Ambisi Transisi Energi Belum Menyentuh Akar Masalah, Warga Sekitar PLTU Tetap Menanggung Beban Lingkungan

5 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Suasana diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak” di Kota Bandung, Minggu (26/4), yang mempertemukan warga, pemerintah, dan pakar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Suasana diskusi “Transisi Energi Berkeadilan: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak” di Kota Bandung, Minggu (26/4), yang mempertemukan warga, pemerintah, dan pakar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)

AYOBANDUNG.ID - Keputusan pemerintah untuk membatalkan pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon-1 menjadi hantaman keras bagi warga yang bermukim di sekitarnya. Alih-alih mendapatkan udara bersih, warga justru harus terus berdampingan dengan dampak lingkungan dan ekonomi yang merugikan akibat operasional pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil tersebut.

Di tingkat tapak, dampak tersebut dirasakan langsung oleh warga. Kampung Kancikulon Blok Kemis menjadi salah satu contoh. Permukiman itu berada di antara PLTU Cirebon-1 dan PLTU Cirebon-2, dengan jarak hanya sekitar 500 meter.

Agus Gunawan (53), warga setempat, menggambarkan perubahan lingkungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Uap dari aktivitas pembangkit membuat suhu terasa lebih panas, bahkan di dalam rumah sendiri.

Agus Gunawan, warga Kampung Kancikulon, mengeluhkan panas dan dampak lingkungan akibat aktivitas dua PLTU yang beroperasi dekat permukimannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Agus Gunawan, warga Kampung Kancikulon, mengeluhkan panas dan dampak lingkungan akibat aktivitas dua PLTU yang beroperasi dekat permukimannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)

"Satu PLTU aja udah kerasa panas, sekarang ada dua," kata dia usai kegiatan diskusi bertajuk 'Transisi Energi Berkeadilan: Peluang, Tantangan, dan Strategi Implementasi Multi Pihak' yang digelar oleh RUTE Berkeadilan di Kota Bandung pada Minggu (26/4).

Keluhan itu, menurutnya, sudah berulang kali disampaikan, namun tidak pernah menghasilkan solusi yang memuaskan. Warga juga tidak dilibatkan sejak awal pembangunan PLTU.

Selain perubahan suhu, dampak lingkungan turut dirasakan nelayan. Ekosistem laut di sekitar pembangkit mengalami kerusakan yang berdampak langsung pada hasil tangkapan.

"Udah rusak sama sekali, rusak udah. Dari dulu itu pasir sekarang kan udah lumpur semua," lanjut Agus.

Sutirno (54), nelayan yang telah melaut selama 30 tahun, menilai kerusakan itu bukan semata akibat limbah, melainkan aktivitas penyedotan air laut oleh PLTU.

"Yang dinomorsatukan merugikan nelayan itu menyedot air dari laut dan hewan laut itu kesedot semua. Begitu nyampe di ruang untuk produksi, itu mati semua paginya dan mengambang," ungkap dia.

Sutirno, nelayan Cirebon, menyebut penyedotan air laut oleh PLTU merusak ekosistem dan menurunkan hasil tangkapan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Sutirno, nelayan Cirebon, menyebut penyedotan air laut oleh PLTU merusak ekosistem dan menurunkan hasil tangkapan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)

Dampaknya, nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya operasional yang meningkat. Dalam kondisi tersebut, mereka berharap pemerintah segera merealisasikan pensiun dini PLTU dan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

"Mereka itu mengambil keuntungan saja, tidak akan memikirkan bagaimana nasib nelayan ke depannya," kata dia.

Persoalan di tingkat warga ini berkelindan dengan kebijakan yang lebih luas. Jawa Barat dinilai belum memiliki kerangka transisi energi berkeadilan, meski menjadi salah satu provinsi dengan konsumsi energi terbesar di Indonesia.

Kebijakan di Pusat yang Tanggung Warga Lokal

Klistjart Tharissa dari RUTE Berkeadilan Jawa Barat menilai, selama ini kebijakan energi masih terpusat di tingkat nasional. Sementara dampaknya justru ditanggung masyarakat di daerah.

"Hasil FGD dengan warga terdampak dan analisa bersama kami mengungkap bahwa tidak adanya kerangka transisi energi berkeadilan di tingkat provinsi sehingga target pengurangan emisi dikejar di atas kertas, sementara perlindungan sosial bagi warga terdampak masih diabaikan," katanya.

Ia juga menyoroti belum adanya peta jalan yang jelas di tingkat provinsi.

“Yang menjadi catatan, tidak seperti beberapa provinsi lain, Jawa Barat hingga kini belum memiliki peta jalan transisi energi berkeadilan di tingkat provinsi yang jelas, padahal dokumen ini dapat menjadi fondasi kebijakan yang sangat dibutuhkan agar perubahan sistem energi berjalan adil dan terencana," ujarnya.

Dari sisi pemerintah daerah, keterbatasan kewenangan dan fiskal menjadi kendala utama. Penelaah Teknis Kebijakan Dinas ESDM Jawa Barat, Rizka Adhiswara, mengakui perlindungan warga terdampak belum masuk dalam dokumen perencanaan energi daerah.

"Untuk aspek-aspek dengan memperhatikan masyarakat terdampak di sekitar PLTU, ini Insya Allah akan kami masukkan (dalam RUED)" kata dia.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah masih menunggu arah kebijakan nasional.

"Kami sedang menunggu Rencana Umum Energi Nasional yang masih molor, kita belum bisa mengeluarkan RUED kalau RUEN belum turun. Untuk aspek perhatian konkret kepada masyarakat terdampak, ini akan menjadikan masukan serius untuk kami dalam pemutakhiran dokumen ke depan," bebernya.

Di sisi lain, Jawa Barat sebenarnya memiliki potensi besar energi baru terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, realisasi di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari penolakan warga hingga keterbatasan anggaran.

Dari kalangan akademisi, transisi energi dinilai tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknis. Dosen Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Annisa Paramita Wiharani, menekankan pentingnya mempertimbangkan dimensi sosial, politik, dan ekonomi.

"Jadi yang dianalisis selama ini terkadang hanya dari sisi teknis, padahal perlu juga dipahami pembangkit listrik ini dibuat, siapa yang menentukan, siapa yang terdampak, siapa yang dilibatkan dalam prosesnya," ucapnya.

Ia menyebut tantangan di Jawa Barat mencakup tingginya kebutuhan energi, besarnya potensi energi terbarukan, serta tekanan lingkungan dan sosial yang menyertai.

“Pertama high demand, kebutuhan tinggi baik dari industri sampai populasi warga dan bonus demografi, kemudian high opportunity, adanya potensi besar seperti panel surya, panas bumi yang belum termanfaatkan, dan high pressure, banyaknya tekanan seperti lingkungan, dampak sosial sehingga transisi energi tidak bisa dilihat dari satu sisi saja," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Keberlanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya, menyoroti bahwa selama ini kebijakan energi kerap mengabaikan dampak eksternal seperti kesehatan dan lingkungan.

"Tantangan utamanya, selama ini kita ketika menghadapi pilihan energi tidak melihat aspek eksternalitas negatif, seperti jika harga batu bara murah, aspek seperti polusi udara bagi kesehatan akibat PLTU tidak dihitung, sehingga seolah-olah batu bara murah secara ekonomi," katanya.

Ia juga menilai sentralisasi kebijakan membuat ruang gerak daerah menjadi terbatas.

"Padahal seperti di Vietnam yang secara pemerintah otoriter kebijakan energinya lebih longgar, kita lebih sentralistis," ujarnya.

Dalam kajian yang sama, sejumlah rekomendasi mulai mengemuka. Salah satunya terkait kebutuhan sumber pendanaan baru untuk mendukung transisi energi.

"Padahal seperti di Vietnam yang secara pemerintah otoriter kebijakan energinya lebih longgar, kita lebih sentralistis," ujarnya.

"Pemerintah daerah ruang geraknya untuk kebijakan energi memang cukup sempit. Beberapa rekomendasi kami ke depan, misal untuk solusi fiskal harus ada sumber penerimaan baru, seperti tambahan pungutan batubara," sambungnya.

Selain itu, pentingnya kerangka kebijakan di tingkat provinsi juga menjadi sorotan utama. Dokumen peta jalan transisi energi dinilai dapat menjadi dasar agar perubahan sistem energi tidak hanya mengejar target emisi, tetapi juga memastikan perlindungan bagi masyarakat terdampak.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)