep induced demand, yang merujuk pada kecenderungan lalu lintas untuk meningkat mengikuti bertambahnya kapasitas jalan. Dalam bahasa awam: semakin longgar jalan, semakin banyak orang memilih berkendara.

Berbagai tinjauan dan studi empiris -- salah satunya dilakukan di Inggris -- menunjukkan fenomena induced demand ini bisa terjadi berkali-kali. Awalnya, memang terjadi pelonggaran kemacetan. Namun kemudian, volume lalu lintas kian bertambah dalam tahun-tahun berikutnya.

Menurut Litman (2012), apa yang membuat induced demand berbahaya adalah efeknya yang tak kasat mata, di mana ia mengubah perilaku dan pilihan lokasi. Pelebaran maupun pembangunan jalan mendorong perjalanan baru, menggeser pola moda transportasi, dan sering merangsang pembangunan yang menambah kebutuhan mobilitas.

Mereka yang mendukung pembangunan BIUTR menyodorkan argumen bahwa keberadaan tol dalam kota akan membuka akses ke Gedebage dan koridor timur Bandung, dan memicu investasi, serta meratakan pertumbuhan. Ini argumen ekonomi yang valid. Meski demikian, dibutuhkan analisis manfaat biaya yang komprehensif, termasuk dampak distribusi dan risiko lingkungan.

Parkir murah meriah

Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)
Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)

Problem kemacetan sesungguhnya tidak hanya menyangkut perkara kapasitas jalan. Faktor seperti manajemen kawasan, transportasi publik yang tak memadai, parkir yang murah-meriah dan melimpah, serta budaya bermobil pribadi memegang peran besar.

Pembangunan jalan tol saja tidak bakal mengubah kebiasaan tersebut. Artinya, tanpa insentif alternatif, orang cenderung tetap memilih manunggang mobil pribadi, yang ujung-ujungnya, cepat atau lambat, menambah kemacetan.

Kita mungkin perlu menengok contoh dari Jakarta. Beberapa pelebaran jalan dan pembangunan koridor tol di Jakarta hanya menimbulkan pengurangan kemacetan sementara. Setelahnya, arus lalu lintas tumbuh mengikuti kapasitas baru, yang ujungnya menimbulkan bottleneck baru di titik lain. Banyak kota besar mengalami pola serupa.

Maka, jika BIUTR akhirnya dibangun, ia harus harus pula hadir bersama serenceng paket kebijakan. Paket itu antara lain bisa berisi peningkatan angkutan umum yang kredibel, penataan parkir, kebijakan jalan berbayar, dan skema pendukung bagi pejalan kaki serta pesepeda.

Tanpa paket tersebut, manfaat waktu tempuh yang diharapkan semakin cepat berkat kehadiran jalan tol bakal tergerus oleh penambahan volume kendaraan, dari waktu ke waktu. Tambahan volume kendaraan berarti emisi yang lebih besar, kecuali ada peralihan ke kendaraan yang rendah emisinya.

Di sisi lain, ada pula aspek redistribusi ruang kota. Apakah keberadaan tol dalam kota ini akan membuat sejumlah jalur pejalan kaki, pasar, dan ruang terbuka tetap dipertahankan atau malah dipangkas?

Kota-kota yang terlalu murah hati pada mobil kerap harus membayar mahal lewat menurunnya kualitas ruang publik dan daya tarik pusat kota. Bandung, dengan warisan arsitektur dan ruang publiknya, tentu saja memiliki banyak hal yang perlu dipertimbangkan lebih dari sekadar upaya membikan kendaraan bisa berlari kencang tanpa disergap kemacetan.

Beberapa titik strategis mungkin memang layak mendapat intervensi fisik untuk menghapus bottleneck akut. Tetapi, intervensi itu seyogianya minimal, tepat sasaran, dan disertai langkah pengelolaan yang optimal. Jalan tol sepanjang puluhan kilometer di jantung kota sudah barang tentu bakal melahirkan konsekuensi yang berbeda dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan perbaikan simpul lalu lintas.

Baca Juga: Bunderan Cibiru, Simpul Kemacetan Bandung Timur

Prioritas manusia

Kebijakan transportasi modern semestinya menekankan prioritas pada manusia -- aksesibilitas -- dan bukan pada kecepatan kendaraan semata. Kota yang sehat memungkinkan orang mencapai tujuan mereka tanpa harus bergantung pada mobil pribadi sepanjang waktu. Jika BIUTR menyempitkan ruang pilihan itu, Bandung akan kehilangan kualitasnya.

Akhirnya, tol dalam kota seperti BIUTR bisa menjadi berkat atau duri tergantung cara ia dirancang dan diapit oleh kebijakan lain. Jika kita menganggapnya sebagai obat tunggal nan cespleng untuk mengatasi penyakit kemacetan yang kompleks, niscaya kita akan kecewa. Tetapi, jika kita menempatkan dan merangkainya sebagai bagian dari sistem, -- yang dikontrol, diukur, dan diimbangi dengan upaya lainnya -- ia punya peluang memberi manfaat nyata.

Warga Bandung berhak berharap dan juga berhak skeptis terkait keberadaan tol dalam kota. Bagaimanapun, ruang untuk berjalan, bersepeda, dan duduk lesehan di kaki lima tetap sama pentingnya dengan jalan bebas hambatan.

Oleh sebab itu, keputusan akhir untuk membangun tol dalam kota perlu menimbang semua hal tersebut, bukan hanya melulu memikirkan kepentingan bagaimana mempercepat mobil melaju di jalanan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)