BIUTR sebagai Solusi Kemacetan atau Sekadar Menambah Mobil di Jalanan Bandung?

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kemacetan di jembatan layang Pasupati Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kemacetan di jembatan layang Pasupati Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

RENCANA pembangunan Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR) kiwari mulai bergerak dari wacana ke tahap teknis. Pemerintah daerah melaporkan uji tanah telah dilaksanakan di beberapa titik sebagai bahan penyusunan detail engineering design.

Jika semua berjalan sesuai rencana, BIUTR siap meluncur sebagai daftar Proyek Strategis Nasional dengan target awal untuk mulai pembangunan pada 2026.

Kurangi kemacetan

Banyak yang meyakini hadirnya jalan tol dalam kota diharapkan dapat mengurangi kemacetan yang kian merundung Bandung. Dalam narasi politis, tol sering digambarkan sebagai solusi cepat untuk kondisi bottleneck di titik-titik padat.

Namun, pakar transportasi tak jarang malah skeptis. Mereka berargumen bahwa memperluas kapasitas jalan saja tidak otomatis menyelesaikan masalah macet dalam jangka panjang.

Kita barangkali perlu mengingat satu konsep sederhana yang sering terlupakan dalam debat infrastruktur jalan, yaitu konsep induced demand, yang merujuk pada kecenderungan lalu lintas untuk meningkat mengikuti bertambahnya kapasitas jalan. Dalam bahasa awam: semakin longgar jalan, semakin banyak orang memilih berkendara.

Berbagai tinjauan dan studi empiris -- salah satunya dilakukan di Inggris -- menunjukkan fenomena induced demand ini bisa terjadi berkali-kali. Awalnya, memang terjadi pelonggaran kemacetan. Namun kemudian, volume lalu lintas kian bertambah dalam tahun-tahun berikutnya.

Menurut Litman (2012), apa yang membuat induced demand berbahaya adalah efeknya yang tak kasat mata, di mana ia mengubah perilaku dan pilihan lokasi. Pelebaran maupun pembangunan jalan mendorong perjalanan baru, menggeser pola moda transportasi, dan sering merangsang pembangunan yang menambah kebutuhan mobilitas.

Mereka yang mendukung pembangunan BIUTR menyodorkan argumen bahwa keberadaan tol dalam kota akan membuka akses ke Gedebage dan koridor timur Bandung, dan memicu investasi, serta meratakan pertumbuhan. Ini argumen ekonomi yang valid. Meski demikian, dibutuhkan analisis manfaat biaya yang komprehensif, termasuk dampak distribusi dan risiko lingkungan.

Parkir murah meriah

Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)
Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)

Problem kemacetan sesungguhnya tidak hanya menyangkut perkara kapasitas jalan. Faktor seperti manajemen kawasan, transportasi publik yang tak memadai, parkir yang murah-meriah dan melimpah, serta budaya bermobil pribadi memegang peran besar.

Pembangunan jalan tol saja tidak bakal mengubah kebiasaan tersebut. Artinya, tanpa insentif alternatif, orang cenderung tetap memilih manunggang mobil pribadi, yang ujung-ujungnya, cepat atau lambat, menambah kemacetan.

Kita mungkin perlu menengok contoh dari Jakarta. Beberapa pelebaran jalan dan pembangunan koridor tol di Jakarta hanya menimbulkan pengurangan kemacetan sementara. Setelahnya, arus lalu lintas tumbuh mengikuti kapasitas baru, yang ujungnya menimbulkan bottleneck baru di titik lain. Banyak kota besar mengalami pola serupa.

Maka, jika BIUTR akhirnya dibangun, ia harus harus pula hadir bersama serenceng paket kebijakan. Paket itu antara lain bisa berisi peningkatan angkutan umum yang kredibel, penataan parkir, kebijakan jalan berbayar, dan skema pendukung bagi pejalan kaki serta pesepeda.

Tanpa paket tersebut, manfaat waktu tempuh yang diharapkan semakin cepat berkat kehadiran jalan tol bakal tergerus oleh penambahan volume kendaraan, dari waktu ke waktu. Tambahan volume kendaraan berarti emisi yang lebih besar, kecuali ada peralihan ke kendaraan yang rendah emisinya.

Di sisi lain, ada pula aspek redistribusi ruang kota. Apakah keberadaan tol dalam kota ini akan membuat sejumlah jalur pejalan kaki, pasar, dan ruang terbuka tetap dipertahankan atau malah dipangkas?

Kota-kota yang terlalu murah hati pada mobil kerap harus membayar mahal lewat menurunnya kualitas ruang publik dan daya tarik pusat kota. Bandung, dengan warisan arsitektur dan ruang publiknya, tentu saja memiliki banyak hal yang perlu dipertimbangkan lebih dari sekadar upaya membikan kendaraan bisa berlari kencang tanpa disergap kemacetan.

Beberapa titik strategis mungkin memang layak mendapat intervensi fisik untuk menghapus bottleneck akut. Tetapi, intervensi itu seyogianya minimal, tepat sasaran, dan disertai langkah pengelolaan yang optimal. Jalan tol sepanjang puluhan kilometer di jantung kota sudah barang tentu bakal melahirkan konsekuensi yang berbeda dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan perbaikan simpul lalu lintas.

Baca Juga: Bunderan Cibiru, Simpul Kemacetan Bandung Timur

Prioritas manusia

Kebijakan transportasi modern semestinya menekankan prioritas pada manusia -- aksesibilitas -- dan bukan pada kecepatan kendaraan semata. Kota yang sehat memungkinkan orang mencapai tujuan mereka tanpa harus bergantung pada mobil pribadi sepanjang waktu. Jika BIUTR menyempitkan ruang pilihan itu, Bandung akan kehilangan kualitasnya.

Akhirnya, tol dalam kota seperti BIUTR bisa menjadi berkat atau duri tergantung cara ia dirancang dan diapit oleh kebijakan lain. Jika kita menganggapnya sebagai obat tunggal nan cespleng untuk mengatasi penyakit kemacetan yang kompleks, niscaya kita akan kecewa. Tetapi, jika kita menempatkan dan merangkainya sebagai bagian dari sistem, -- yang dikontrol, diukur, dan diimbangi dengan upaya lainnya -- ia punya peluang memberi manfaat nyata.

Warga Bandung berhak berharap dan juga berhak skeptis terkait keberadaan tol dalam kota. Bagaimanapun, ruang untuk berjalan, bersepeda, dan duduk lesehan di kaki lima tetap sama pentingnya dengan jalan bebas hambatan.

Oleh sebab itu, keputusan akhir untuk membangun tol dalam kota perlu menimbang semua hal tersebut, bukan hanya melulu memikirkan kepentingan bagaimana mempercepat mobil melaju di jalanan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)