Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Pagi hari Jumat, 22 Mei 2026, saya meninggalkan kantor ayobandung.id menuju sebuah desa di Sumedang Utara yang mungkin tidak pernah masuk daftar destinasi wisata siapa pun. Tak ada pemandangan ikonik yang saya temui di sana ataupun kuliner khas yang sedang viral. Dari sana hanya datang sebuah kabar bahwa desa ini masuk 15 Besar Desa BRILian 2025; dan itu sudah cukup bagi saya.

Program itu merupakan pemberdayaan desa oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Untuk mengunjungi desa yang berhasil mencatatkan prestasi di kancah nasional, jarak tempuh pulang-pergi sekitar 90 kilometer rasanya layak diperjuangkan. Meskipun jika meninjau dari kenikmatan mata untuk tujuan wisata, jarak tersebut sebenarnya cukup jauh untuk sebuah liputan desa yang "biasa saja."

Tiga minggu setelahnya, 11 Juni 2026, saya pun menempuh perjalanan liputan kedua dan kali ini lebih jauh. Sekitar 156 kilometer pulang-pergi menuju Kecamatan Wado, di ujung selatan Sumedang yang berbatasan dengan perairan Waduk Jatigede. Alasannya sama, mencari desa di pelosok yang memberikan dampak besar bagi kehidupan warganya.

Total dua perjalanan itu, sekitar 246 kilometer; dan setiap lelahnya sepadan dengan cerita yang saya dapatkan.

Desa yang "Biasa Saja" itu Bernama Margamukti

Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Di atas lahan 261 hektare yang lebih dari separuhnya sawah, dengan populasi sekitar 25.028 jiwa, Desa Margamukti di Kecamatan Sumedang Utara tidak punya banyak hal untuk dibanggakan di atas kertas. Iman Romansyah, KAUR Umum Tata Usaha sekaligus Koordinator BUMDes Marga Makmur, mengatakannya sendiri kepada saya tanpa ragu.

"Secara umum potensi Desa Margamukti ini sebetulnya mirip-mirip dengan desa-desa tetangga yang demografis atau geografisnya sama. Kita untuk menciptakan suatu yang unik, produk atau makanan, itu memang susah. Kita tidak punya keunikan khas, baik sosial, budaya, ataupun makanan. Tetapi menciptakan suatu sistem wirausaha, itulah yang kami coba gali di sini," buka Iman.

Kalimat itu menjadi kunci awal untuk memahami segala kondisi desa. Margamukti tidak berlomba menjadi unik, sebab memang tak ada potensi dalam hal ini. Mereka justru berlomba membangun sistem.

Beberapa tahun lalu, kondisi desa ini jauh dari kata menjanjikan. Sampah menumpuk tanpa pengelolaan, angka pengangguran tinggi, stunting mengkhawatirkan, dan roda ekonomi berputar terlalu pelan. Ihwal yang kemudian mengubah arah hidup ialah cara berpikir mayoritas warganya. Iman menyebutnya “revolusi mindset”.

Dimulai ketika Kepala Desa Siti Nuraeni Sofa memilih pendekatan yang tidak lazim: menyelesaikan masalah secara akademik. Perangkat desa ditata ulang sesuai keilmuan masing-masing, dan setiap masalah dirancang ulang menjadi peluang. Masalah sampah, misalnya, melahirkan sistem pengelolaan dengan sirkulasi ekonomi.

Perubahan paling vital menyentuh cara desa menyalurkan bantuan sosial. Program yang biasanya sekadar dibagi-bagikan secara massal diubah menjadi 2 jenis: yang diberikan dalam bentuk uang tunai dan ada juga dengan sistem berbasis hak dan kewajiban. 

Dalam jenis bantuan yang kedua itu, warga baru mendapat reward jika aktif membangun desa; dan reward itu tidak berbentuk uang tunai, melainkan disesuaikan kemampuan. Kandang dan bibit ayam bagi yang bisa beternak, modal usaha bagi yang berdagang, pupuk bagi yang bertani.

"Misalkan yang rajin per bulan ini ada 500 orang, maka kami berikan sesuai dana desa sesuai dengan keterampilan mereka. Semua itu dikontrol oleh BUMDes," jelas Iman.

Dari sanalah BUMDes Marga Makmur tumbuh. Dua unit usaha menjadi andalannya: budidaya melon premium dan peternakan ayam kampung KUB Sentul. Hebatnya, kedua produk tersebut bukan menonjol karena produknya eksotis. Iman sendiri mengakui bahwa semua desa bisa membudidayakan keduanya, tetapi yang sulit ditiru adalah membangun ekosistemnya, membuka jaringan dari produksi hingga pemasaran.

Melon premium dari greenhouse Margamukti kini dijual di kisaran Rp30.000–Rp45.000 per kilogram ke hotel, toko buah premium, dan jaringan supermarket. Omzetnya mencapai Rp18–25 juta per bulan. Jaringan ini butuh tiga tahun untuk dibangun sejak 2022. Salah satu pengurus BUMDes bahkan menjadi Ketua Asosiasi Melon Premium Jawa Barat, menjadikan Margamukti sebagai induk dari jaringan plasma se-provinsi.

"Jaringan sudah kuat, rantai distribusi sudah kuat, otomatis karena kita yang punya pasar dan segmentasi maka harga tidak akan ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan harga dan inilah enaknya," kata Iman dengan nada bangga.

Unit ayam kampung melengkapi cashflow BUMDes dengan omzet Rp6–10 juta per bulan. Gabungan keduanya berpotensi menyentuh Rp35 juta per bulan. 

Hasil sistem desa yang dibangun secara tertib itu tercermin dalam capaian nyata. Selama empat tahun berturut-turut, Desa Margamukti meraih penghargaan SAKIP dengan tiga indikator utama yang terukur: penurunan angka kemiskinan, penurunan stunting, dan peningkatan pelayanan publik.

Dari Sumedang Utara ke Tepi Waduk

Waluh besar hasil pertanian waduk surut di Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Waluh besar hasil pertanian waduk surut di Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Setelah meninggalkan Margamukti, satu pertanyaan ikut serta dalam perjalanan pulang: apakah desa yang pernah kehilangan segalanya bisa bangkit lebih kuat dari yang tidak pernah jatuh?

Jawaban itu saya cari tiga minggu kemudian di Desa Cisurat, Kecamatan Wado (berjarak 78 kilometer dari kantor ayobandung.id), berbatasan langsung dengan Waduk Jatigede yang perairan tenangnya menyimpan kenangan pahit bagi warganya.

Ketika tiba siang itu, perahu nelayan sedang memecah riak waduk. Pemandangannya terasa damai. Tetapi Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, membuka percakapan dengan cerita yang nuansa berbeda dari ketenangan itu.

Pada 2015, ketika pengisian Waduk Jatigede ditambahkan, sawah-sawah yang menjadi sumber penghidupan warga Cisurat selama beberapa generasi perlahan tenggelam. Dari 28 desa yang terdampak pembangunan waduk itu, Cisurat termasuk yang paling berat. Dalam beberapa tahun setelahnya, desa ini bahkan sempat disebut sebagai "desa termiskin di Jawa Barat."

"Di momen itu ekonomi desa sangat terpuruk. Mata pencaharian masyarakat yang tadinya bertani, semua sawah garapannya habis terkena genangan Waduk Jatigede," kata Ilham.

Apa yang membuat Cisurat menarik bukan keberhasilannya saat ini, melainkan bagaimana ia menemukan jalan keluar dari titik terbawah itu. Warganya belajar membaca musim dengan cara yang baru.

Kini ekonomi Cisurat bergerak mengikuti ritme dua siklus. Saat musim hujan dan air waduk naik, warga menjadi nelayan, memasang jaring terapung, membudidayakan ikan mujair, sebagian diolah menjadi dendeng sebagai produk UMKM. Wisatawan mancing dari Ciamis, Bandung, dan kabupaten-kabupaten sekitar pun ramai setiap akhir pekan.

Lalu kemarau datang, air surut, dan lahan bekas genangan menyeruak ke permukaan. Di sinilah keistimewaan Cisurat menyembul ke atas kertas catatan profit.

"Kalau kita menanam di luar area Waduk Jatigede itu penyesuaian tanahnya susah. Sementara kalau memanfaatkan lahan dari waduk yang surut di musim kemarau, lahannya sangat subur, dan pemanfaatan pupuknya tidak terlalu banyak. Inilah yang membuat biaya operasional bisa hemat," jelas Ilham.

Di lahan yang kaya mineral dan tidak butuh banyak pupuk itulah waluh besar tumbuh. Pembelinya tersebar dari Tanjungsari, Jombang, Grobogan, hingga luar Jawa pun sudah mengenalnya. Di Bandung, produk ini masuk ke Pasar Cicaheum. Di Sumedang, pengepul datang langsung ke desa.

Keistimewaan itu, menariknya, justru lahir dari keterbatasan. Waluh Cisurat hanya bisa tumbuh optimal di lahan musiman tepian waduk. Inilah yang membuatnya punya identitas dan tak bisa direplikasi di tempat lain. Menjaga harganya tetap resisten.

Menurut Ilham, sebelum BUMDes Wibawa Mukti hadir sebagai pembeli, petani Cisurat tidak punya daya tawar. Pengepul, misalnya, membeli waluh besar di kisaran Rp800–Rp1.200 per kilogram. BUMDes mengubah keseimbangan itu dengan membeli dari petani di harga Rp2.000. BUMDes pun menjual ke pasar dengan margin terukur, menahan stok ketika harga lesu, dan melepasnya ketika harga membaik.

"Kita memberikan harga tinggi untuk petani waluh ini, yang di atas harga bandar, demi menyejahterakan petani," tutur Ilham.

Dampaknya mengalir ke mana-mana, para bandar lain yang semula "terganggu" oleh standar harga BUMDes, akhirnya ikut menyesuaikan harga beli mereka. Efek domino yang tidak pernah direncanakan, tapi mengubah ekosistem niaga desa secara keseluruhan.

Modal usaha petani pun disangga oleh skema yarnen (bayar panen) dari BRI. Pinjaman yang dilunasi saat panen tiba, bukan dengan cicilan bulanan yang mencekik. Hasilnya terbukti, semua petani yang meminjam dapat melunasi tepat waktu.

Dua Desa BRILian, Satu Pelajaran

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)

Margamukti dan Cisurat tumbuh “kemalangan” yang berbeda. Salah satunya tidak pernah punya keistimewaan untuk dibanggakan; sementara yang lainnya pernah kehilangan satu-satunya fondasi ekonomi. Tetapi keduanya sampai di tempat yang sama: membangun sistem yang berdiri di atas kehendak mandiri. 

Keduanya kini berada dalam ekosistem Desa BRILian, program BRI yang di wilayah kerja Regional Office Bandung saja telah menjangkau 495 desa. Dewi Hestiningrum, Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menggambarkan visi di balik program ini dengan kalimat yang terasa tepat untuk kedua desa yang saya kunjungi.

"Kami ingin desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang aktif, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat," papar Dewi dalam pernyataan terpisah.

Margamukti dan Cisurat sudah menjalani visi itu sebelum mereka mendaftar ke program apa pun, secara sadar demi kesejahteraan warganya, sebelum terpilih sebagai Desa BRILian.

Bagi saya yang menempuh sekitar 246 kilometer untuk melihat dua desa ini, yang paling berkesan bukan angka omzet BUMDes-nya, apalagi piagam penghargaannya. Produk unggulan mereka memang menarik, hanya saja saya lebih terpukau akan kehendak mereka yang tidak “menunggu keajaiban”.

Margamukti memilih membangun ekosistem dari desa yang tidak punya apa-apa. Sementara Cisurat memilih bangkit dari desa yang kehilangan mata pencaharian. Jarak antara kedua pilihan itu, dalam praktiknya, merupakan selisih dari satu hal: konsistensi untuk mulai membangun sistem, meski tidak ada yang menjamin hasilnya.

Mungkin ada desa-desa serupa lainnya yang kini sedang diam-diam melakukan hal yang sama. Mereka punya catatan istimewa, namun hanya bisa terlihat bila kita mau repot menempuh jaraknya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)