Danau Cikijing Purba di Majalengka

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis) ini cangkangnya keras, tapi daging lunak. Bentuknya gepeng, warnanya putih gading. (Sumber: Istimewa)
Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis) ini cangkangnya keras, tapi daging lunak. Bentuknya gepeng, warnanya putih gading. (Sumber: Istimewa)

Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis), umumnya berwarna kuning, dengan warna biru kehitaman di bagian tertentu. Bentuknya gepeng lonjong. Di satu sisi lebarnya, ada yang lebih tebal dibandingkan dengan sisi lainnya yang tipis. Panjangnya antara 5 cm – 7 cm, dan bagian terlebarnya sekitar 3 cm. Itulah cangkangnya, atau bagian luar kijing yang keras. Cangkang kijing terdiri dari dua bagian yang dapat dibuka. Cangkang kiri dan cangkang kanan, yang disambungkan oleh engsel. Cangkangnya yang terbuka, bentuknya seperti sayap kupu-kupu yang besar. Setelah cangkangnya terbuka, barulah terlihat dagingnya yang lunak, juga gepeng, warnanya putih gading. Hidupnya di lumpur danau atau rawa. Ada juga yang hidup di sungai. Oleh masyarakat, kijing diambil, menjadi teman makan setelah dimasak. 

Kijing hidup di lumpur ranca, rawa. Di Jawa Barat, banyak daerah cekung yang tergenang air. Di sanalah berkembang-biak dengan subur kerang air tawar yang besar ini. Di ranca itu banyak jenis ikan yang hidup. Namun, sudah dianggap wajar bila yang banyak itu ikan mujair, misalnya. Bila yang melimpah itu kijing, misalnya, maka ranca dan kijing akan dijadikan sebagai penanda kawasan. Disebutlah lahan basah itu Ranca Kijing, rawa yang banyak terdapat kijing. Dalam perkembangannya, karena rawa menjadi sumber kehidupan, berlimpah air, banyaknya ikan, kijing, haremis, tutut, belut, sidat, dan tumbuhan air yang dapat dimakan, maka di pinggiran rawa itu kemudian menjadi hunian, yang berkembang menjadi perkampungan. Dinamailah Kampung Rancakijing, atau Kampung Cikijing.  

Lingkungan berair seperti itu terdapat di banyak tempat, maka nama geografis Cikijing akan ada di berbagai daerah. Di Jawa Barat nama geografis Cikijing terdapat di Kabupaten Majalengka, di Kabupaten Subang, di Kabupaten Bandung, di Kabupaten Kuningan, dan di Kabupaten Garut. Tentu masih ada di daerah lainnya. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang toponim Cikijing di Kabupaten Majalengka.

Toponim di Jawa Barat itu unik. Tidak semua daerah ranca, nama geografisnya akan diawali dengan kata ranca, seperti Ranca-Ekek, Ranca-Bolang, dll. Bila sekeliling ranca, bahkan rancanya itu sendiri yang ditimbun menjadi kawasan perkampungan, maka nama geografisnya menjadi Rancaekek, Rancabolang, dll. Tapi, berbeda dengan toponim Cikijing. Bukan kata ranca yang mengawali nama geografisnya, tapi diambil dari nama kerang air tawar yang banyak terdapat di sana. Nama kerang itulah yang dijadikan nama geografisnya, Cikijing.

Pada masa lalu, Cikijing merupakan danau alami yang luas. Dugaan kasar, paras air danaunya sampai ketinggian +600 m dpl. Cekungan Cikijing ini tidak dibatasi hanya wilayah administratif Kecamatan Cikijing, tapi meluas ke kecamatan di selatan dan barat dayanya. Bila garis kontur +600 m dpl itu ditarik mengelilingi cekungan, itulah luas danau tersebut. 

Cekungan Cikijing yang tertutup itu kemudian digenang air meteorik dan air yang dipasok dari anak-anak Ci Lutung menjadi Danau Cikijing Purba. Danau purba ini terbentuk bukan karena proses pembendungan sungai oleh material letusan gunungapi, tapi karena adanya bagian dari blok sesar yang secara evolutif ambles setelah terjadi gempa bumi. Blok patahan itu bergerak relatif, satu blok timur yang melintasi Cikijing, bergerak ke arah tenggara, dan satu blok barat yang melintasi Cingambul bergerak ke arah barat daya. Pada saat kedua blok patahan itu bergerak relatif, terjadi proses regangan antar blok, yang mengakibatkan kedua blok itu menjauh, atau menyamping, dan terpisah. Di zona regangan ini, di masing-masing blok patahan saling menarik, ketebalan bloknya akan “menipis”. Bila blok itu tidak mampu lagi menahan beban karena terus “menipis”, maka blok tersebut akan ambles membentuk cekungan.

Setelah terbentuk cekungan, akan diisi oleh air meteoric, mata air yang keluar dari kaki gunung, dan anak-anak sungai. Bila dasar cekungannya kedap air, maka air itu akan terus menggenang menjadi danau. Selama ribuan tahun, di dasar cekungan yang semula berlembah dan berbukit itu akan diendapkan material letusan gunungapi yang ada di dekatnya, serta material yang dihanyutkan dari lereng-lereng gunung yang bermuara di dalam cekungan.

Danau Cikijing Purba ini kemudian bedah atau bobol di celah sempit di sekitar jalan Campaga yang berpotongan dengan Ci Manik di ketinggian +575 m dpl. Secara bertahap, air danau ini menyusut, menyisakan ranca di daerah yang cekung, yang kemudian dikelola menjadi kolam dan persawahan.

Bekas Danau Cikijing Purba itu merupakan kawasan yang subur, menjadi persawahan dengan hasil padi yang baik dan pulen. Namun, tinggal di kawasan itu tetap harus waspada dan memperkuat ketahanan dalam menghadapi risiko dinamika bumi. Hidup di daerah cekungan yang terbentuk karena proses tektonik, berpotensi terjadinya gempa bumi dan gerakan tanah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)