Bagi warga Bandung, kawasan di sekitar Jalan Ahmad Yani atau Jalan Gatot Subroto mungkin dikenal sebagai pusat aktivitas kota yang padat. Namun, tahukah Anda bahwa di bawah atau di sekitar bangunan yang Anda lihat hari ini, pernah membentang jalur trem kereta api aktif menuju Halteu Karees? Jalur mati yang resmi berhenti beroperasi sejak tahun 1976 ini ternyata masih menyisakan "jejak rahasia".
Beberapa hari yang lalu, saya mencoba menelusuri kembali sisa-sisa rel yang masih bertahan, memotret kondisinya hari ini, dan merangkai kembali memori kejayaan halteu ini di masa lampau.
Bermodal Peta Tua 1936
Semua ini bermula saat saya iseng mengamati file peta tua Kota Bandung tahun 1936. Mata saya tertuju pada sebuah garis putus-putus berwarna hitam, sebuah jalur trem yang membentang dari Cibangkong ke arah Karees. Jika ditarik ke peta modern, titik Cibangkong saat ini berada di sekitar area Trans Studio Mall (TSM), sementara Halteu Karees dulunya berdiri di sekitar seberang Pasar Kosambi. Wah, kebayang kan betapa dekatnya sejarah ini dengan pusat keramaian kita sehari-hari?
Dengan berbekal peta digital tersebut di dalam hand phone, jiwa petualang saya langsung bergejolak. Berasa jadi Dora the Explorer versi lokal, pada suatu Minggu pagi di akhir Mei 2026, sambil berolah raga jalan kaki, saya pun memutuskan untuk masuk dari Jalan Laswi melalui Gang Samoja. Kenapa harus lewat sini? Karena jalan ini nampak pada peta terdapat lanjutan trem dari Jalan Cinta Asih Selatan, yang dalam catatan sejarah dulunya adalah jalur rel aktif dari daerah Cibangkong. Yuk, ikut saya blusukan!
Memasuki Gang Samoja, petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Kanan-kiri saya dipenuhi oleh padatnya rumah warga dan riuhnya aktivitas pagi khas permukiman Bandung. Sambil berjalan santai, pandangan saya terus menyapu ke arah kiri dan kanan bawah, memasang "mata elang" demi berburu serpihan masa lalu.
"Duh, mana ya? Kok belum kelihatan juga jalur relnya?" bisik saya dalam hati setelah beberapa meter melangkah. Sempat ada rasa ragu, jangan-jangan semuanya sudah tertimbun semen dan rumah tanpa sisa.
Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Saya terus berjalan menyusuri gang yang dinamis ini, sampai tiba-tiba... deg! Langkah kaki saya mendadak terhenti.
Mata saya langsung berbinar hebat melihat sepotong besi berkarat yang menyembul malu-malu di antara tanah dan dinding bangunan. Bagi orang awam yang lewat, objek tersebut mungkin cuma terlihat seperti barang rongsokan biasa atau besi tua tak berguna. Namun, bagi pencinta sejarah seperti saya, potongan besi itu adalah sebuah "harta karun" yang luar biasa berharga.
Potongan besi berkarat ini adalah saksi bisu. Inilah bagian dari jalur rel menuju Halteu Karees, sebuah Halteu nonaktif yang dulunya sangat hidup dan menjadi bagian penting dalam menggerakkan nadi ekonomi kota Bandung. Kunjungan langsung saya ke lokasi benar-benar memperlihatkan kontras yang luar biasa indahnya. Bagaimana tidak? Jalur yang dulunya riuh oleh suara kereta api dan deru mesin uap pembawa logistik dan angkutan manusia, kini telah berselimut hangatnya peradaban baru dan tawa warga di gang pemukiman.

Temuan Lapangan di Gang Samoja
Menelusuri jalur mati ini membuat saya sadar, sejarah Bandung tidak selalu ada di dalam museum. Kadang, ia berada tepat di bawah langkah kaki kita, menunggu untuk ditemukan kembali.
Perjalanan kemudian saya lanjutkan sampai menemukan percabangan ke arah kanan lalu saya menyusuri jalan tersebut masuk ke Jalan Samoja yang lebar. Nah, selain jalur rel, ternyata ada sejarah besar lain yang tertulis di peta tahun 1936 yang saya bawa. Setelah saya telusuri lebih detail, peta kolonial tersebut tidak hanya menampilkan garis rel trem biasa, melainkan juga menandai sebuah kawasan perkeretaapian yang sangat terstruktur. Di sinilah terungkap bahwa wilayah Karees dulunya adalah area emas bagi jawatan kereta api Hindia Belanda (Staatsspoorwegen / SS).
Harta karun sejarah pertama yang tercatat di peta tersebut adalah Constructie Bureau SS / Kantoor Constructie en Bruggenbouw. Saat ini lahan tersebut ditempati oleh Kompleks Pertamina Samoja. Bagi kalian yang belum tahu, ini adalah nama mentereng untuk Kantor Dinas Konstruksi dan Pembangunan Jembatan milik Staatsspoorwegen. Bayangkan, tempat ini dulunya bukan sekadar kantor administrasi biasa yang penuh tumpukan kertas, melainkan markas bengkel arsitektur perkeretaapian kelas berat.
Kompleks ini dulunya merupakan "otak dan markas" bagi para insinyur kolonial. Di biro konstruksi inilah seluruh cetak biru, perencanaan jembatan, dan perluasan jalur logistik ke arah Bandung Selatan (seperti Soreang hingga Ciwidey) dirancang. Jadi, area pemukiman padat yang saya lewati, saya membayangkan dulunya tempat ini adalah tempat hilir mudik para arsitek dan teknisi yang membawa gulungan kertas kalkir untuk membangun peradaban transportasi Bandung!
Di kantor Bruggenbouw (pembangunan jembatan) inilah para insinyur Belanda memeras otak untuk mendesain struktur jembatan tangguh, menghitung kekuatan tiang pancang baja, hingga merancang struktur beton di jalur cabang Bandung Selatan.
Fakta ini langsung membuat ingatan saya melompat ke temuan lapangan saya di Gang Samoja tadi, khususnya saat saya menemukan sisa rel yang masih mengintip kokoh di tepi jembatan. Wah, jangan-jangan jembatan kecil yang saya lewati dan foto itu adalah salah satu karya nyata yang lahir langsung dari coretan kuas para arsitek di Kantoor Constructie en Bruggenbouw Karees ini puluhan tahun silam! Sungguh sebuah kebetulan yang bikin merinding saking serunya!

Pusat Komando Seluruh Jawa
Tunggu, petualangan membaca peta 1936 saya mencapai puncaknya waktu saya menemukan satu komplek bangunan lagi dengan nama yang super panjang dan berwibawa: SS Kantoor Hoofd Opnamekring Java. Saat ini lahannya ditempati oleh Asrama Polwiltabes Bandung.
Mendengar namanya saja sudah kebayang kan betapa pentingnya tempat ini? Opname dalam bahasa Belanda itu artinya pengukuran atau survei lapangan. Jadi, kantor ini adalah Pusat Komando Surveyor Tanah Kereta Api untuk seluruh Pulau Jawa!
Bayangkan, sebelum jalur kereta dibangun, tim surveyornya dikomandoi langsung dari kantor yang ada di Karees Bandung ini! Mereka adalah tim "pembuka jalan" yang blusukan ke hutan dan gunung membawa teodolit demi memetakan jalur rel. Fakta ini bikin saya bengong saat berjalan disini. Tempat yang sekarang jadi pemukiman padat dan gang senggol ini, ternyata puluhan tahun lalu adalah pusat riset dan pemetaan transportasi paling canggih di zamannya. Di sinilah masa depan transportasi kereta api Pulau Jawa ditentukan di atas meja-meja gambar.

Kompleks Rumah Dinas Pegawai SS
Tidak jauh dari biro tersebut, peta 1936 juga dengan jelas menandai area SS Dienstwoningen alias rumah dinas pegawai kereta api. Fasilitas di lingkungan perumahan elit kereta api ini pun tidak main-main. Di dalam kompleks ini, peta 1936 mencatat adanya pusat pendidikan terkemuka pada zamannya, yaitu sekolah Gouv. 1ste Holl. Inl. School (HIS) yang merupakan sekolah dasar pemerintah bagi anak-anak bumiputera kalangan atas, serta Part. Neutrale Eur. Lagere School I.E.V., sekolah dasar swasta netral untuk anak-anak keturunan Eropa dan Indo. Kehadiran sekolah-sekolah ini mempertegas bahwa Karees tempo dulu dirancang sebagai sebuah kawasan komanditer perumahan perkeretaapian yang modern, mandiri, dan elite di selatan Bandung.
Jejak sekolah kolonial ini bahkan masih bisa kita lacak sampai sekarang, lho. Bangunan Gouv. 1ste Holl. Inl. School (HIS) saat ini telah bertransformasi menjadi SD Centeh yang terletak di Jalan Centeh, Bandung. Sementara itu, eks bangunan Part. Neutrale Eur. Lagere School I.E.V. kini berada di Jalan Pacar.
Nah, bangunan eks sekolah I.E.V. di Jalan Pacar inilah yang menyimpan plot cerita paling menarik! Berdasarkan pantauan berkala melalui Google Street View, gedung tua sarat sejarah ini sudah dipasangi plang iklan dijual sejak tahun 2018 hingga saat ini. Tampaknya, ia masih setia menanti sang pemilik baru yang tak kunjung datang.
Waktu saya blusukan ke sana kemarin, keberuntungan berpihak pada saya! Saya sempat mengobrol seru dengan Bapak penjaga TK Negeri Centeh yang lokasinya tepat berada di seberang bangunan tua tersebut. Dari beliau, terkuaklah sekelumit cerita masa lalu gedung misterius ini yang selama ini minim beritanya.
Menurut info si Bapak, pemilik gedung ini sekarang adalah sebuah keluarga Tionghoa yang juga merupakan pemilik salah satu Hotel Jadul di Bandung dan toko keramik di kawasan Ruko Segitiga Emas Kosambi. Siapa sangka, garis waktu gedung ini setelah era kemerdekaan ternyata sangat dinamis! Si Bapak bercerita sambil bernostalgia, "Dulu waktu saya masih SD sekitar tahun 70-an, bangunan kolonial ini sempat disulap jadi pabrik plastik, lho! Ini di halamannya banyak banget plastik. Setelah itu, fungsinya berubah lagi menjadi pabrik tegel (ubin)."
Sayangnya, setelah riuh rendah mesin pabrik itu berhenti berputar, bangunan megah ini sekarang berakhir sunyi, kosong melompong, dan hanya dihuni oleh seorang penjaga, yang pada saat saya berkunjung yang bersangkutan sedang tidak berada di tempat. Kalau kalian melihatnya langsung hari ini, atmosfernya jujur agak-agak spooky alias menyeramkan! Dengan kondisi atap dan dinding yang sudah mulai rusak dimakan usia, aura ala rumah hantu langsung menyergap ingatan saya. Hiii... dalam hati saya membatin, "Nggak serem apa ya, bermalam sendirian di dalam gedung tua sebesar dan se-spooky ini?"
Namun, di balik keindahan dan kemewahan rumah-rumah di kompleks villa Karees ini, tersimpan sebuah lembaran hitam yang kelam. Siapa sangka, area pemukiman yang damai ini mendadak berubah mencekam pada periode tahun 1942–1945. Di bawah roda penjajahan Jepang, kawasan perumahan elit milik SS ini dialihfungsikan menjadi Kamp Interniran, yaitu sebuah kamp tahanan yang mengurung warga sipil Eropa di bawah pengawasan militer yang ketat. Next time saya akan bercerita tentang Kamp Interniran ini ya.

Menelusuri kawasan Karees memberikan pengalaman yang luar biasa kaya. Kita diajak melihat bagaimana sebuah kawasan bertumbuh, mulai dari markas para insinyur perkeretaapian, Pusat Komando Surveyor Tanah Kereta Api untuk seluruh Pulau Jawa, komplek perumahan elit bergaya villa, hingga menjadi saksi bisu dari pasang surutnya kekuasaan di tanah Pasundan.
Tapi cerita ini belum berhenti sampai disini, saya akan melanjutkan cerita ekspedisi mencari lokasi Eks Halteu Karees di Part berikutnya. Penasaran, kan? Stay tuned dan sampai jumpa di Part 2. (*)
