AYOBANDUNG.ID – Pagi hari Jumat, 22 Mei 2026, saya meninggalkan kantor ayobandung.id menuju sebuah desa di Sumedang Utara yang mungkin tidak pernah masuk daftar destinasi wisata siapa pun. Tak ada pemandangan ikonik yang saya temui di sana ataupun kuliner khas yang sedang viral. Dari sana hanya datang sebuah kabar bahwa desa ini masuk 15 Besar Desa BRILian 2025; dan itu sudah cukup bagi saya.
Program itu merupakan pemberdayaan desa oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI). Untuk mengunjungi desa yang berhasil mencatatkan prestasi di kancah nasional, jarak tempuh pulang-pergi sekitar 90 kilometer rasanya layak diperjuangkan. Meskipun jika meninjau dari kenikmatan mata untuk tujuan wisata, jarak tersebut sebenarnya cukup jauh untuk sebuah liputan desa yang "biasa saja."
Tiga minggu setelahnya, 11 Juni 2026, saya pun menempuh perjalanan liputan kedua dan kali ini lebih jauh. Sekitar 156 kilometer pulang-pergi menuju Kecamatan Wado, di ujung selatan Sumedang yang berbatasan dengan perairan Waduk Jatigede. Alasannya sama, mencari desa di pelosok yang memberikan dampak besar bagi kehidupan warganya.
Total dua perjalanan itu, sekitar 246 kilometer; dan setiap lelahnya sepadan dengan cerita yang saya dapatkan.
Desa yang "Biasa Saja" itu Bernama Margamukti

Di atas lahan 261 hektare yang lebih dari separuhnya sawah, dengan populasi sekitar 25.028 jiwa, Desa Margamukti di Kecamatan Sumedang Utara tidak punya banyak hal untuk dibanggakan di atas kertas. Iman Romansyah, KAUR Umum Tata Usaha sekaligus Koordinator BUMDes Marga Makmur, mengatakannya sendiri kepada saya tanpa ragu.
"Secara umum potensi Desa Margamukti ini sebetulnya mirip-mirip dengan desa-desa tetangga yang demografis atau geografisnya sama. Kita untuk menciptakan suatu yang unik, produk atau makanan, itu memang susah. Kita tidak punya keunikan khas, baik sosial, budaya, ataupun makanan. Tetapi menciptakan suatu sistem wirausaha, itulah yang kami coba gali di sini," buka Iman.
Kalimat itu menjadi kunci awal untuk memahami segala kondisi desa. Margamukti tidak berlomba menjadi unik, sebab memang tak ada potensi dalam hal ini. Mereka justru berlomba membangun sistem.
Beberapa tahun lalu, kondisi desa ini jauh dari kata menjanjikan. Sampah menumpuk tanpa pengelolaan, angka pengangguran tinggi, stunting mengkhawatirkan, dan roda ekonomi berputar terlalu pelan. Ihwal yang kemudian mengubah arah hidup ialah cara berpikir mayoritas warganya. Iman menyebutnya “revolusi mindset”.
Dimulai ketika Kepala Desa Siti Nuraeni Sofa memilih pendekatan yang tidak lazim: menyelesaikan masalah secara akademik. Perangkat desa ditata ulang sesuai keilmuan masing-masing, dan setiap masalah dirancang ulang menjadi peluang. Masalah sampah, misalnya, melahirkan sistem pengelolaan dengan sirkulasi ekonomi.
Perubahan paling vital menyentuh cara desa menyalurkan bantuan sosial. Program yang biasanya sekadar dibagi-bagikan secara massal diubah menjadi 2 jenis: yang diberikan dalam bentuk uang tunai dan ada juga dengan sistem berbasis hak dan kewajiban.
Dalam jenis bantuan yang kedua itu, warga baru mendapat reward jika aktif membangun desa; dan reward itu tidak berbentuk uang tunai, melainkan disesuaikan kemampuan. Kandang dan bibit ayam bagi yang bisa beternak, modal usaha bagi yang berdagang, pupuk bagi yang bertani.
"Misalkan yang rajin per bulan ini ada 500 orang, maka kami berikan sesuai dana desa sesuai dengan keterampilan mereka. Semua itu dikontrol oleh BUMDes," jelas Iman.
Dari sanalah BUMDes Marga Makmur tumbuh. Dua unit usaha menjadi andalannya: budidaya melon premium dan peternakan ayam kampung KUB Sentul. Hebatnya, kedua produk tersebut bukan menonjol karena produknya eksotis. Iman sendiri mengakui bahwa semua desa bisa membudidayakan keduanya, tetapi yang sulit ditiru adalah membangun ekosistemnya, membuka jaringan dari produksi hingga pemasaran.
Melon premium dari greenhouse Margamukti kini dijual di kisaran Rp30.000–Rp45.000 per kilogram ke hotel, toko buah premium, dan jaringan supermarket. Omzetnya mencapai Rp18–25 juta per bulan. Jaringan ini butuh tiga tahun untuk dibangun sejak 2022. Salah satu pengurus BUMDes bahkan menjadi Ketua Asosiasi Melon Premium Jawa Barat, menjadikan Margamukti sebagai induk dari jaringan plasma se-provinsi.
"Jaringan sudah kuat, rantai distribusi sudah kuat, otomatis karena kita yang punya pasar dan segmentasi maka harga tidak akan ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan harga dan inilah enaknya," kata Iman dengan nada bangga.
Unit ayam kampung melengkapi cashflow BUMDes dengan omzet Rp6–10 juta per bulan. Gabungan keduanya berpotensi menyentuh Rp35 juta per bulan.
Hasil sistem desa yang dibangun secara tertib itu tercermin dalam capaian nyata. Selama empat tahun berturut-turut, Desa Margamukti meraih penghargaan SAKIP dengan tiga indikator utama yang terukur: penurunan angka kemiskinan, penurunan stunting, dan peningkatan pelayanan publik.
Dari Sumedang Utara ke Tepi Waduk

Setelah meninggalkan Margamukti, satu pertanyaan ikut serta dalam perjalanan pulang: apakah desa yang pernah kehilangan segalanya bisa bangkit lebih kuat dari yang tidak pernah jatuh?
Jawaban itu saya cari tiga minggu kemudian di Desa Cisurat, Kecamatan Wado (berjarak 78 kilometer dari kantor ayobandung.id), berbatasan langsung dengan Waduk Jatigede yang perairan tenangnya menyimpan kenangan pahit bagi warganya.
Ketika tiba siang itu, perahu nelayan sedang memecah riak waduk. Pemandangannya terasa damai. Tetapi Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, membuka percakapan dengan cerita yang nuansa berbeda dari ketenangan itu.
Pada 2015, ketika pengisian Waduk Jatigede ditambahkan, sawah-sawah yang menjadi sumber penghidupan warga Cisurat selama beberapa generasi perlahan tenggelam. Dari 28 desa yang terdampak pembangunan waduk itu, Cisurat termasuk yang paling berat. Dalam beberapa tahun setelahnya, desa ini bahkan sempat disebut sebagai "desa termiskin di Jawa Barat."
"Di momen itu ekonomi desa sangat terpuruk. Mata pencaharian masyarakat yang tadinya bertani, semua sawah garapannya habis terkena genangan Waduk Jatigede," kata Ilham.
Apa yang membuat Cisurat menarik bukan keberhasilannya saat ini, melainkan bagaimana ia menemukan jalan keluar dari titik terbawah itu. Warganya belajar membaca musim dengan cara yang baru.
Kini ekonomi Cisurat bergerak mengikuti ritme dua siklus. Saat musim hujan dan air waduk naik, warga menjadi nelayan, memasang jaring terapung, membudidayakan ikan mujair, sebagian diolah menjadi dendeng sebagai produk UMKM. Wisatawan mancing dari Ciamis, Bandung, dan kabupaten-kabupaten sekitar pun ramai setiap akhir pekan.
Lalu kemarau datang, air surut, dan lahan bekas genangan menyeruak ke permukaan. Di sinilah keistimewaan Cisurat menyembul ke atas kertas catatan profit.
"Kalau kita menanam di luar area Waduk Jatigede itu penyesuaian tanahnya susah. Sementara kalau memanfaatkan lahan dari waduk yang surut di musim kemarau, lahannya sangat subur, dan pemanfaatan pupuknya tidak terlalu banyak. Inilah yang membuat biaya operasional bisa hemat," jelas Ilham.
Di lahan yang kaya mineral dan tidak butuh banyak pupuk itulah waluh besar tumbuh. Pembelinya tersebar dari Tanjungsari, Jombang, Grobogan, hingga luar Jawa pun sudah mengenalnya. Di Bandung, produk ini masuk ke Pasar Cicaheum. Di Sumedang, pengepul datang langsung ke desa.
Keistimewaan itu, menariknya, justru lahir dari keterbatasan. Waluh Cisurat hanya bisa tumbuh optimal di lahan musiman tepian waduk. Inilah yang membuatnya punya identitas dan tak bisa direplikasi di tempat lain. Menjaga harganya tetap resisten.
Menurut Ilham, sebelum BUMDes Wibawa Mukti hadir sebagai pembeli, petani Cisurat tidak punya daya tawar. Pengepul, misalnya, membeli waluh besar di kisaran Rp800–Rp1.200 per kilogram. BUMDes mengubah keseimbangan itu dengan membeli dari petani di harga Rp2.000. BUMDes pun menjual ke pasar dengan margin terukur, menahan stok ketika harga lesu, dan melepasnya ketika harga membaik.
"Kita memberikan harga tinggi untuk petani waluh ini, yang di atas harga bandar, demi menyejahterakan petani," tutur Ilham.
Dampaknya mengalir ke mana-mana, para bandar lain yang semula "terganggu" oleh standar harga BUMDes, akhirnya ikut menyesuaikan harga beli mereka. Efek domino yang tidak pernah direncanakan, tapi mengubah ekosistem niaga desa secara keseluruhan.
Modal usaha petani pun disangga oleh skema yarnen (bayar panen) dari BRI. Pinjaman yang dilunasi saat panen tiba, bukan dengan cicilan bulanan yang mencekik. Hasilnya terbukti, semua petani yang meminjam dapat melunasi tepat waktu.
Dua Desa BRILian, Satu Pelajaran

Margamukti dan Cisurat tumbuh “kemalangan” yang berbeda. Salah satunya tidak pernah punya keistimewaan untuk dibanggakan; sementara yang lainnya pernah kehilangan satu-satunya fondasi ekonomi. Tetapi keduanya sampai di tempat yang sama: membangun sistem yang berdiri di atas kehendak mandiri.
Keduanya kini berada dalam ekosistem Desa BRILian, program BRI yang di wilayah kerja Regional Office Bandung saja telah menjangkau 495 desa. Dewi Hestiningrum, Regional CEO BRI Regional Office Bandung, menggambarkan visi di balik program ini dengan kalimat yang terasa tepat untuk kedua desa yang saya kunjungi.
"Kami ingin desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang aktif, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi rakyat," papar Dewi dalam pernyataan terpisah.
Margamukti dan Cisurat sudah menjalani visi itu sebelum mereka mendaftar ke program apa pun, secara sadar demi kesejahteraan warganya, sebelum terpilih sebagai Desa BRILian.

Bagi saya yang menempuh sekitar 246 kilometer untuk melihat dua desa ini, yang paling berkesan bukan angka omzet BUMDes-nya, apalagi piagam penghargaannya. Produk unggulan mereka memang menarik, hanya saja saya lebih terpukau akan kehendak mereka yang tidak “menunggu keajaiban”.
Margamukti memilih membangun ekosistem dari desa yang tidak punya apa-apa. Sementara Cisurat memilih bangkit dari desa yang kehilangan mata pencaharian. Jarak antara kedua pilihan itu, dalam praktiknya, merupakan selisih dari satu hal: konsistensi untuk mulai membangun sistem, meski tidak ada yang menjamin hasilnya.
Mungkin ada desa-desa serupa lainnya yang kini sedang diam-diam melakukan hal yang sama. Mereka punya catatan istimewa, namun hanya bisa terlihat bila kita mau repot menempuh jaraknya. (*)
