AYOBANDUNG.ID – Dalam bahasa Sunda, ngeureuyeuh berarti mengerjakan sesuatu secara tekun, konsisten, dan tidak tergesa-gesa. Pelan tapi pasti, tanpa berhenti. Kata itulah yang oleh Rika Muflihah menggambarkan wirausaha kue rumahan yang ia rintis dari nol: Athiya Cake.
Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari. Rata-rata sepuluh loyang kue terproduksi setiap harinya. Angka ini pun melonjak drastis di momen-momen tertentu. Saat Lebaran Idul Fitri lalu, misalnya, Rika menerima pre-order hingga 100 loyang yang diselesaikan dalam dua hari pengerjaan. Di hari-hari ramai lainnya, produksi bisa mencapai 25 hingga 50 loyang.
Rika pun sesekali membuka stand di bazar-bazar, seperti saat Ramadan atau momentum lain. Langkah sederhana macam itu menunjukkan gerak usahanya yang mulai keluar dari dapur menuju pasar yang lebih luas. Kini ia pun tidak lagi bekerja sendirian, dengan merekrut tenaga kerja sebagai helper atau karyawan sementara.
Tak Disangka Jadi Pengusaha
Kisah Rika sebagai wirausahawan bukanlah target yang direncanakan. Ketika beberapa pekerjaan yang ia lakoni tak cukup signifikan memberi perubahan, ia memutar arah. Bermodal kecintaan pada dunia kuliner, ia mulai bereksperimen di dapur sendiri, menghasilkan kue-kue yang lama-lama mulai dipesan tetangga dan kenalan.
Namun perjalanan itu sempat terhenti. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memukul banyak usaha kecil, termasuk milik Rika. Pesanan sepi, semangat surut. Mimpi yang sempat tumbuh seolah harus dilipat kembali.
Ihwal yang kemudian membuka babak baru adalah keberaniannya mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia. Modal yang ia dapatkan menjadi fondasi untuk bangkit. Dia memperbaiki peralatan, menambah bahan baku, dan yang terpenting, mempercayai kembali bahwa usahanya layak untuk diteruskan.

Secara nasional, KUR BRI bukanlah program baru, dan dampaknya terus meluas. Hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 84,36 triliun atau setara 46,87 persen dari total alokasi tahun ini sebesar Rp 180 triliun. Secara kumulatif sejak 2015, BRI telah menyalurkan lebih dari Rp 1.520 triliun kepada lebih dari 48,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Program ini menawarkan suku bunga rendah sebesar 6 persen per tahun, dengan plafon hingga Rp 500 juta dan tenor hingga 60 bulan. Untuk KUR Mikro hingga plafon Rp 100 juta, debitur bahkan tidak diwajibkan menyerahkan agunan tambahan. Sebuah kemudahan yang sangat berarti bagi pelaku usaha kecil yang baru merintis seperti Rika.
Fakta yang menarik ialah sebanyak 213 ribu debitur KUR BRI tercatat berhasil naik kelas pada 2026; dan Rika, dengan segala perkembangannya, adalah wajah nyata dari statistik ini.
"KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah," ujar Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya, dalam pernyataan resmi.
Ia menambahkan bahwa semangat program ini sejalan dengan kisah-kisah seperti milik Rika.
"Kami ingin pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar naik kelas — memperluas skala bisnis, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya," tambah Akhmad.
Berkat modal tambahan dengan KUR BRI, salah satu perkembangan yang paling membanggakan dari Athiya Cake bukan cuma soal angka omzet, melainkan tentang orang-orang yang kini ikut terlibat. Saat pesanan menumpuk, ia memanggil satu atau dua orang untuk membantu. Mereka bukan karyawan tetap dalam arti formal, melainkan kenalan dari lingkaran kerabat dan teman yang membutuhkan tambahan penghasilan.
"Waktu Lebaran kemarin, kami sampai ngerjain 100 loyang dalam dua hari. Saya tidak mungkin sanggup sendiri. Jadi saya minta tolong beberapa orang yang memang lagi butuh kerjaan tambahan. Alhamdulillah, bisa saling bantu," cerita Rika kepada ayobandung.id, (20/6/2026).

Sederhana, tapi bermakna. Usaha yang lahir dari ketidakpastian kini justru menjadi sumber pendapatan tambahan bagi orang lain.
"Puji syukur, ngeureuyeuh. Saya tidak pernah menyangka usaha ini bisa sampai di titik ini. Dulu cuma coba-coba, sekarang sudah ada yang bantu. Rasanya beda," lanjut Rika, merangkum semua perjalanannya dalam satu kalimat.
Produk yang Terus Berkembang
Athiya Cake kini hadir dalam dua ukuran loyang: reguler (diameter 20 cm atau kotak 20x20 cm) dan small (persegi 20x10 cm). Varian produknya terus bertambah, dari bolu original, bolu marmer, bolu gula aren, bolu pandan, hingga bolu ketan keju lumer yang menjadi salah satu favorit pelanggan. Ada pula cakey brownies dan fudgy brownies untuk yang menyukai tekstur lebih padat dan cokelat.
Harga yang ditawarkan terbilang bersahabat. Untuk ukuran small, harga mulai dari Rp22 ribu. Untuk ukuran reguler, berkisar antara Rp38 ribu hingga Rp85 ribu untuk brownies cake potong. Semua produk dibuat made by order, tidak ada stok siap, setiap kue dibuat khusus sesuai pesanan dengan waktu pemesanan minimal H-2.
Kabar tentang produk Athiya Cake rupanya sudah sampai ke luar Tasikmalaya. Amalia Nurhidayah, perempuan asal Bandung yang tengah mencari referensi untuk memulai usaha kuliner, sengaja memesan brownies Athiya Cake lewat keluarganya, dengan harapan mendapatkan perbandingan rasa dan harga.
"Cukup kaget, ya. Rasanya enak banget, tapi harganya jauh lebih murah dibanding produk serupa yang biasa saya temukan di Bandung," ujarnya, (21/6/2026).
Pengalaman itu, kata Amalia, justru memberinya perspektif baru soal usaha kuliner rumahan.
"Kalau kualitasnya sudah seperti ini, dengan harga yang terjangkau, saya rasa pasarnya besar," imbuh Amalia.

Sampai sejauh ini, Rika belum berhenti bermimpi. Ke depan, ia ingin Athiya Cake punya toko, tempat fisik yang bisa dikunjungi pelanggan dan bukan hanya menerima pesanan lewat pesan singkat.
"Pengen punya toko sendiri suatu hari nanti, biar pelanggan bisa langsung datang, lihat produknya, pilih sendiri," tutup Rika. (*)
