Bunderan Cibiru, Simpul Kemacetan Bandung Timur

Muhamad Alan Azizal
Ditulis oleh Muhamad Alan Azizal diterbitkan Senin 01 Des 2025, 16:30 WIB
Suasana sekitaran bunderan cibiru pada siang hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: ajil)

Suasana sekitaran bunderan cibiru pada siang hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: ajil)

Bunderan Cibiru sudah lama menjadi titik yang dihindari pengendara yang berasal dari Bandung bagian timur. Pada jam sibuk, arus kendaraan dari arah Ujungberung, Cileunyi, dan Jalan Soekarno Hatta bertemu di satu titik yang kapasitasnya tidak pernah benar-benar siap menampung lonjakan mobil dan motor.

Situasinya bukan hanya sekadar ramai lancar, tapi macet hingga merayap ditemani angkot dan bus yang menurun naikan penumpang dengan sembarangan serta pengendara motor yang mencari celah untuk bisa lolos dari kemacetan.

Sebagai titik pertemuan tiga jalur besar, Bunderan ini menanggung beban lalu lintas yang terus naik. Pertumbuhan permukiman baru di kawasan Bandung Timur, hadirnya pusat aktivitas seperti kampus UIN Sunan Gunung Djati, hingga pergerakan komuter dari luar kota membuat titik ini bekerja melebihi batasnya setiap hari. Namun yang sering terabaikan adalah fakta bahwa pola pengaturan lalu lintas di area ini tidak ikut berkembang secepat mobilitas warganya.

Beberapa pengendara yang saya temui mengakui bahwa mereka hampir selalu menambah waktu perjalanan hingga 20–30 menit hanya untuk melewati Bunderan ini. Sidqi, seorang mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati yang setiap pagi melintas dari Cileunyi ke Cibiru mengatakan bahwa kemacetan sudah ia anggap sebagai hal wajib yang menjadi rutinitas harian.

“Kalau lewat sini jam tujuh lewat sedikit saja, sudah pasti berhenti lama. Apalagi dari Bunderan Cibiru sampe belokan Cibiru Hilir itu macetnya parah sekali ditambah lagi kalo pas bubaran sekolah SD beuh makin macet jadinya” ujar Sidqi.

suasana sekitaran bunderan cibiru pada malam hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: ajil)
suasana sekitaran bunderan cibiru pada malam hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: ajil)

Pengamatan di lapangan menunjukan bahwa permasalahan dari kemacetan ini memang berlapis. Selain volume kendaraan yang tinggi, faktor terbesar berasal dari perilaku pengguna jalan mulai dari angkot dan bus yang menurun naikkan penumpang sesuka hati, pejalan kaki yang menyeberang tanpa fasilitas memadai, hingga manuver kendaraan yang saling memotong tanpa memperhatikan arus utama. Situasi diperburuk oleh minimnya rekayasa lalu lintas yang konsisten. Kadang ada petugas, kadang tidak. Kadang arus dipusatkan, kadang dibagi tanpa pola yang jelas.

Pemerintah Kota Bandung sebenarnya sudah beberapa kali merencanakan penataan Bunderan Cibiru, termasuk wacana pelebaran jalur, pembatasan titik putar balik, pembuatan jalan layang hingga relokasi aktivitas angkutan umum. Namun banyak rencana itu berhenti di tahap kajian atau tidak pernah selesai karena muncul tantangan baru di lapangan.

Kemacetan ini tidak hanya soal kendaraan menumpuk. Ada dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat Bandung Timur, mulai dari waktu terbuang, biaya bahan bakar yang membengkak, hingga tekanan psikologis yang dialami setiap hari. Jika dibiarkan, kawasan Bandung Timur akan terus terjebak dalam lingkaran stagnasi mobilitas.

Solusi dari permasalahan ini tidak bisa lagi mengandalkan penambalan kecil seperti menambah petugas pada jam sibuk. Perlu penataan menyeluruh seperti penertiban angkutan umum yang ngetem, penguatan transportasi publik yang terintegrasi, rekayasa lalu lintas yang jelas dan konsisten serta upaya jangka panjang seperti penataan ulang jalur dan simpang. Kawasan ini juga perlu fasilitas penyeberangan yang aman agar pejalan kaki tidak lagi mengambil ruang jalan tanpa pilihan lain.

Masyarakat sudah terlalu lama menunggu. Kemacetan di Bunderan Cibiru bukan lagi isu semata, tetapi persoalan mobilitas publik yang memengaruhi kualitas hidup puluhan ribu orang setiap hari. Bandung Timur membutuhkan langkah serius, bukan sekadar wacana baru setiap tahun. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Alan Azizal
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)