Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 3) 'Vereeniging Himpoenan Soedara'

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Selasa 28 Apr 2026, 08:56 WIB
Buku "100 Tahun Bank Baudara". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Buku "100 Tahun Bank Baudara". (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Data dan keterangan ini diperoleh dari wawancara lisan bersama keluarga Pasar Baru Bandung, buku 100 tahun Bank Himpunan Saudara dan buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, karya Haryoto Kunto.

Bandung menjadi sebuah kota pada 1906. Pada saat itu, melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.B. Van Heutsz, Staatsblad 121, yang berlaku efektif pada 1 April 1906, Bandung resmi berstatus gemeente alias kota praja. Dengan begitu, tatar Sunda memiliki hak otonom untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Pemerintah Hindia Belanda jelas memiliki kepentingan langsung dengan otoritas Bandung. Dengan terbentuknya pemerintahan gemeente, pengembangan kota Bandung diharapkan bergerak cepat. Sejak 1906, berbagai infrastruktur didirikan demi mewujudkan pembangunan area eksklusif masyarakat kolonial dalam wilayah tropis.

Lantas apa yang dilakukan kaum pribumi? Mereka tidak tinggal diam. Di bidang sosial-ekonomi, para pedagang di Pasar Baru Bandung terus melakukan kegiatan berniaga. Mereka inilah yang mewariskan keturunan saudagar-saudaragar baru pada abad ke-20.

Awalnya, para pemuda pasar ini mendapatkan modal usaha dari orang tua mereka masing-masing dengan amat terbatas. Kerap kali saat mereka berbelanja dengan susah payah ke luar kota Bandung, barang yang dibawa tidaklah banyak. Alhasil, keuntungan yang diraih dan keringat yang dikeluarkan tidak sebanding. Padahal keinginan untuk tumbuh besar sudah sangat kuat. Dari sanalah tercetus ide membuat sebuah perkumpulan semacam kongsi dagang di antara para saudagar muda, dan kemudian lahirlah Himpunan Saudara.

Gagasan awal datang dari perbincangan antara Basoeni, Domir dan Bajoeri yang kemudian mereka cetuskan pada saudagar muda lainnya, yakni Marta, Wargadipradja, Maksoedi, Basar, Jahja Adiwinata (Buyut penulis), Djoened dan Kasah. Kesepuluh pendiri itu bermufakat dan menamai diri Himpunan Saudara.

Pengertian saudara karena dilandasi oleh semangat persaudaraan dalam satu konsepsi kebangsaan, namun identitas saudara secara harfiah, juga merujuk pada ikatan persaudaraan yang sesungguhnya.

Memang bisa dikatakan saudagar Bandung umumnya bermuara dari satu rumpun keturunan. Melalui perkawinan demi perkawinan, terjadilah tali-temali bagaikan sarang laba-laba. Keterangan ini pernah ditulis oleh salah satu narasumber dari keluarga besar Pasar Baru yang bernama Dadang Dahmir, dan dimuat di harian umum Pikiran Rakyat. Dan beliau telah membuat buku silsilah yang cukup tebal secara terperinci.

Ada yang unik dari lambang keluarga besar Pasar Baru Bandung ini, sebuah merak jantan yang elok dengan bulu-bulu indahnya, namun apabila kita lihat lagi dengan seksama, terdapat pola angka dan huruf juga angka romawi yang sepertinya itu adalah simbol yang hanya dipahami para sesepuh keluarga besar Pasar Baru Bandung saja.

Perlu diketahui para rekan-rekan pembaca semua, bahwa di kawasan Pasar Baru Bandung bukan hanya Himpunan Saudara saja yang berkiprah menyejahterakan para pedagang lainnya, ada pula perhimpunan lainnya yaitu Goena Perniagaan. Perkumpulan ini meraih para pedagang kecil di Pasar Baru Bandung. Kisah sejarah tentang Goena Perniagaan ini masih saya riset secara bertahap.

Mulanya, pengukuhan Himpunan Saudara tidak disertai ikatan hukum, kecuali suatu perjanjian bermaterai di bawah tangan. Setiap orang diwajibkan menyimpan uang secara teratur sebanyak 10 Gulden setiap bulannya, yang tidak bisa diambil selama 5 tahun. Simpanan itu difungsikan untuk menambah modal bagi usaha yang mereka rintis.

Buku silsilah Keluarga Besar Pasar Baru Bandung (lambang merak). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Buku silsilah Keluarga Besar Pasar Baru Bandung (lambang merak). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Ketika perkumpulan mulai besar, mau tak mau status Himpunan Saudara mesti diselaraskan dengan asas legalitas, sebagaimana dengan ketentuan yang berlaku. Lewat Gouvernements Besluit No. 33 tertanggal 4 Oktober 1913, anggaran dasar Himpunan Saudara dikabulkan dan sah secara hukum dengan nama “Vereeniging Himpoenan Soedara”.

Sebagaimana persyaratan anggota Serikat Dagang Islam di Surakarta, persyaratan anggota Himpunan Saudara di Bandung pun memiliki ketentuan bahwa calon anggota adalah saudagar dan beragama Islam.

Himpunan Saudara sebagai lembaga keuangan yang serupa dengan usaha Mutual savings Bank di luar negeri. Konsep usaha ini menitikberatkan semangat berhemat di kalangan masyarakat dengan cara berhimpun di satu organisasi atau lembaga semacam perkumpulan bersama, untuk usaha-usaha yang produktif dalam menghasilkan uang. Daripada membeku atau terbuang boros secara sembrono.

Dari tahun ke tahun anggota Himpunan Saudara mulai membiak. Menyadari hal tersebut, pengurus Himpunan Saudara memutuskan untuk memiliki kantor atau sekretariat tetap. Sementara sebelumnya sekretariat Himpunan Saudara hanya bertempat di rumah sang sekretaris, sejak 1914 Himpunan Saudara resmi berkantor di salah satu ruangan yang disewa cukup murah di Societeit Merdeka. Setelah saya riset mendalam, lokasi Societeit Merdeka itu berada di ujung barat jalan Kebon Jati (kini jalan Dulatip), dan kantor ini dibuka setiap harinya setelah para saudagar itu pulang berdagang pada pukul 14.30 hingga pukul 17.00.

Lama kelamaan seiring dengan perkembangan Himpunan Saudara pun membeli gedung sendiri di jalan Dalem Kaum No. 5, dan pada tahun 1928 membangun gedung bertingkat di sebelah bangunan utamanya yang dibangun 1923.

Jatuh bangun pun dirasakan Himpunan Saudara, yang harus berjibaku dengan masa perang, pergolakan politik yang seakan tiada hentinya, namun dengan rahmat Tuhan, Himpunan Saudara masih tetap berdiri hingga kini.

Kisah-kisah kaum urban ini semoga dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca semuanya, terutama kaum muda, bahwa jangan ragu pada mimpi dan teruslah menggapai cita-cita. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)